Take Me To Another World

Take Me To Another World
Masuk Dalam Penjara Keluarga



Mendengar pasien yang koma sekarang siuman, dokter menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium. Pasien itu tidak lain dan tidak bukan adalah Marni.


Setelah menyelesaikan berbagai pemeriksaan dengan jalur vvip sehingga Marni tidak perlu menunggu antrian. Selain itu, Marni dan Mas Bimo bisa langsung duduk di ruangan konsultasi dokter setelah hasil lab keluar.


Semua kenyataan itu terpampang jelas di mata Marni. Memperlihatkan bahwa pengaruh keluarga Sutejo di rumah sakit ini sangat kuat. Marni berpikir dalam pikirannya, "Pantas saja tanpa tanda tanganku dan dalam keadaan kecelakaan, operasi pengambilan organ ginjalku bisa dilakukan."


Walaupun penuh dengan sarkasme dalam hati Marni, dia tetap menampilkan raut wajah tenang saat mereka sedang berdiskusi dengan seorang dokter bernama Ryan. Dokter Ryan membacakan hasil pemeriksaan laboratorium dan rontgen Marni lalu memberikan kesimpulan kepada mereka.


"Kondisi Anda sudah membaik tetapi tidak boleh tergesa-gesa untuk langsung berdiri. Perlu latihan berjalan karena Anda baru bangun dari koma."


Ekspresi Mas Bimo yang mengiyakan perkataan dokter lalu menoleh pada Marni di sebelahnya, "Kamu dengar itu, Marni?"


"Ya." Marni menjawab sambil menganggukkan kepalanya pada Mas Bimo.


Dokter Ryan yang melihat sikap kooperatif dari pasien, segera melanjutkan penjelasannya tentang proses penyembuhan selanjutnya, "Kalau gitu saya akan buatkan rujukan untuk ke fisioterapi."


"Baik Dok. Oya, kira-kira kapan saya boleh pulang?" tanya Marni.


Dokter Ryan kaget melihat pertanyaan dari Marni. Kemudian sedikit ragu-ragu untuk menjawab tetapi akhirnya dia tetap menjawab sebab pasien berhak tahu dengan apa yang akan dia jalani.


"Ah itu, sebenarnya Anda sudah boleh pulang sekarang tetapi bukankah Pak Bimo ingin memindahkan Anda di Puri Sari?"


"Puri Sari? Tempat apa itu, Dok?" tanya Marni heran sambil menoleh ke arah Mas Bimo yang masih terdiam.


"Itu adalah rumah perawatan di mana orang yang mengalami sakit stroke, demensia, alzheimer, ada juga pasien yang mengalami guncangan batin biasanya akan dirujuk ke Puri Sari."


"Hahahahaa...." tawa Marni dalam batinnya mendengar tempat seperti apa yang akan dia tinggali.


Tetapi terlepas dari tawa miris miliknya, raut wajah Marni tidak menunjukan perubahan apapun. Marni hanya menganggukkan kepalanya tanda dia mendengarkan dan setuju dengan ucapan dokter.


...🍀🍀🍀...


Saat mereka keluar dari ruangan dan duduk di taman rumah sakit, Mas Bimo menatap Marni dengan tatapan yang penuh dengan rasa bersalah. Tetapi apa gunanya itu?


Itu tidak akan mengubah fakta bahwa Marni tidak pantas mendapatkan perawatan dan kasih sayang bahkan dari kakak lelakinya yang terlihat peduli dengannya. Marni sebenarnya jengah dan tidak mau dengar apapun, tetapi dia sudah berniat untuk membalas semua perlakuan mereka.


"Tidak, aku harus menahan tempramenku," batin Marni dalam hatinya.


Setelah memantapkan hatinya dan mensugestikan itu pada pikirannya, dia menatap Mas Bimo dengan senyum penuh kasih. Marni menepuk pelan punggung kakaknya.


"Ada apa, Mas?" tanya Marni dengan nada penuh kelembutan dan perhatian seperti dulu ketika dia masih terobsesi dengan keinginan disayangi oleh keluarganya.


"Ah it-itu..."


"Huh? Mas kepikiran masalah perusahaan ya?"


