The Beautiful Thief*

The Beautiful Thief*
Akting



Quenna


Siapa lelaki itu? Bagaimana dia bisa masuk kesini? Apa dia juga ingin mengambil cincin itu?


Tidak! Aku harus mendapatkannya lebih dulu. Aku yang berhasil masuk kesini dengan susah payah. Dia seenaknya mau mengambil cincin itu.


"Victorian Ruby Red Ring ada di laci nomor 157" Suara system canggih itu yang terdengar seperti suara asisten google.


Secepat mungkin aku berlari ke laci sebelah kiri dari ruangan ini. Namun sialnya laci ini banyak sekali dan semuanya saling berdekatan.


155, 156, 157… Gotcha!


Aku membuka laci itu tapi tidak terbuka. Terkunci! Aku merogoh saku celana dan mengambil sebuah kawat kecil. Kemudian melipat kawat itu menjadi dua sehingga terdapat lengkungan kecil diujungnya.


Saat aku akan memasukkan kawat itu ke lubang kunci, aku sedikit melirik lelaki itu. 


Dia masih di tempat yang sama dan hanya melihatku yang sedang sibuk membuka laci.


"Jangan harap aku akan membiarkanmu mengambil cincin ini." celetukku yang fokus memutar slot yang ada di dalam lubang kunci.


"Tidak ada yang bisa menghalangiku, Nona. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan." jawabnya.


Click. Terbuka! 


Aku segera mengambil kotak hitam itu dan memasukkannya ke dalam saku jasku. 


"Aku sudah mendapatkan cincinnya." bisikku kepada Thomas melalui earphone. Saat ini aku berjalan cepat ke arah pintu keluar. Namun lelaki itu memblock jalanku. 


Dia menengadahkan tangannya bermaksud meminta cincin itu. Hah! Enak saja. 


Aku berjalan melewatinya dan memegang gagang pintu besi bersiap keluar. Tiba-tiba tangan lelaki itu menarik lenganku dan menjauhkan tanganku dari gagang pintu.


Dengan cepat aku menepis tangannya dan memutar badan untuk menghindar. Dia mencoba meraih lenganku lagi, kali ini aku memutar lenganku dan menyikut perutnya.  


Aku berhasil lepas! Tanpa membuang waktu aku membuka pintu dan segera berlari menjauh. Suara langkah kaki terdengar ikut berlari mengikutiku. 


Setelah turun tangga aku berbelok ke arah pintu keluar samping. Membuka pintu besi itu dengan keras dan menuju ke parkiran.


Bruk! Shit!


Tiba-tiba lelaki itu menubrukkan tubuhnya kepadaku dari belakang. Dia berusaha melepas jasku.


Kamu mulai membuatku kesal! 


Aku berputar dan menendang tulang keringnya lalu melemparkan tinju ke rahangnya. Tidak sampai disitu, aku pun mengambil pisau dari saku celanaku. 


"Kamu cukup gesit juga." pujinya. Dan dalam sekejap dia maju dan mencoba mengambil pisau dari tanganku.


Dia kira aku bodoh?


Tepat saat dia memajukan kaki kanannya, aku sedikit mundur untuk menjauhkan pisauku. Detik kemudian aku mencoba menggoreskan pisauku di kaki kanannya. Dia menghindar tepat sebelum pisau itu menyentuh kakinya. 


Dan tanpa sadar aku membuat celah, dia menendang perutku dengan sangat keras. 


**** you, dude!


Adrenalinku semakin memuncak. Aku membalasnya dengan gerakan cepat mengarahkan pisau ke kaki, lengan dan lehernya.


Set. Set. Set. Set.


Damn. Dia cukup lihai menghindari semua seranganku dan hanya tergores sedikit di lengannya.


Dia bergerak mendekat dan mencoba meraih jasku. Kali ini aku mengarahkan pisauku ke kakinya dan berhasil. 


Dia mendesis merasakan dampak hujaman pisau. Ini waktuku pergi!


Aku berbalik dan berlari menuju parkiran. Suara langkah kaki masih terdengar. Berarti dia masih mengikutiku. 


Bruk!


Dia menendang punggungku hingga terjatuh dan menarik jasku lagi. Tanganku bergerak menghujamkan pisau itu ke lehernya tapi dia menahan tanganku. Selama beberapa detik kita bertatapan.


"Berikan aku cincinnya." pinta lelaki itu.


"Coba ambil saja." tantangku lalu melepaskan diri dari genggaman lelaki itu. 


"Q, Apa ada masalah? Kenapa kamu belum datang juga?" tanya Thomas dengan cemas.


Karena perhatianku yang teralihkan, memudahkan lelaki itu untuk menarik lenganku dan memutarnya kebelakang. 


"Uggh! " desisku menahan sakit. 


Dia memojokkanku ke dinding dan merogoh saku jasku. Tapi dia terlihat kebingungan karena tidak menemukan kotak hitam cincin tadi.


Kesempatan! Aku membenturkan kepalaku ke kepalanya dan menusukkan pisau ke lengan kiri dan perutnya.


Terakhir aku loncat dan melakukan tendangan berputar. Itu cukup membuatnya membungkuk kesakitan.


Aku lanjut berlari ke parkiran dan menemukan mobil Thomas.


"Cepat jalan!" teriakku kepada Thomas.


