
Jam sepuluh malam, langit makin kelam. Tak ada bintang, Hawa dingin kota Bantul sayup-sayup berembus. menyapa tiap manusia di pesisir Pantai. Sepertinya tengah malam nanti akan turun hujan. Ayunda duduk termangu seorang diri di kamarnya. Ia membuka jendela kamar kontrakan tersebut lebar-lebar, membiarkan angin dari luar masuk. Meski diluar dingin, tetap ia tak merasakan kesejukan. Hatinya sedang dirundung nestapa. Ayunda merasa rindu kekasih serta keluarganya.
Seharusnya ia tak lari dari masalah. Mungkin saat ini, Dewangga dalam keadaan tak baik-baik saja, tersebab oleh tingkah brutalnya. Malam itu, Ayunda segera bergegas dari atas dipannya. dia mengambil sweeter yang tergantung dibalik pintu kamarnya. Ia mulai memegang daun pintu kamar dan segera membukanya. Pikirannya tertuju pada satu nama, yang saat ini mungkin bisa ia andalkan.
Langkahnya sedikit gontai. Ia menyusuri jalanan kota Bantul dengan perasaan nestapa. terlihat, Ayunda mulai membidik satu tempat yang ingin ia singgahi saat itu juga, wartel. Dikeluarkannya sebuah kertas usang dari balik sweeter yang dipakainya. Sebuah nomor telpon yang sudah lecek karena terlalu banyak disentuh. Ayunda mulai menekan tombol demi tombol angka yang terpampang diatas sebuah mesih telpon disebuah waktel. Ya, dia menelpon Wicaksono. Satu-satunya sepupu yang masih bersikap baik dan peduli terhadapnya.
"Wi, ini aku. Ayunda."
"Ada apa, Yunda. Kau menghubungiku, ini sudah lewat dari jam sepuluh malam."
"Perasaanku tak enak. Bisakah kita berjumpa malam ini?"
"Mustahil, Yunda. Aku takut, Ayah serta Ibu curiga. Ada apa. Bicaralah. Apa kau sudah tak memegang uang?"
Ya, selama pelariannya di kota Bantul, Ayunda dibantu oleh sepupunya tersebut untuk sekedar menyambung hidup. Karena selama hidupnya, Ayunda juga tak pernah bekerja. Ia sibuk dengan pendidikannya. Apapun yang ia mau selama ini sudah tersedia dihadapannya. Jadi, ia juga sedikit bingung harus memulai hidup dari nol dengan cara apa.
"Tidak, Wi. Uangku masih ada."
"Terus."
"Sudah seharuanya kau merindukan beliau berdua. Karena Paman dan Bibi adalah orang tuamu. Tentang kekasihmu. Kita bicarakan esok pagi. Ini sudah terlalu larut. Pulanglah. Bahaya seorang gadis berkeliaran tengah malam."
"Tapi, Wi."
"Apalagi. Besok pagi-pagi aku akan menemuimu dikontrakan."
"Janji."
"Iya, janji."
Dengan langkah gontai, ia kembali melangkahkan kakinya kearah kontrakan. Ditengah perjalanan ia terhadang oleh gerimis yang sedari tadi menggantung dikelabunya malam. Ayunda tak memperdulikan rintikan gerimis yang membasahi rambut indahnya. Matanya menerawang. Ia memikirkan sesuatu yang tak diinginkan akan benar-benar terjadi kepada, Dewangga.
Ayunda kembali dengan keadan tak menentu. Hatinya benar-benar gelisah dan kesal. Andai ia dekat. Sudah tentu ia akan memastikan jika laki-laki pujaannya dalam keadaan baik-baik saja. Rasa kesal itu benar-benar ia tumpahkan dengan luapan airmata disepanjang jalan. Sesampainya dikontrakan. Ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang terbuat dari kapuk yang sudah sedikit usang. Jiwanya semakin gelisah. Menunggu esok pagi, rasanya teramat sangat lama.
Dengan posisi terlentang diatas kasur, Ayunda terbayang wajah Dewangga saat terakhir berjumpa dengannya. Dua jam sebelum kepergiannya ke Belanda. Dewangga sempat mengatakan akan menunggu kepulangannya sampai kapanpun. Bahkan Dewangga meminta, Ayunda untuk mengirim surat kepadanya disaat sudah sampai Negara kincir angin tersebut.
Ayunda menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan-pelan. Ia melihat kearah jam dinding yang menempel pada dinding papan. Jarumnya nyaring berdetak. Mengharap waktu akan cepat berlalu menjadi pagi, sampai tak sadar ia tertidur ditengah kegelisahan hatinya.