Take Me To Another World

Take Me To Another World
Melintasi Dimensi



Dunia Fantasi


William menggenggam tangan Marni dengan penuh kelembutan. Ia memasang wajah pilu melihat sosok perempuan yang dia cintai terbaring di ranjang tanpa bergerak sedikitpun.


Kalau bukan karena tarikan nafasnya yang teratur dan suhu tangannya yang hangat mungkin William akan mengira Marni meninggal dunia. William dengan kantung mata hitam sudah mirip dengan panda masih juga enggan menutup matanya.


"William... Kita akan segera memulai," kata Mariana yang memasuki kamar dengan rohnya yang berada di puppet sihir.


"Oke," jawab William sambil menatap pada wajah puppet sihir yang mirip dengan manusia itu. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan berbaring di sebelah Marni.


Mark dan Lucas membawakan peralatan sihir yang digunakan untuk melakukan perjalanan waktu ke dalam kamar. Eleanor berada di pelukan Richard, mereka berdiri di dekat pintu tanpa berani memasuki kamar.


"Mama..." panggil William pada Eleanor.


Membuat Eleanor masuk ke kamar dengan Richard menuntunnya menuju William. Eleanor memandang anak satu-satunya dengan sendu.


"Sayang..." ucap Eleanor lirih.


Eleanor berusaha menahan kata-katanya dengan Richard yang menguatkan pundaknya. Richard menggelengkan kepala pada Eleanor. Eleanor hanya terdiam setelahnya.


"Willy bakal pulang, Willy cuma mau tidur dulu. Mama gak perlu khawatir. Selamat tidur Mama..." kata William sebelum menutup matanya dan Mariana memulai ritual sihir untuk mengirim roh William berpetualang melintas dimensi.


...🍀🍀🍀...


Dunia Modern


William membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Dia sadar kalau dari apa yang dia lihat, ini adalah dunia yang Mariana bicarakan sebelum dia melakukan perjalanan waktu.


Tetapi, alat apa yang menempel pada tubuhnya ini. William berusaha melepaskan paksa sehingga menimbulkan bunyi alarm dan petugas medis datang ke kamar perawatan miliknya.


Panah itu adalah sihir pelacak yang tidak akan lekang oleh perubahan dimensi sehingga walaupun William pergi dari dimensi fantasi ke dimensi modern masih dapat digunakan. Sihir yang ada di pergelangan tangannya menunjukkan arah di mana Marni berada.


Melihat sihirnya bukan lagi titik tiga yang berarti tidak dapat dideteksi melainkan sebuah panah menuju ke atas membuat William segera berdiri. William mendorong petugas medis menjauh darinya dan berusaha berdiri dan berjalan mencari Marni.


Sayangnya, William terjatuh dari ranjang saat dia mencoba berdiri. Pekikan kecemasan dari orang di sekelilingnya tidak membuat William menyerah untuk mencoba lagi. Tetapi dokter di sisi William segera menyuntikan obat penenang padanya.


William menatap dokter itu dengan tajam. Setelahnya William mulai kehilangan kekuatan dan kesadaran miliknya.


...🍀🍀🍀...


Beberapa hari setelah kejadian menghebohkan itu, William terpaksa menerima semuanya dengan tenang. Bagaimana tidak?


William tidak punya pilihan lain saat kaki dan tangannya diikat oleh para petugas medis. Saat seseorang bernama Rudi yang mengaku sebagai psikiater datang dan membuat William mulai mengerti dengan keadaannya yang ternyata tubuh yang dia tempati adalah Tuan Muda yang mendadak gila dan depresi akibat ditinggal kekasih hatinya.


Sekalipun William berteriak kalau dia waras, tidak ada yang mempercayai dirinya. William pun akhirnya menuruti saja kemauan Rudi melakukan berbagai treatment hingga William diperbolehkan melepaskan ikatan tangan dan kakinya.


Kadang akan ada beberapa orang yang mengaku sebagai ibu, ayah atau saudara perempuan dan lelaki dari tubuh ini datang. William hanya diam dan menunduk setiap kali mereka datang tanpa berkata apapun.


Setiap ada kesempatan William akan berusaha mengikuti tanda panah yang ada di pergelangan tangannya. Namun, saat sudah cukup jauh dari kawasan kamar rawat inapnya pasti ada seorang perawat yang akan membawa dia kembali.


Ini membuat William frustasi tetapi jika dia menolak bekerjasama dengan mereka. Pasti dia akan dikurung lagi di ruang isolasi.


"Hah. Kalau begini caranya kapan aku bisa menemukan Marilyn..." batin William yang mulai gundah.


...🍀🍀🍀...