
Suasana kantin pada jam makan siang kantor nampak ramai oleh karyawan. Seorang gadis muda berusia 25 tahun dengan postur tubuh yang proposional berjalan menuju meja kantin sambil membawa nampan makan siangnya.
"Mbak Alana sini....... " ucap rena sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya
Alana tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju Rena.
" Kosong?? "
"He-eh " ucap rena sambil memasukkan sepotong daging ke mulutnya.
Alana menggeser kursi kosong di depan Rena.
" Mbk aku denger denger CEO kita akan ganti ya?? Mbk Alana kan sekretaris bapak bocorin dikit dong CEO kita yang baru seperti apa. Masih muda apa udah tua?? aduh aku berharap banget kalau CEO kita yang baru itu muda tampan baik hati pokoknya perfect dah ya supaya kita bisa cuci mata di kantor " cerocos Rena yang terus bicara sambil mengayunkan garpunya itu.
" Emang apa bedanya kalau atasan kita tua atau muda kan yang penting gajinya Ren " kata Alana sambil tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.
" Yah beda lah mbk, kalau CEO kita muda dan tampan seperti bayangan ku kan kita jadi semangat kerjanya" sambil senyum senyum.
" Terus sekarang kamu mau bilang kalau atasan kita pak Wirata yang udah tua bikin kamu gak betah gitu di kantor ??"
" Uhuk uhuk uhuk " Rena tersedak makanannya.
" Minum dulu pelan pelan " Alana mengambil segelas air putih dan menyodorkannya pada Rena.
" Bukan gitu kok mbk maksud Rena. Pak wirata itu baik banget kok orangya Rena juga betah kerja sama pak Wirata he he he "
" Udah jangan banyak mikir yang aneh aneh habiskan makan siangmu dulu ok " Alana bangkit dari kursi membawa nampan makan siangnya.
" Mbk Alana udah selesai makannya "
" Udah Ren. Ada tugas yang belum selesai aku gak bisa lama lama " kata Alena sambil menepuk bahu Rena.
" Mbk Alana jangan aduin ke bapak ya omongan Rena tadi " Rena memasang tampang memelas.
Alana hanya menunjukkan senyum simpulnya.
Ya Alana memang harus bersiap siap untuk pergantian CEO baru yang akan di lakukan beberapa hari lagi. Pak Wirata CEO yang sekarang memilih ingin menghabiskan masa tua bersama istrinya di Melbourne. Sedangkan anak anaknya tidak mau mengelola perusahaan yang ada di Indonesia alasannya mereka ingin fokus pada perusahaan yang ada di Melbourne. Karena alasan itu pak Wirata memilih menjual saham pada keponakannya.
Alana kembali ke meja kerjanya disana sudah ada Nita yang sedang berkutat dengan laptopnya. Ya pak wirata memilliki 2 orang sekretaris handal Alana dan Nita. Alana sudah bekerja selama hampir 4 tahun sedang Nita baru 2 tahunan.
" Udah selesai makan siangnya ?? " tanya Nita.
Nita yang sedang fokus pada laptopnya tiba tiba memalingkan pandangannya dan menatap Alana.
" Kenapa Al ?? ada masalah??"
Alana menghembuskan nafas beratnya lalu menarik punggungnya dan meluruskannya.
" Tentang CEO baru kita aku gak tau apa aku bisa menyesuaikan diri atau tidak. Aku sudah bekerja dengan pak Wirata selama 4 tahun rasanya berat harus bekerja sama dengan orang lain. Padahal masih perusahaan yang sama, apa lagi aku belum tau temperamen orang itu seperti apa ".
" Sudah gak usah terlalu di fikirkan jalani saja dulu aku yakin kok kamu bisa, kita bisa jalanin ini sama sama. Kamu itu pintar adaptasi Al kamu bisa mengatasi keadaan pada situasi apapun " hibur Nita sambil menggenggam tangan Alana.
Alana tersenyum pada Nita. Meraka memang terkenal cukup akrab di kantor tapi itu tidak mempengaruhi keprofesionalisme mereka.
" Ya Nita benar aku harus bisa " batin Alana.
" Tut tut tut "
Alana mengambil telefon yang ada di meja kerjanya.
" Ya pak ".
" Kalian berdua masuk ke ruanganku " suara pak Wirata terdengar dari seberang panggilan.
" Baik pak " Alana lalu meletakkan gagang telepon dengan pelan.
" Nit kita di panggil sama pak Wirata "
" Kita berdua? tumben " heran Nita.
" Paling mau bahas buat besok ".
" Sekarang?? ".
" Iya...ayo " ajak Alana
" Oke " Nita berdiri dari kursinya. Mereka berdua berjalan menuju ruang pak Wirata yang berada di depan meja kerja mereka yang hanya berjarak sekitar 3 meter.
🌺 Bersambung 🌺