The Babad Noir

The Babad Noir
the shot



Sosok tubuh besar nan mencoba bengis sang gandharwa yang semula berdiri dengan tangguhnya ternyata kali ini tak bertahan lama. Tubuh itu roboh dan terbujur kaku di lantai rooftop, tewas tak bernyawa lagi setelah Wrekodara menusukkan kedua Pancanaka yang bagai kuku tersebut tepat ke otak sang gandharwa menembus kedua matanya. Dalam pertempuran ini Wrekodara langsung belajar bahwa apapun yang dikonsumsi si gandharwa adalah sama dengan apa yang dikunyah si bhuta. Benda tersebut membuat mereka tidak merasakan sakit macam apapun, menciptakan semacam mahluk kuat dan berstamina luar biasa. Tapi tentu saja tidak sampai otak mereka dihancurkan untuk membuat mereka terdiam selama-lamanya. Mati!


Wajah Wrekodara tidak menunjukkan emosi walau dalam beberapa menit terakhir dua orang sudah terbunuh oleh Pancanaka-nya. Dan ia pun sebenarnya belum mau berhenti sekarang. Kedua matanya mencari-cari satu gandharwa lagi pembawa senapan laras panjang sniper. Ia kemudian mendapatkan sang gandharwa yang ia cari berlari turun dengan cepat melalui fire escape atau tangga darurat gedung.


Ketika sang gandharwa sudah hampir mencapai anak tangga terakhir, Wrekodara langsung melompat turun, memanfaatkan drop ladder agar ia dapat meluncur dan melayang turun dengan cepat ke bawah menyusul sang lawan. Siluet skyline Wanamarta membayang sebagai latar belakang tubuhnya yang melaju.


Sayangnya, walau kecepatan Wrekodara si raksasa itu bisa dikatakan impresif, sial bagi dirinya, karena sesampainya di bawah, sang gandharwa entah bagaimana sudah berhasil masuk ke dalam sebuah kendaraan serta melarikan diri melaju dengan mobil Chrysler Imperial 1953 merah terangnya yang terparkir di satu sudut bangunan dimana tentu sudah dipersiapkan dan direncanakan sebelumnya. Binatang besi beroda empat itu menderu keras dan melenggok gesit di belokan hilang dari pandangannya.


Wrekodara nampak berusaha menahan amarahnya, ia bahkan belum ngos-ngosan atau menarik nafas kelelahan namun buruannya telah berhasil minggat. Staminanya masih sangat cukup untuk membunuh dua ekor gajah. Sebagai hasilnya ia gagal menahan ledakan amarah yang membludak di dalam dadanya. Dengan kesal yang meletup-letup, ia melepaskan kemarahan dengan menghajar beberapa trash can yang berdiri berdampingan di tepi jalan dengan tendangan kakinya. Sampah berhamburan, bahkan trash can yang ia tendang terlempar jauh sampai ke bangunan di seberang jalan.


Syukurnya, kemarahan dan semangatnya yang belum reda mendadak dibayar tunai dengan mendapatkan jawabannya ketika ia mendengar raungan mobil 1951 Jaguar Xk 120 berwarna hitam mengkilat di sampingnya. Janaka berada di balik kemudi berteriak ke arahnya, "Lompat, Kakang!"


Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Wrekodara membuka pintu dan melompat masuk ke kursi sisi penumpang di mobil sport convertible tersebut. Jaguar Xk 120 dengan dua bucket seats dari bahan alloy itu memiliki body yang aerodinamis sehingga dapat melaju dengan kecepatan sampai 193 km/h dan melenggak-lenggok di atas jalan beraspal dengan gesit.


Janaka menginjak pedal gas sampai menabrak lantai mobil, pedal to the metal. Bagai kuda dipecut, Jaguar Janaka melaju meninggalkan suara raungan yang menghilang lamat-lamat, berputar di kelokan mengejar mangsa, laksana seekor macan jaguar sungguhan sedang berburu. Deretan bangunan berwarna kelabu, hitam dan merah bata terlewati. Lampu-lampu jalan yang menekuk di atas kepala mereka seakan menyinari sebuah perlombaan adu balap atau pertunjukan jalanan.


