
Sampai dirumah, surya langsung mencari ana untuk pamer hasil perburuannya kali ini, setelah mengitari rumah tanpa menemukannya surya turun ke lantai bawah tanah, ketika dia menginjakkan kakinya di lantai tersebut surya langsung melihat tanda di salah satu ruangan yang ada. Ruangan itu adalah ruang percobaan yang digunakan untuk menguji teknik yang di kuasai, lantas surya langsung membuka pintu ruangan tersebut.
Di dalam ruangan seluas sepuluh meter persegi dengan tinggi lima meter terdapat gadis berambut hitam kuncir kuda dengan wajah asia timur yang menawan, dia memakai seragam latihan ketat berwarna hitam yang menonjolkan setiap lekukan tubuhnya, di tambah keringat yang berkucuran menambahkan gairah tersendiri pada orang yang menontonnya, gadis tersebut adalah ana. Sekarang dia sedang menguji berbagai teknik serangan yang di kuasainya, setelah menyelesaikan percobaannya baru dia sadar kalau surya telah menatapnya dengan mulut yang menganga, yang membuatnya memerah.
"Ehemm..tuan muda?" Tanya ana ketika melihat surya masih terus menatapnya tanpa berkata-kata.
"Kau sangat cantik ana...hmm maksudku kekuatanmu telah meningkat, apa kau menerobos ke tingkat 2?" Tanya surya sambil berdeham.
"Iya tuan muda,..tadi pagi aku menerobos" jawab ana dengan pipi memerah.
"Selamat ana, oke kalau begitu mari kita rayakan terobosanmu dengan sup cakar beruang dan paha kalkun panggang" sorak surya sambil mengeluarkan hasil buruannya.
"Tuan muda apa anda bertarung dengan bayi beruang? Apa anda terluka?" Tanya ana dengan khawatir ketika melihat salah satu mayat yang di keluarkan surya.
"Tak perlu khawatir seperti itu, aku selalu siap dengan ramuan penyelamat nyawa, lebih baik kita berbahgia dengan terobosanmu dan merayakannya" jawab surya tersenyum sambil melambaikan tangannya, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang percobaan.
"Baik tuan muda.." ucap ana sambil melihat punggung surya yang berlalu._syukurlah tuan muda tersenyum lagi seperti dulu dan tuan muda bilang aku cantik_ pikirnya dengan pipi memerah.
Surya langsung mandi dan ganti baju, lalu tidur memulihkan kelelahannya hari ini.
Sementara itu dikediaman keluarga wijaya di daerah pusat kota hitam, para tetua cabang sedang berkumpul di ruang rapat keluarga, mereka adalah para pejuang tingkat 1 dalam keluarga yang sudah tua tanpa potensi perkembangan, dan yang memimpin cabang adalah seorang paruh baya yang duduk di tengah dengan aura yang lebih dalam dari pada semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.
"Ehemm.." pemimpin cabang berdeham untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang hadir di ruangan itu, yang membuat seluruh ruangan langsung memusatkan perhatian mereka, mendengarkan pemberitahuan pemimpin mereka selanjutnya.
"Apa? Pasukan militer musnah?!!"
"Ada perintah leluhur?!"
"Kau tidak akan bercanda dengan kami kan pemimpin?"
Sontak heboh, para tetua itu yang biasanya terlihat tenang tidak peduli dengan hujan dan badai tidak bisa menahan keterkejutan mereka, apalagi ketika sang pemimpin menyebutkan leluhur dalam pembicaraannya, ekspresi semua orang penuh dengan hormat dan kekaguman dengan sedikit kilatan cahaya melintas di sebagian orang.
"dan sebaiknya kalian tidak mengambil sumber daya anak itu lagi, walaupun ayahnya telah mati tapi dia masih punya pendukung di pusat, jangan katakan aku tidak mengingatkan kalian ketika kalian menanggung amarahnya saat itu" lanjutnya melirik beberapa orang yang ada dalam ruangan, tanpa menunggu reaksi dari yang lain pemimpin meniggalkan ruangan tersebut.
"Yah, aku tak akan ikut campur soal itu..." kata seorang tetua sebelum angkat kaki dari ruangan, di ikuti beberapa tetua meninggalkan tiga orang tersisa.
"Bagaimana pendapatmu tetua jaka?" Tanya salah satunya pada yang lain dengan khawatir,dia bergidik ngeri memikirkan akibat yang mungkin di hadapinnya nanti. Mereka bertiga telah menggelapkan sumber daya surya selama setengah tahun sejak kematian ayahnya, dulu ketika ayah surya masih hidup, dengan sifat yg bebas dan riang dia telah menolak sumber daya keluarga untuk surya, setelah kematiannya seharusnya surya menerima subsidi sumber daya setiap bulannya, tapi sudah setengah tahun lebih dia tidak mendapatkan apa-apa, pelaku di balik kecurangan ini adalah ketiga tetua ini.
"Bagaimana apanya? Aku didukung tetua pusat, jadi tak usah pedulikan si tua bangka itu, lagi pula bukankah ini juga kesempatan untuk mendapatkan sumber daya tambahan untuk keturunan kalian, bukan?" Tanya balik tetua jaka dengan senyum tipis, agaknya dia merupakan pemimpin dari ketiga orang itu.
"Apalagi ini juga kesempatan untuk di perhatikan leluhur bukan?" Imbuhnya dengan senyum tipis yang langsung menghapus sinar keraguan terakhir di mata mereka
"Baik, ini memang kesempatan yang baik jadi kami tidak akan melewatkannya" jawab salah satu dari berdua setelah saling memandang sebentar, seolah mencapai kesepakatan.
"Bagus, kalau begitu panggil keturunan kalian yang memenuhi syarat untuk berkumpul! Kita perlu membuat rencana agar kita bisa mendapatkan prestasi gemilang demi mendapatkan perhatian leluhur" ketika tetua jaka mengucapkan kalimat terakhit mata semua orang penuh harapan, sebagai tetua keluarga yang memenuhi syarat mereka sangat mengerti betapa beratnya nilai perhatian leluhur keluarga mereka, bahkan untuk orang-orang tanpa potensi peningkatan lebih lanjut seperti mereka, selama mendapatkan sedikit perhatian dari leluhur para eksekurif keluarga tidak akan ragu mengeluarkan harta berharga untuk membantu mereka mempromosikan peringkat mereka, memikirkan adanya kemungkinan promosi membuat hati mereka terbakar.