Thanks You #1

Thanks You #1
55. Malam Panjang (1)



[Karla Yukiko]


Aku tahu itu Juan.


Dari cara dia menyentuh tubuhku aku tahu tangan besar itu milik Juan seorang. Tapi, aku tidak bisa melihatnya sekarang.


Aku malu dengan diriku sendiri. Monter dalam diri Karla Yukiko mulai menampakkan diri. Aku tidak bisa menghadapi Juan dengan keadaanku yang sekarang kacau begini. Terlebih lagi dia kini adalah calon suamiku.


Jadi, aku membiarkan Juan membopongku kembali ke rumahnya. Membenamkan wajahku ke dalam dadanya yang lebar. Menyembunyikan wajahku yang panas. Malu sekali, karena ternyata aku hanya berlari berputar mengelilingi jalan belakang rumah besar keluarga Baumer.


Jalanan beraspal yang merupakan rute Juan dan ayahnya berlari di pagi hari. Sia sia saja aku melarikan diri tadi.


“Aku obati dulu luka di kakimu ya ..” ucap Juan dengan suara lembut.


Dia keluar dari kamarnya, dan kembali lagi tak lama berselang dengan membawa kotak putih bertuliskan P3K.


Tangan gesitnya membersihkan kotoran yang menempel di sela sela tumit kakiku yang terluka. Membubuhkan alkohol dengan kapas lalu membalut bagian yang terluka dengan kain kasa dan plester yang sudah diberi cairan antiseptik berwarna cokelat.


“Juan, dimana paman dan bibi.”


“Mereka sudah pergi untuk menghadiri jamuan dengan asosiasi pengusaha.” Kata Juan sambil merapikan kotak P3K.


“Paman dan Bibi pergi begitu saja ?” tanyaku geran.


“Iya.”


“Jadi mereka berpakaian seperti itu untuk acara tersebut ?”


“Betul. Ya ampun, Karla. Apa kamu sedang berpikir yang aneh aneh tadi ?” tangan kiri Juan menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gerakan aneh.


“Tentu saja. Bagaimana tidak, Paman dan Bibi yang sekarang adalah calon mertuaku. Dan juga, Paman barusan seperti sedang menginterogasi...” tuturku masih tidak habis pikir. Melanjutkan ocehanku hanya akan membuatku semakin malu.


Kenyataan dan apa yang bergolak dalam benakku tadi hanya sebagai paranoid dariku saja ?


“Karla, papa maksudku Ayah tadi bercanda. Dia hanya sedang mengujimu saja, Karla. Jangan pernah kamu masukkan ke hati.oke ?” Juan terkekeh, deretan gigi putihnya yang rapi dan terawat terlihat jelas. Wajahnya yang putih terkena pantulan cahaya lampu di sudut kamar terlihat sangat berbeda, ada jejak aura bangsawan disana. Sisi yang tidak pernah aku lihat dari seorang Juan sebelumnya.



☆☆


☆☆☆


☆☆☆☆


☆☆☆☆☆


☆☆☆☆


☆☆☆


☆☆



.


Aku tersadar, dengan Juan yang dihadapanku adalah seorang pria dewasa. Bocah tengik yang selalu aku remehkan telah menjelma menjadi sosok yang sempurna.


Akulah yang terlambat menyadari fakta Juan yang sekarang. Juan Baumer versi dewasa.


Pria tanpa cela yang rela mencintaiku apa adanya diriku saat ini. Jika aku bisa berbangga tentu dengan senang hati aku lakukan itu. Namun, dengan adanya Juan disampingku menuntukku sebuah hak untuknya. Hak kepantasan dariku. Hak yang menuntutku untuk dapat mengimbangi Juan dan segala hal yang mengikutinya. Keluarga besarnya, pekerjaannya, tanggung jawabnya yang tidak sedikit dan cintanya kepadaku. Apa aku sanggup memberikan hak itu kepada Juan ?


Perlahan Juan membaringkan diriku ke tempat tidur. Menyelimuti tubuhku dengan kain tebal bergambar laut samudera kesukaanku.


Tunggu, kenapa juga aku baru menyadari hal ini ? Padahal aku sudah sering keluar masuk kamar Juan.


“Aku pergi dulu, ada beberapa dokumen yang harus aku periksa.” Ucapnya sedikit berbisik.


Aku menggangguk setuju. Dan memandang Juan pergi meninggalkan kamar menuju ruang kerja ayahnya.


Sendirian aku di kamar. Sunyi, sepi. Pendingin udara sepertinya terlalu rendah pengaturan suhunya, dingin menggigil sekujur tubuhku. Karenanya aku menyelimuti tubuhku hingga kepala.


Tak lama kemudian tubuhku berubah panas dingin, apalagi tumit kakiku yang tadi terluka seakan ditusuk dengan es. Membuatku panik. Ada apa dengan diriku ?


