
Saat kembali ke Auction, Quenna melihat lelaki itu duduk di deret kanan para tamu undangan. Sedangkan dirinya duduk di deret kiri , bersebrangan dengan lelaki itu.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Quenna dengan tatapan tanpa ekspresinya dan lelaki itu dengan senyum lebar yang menyatakan kemenangannya membuat wanita itu memakai gaun pemberiannya.
The Auctioneer mulai membuka barang pertama. Barang ini berupa lukisan Salvator Mundi karya dari Leonardo da Vinci yang sangat bernilai sejarah dan sangat diincar oleh kolektor seni.
Penawaran pun dibuka dan suara para bidder memenuhi ruangan. Lukisan itu terjual kepada seorang lelaki tua yang berpakaian serba mahal. Karena semuanya dari atas sampai bawah merupakan barang keluaran limited edition dari brand ternama.
Tentu saja bukan itu barang yang diincar oleh Quenna. Namun dia harus tetap disini dan mengikuti pelelangan ini.
Satu persatu barang terjual, hingga tiba pada suatu barang berupa cincin merah yang indah.
...
...
...Victorian Ruby Black Ring, 18 Carat Gold....
...Harga : Rp. 80.280.560,00...
Ini dia yang aku tunggu. Pikir Quenna.
Dia mengamati cincin itu dari mulai selesai dilelang hingga dimasukkan kembali ke kotak penyimpanan.
Setelah semua barang sudah melalui pelelangan, Quenna menunggu semua orang keluar terlebih dulu hingga menyisakan dia dan para staff dari Auction.
Saat mereka membawa semua barang kembali ke tempat penyimpanan barang baru, dia mulai melakukan actingnya. Dia mengikuti 2 staff yang membawa barang dan 1 kepala staff yang berjalan lebih dulu.
"Tunggu pak." Ujar Quenna sambil sedikit berlari.
"Iya nona? Apa ada yang bisa saya bantu?" Ujar Quenna.
"Saya Eleanor Derick. Jadi begini, kakek saya sangat menginginkan membeli lukisan dari Leonardo da Vinci. Tapi saat melakukan bid saya sudah keduluan dengan bapak tadi. Namun kakek saya ingin sekali melihat lukisan itu, jadi paling tidak saya ingin memberikan foto dari lukisan itu kepada kakek saya. Hiks ... hiks ... kakek saya sedang sakit ... saya takut itu adalah keinginan terakhirnya ...." Ujar Quenna dengan menitikkan air mata.
Yah! Ini hal mudah baginya. Melakukan peran untuk mencapai tujuannya.
"Ah, saya turut bersedih nona. Kalau begitu anda boleh memfoto beberapa kali. Gerald, kamu buka penutup lukisan itu dan temani Nona Derick disini. Dan kamu Ben, ikut saya masuk menyimpan barang." Perintah kepala staff.
Saat Gerald, staff yang bertugas membuka lukisan mencari-cari diantara banyak lukisan. Quenna memanfaatkan situasi dan berpura-pura menolongnya.
Sedikit mendekat ke arah kepala staff yang memasukkan kode digit untuk bisa masuk ke ruang penyimpanan barang baru.
Piip Piip. Dan pintu berhasil terbuka.
Sistem pengamanan yang sangat biasa. Aku sudah mengingat kode itu. Pikir Quenna.
Saat pintu terbuka dia sedikit mengintip dan terkejut melihat ada sinar laser di dalam dan harus memakai alat pindai retina untuk menonaktifkan laser.
Sial. Tidak sesuai yang aku kira. Pikir dia.
Selesai memotret, Quenna segera pergi dari sana. Dia harus bersiap-siap.
"Thom, aku keluar sekarang." Ujar Quenna melalui earphone.
"Oke. Aku akan memberi aba-aba kapan kamu masuk lagi." Ujar Thomas.
Quenna berjalan dengan tenang, lalu saat melewati sudut lorong dia mengambil haluan kanan dari pada ke kiri agar bisa masuk ke kamar mandi. Dia sudah meninggalkan tas berisi baju disana.
Kini dia sudah rapi dengan setelan staff. Dia menyamar sebagai seorang lelaki, memakai wig rambut hitam pendek dan melalukan sedikit riasan untuk memberi sedikit efek kumis yang sangat tipis. Sebagai penyempurna dia memakai lensa kontak khusus berwarna coklat.
"Q, apa kamu sudah siap? Sudah saatnya." Ujar Thomas melalui earphone.
"Tunggu. Aku butuh pemindahan retina dari kepala staff. Beri aku waktu 10 menit." Pinta Quenna.
