The Babad Noir

The Babad Noir
the knife



Skyline Wanamarta dengan lampu-lampu menyala terang maupun temaram dan bangunan-bangunan tinggi terpapar sinar bulan yang redup menjadi latar belakang diam bagai sebuah kanvas lukisan, sementara sosok raksasa Wrekodara bergerak cepat melompat-lompat di rooftop. Ia meloncat di atas ventilasi, melewati cerobong asap yang tersusun dari bata merah, melangkahi dengan cepat pipa-pipa air dan gulungan kabel, serta menunduk dan merunduk di bawah papan reklame. Timah panas berdesing di atas kepalanya mengejar mangsa bagai pagutan belasan ular Kobra. Lecutan api dari moncong senjata menerangi puncak bangunan tersebut.


Gerakan Wrekodara sang pria bertubuh raksasa ini luar biasa gesit. Bila diibaratkan gerak seekor binatang ia bukan bagai beruang, tapi lebih seperti seekor kera raksasa yang walau bertubuh besar, sangat lihai sekaligus ganas, luwes memanjati pepohonan di dalam hutan. Bedanya, pepohonan tersebut adalah gedung-gedung, sedangkan hutan tersebut adalah kota Wanamarta.


Di sudut lain yang berlawanan terlihat tiga orang mengendap-endap. Satu orang menembakkan timah panas dari senapan sniper laras panjangnya ke arah Wrekodara. Salah satu dari mereka terluka di bahunya. Ia adalah penembak jitu dari golongan gandharwa yang berhasil dilukai Janaka dengan sepasang pistol Luger-nya dari bawah sana tadi. Orang tersebut kelihatan sekali kepayahan sehingga tak mungkin untuk ikut menembaki Wrekodara yang sedang mengejar mereka sampai ke rooftop.


Satu orang lain, orang ketiga, menembakkan revolver Colt Python 357 Magnum Revolver dengan enam timah panasnya. Salah satu Colt double-action revolver yang paling prestisius di zaman tersebut. Senapan laras panjang sniper yang sedang digunakan itu sebenarnya tidak efektif digunakan dalam keadaan seperti ini, dimana mereka harus menembak cepat sembari musuh terus merangsek maju dengan sama cepatnya. Sedangkan revolver memiliki jarak tembak yang terbatas, meski menjadi sangat berbeda ketika revolver atau handgun jenis apapun berada di tangan Janaka.


Wrekodara menghitung semburan timah panas yang menyerangnya dan memikirkan jeda waktu reload timah panas untuk melompat maju. Ia sendiri menempelkan punggungnya di balik ruangan untuk emergency exit door ke rooftop. Beberapa butir timah panas menabraki pintu baja ringan dan dinding beton di belakangnya, menciptakan percikan api dan bunyi letusan yang khas.


Wrekodara meraba bahu. Darah membasahi baju putihnya. Rupa-rupanya tanpa ia sadar satu amunisi timah panas yang ditembakkan musuh berhasil menembus bahu dan satu lagi menyerempet lehernya. Entah kapan mimis itu bersarang di tubuhnya. Namun ia tak sempat hiraukan rasa nyeri yang menusuk karena para penyerang masih terus mencoba meloloskan timah panas dari senjata mereka ke arah Wrekodara, berusaha mencabik-cabik tubuhnya dan tentu saja pada akhirnya berusaha membunuhnya.


Benar kata Penyukilan bahwa para penembak jitu dari rooftop ini adalah para gandharwa, namun yang tak dilihat penyukilan adalah bahwa orang yang memegang Colt Python 357 adalah seorang anggota bhuta. Anting-anting lebar menggantung di kedua telinga dibalik topi fedora hitamnya. Sebenarnya bhuta ini pula yang berhasil melukai Wrekodara di bahu dan lehernya, bukan para penembak jitu gandharwa dengan senapan laras panjang mereka.


Dua orang gandharwa bersenapan laras panjang tertatih-tatih melarikan diri. Wrekodara membuang topi cap-nya agar dapat berkonsentrasi dan memfokuskan diri pada pengejaran musuh. Ia masih menempelkan tubuhnya di bangunan emergency exit door sembari sesekali mengintip ke arah musuh. Saat itu pula tidak lagi terdengar bunyi ledakan Colt atau rifle Modelo. Wrekodara mengintip lagi. Sang bhuta kini berdiri di seberang sana. Colt-nya sudah ia selipkan di balik pinggang. Mungkin sudah kehabisan amunisi. Namun sebagai gantinya, tangan kanannya menggenggam sebuah machete. Kedua matanya nyalang memerah. Mulutnya seperti berkomat-kamit. Atau ia sedang menguyah sesuatu?