Lama ku pandangi langit langit kamar Juan yang berhiaskan bintang – bintang kecil dan berkelap kelip. Bukankan ini mirip seperti kamarku dulu ? Bagaimana Juan bisa memiliki dekorasi kamar yang sama persis dengan kamarku sewaktu kecil ? Atau mungkin ini hanya kebetulan saja, lagi pula Juan tidak pernah melihat atau masuk ke dalam kamarku saat kecil dulu.


Semakin aku pandangi pemandangan kelap kelip bintang di atasku ini aku merasa ada yang aneh, belum lagi sebuah gugus bintang yang teletak agak di sudut pojok diatas pintu itu membentuk sebuah huruf.


“K ?” ucapku lirih. Apa maksud dari huruf K itu ?


“Belum tidur ?” suara Juan yang tiba – tiba mengangetkanku. Sontak membuatku terduduk.


“Apa arti dari huruf K disana ?” tanyaku penasaran. Tidak lupa menunjuk ke arah gugus bintang aneh tersebut.


Juan hanya tersenyum. Tidak menjawab. Hanya mengulurkan segelas air putih padaku.


“Minumlah ini, lalu istirahat. Oke ?” katanya tanpa berniat menjawab pertanyaanku.


Aku meminum airnya sampai habis. Meletakkan gelas kosongnya diatas nakas. Dan berusaha kembali memejamkan mata. Sial. Karena setelah meminum air tersebut aku jadi tidak mengantuk.


Aku mengeluhkannya kepada Juan yang duduk di tepi ranjang. Lalu beranjak hendak pergi membuatkan susu untukku.


“Tidak perlu. Bisa ceritakan saja bagaimana kamu bisa mempunyai dekorasi pemandangan langit seperti ini.” Kataku dengan menarik ujung bajunya. Menahan dia pergi.


Juan menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan pelan. Kemudian dia duduk kembali di ranjang. Kali ini tepat disampingku.


“Apa aku sudah pernah cerita, ada seorang gadis senior yang selalu menolongku saat dirundung ?” matanya menatap tepat kearahku.


“Itu aku ?” ucapku setengah yakin. Karena dulu aku sering memergoki Juan yang menangis saat dirundung oleh teman sekelasku. Mereka iri dengan wajah cantik Juan kecil.


Pria disampingku mengangguk. Lalu tersenyum lebar.


Tangannya meraih pipiku, mendekatkannya ke wajahnya lalu mencium bibirku dengan lembut.


Aku kaget dan malu. Membuatku meringgkuk ke pelukan Juan. Menyandarkan kepalaku di atas dada bidangnya. Mendengarkan suara jantungnya berdetak dengan ritme yang menakjubkan. Mencium aroma tubuhnya yang wangi seperti udara pagi hari bercampur embun pagi. Menenangkan. Aku terlena hanya dengan menyelami dada atletis Juan.


Juan menatapku dengan pandangan yang tidak aku mengerti. Kami berpandangan cukup lama. Hingga aku menyadari perubahan suhu tubuhku yang memanas. Hanya dengan dipeluk oleh Juan seperti ini saja sedah bisa menghangatkan seluruh tubuhku yang tadi menggigil.


“Hmm. Terima kasih Juan sudah mencintaiku.” Ucapku dengan bisikan diantara dagu dan leher jenjang Juan.


Dia memelukku lagi. Mencium keningku, hidungku, kedua pipiku, daguku lalu bibirku. Melumatnya dengan lembut seolah – olah itu permen karet. Anehnya, aku menikmati itu.


Aku menikmati saat Juan memperlakukanku dengan lembut seperti ini. Tidak seperti malam yang lalu lalu, si Juan yang agresif. Malam ini Juan bersikap sangat lembut dan hati – hati.


“Aku cinta kamu, Karla.” Kata Juan lagi, setelah dia berhenti menciumku.


“Aku tahu itu. Terima kasih Juan.” Ucapku setengah berbisik.


Secara sadar aku menyambut bibirnya yang hendak menuju ke bibirku. Kami berciuman lagi, dan lagi. Malam yang dingin berubah menghangat dan memanas dalam beberapa menit.


Hingga dapat aku rasakan salah satu tangan Juan bergerak liar menarik resleting belakang gaun yang aku kenakan.


“Juan, tunggu dulu..” ucapku setelah mendorongnya hingga jatuh disampingku.













.


.


.


Tbc...


____________$_____$_____________


***Siap-siap tahan napas karena bab selanjutnya semakin panas.





Peringantan : banyak adegan yang khusus bagi kamu yang sudah menikah. Bagi yang belum sebaiknya di skip, takut nanti gak doyan makan karena ngebayangin yang belum saatnya loh.





Nanti aku gak akan tanggung tanggung lagi bikin kamu ambyar.





Please jangan salahkan aku kalau efeknya gak cepet ilang. Karena aku juga panas dingin nulisnya.


VOTE


VOTE


VOTE


Aku minta vote dari kamu sebanyak banyaknya ya ♡♡♡











☆☆