
Quenna
Malam ini aku dan Thomas memutuskan untuk beraksi. Sejak pertengkaranku dengan Thomas 3 hari yang lalu. Kita masih belum berbaikan. Lebih tepatnya aku yang masih enggan berbaikan dengannya.
Lalu hari ini Kamis, tanggal 24 Desember 2020 sesuai rencana kita akan pergi ke Auction. Barang incaran kita ada pada pelelangan hari ini.
Aku sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk penyamaran nanti.
Thomas sudah siap dan mengajakku pergi ke mobil. Selama perjalanan kami hanya diam. Menjelang sampai ke Museum dia mengingatkan lagi apa yang harus aku lakukan selama ada di dalam nanti.
Hah! Dia kira aku orang bodoh yang harus berkali-kali diingatkan? Pikirku.
Setelah sampai, aku segera keluar dan mulai memakai earphoneku. Untuk mengurangi rasa gugupku, aku mengatur nafas dan membayangkan hal-hal menyenangkan dalam hidupku.
Tenang Quenna! Saat ini kamu menjadi tamu undangan di acara Auction itu.
"Good evening. Bisa saya lihat undangannya?" Tanya salah satu penjaga di pintu masuk.
"Sure." Jawabku dengan tersenyum.
Dengan cepat aku mengamati sekeliling. Total 6 penjaga yang aku lihat di luar. Masing-masing bersenjata pistol kejut listrik.
"Silahkan, Ms. Eleanor Derick." Ujar penjaga tadi.
Aku hanya mengangguk dan berjalan masuk lebih dalam. Sekejap aku disuguhkan dengan pemandangan lorong yang panjang dan di setiap sudut ada satu penjaga yang berdiri tegak.
Setelah 10 menit berjalan, ada ruangan bertuliskan 'Ruang Penyimpanan Barang Lama' dan ada 2 penjaga di depan pintu.
Lalu 15 menit kemudian terlihat ruangan bertuliskan "CCTV" tentunya dengan 2 penjaga di depan.
Oke lanjut lagi setelah berjalan ternyata aku bertemu dengan tangga ke lantai 2. Aku pun menaiki tangga dan di atas ada 2 ruangan.
Auction dan Ruang Penyimpanan Barang Baru. Kedua ruangan itu saling berhadapan, di tengah-tengah terdapat space luas dengan pagar pembatas yang bisa digunakan untuk melihat situasi di lantai 1. Jangan lupakan di depan pintu masing-masing terdapat 2 penjaga.
Damn. Kenapa ruangannya saling berhadapan, kacau. Pikirku dengan kesal.
"Hallo Q. Kau mendengarku?" Tanya Thomas melalui earphone.
"Kenapa kamu tidak bilang Auction dan Ruang Penyimpanan Barang Baru saling berhadapan?!" Tanyaku sambil berbisik saat memasuki Ruang Auction.
"Aku sudah memberikan kamu denahnya, kan? Disitu tergambar jelas. Jangan bilang kamu tidak mengeceknya." Jawab Thomas.
"Ah sudahlah. Tidak penting juga sekarang." Ujarku dengan nada datar.
Melihat tamu undangan belum penuh, aku memutuskan berjalan-jalan sedikit. Sambil melihat barang-barang yang akan dilelang.
Namun tiba-tiba seorang pelayan membawa sampanye menabrakku. Membuat sampanye itu tumpah mengenai gaun yang saat ini aku pakai.
"Oh my *****ng God!" Gumamku dengan kesal.
Aku menatap pelayan itu dengan tatapan tajam. Apa dia tidak punya mata?
"I'm sorry. Miss. I'm truly sorry." Ujar pelayan wanita itu dengan takut.
Rasanya aku ingin mencekik pelayan itu, dia membuat rencanaku jadi berantakan.
"Maaf tidak akan mengubah apapun." Jawabku dengan menahan emosi.
"Q, are you alright?" Tanya Thomas melalui earphone.
Persetan dengan Thomas!
Saat berjalan ke kamar mandi, aku tahu ada seorang lelaki yang mengikutiku.
Arrghh.. Apalagi ini? Kenapa dia tidak mengganggu wanita lain saja.
Aku akan mengusirnya setelah sampai di sudut dinding menuju kamar mandi. Tepat setelah berbelok aku mengeluarkan pisau dari balik gaunku dan bersiap menyerang.
"Apa maumu?!" Tanyaku dengan menyudutkan dia ke dinding lalu menempelkan pisau ke leher lelaki itu.
"Rileks. Aku lihat gaunmu tidak dalam kondisi baik. Jadi, aku kesini hanya ingin memberimu gaun ini. Ah, jangan khawatir ini gaun yang masih baru." Ujar lelaki itu dengan tenang dan menatapku intens.
Bagaimana bisa dia sangat tenang? Bahkan tidak ada raut ketakutan sama sekali. Aku yakin dia bukan lelaki biasa.
"You are acting like a gentleman, don't you? But sorry, aku tidak tertarik dengan permainan yang sedang kamu mainkan." Jawabku dengan tegas.
"Aku tidak menerima penolakan. Now, take this gown." Ujar lelaki itu tersenyum tapi dengan sorot mata yang mengancam.
"Aku tidak menerima pemberian dari orang asing. Go away or i'll slit your beautiful neck." Bisikku tepat di telinga dia.
"Kamu harus menerima ini. And.. Don't start if you can't finish, Ms. Locke." Ujar lelaki itu dengan tatapan menggelap.
Lalu di detik selanjutnya dia dengan cepat memutar tanganku dan mengambil pisau dari genggamanku.
Dengan gerakan yang ahli, dia membalik posisi menjadi aku yang tersudut di dinding dan dia menghimpitku dengan badannya.
"Kita pernah bertemu. Apa kamu lupa denganku?" Tanya lelaki itu dengan suara sangat rendah.
Sial. Apa Thomas juga mendengar percakapan ini?
"Kita pernah bertemu 3 hari yang lalu kamu mencegat mobilku dan..." Ujar lelaki itu yang tiba-tiba dipotong oleh Quenna.
"Ah, okay. Listen, i'm sorry about that day. Lain kali aku akan membayarmu. Tapi maaf aku tidak bisa menerima gaun itu." Ujarku.
Apa yang dia inginkan sebenarnya? Apa dia juga mengincar barang itu?
"Ambil gaun ini dan pakailah. Aku memaksa. Sebentar lagi pelelangan akan dimulai. I will see you there with this gown. Ah, and i'm glad to see you again." Ujar lelaki itu yang membuatku terkejut.
Lalu dia mengembalikan pisauku dan pergi ke arah Ruang Auction berada. This is crazy!
Siapa dia? Kenapa dia melakukan hal seperti ini?
"Q, are you there?" Tanya Thomas yang sedikit membuatku terkejut.
"Yes." Jawabku singkat.
"Kenapa tadi aku tidak bisa menghubungimu?" Tanyanya.
"Entahlah. Jangan tanya aku." Jawabku.
Aku harus segera ganti gaunku dan kembali ke Auction.
•••
Hai guys👋
Jangan lupa like dan komen.
Love,
Affxxvii