"Selesaikan disini sekarang bangsat!" mendadak ujarnya berseru keras dan nyaring, jelas kepada Wrekodara sebagai sebuah tantangan. Ketiga musuh yang berlarian di atas rooftop bangunan tersebut sudah kehabisan timah panas. Mereka juga sudah enggan untuk berlari dari kejaran Wrekodara. Maka sebuah tantangan, duel, diharapkan akan menjadi kesimpulan pertarungan ini.


Wrekodara menampakkan tubuh raksasanya. Ia meraba dua buah kudhi dari pinggang di bagian belakangnya. Kudhi sendiri adalah senjata berjenis belati dengan mata pisau yang ke depan, namun tidak semelengkung sabit. Gagangnya berwarna putih gading dilengkapi dengan cincin pelindung jari telunjuk. Di tangan Wrekodara yang besar itu, kudhi lebih menyerupai sepasang kuku yang mencuat dari buku-buku jarinya dibandingkan sebuah belati. Sepasang kudhi ini dikenal dengan nama Pancanaka. Seperti kebiasaan para anggota mafia atau brotherhood, Wrekodara juga menamai senjatanya ini sebagai bentuk identitas dan pengukuhan jati diri.


Sang bhuta menggeram garang menerjang ketika melihat jelas tubuh Wrekodara. Tangan kanannya mengayunkan machete dengan liar membabat ke arah kepala, leher dan dada Wrekodara. Wrekodara berkelit dengan mudahnya sedangkan kedua Pancanaka merobek lengan dan bahu sang bhuta dengan sekali gerak. Akibatnya, Machete sang musuh jatuh terlempar jauh. Anehnya, sang bhuta tetap menatap Wrekodara garang. Seakan tak terlihat rasa sakit. Bahkan tak ada sekalipun keluhan terdengardari mulutnya.


Ini mengingatkan Wrekodara kepada sang Kakang, Puntadewa, yang juga tidak dapat merasakan sakit. Bedanya, sang Kakang sadar ini semua dan wajahnya dingin hampir tanpa emosi. Berkebalikan dengan sang bhuta di hadapannya ini yang memiliki emosi dan stamina yang berkobar-kobar menggila. Pasti ada sesuatu yang salah. Insting Wrekodara bekerja dengan baik.


Tubuh Wrekodara terdorong mundur dan menabrak besi-besi penyangga water tank yang terbuat dari kayu. Ini dikarenakan sang bhuta meraung maju tak memedulikan luka-lukanya kemudian menubruk dan menghimpit, mencekik leher Wrekodara. Wrekodara menusukkan Pancanaka di tangan kanannya ke perut bhuta dan tangan kirinya menyelamkan Pancanaka di ketiak sang musuh.


Masih tak ada erangan rasa sakit dari lawannya tersebut.


Bahkan cekikan sang bhuta di lehernya itu makin mengeras. Wrekodara mencabut Pancanaka dari lambung si penyerang, kemudian membenamkannya ke otak sang bhuta melalui bagian lembut diantara tekak leher dan dagu menembus ke langit-langit mulut.


Kali ini sang bhuta akhirnya tewas seketika karena otaknya sudah tak mampu bekerja lagi.


Wrekodara melemparkan tubuh tak bernyawa itu ke samping dengan kasar dan tanpa emosi kemudian menderu menghambur mengejar dua musuh yang tersisa.


Di hadapannya sekarang kembali berdiri seorang gandharwa. Senapan laras panjangnya diletakkan di lantai. Tubuhnya tidak berdiri tegak karena bahunya mengalirkan darah terus menerus membasahi suit hitamnya. Tangan sang gandharwa bergetar, mengambil sesuatu dari sakunya kemudian memasukkan ke mulutnya. Sang gandharwa mengunyah benda yang baru saja ia masukkan ke mulutnya tersebut. Hanya dalam sepersekian detik, tubuh sang gandharwa meregang, menegak. Kedua matanya melotot, sepertinya seluruh otot-otot tubuhnya bereaksi dengan ganas karena diperintah oleh otak sebagai akibat benda yang ia gigit tersebut.


Tubuh sang gandharwa yang semula sangat kepayahan bahkan hanya untuk menegakkan tubuhnya itu kini berdiri mantap menyongsong Wrekodara. Mulutnya menyinggungkan senyum tipis namun penuh dengan semangat yang berkobar-kobar. Kedua tangannya mengepal di sampingnya.