Aku menghembuskan nafas lega dan menyimpan kembali pisauku. 


"Ada apa?" tanya Thomas.


"Ada lelaki bertopeng mengejarku. Dia juga menginginkan cincinnya." jelasku.


Screeecchhhhh…


Tiba-tiba Thomas mengerem mobil mendadak sehingga membuatku terjungkal ke dashboard.


"What the ****! Thomas!" teriakku kesal.


"Apa dia lelaki yang kamu maksud?" tanya Thomas sambil mengarahkan pandangan ke depan.


Aku spontan melihat arah pandangnya, dan benar saja. Di depan ada seorang lelaki mengendarai motor sport menghadang mobil kami.


Tanpa membuka helm dia turun menghampiri kami.


Tuk. Tuk. Tuk.


Dia mengetuk jendela kaca dan mengisyaratkan aku agar keluar.


"Thomas, lebih baik kita pergi sekarang!" ujarku menoleh kepada Thomas.


"Tidak. Kita akan menghadapinya. Dia pikir dia hebat!" ucap Thomas dan turun dari mobil.


"Hey! Apa yang kamu lakukan!? Arrgh. Ini menjadi lebih rumit. Perlu 30 menit para staff untuk mengetahui barang yang hilang dan lapor ke polisi. Sementara saat ini kita masih berada dijalanan! Aasshhh.. Dasar bodoh!" kesalku merutuki kebodohan Thomas.


Aku melihat dia mendorong lelaki itu. Pukulan Thomas meleset, dan malah dia yang kena pukulan lelaki itu di perut. Lalu dengan cepat dia memutar lengan Thomas hingga membuatnya tidak bisa bergerak dan mengunci lehernya.


"****!" umpat Thomas.


Benar kan. Dia sama sekali tidak lebih hebat dariku. Memalukan! 


Mau tidak mau aku pun turun dari mobil.


"Lepaskan dia." ucapku dengan tenang.


"Berikan cincin itu dulu." balas lelaki itu. Suaranya sedikit tidak jelas karena helm yang dia pakai.


"Tidak. Jangan berikan itu kepadanya, Q." cegah Thomas. Seketika tangan lelaki itu mengeratkan tangannya yang mengunci leher Thomas.


"Arrghh!! " desis Thomas. Dia terlihat kesakitan.


"Cukup. Kita lakukan bersamaan. Kamu lepas dia dan aku akan memberikan cincinnya." ucapku. 


Tepat saat Thomas sudah mencapai jarak aman, aku akan merebut kembali kotaknya.


"Deal." balasnya dan mulai melepas Thomas perlahan.


Aku berjalan mendekat dan mengeluarkan kotak cincinnya dari saku celanaku.


Thomas sudah menjauh sekitar 5 langkah dan lelaki itu menggenggam kotak yang ada di tanganku. Dengan gerakan berputar aku menendang helmnya dengan keras. Aku mencoba membuka tangannya yang mengenggam kotak tapi sangat susah terbuka.


Lelaki itu menggeram dan membuang helmnya ke jalanan. Merasa terancam, aku mengambil pisauku dan mengarahkannya ke leher dia.


"Kamu sangat agresif." celetuk lelaki itu dengan smirk.


"Kamu sangat menyebalkan." balasku. 


Entah bagaimana dia bisa menghindar dan berlari ke gang. Aku pun menyusulnya. Samar-samar aku mendengar Thomas memanggilku tapi tidak aku hiraukan.


Tepat sebelum berbelok ke gang lain. Aku melompat ke dinding dan melakukan tendangan ke pelipisnya.


Dia sempat limbung dan memegang pelipisnya yang berdarah.


Kesempatan ini aku gunakan untuk kembali menyerangnya dengan pisau. Berulang kali dia terkena sayatan dan saat dia terpojok ke dinding aku mengunci lehernya dan mengarahkan pisauku ke depan celananya.


"Serahkan cincinku. Kamu tidak mau kan.. masa depanmu hilang?" ancamku kepada dia. Aku dapat merasakan kemarahannya melalui rahangnya yang mengerat.


"Ambil saja kalau bisa." tantangnya. Aku melihat tangannya mengayunkan kotak itu kemudian melemparnya ke atas.


Karena perhatianku teralihkan. Dia membalikkan keadaan dengan memutar tanganku dan mengambil pisauku. Sekarang dia mendorongku ke dinding dengan memiting lenganku.


"Terimakasih atas kerja kerasnya." bisiknya di telingaku. Aku melirik kotak itu yang sekarang ada di tangannya lagi.


"Aku bukan pesuruhmu." balasku sinis.


"Memang bukan. Kamu lebih dari itu. Sampai bertemu nanti." ucap lelaki itu sebelum berlari menjauh dan naik ke mobil yang berada di ujung gang lainnya.


Tapi aku tersenyum melihat kepergiannya. Dia tidak sadar akan satu hal.


"Kamu memang membawa kotaknya. Tapi tidak dengan cincinnya." gumamku.


Tadi saat mengambil kotak cincin di saku celana. Diam-diam aku membukanya sedikit hingga terdapat cela untuk cincinnya jatuh ke dalam sakuku.


Aku sedikit berakting agar dia yakin kalau kotak itu ada cincinnya. Dan ternyata dia begitu bodoh.


Aku segera kembali ke Thomas dan menyuruhnya menancap gas pulang.