"Sial, harusnya aku membeli versi racing. Kecepatannya bisa sampai 277 km/h," gumam Janaka ketika memainkan gas dan perseneling mobilnya.


Tapi, walau sepertinya Janaka tidak terlalu puas dengan kecepatan mobilnya, dengan lincah melewati satu kelokan pertama, kemudian kelokan kedua dan menerobos sebuah perempatan jalan, sebentar saja Chrysler Imperial di depannya sudah terkejar. Salah satu mobil favorit sang pria flamboyan dari keluarga the Pandawas itu itu ternyata masih sangat mampu untuk diandalkan. Tentu saja juga kerena dilengkapi dan disempurnakan dengan kemampuan Janaka dalam memacu mobilnya pula.


Mengetahui bahwa tak perlu waktu lama lagi mobil pengejarnya akan berada tepat di samping mobilnya hanya dalam hitungan detik, si gandharwa memutuskan menggoyangkan setirnya membuat gerakan zigzag agar terlepas dari kejaran dengan cara menutup-nutupi akses jalan si pengejar. Tidak hanya itu, ia bahkan sengaja membanting stir untuk mencoba membenturkan body belakang mobilnya ke Jaguar yang dikendarai Janaka untuk mengganggu sang pengejar atau membuatnya celaka dan bahkan membunuhnya.


Dalam keadaan seperti itu, Janaka yang malah mengambil sebuah tindakan ekstrim. Ialah yang mengerem dan membanting setir sehingga mobilnya berhenti dengan posisi menyamping sehingga terhindar dari tubrukan musuh. Ini juga ia lakukan agar mudah baginya mengarahkan Pistol Luger di tangan kirinya, sang Gandewa, ke arah Chrysler Imperial merah terang yang melaju menjauh di depannya, melalui kaca samping kemudinya.


Letupan keras terdengar dan satu timah panas lepas liar menderu dari moncong Luger Janaka menembus kaca belakang mobil Chrysler Imperial merah itu, langsung terus menerobos kepala sang gandharwa, serta terus keluar menembus kaca depan. Chrysler Imperial merah itu kehilangan arah dan kontrol menabrak tiang lampu di perempatan kedua tepat sebelum tadi ia berniat untuk berbelok.


Bunyi tubrukan keras mengambang di udara. Cairan merah darah membasahi interior mobil, tetesannya juga terciprat keluar menyatu dengan warna mobil. Asap tebal bergulung-gulung bagai kawanan domba mengepul dari kap mobil. Jaguar Janaka mendekat dan mendecit berhenti. Wrekodara membuka pintu dan turun dengan cepat untuk mengecek keadaan gandharwa yang mereka buru.


Jelas sang gandharwa sudah tewas. Darah tidak hanya dari luka tembusan timah panas Gandewa Janaka, namun juga dari tubrukan parah yang menghancurkan bagian dan organ tubuh si gandharwa. Toh pada dasarnya, Wrekodara pun tak meragukan kemampuan Janaka, adiknya, dalam hal tembak-menembak. Ia hanya ingin melihat rupa orang yang berani meberondongnya dengan timah panas untuk berusaha membunuhnya tadi. Meski sayang, wajahnya sudah terlalu hancur untuk bisa dikenali dengan baik.


Dari dalam mobilnya Janaka baru sadar bahwa darah membasahi kaus putih Wrekodara, "Kakang, kau terluka?" serunya keras di sela-sela dengungan Jaguar.


Mendengar seruan pertanyaan adiknya, Wrekodara mengangkat kemudian melambaikan tangannya ke arah Janaka untuk mencegahnya turun dari mobil, "Aku tidak apa-apa. Kita pergi saja dari sini."


Wrekodara masuk kembali ke mobil. Tak lama kedua adik beradik tersebut meninggalkan tempat perkara kejadian itu dengan cepat, hanya menyisakan bunyi deruan dan dengungan mobil Jaguar yang khas yang perlahan hilang terbawa angin malam kota Wanamarta.