The Babad Noir

The Babad Noir
the connection



Arimbi nampaknya tak mampu menahan lagi gejolak di hatinya. Ia meledakkannya di depan sang adik. "Mengapa kita terjebak dalam dunia ini, Adi? Mengapa aku harus dilahirkan dalam kelompok bhuta? Mereka mengagung-agungkan status mereka yang padahal berkonotasi negatif, disamakan dengan mafia dan gangster atau organized crime lainnya. Kita berbisnis, meski aku paham tak gampang menghindari sisi gelapnya. Tapi, narkoba, prostitusi?! Aku jijik dengan ini semua. Harusnya kita dikenal sebagai raksasa bukan karena perilaku kita yang barbar, tapi karena kehebatan dan kekuatan kita dalam berbisnis, membangun kerajaan Pringgandani Corp. dengan kepala tegak karena bangga, bukan karena jemawa. Kita bisa saja sogok para batara, para polisi. Kita bisa intimidasi orang-orang yang tidak sejalan dengan rencana bisnis kita. Bahkan kaum jim dan gandharwa lebih terhormat, menjadi rentenir. Mereka bisa menunjukkan taring mereka dan bekerja dalam diam. "Bagaimana dengan kau, Adi? Lihatlah, buku dan ilmu pengetahuan adalah jiwamu. Tapi kau harus mengenakan giwang lebarmu. Karena kau adalah seorang bhuta. Sepasang anting-anting itu memaksa kita bertindak sebagai seorang buta, yang kasar, yang jahat dan mungkin buruk rupa."


"Itu sebabnya tak kau kenakan sepasang giwangmu dan berpakaian seperti laki-laki ini, kangmbok?" respon Kalabendana.


"Apa yang terjadi pada kita, Adi?" Arimbi tidak mengacuhkan pertanyaan Kalabendana yang terakhir. Bunyi klakson mobil Chevy terdengar lamat-lamat dari kejauhan. Beberapa pejalan kaki melewati toko sambil tertawa-tawa.


"Kau tidak suka dengan cara Kakang Arimba memimpin Pringgandani? Padahal, kau adalah harapan Kakang untuk menggantikan kedudukannya suatu saat bukan?" ujar Kalabendana sembari menatap Arimbi lekat-lekat.


"Pada saat hari itu datang, aku sudah bungkuk, beruban dan sudah lupa segalanya. Mendiang ayah kita Arimbaka adalah seseorang yang masih keturunan batara, kaum penguasa. Ia adalah lelaki yang ambisius. Sifatnya yang tidak hanya ambisius namun juga keras, serakah dan mau menang sendiri membuatnya menemukan ibu kita, Adimba, seorang bhuta sejati. Pernikahan mereka membuat keluarga kita masuk menjadi golongan bhuta,” ujar Arimbi.


"Kau tahu adikku, ayah yang kejam dalam bisnisnya berhasil merebut perusahaan Prajatisa dari tangan Bomantara. Dengan liciknya ayah menyerahkan perusahaan itu pada Narakasura, pesaing berat Prajatisa yang sedari dahulu bernafsu ingin memilikinya. Sebagai gantinya, ayah menginginkan wilayah bisnis Tunggarana dari perusahaan itu sebagai milik Pringgandani Corp. Hanya Pringgandani yang boleh menjual daging kemasan dan obat-obatan di area Tunggarana. Gaya monopoli ini yang membuat kaum bhuta kaya raya dan menguasai separuh Wanamarta yang pada dasarnya masih di bawah kekuasaan bisnis Hastina Enterprise. Hastina Enterprise ... Milik Master Pandu ...," lanjut sang gadis. "Ya, sahabat sekaligus mentor mendiang ayah kita."


Arimbi menyentuh tumpukan buku tanpa ada maksud apa-apa, "Aku tak bisa menyalahkan Kakang Arimba yang seperti menyalin sifat ayah. Itu alamiah. Apalagi Kakang benar-benar ikut ayah dalam misi bisnis menguasai Prajatisa dan mengambil alin Hastina Enterprise meski yang terakhir tidak berhasil. Saat itu jaman begitu keras. Pengguasaan dan monopoli bisnis adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pertumpahan darah tidak bisa dielakkan. Dan kau tahu adikku, kita sekarang sedang kembali menuju ke masa itu."


Kalabendana memainkan cangkir espresso-nya, "Bagaimana sebenarnya ayah kita dibunuh?"


"Hati-hati, Adi. Tidak semudah itu mengatakan bahwa ayah kita dibunuh Master Pandu, sahabatnya sendiri."