"Baiklah. Kepala staff ada di ruang Auction. Dia bersama 2 orang staff." Ujar Thomas memberitahu.
Quenna tidak menjawab dan memilih untuk pergi menuju Auction. Dia sedikit berdehem untuk membuat suaranya terdengar bariton.
Tok. Tok. Cklek.
Sambil berjalan dia berpikir menyusun scenario di otaknya.
"Permisi pak. Saya kesini ingin memberitahu ada yang mencari bapak di luar." Ujar Quenna.
"Ehm ... siapa anda? Saya tidak pernah melihat anda disini. " Tanya kepala staff saat melihat Quenna.
"Saya staff baru. Pengganti sementara staff yang sedang sakit beberapa hari ini, Pak." Ujar Quenna.
Dia mulai sedikit gugup karena kepala staff itu menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Siapa namamu anak muda?" Tanya kepala staff masih tidak percaya dengan staff yang ada di hadapannya.
Damn. Aku tidak tahu siapa nama staff pengganti yang aku ambil pakaiannya. Pikir Quenna.
Beberapa detik kemudian dia masih belum bisa menjawab. Kepala staff pun menatapnya dengan alis berkerut.
Namun dia terkejut ketika kepala staff itu tiba-tiba saja tertawa keras. Para staff pun hanya melihat dengan heran, begitu pun dengan Quenna.
"Saya hanya mengetesmu, Dean. Ah siapa yang mencariku tadi? Ayo kita kesana." Ujar kepala staff setelah puas tertawa.
What the hell! Ingin sekali aku memukul kepala botaknya. Pikir Quenna dengan kesal.
Mereka berdua berjalan menuju ke lantai bawah. Tepat saat melewati lorong yang berkelok Quenna dengan gerakan cepat memukul tengkuk lelaki itu dan membuatnya pingsan.
"Hah. Akhirnya aku bisa memukul dia. Dasar botak." Ujar Quenna lalu menyeret tubuh lelaki berumur itu ke ruangan kosong di sebelah kirinya.
Dia menyenderkan lelaki itu ke tembok dan membuka kedua kelopak matanya dengan paksa.
Setelah Quenna merasa lensa kontaknya sudah memindai mata dari kepala staff itu, segera dia mengabari Thomas.
"Aku sudah selesai memindai." Ujar Quenna dari earphone.
"Tunggu 2 staff tadi keluar dari ruangan Auction. Tetap di dalam sana." Ujar Thomas.
"Aku tidak bisa lama-lama atau pak botak ini akan bangun." Ujar Quenna dengan memutar mata.
"Botak? Oh, maksudmu kepala staff. Jangan begitu, nanti kamu kena karma." Ujar Thomas.
"Jangan mulai. Aku tidak ingin mendengar kata-kata mutiaramu" Jawab Quenna dengan malas.
"Oke kamu bisa keluar sekarang. Sekarang tepat pukul 9 waktunya pergantian penjaga." Ujar Thomas.
Quenna keluar dan segera menuju ke lantai 2, dimana ruang penyimpanan barang baru itu berada. Tanpa membuang waktu dia memasukkan kode dan berhasil masuk.
Kini tinggal sinar lasernya. Dia mendekat ke alat Iris Scanner tapi terdengar suara 'not indentified' dari suara wanita yang berasal dari sistem.
"What the ****!" Umpat Quenna.
Tidak menyerah, dia mencoba lagi. Namun masih tidak berhasil. Percobaan ketiga dia lebih mendekatkan wajahnya agar alat itu bisa memindai lebih detail.
"Welcome back Tuan Penoilph." Kata dari sistem itu dan sinar laser pun dinonaktifkan.
"Okay. Dimana dia meletakkan cincin itu?" Ujar Quenna pada dirinya sendiri.
"Anda sedang mencari sesuatu. Silahkan sebutkan nama barangnya untuk mengetahui letak barang itu tersimpan." Jawab dari sistem dari alat itu.
"Victorian Ruby Red Ring" Ujar Quenna.
"Victorian Ruby Red Ring" Ujar seorang lelaki.
(Anggap saja mereka bersamaan menyebutnya)
Quenna seketika menoleh ke sumber suara dan dia terkejut melihat lelaki yang sudah berdiri bersandar di dinding.
Dia berpakaian serba hitam dan topeng menutupi sebagian wajahnya dari mata hingga hidung.
Bagaimana dan dari mana dia bisa masuk? Bahkan tidak terdengar langkah kakinya sama sekali. Pikir Quenna dengan alis berkerut.