
Dear Reader Mangatoon dan Noveltoon yang saya hormati,
Apa kanar kalian semua?
Semoga selalu dalam keadaan, kesehatan dan kebahagian yang
berlimpah ruah.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca sebuah wacana
dari seorang penulis yang kalau diartikan seperti ini :
“Sebagai penulis, saya mempunya kewajiban dan tanggung jawab
moral atas semua yang saya tulis. Baik secara meteril mau pun spiritual. Oleh
karena itu, saya sangat berhati-hati dalam membuat cerita saya. Karena saya
meyakini pertanggung jawaban atas tulisan saya yang dibaca oleh pembaca akan
saya bawa kelak hingga mati. Efek baik atau pun buruk akan menjadi dosa dan
pahala yang saya bawa mati.”
Nah kata-kata tersebut sangat menghantui saya hingga
sekarang.
Maka dari itu, mulai sekarang saya akan menyortir semua
tulisan saya yang pernah diunggah di platform digital dan melakukan editing.
Jika saya merasa perlu untuk menhapusnya dari peredaram dunia maya, sebelum dan
sesudahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca sekalian.
Karena rasa dihantui akan tanggung jawab secara moral tidak mudah saya abaikan
begitu saja.
Untuk ke depannya lagi, saya akan lebih memperhatikan apa
saja cerita saya yang bias di publish di Mangatoon dan Noveltoon, semoga kalian
pembaca yang budiman bias menghargai keputusan saya ini. Jujur hal tersebut
tidak mudah namun harus saya lakukan benar-benar. Saya tidak mau menyesal di
kemudian hari karena tulisan saya yang asal asalan.
Salam,
Ningsih Nh
Cuplikan cerita TUJUH PENGUASA NAGA…
(doakan saya punya kesempatan untuk merampungkan cerita
ini,)
Pulau
Flores dahulu kala biasa disebut dengan nama Nusa Nipa yang mana bisa diartikan
dengan nama Pulau Naga, dimana salah satu spesies hewan legenda yang sudah ada
beribu tahun itu tinggal, berkembang biak, hidup damai namun tersembunyi dari
masyarakat lalu kemudian punah.
Kini,
cerita yang mengambil setting latar abad ke tiga masehi Nusa Nipa jauh sebelum
kisah Larantuka berlangsung. Tidak kurang dari tujuh kerajaan berkuasa di tanah
bumi sang legenda hewan penguasa, naga.
Kembali
lagi ke masa dimana Nusa Nipa dalam abad ketiga. Dimana peradaaan yang ada
hanyalah berupa kerajaan kerajaan kecil yang saling berebut wilayah. Atau
sekedar mempertahankan wilayah dari caplokan kerajaan tetangga.
Ada
Ada
yang berusaha menjadi superior di bumi Nusa Nipa.
Begitulah
dunia berjalan. Dari dulu, sejak dulu kala. Yang kuat menggilas yang lemah.
Yang bertahan mencoba menyingkir dari kancah perang sengit tanpa kesudahan dan
memilih melakukan gencatan senjata. Hal yang mungkin akan mereka sesali pada
akhirnya. Karena tidak ada yang berakhir baik dalam sebuah drama perebutahan
kekuasaan. Pun tidak dimasa depan.
Sebuah
ancaman besar yang berasal dari dunia yang berbeda, jauh dari Nusa Nipa. Alam
supranatural dan dari sang Naga itu sendiri.
Tujuh
Penguasa Naga hadir bukanlah sebuah kebetulah, yanga mana memang di desain
sebagai awal mula kisah LPL.
Para
Naga dari bumi Nusa Nipa tempat sarang makhluk mitologi sekaligus supranatural
itu tidak bisa dilihat oleh sembarang orang kecuali ingin menampakkan diri
dengan keinginan sendiri.
Begitu
pula dengan sang penguasa dari makhluk bernama Naga, bukan sembarang manusia
yang bisa mengawal keberadaannya. Mereka, tujuh manusia terpilih yang bisa
dibilang suci yang mampu mengemban tugas mulai nan tragis.
Bagaimana
tidak?
Hanya
sampai nyawa sang pengawal naga itu berhenti maka berhenti pulalah beban
tanggung jawabnya. Dana untuk mencapai kata mati seperti yang dimaksud juga
tidak mudah. Mereka, sang pengawal di anugerahi kekekalan hidup panjang.
ya..
umur panjang bagi sebagian penguasa naga seperti buah simalakama, sebuah
kutukan. Mereka tidak bisa hidup seenaknya. Ada aturan tidak tertulis yang
membelenggu tiap langkah.
Namun,
bagi sebagian lain umur panjang itu juga adalah hadiah tanpa bisa disandingkan
harga gemilang. Mereka seakan bersorak riang menerima.
Umur
panjang berarti kesempatan hidup lebih banyak.
Umur
panjang berarti kesempatan memperbaiki kesalahan lebih besar.
Umur
panjang berarti bisa menjelajah dunia lebih lama.