"Kalau gitu, aku panggil Tuti. Biar dia yang jemput aku dan bawa aku ke kamar. Mas langsung balik aja ke perusahaan."


Wajah Marni yang penuh pengertian sambil tetap menepuk pelan punggung Mas Bimo. Tindakan Marni ini membuat Mas Bimo makin bersalah. Walaupun begitu, keputusan Mas Bimo tidak berubah untuk membawa Marni ke tempat terisolasi sesuai perintah ibunya, Salma.


"Kalau cuma mau bawa kamu ke kamarmu Mas masih ada waktu, Marni. Kamu mikir Masmu ini sekejam itu ya ninggalin kamu sendirian di taman rumah sakit, hmmm?" ucap Mas Bimo sambil mengelus rambut Marni.


Melihat tingkah Mas Bimo yang penuh sayang, Marni pun tersenyum tulus pada Mas Bimo.Tetapi siapa yang tahu di dalam hati, Marni penuh dengan kedengkian dan rasa jijik pada tingkah kakak kandungnya.


Hari itu kakak lelaki Marni yang bernama Mas Bimo tidak langsung pergi seperti keinginan Marni. Tetapi Mas Bimo baru pergi meninggalkan Marni dan Tuti setelah memastikan Marni sampai di Puri Sari.


...🍀🍀🍀...


Melihat kakak lelakinya yang bersikukuh untuk mengantarnya hingga ke Puri Sari, Marni sudah mulai mencurigai sesuatu. Saat Marni memandang tempat di mana dia akan tinggal untuk waktu yang tidak ia tahu, tidak ada raut terkejut sama sekali.


Sesuai dengan dugaan Marni, tempat ini memang diciptakan seperti penjara. Tidak mudah untuk keluar dan masuk dari tempat ini. Apa yang dibawa ke dalam dan dibawa keluar harus melalui pemeriksaan.


Letak lokasinya juga berada di pinggir kota yang jauh dari penduduk. Menurut penjelasan yang Marni terima dari sang kakak, itu semua untuk ketenangan dan kualitas oksigen yang lebih baik.


"Omong kosong macam apa itu," ejek Marni dalam hatinya.


Marni jelas tahu ini adalah panti jompo sekaligus rumah sakit jiwa mewah yang memiliki fungsi lain bagi para kalangan aristokrat. Fungsi itu adalah menyingkirkan anggota keluarga atau musuh bebuyutan mereka dari dunia kelas atas tanpa terlihat keji.


"Nona..." suara Tuti si perawat yang Marni tahu adalah mata-mata Mas Bimo membuyarkan lamunannya.


"Ya?"


"Nona akan tinggal di Paviliun Bougenville di kamar utama ini. Apa ada yang Nona butuh kan?" tanya Tuti sambil menuntun kursi roda Marni ke arah jendela kamar.


"Laptop mungkin. Oya, apa kamu tahu bagaimana nasib pekerjaanku sebagai sekretaris?"


Marni mulai teringat beberapa proposal proyek yang belum dia serahkan pada bosnya. Apa yang terjadi pada pekerjaannya ketika dia tiba-tiba kecelakaan?


"Ah soal itu, rekan kerja Nona sempat menjenguk saat Nona sedang koma. Lalu saya sempat mencuri dengar saat mereka berbicara dengan Pak Bimo kalau dia akan mengurus proses pengunduran diri Nona. Mungkin saat ini prosesnya sudah selesai," jelas Tuti pada Marni.


"Oh, syukurlah kalah begitu. Terimakasih informasinya ya, Tuti. Aku bisa fokus pada proses kesembuhanku sekarang," ucap Marni dengan senyuman tetapi sebenarnya Marni sangat marah dengan keputusan sepihak Mas Bimo. Hal ini bisa terlihat dari bekas kuku ibu jarinya menusuk jari telunjuknya.


"Sama-sama, Nona. Saya akan membereskan baju Anda. Kemudian akan mengambilkan makan siang Anda."


"Baiklah," ujar Marni yang masih memasang senyum malaikatnya sampai Tuti pergi keluar kamar mengambil koper miliknya.


...🍀🍀🍀...