"Maaf kangmbok, tapi aku kan anak termuda dari delapan saudara. Hanya itu yang kuketahui dari kecil. Ayah dibunuh atau terbunuh oleh Master Pandu, pemilik Hastina Enterprise. Perusahaan raksasa itu. Dan ... Anak-anak mereka sekarang di sini. Di barat Wanamarta. Membangun kembali pengaruh kota kecil yang hampir seluruhnya dikuasai para bhuta dan jim serta gandharwa, setelah bertahun-tahun diperjuangkan oleh Kakang kita, Kakang Arimba, setelah ayah kita wafat dan ketiadaan Master Pandu."


Arimbi mendengus. "Untuk seorang kutu buku aku kaget kau kurang penelitian, kurang rasa ingin tahu sehingga tidak melakukan observasi dan investigasi terlebih dahulu untuk mengetahui suatu fakta."


"Ah ... Mungkin sudah mendarah daging. Grusa-grusu, ceroboh dan penuh amarah, gegabah dan tanpa perhitungan. Merasa familiar dengan ciri-ciri ini?"


"Karena kita bhuta," jawab Arimbi.


"Karena kita adalah bhuta," ulang Kalabendana.


"Kangmbok ... Bisakah aku katakan sesuatu?" ujar Kalabendada tiba-tiba.


"Adi Kalabendana, tentu saja. Bukankah kita di sini memang untuk berbicara?"


Kalabendana berdiri untuk membuat secangkir espresso lagi. Ia letakkan salah cangkir kecil yang menguapkan panas itu di meja. Satunya ia pegang dan seruput. Kemudian ia berjalan ke balik meja kasirnya dan memutar tombol radio Blaupunkt-nya. Mencari stasiun yang tepat. Ia berhenti di satu single rhythm and blues dengan tempo medium. Ia keraskan sedikit volumenya, tidak terlalu keras namun cukup meyakinkan bahwa tak seorangpun di luar dinding yang dapat mencuri dengar percakapan mereka.


Arimbi mengerutkan kening. Kedua matanya mengekor adik paling bungsunya itu.


"Kakang Brajadenta," ujar Kalabenda kemudian.


"Ya ... Ada apa dengan Brajadenta?" selidik Arimbi.


"Mengenai prostitusi ... Ia lah yang memainkan peran terbesar di sana."


"Apa maksudmu, Adi?"


"Ah, bagaimana memulainya. Tapi untuk hal ini, aku benar-benar melakukan investigasi. Aku bahkan melihat secara langsung penjualan perempuan, bahkan gadis-gadis di bawah umur di Wanamarta ini. Kakang Brajadenta mungkin tidak langsung turun tangan dalam menyeleksi para pekerja seksual itu, tapi ialah yang menciptakan kesempatan ini. Para hidung belang berdatangan dari berbagai kota. Sialnya Kakang Brajadenta ikut-ikutan dalam perpolitikan Hastina Enterprise. Ia didukung oleh beberapa keluarga Kurawas yang ... Kau tahu sendiri ‘kan kangmbok ... bermusuhan dengan sepupu mereka sendiri, para Pandawas.”


Arimbi berdiri. Badannya menjulang tinggi di depan Kalabendana. Ia kali ini benar-benar terlihat seperti raksasi alias raksasa perempuan. Matanya membulat marah. Darah di wajahnya berkumpul di pipi dan dahi. Ia seperti sedang terbakar dalam arti sebenarnya.


"Gadis-gadis di bawah umur?!" seru Arimbi yang meski tak dimaksudkan untuk membentak atau memarahi Kalabendana, sang adik bungsunya itu, tetap saja cukup mengejutkan dan cenderung mengerikan. Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa Arimbi cukup dikenal dengan citra atau imejnya sebagai seorang perempuan raksasa yang menakutkan, mungkin cenderung kejam.


Alhasil, Kalabendana merasakan tubuhnya yang sudah kecil itu semakin menciut hampir menghilang sekecil atom. Ia hapal sekali dengan tabiat kakak perempuannya itu. Darah kaum bhuta jelas seakan tak bisa lepas dari jiwa dan tabiatnya. Kalau sudah begini, mau tidak mau Kalabendana harus menjelaskan secara mendetail, pelan dan terstruktur, mengenai hal ini kalau tidak mau kakaknya semakin murka.


"Sayangnya, ya, kangmbok. Aku tak sengaja mengikuti salah satu cecunguk bhuta yang sebenarnya bukan anggota bhuta ke sebuah tempat di ujung Pringgandani," jawab Kalabendana pelan dan sedikit takut-takut.