
Angin malam, berembus sangat pelan. Sepoi-sepoi desiran angin itu, menenteramkan hati pendengarnya. Tapi tidak bagi Ayunda. Sejak pembicaraannya dengan Handoko siang tadi. Semenjak itu pula, ia belum keluar
kamar. Hingga jarum jam merangkak pada angka sembilan malam. Ia masih terlihatmengurung diri didalam kamar. Enggan menemani Handoko yang tengah menikmatisantap malam.
Biasanya, lelaki dengan wajah putih resik itu, akan merayu sang pujaan hati sampai pada batas menyerah. Lalu, pada akhirnya, sigadis akan ikut serta dengannya menikmati hidangan yang telah berjejer diatas meja kebesaran. Namun entah, kali ini Handoko-pun enggan merayu si jelita sampai mau ikut bersamanya. Ia hanya merayunya beberapa kali saja, hingga pada akhirnya. Ia meninggalkan sang istri termenung sendiri didalam kamar. Tetapi, sebenarnya hati kecil Handoko, belum sepenuhnya tenang. Bayangan sang istri serta permintaannya untuk segera hamil terus bermain-main dipikirannya. Ia mengkhawatirkan keadaan, Ayunda. Seharusnya, ia tak menolak ketika Ayunda menginginkan kehamilan dari buah pernikahan mereka.
Didalam kamar, Ayunda berusaha mengendalikan dirinya. Berusaha menutupi rasa malu akibat penolakan dari sang suami. Ia mulai bangkit dari atas kasur, lalu melangkah meuju meja rias. Ia dudukkan tubuhnya, ia hadapkan wajahnya ke cermin. Ia pandangi tubuh itu lekat-lekat. Dengan tatapan sayu ia bergumam, “apa memang nasibku seburuk ini? sehingga, lelaki yang menikahiku saja enggan punya bayidariku? Andai aku menikah dengan Dewangga…” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, airmatanya kembali membasahi pipi ranumnya. Semenjak pertemuannya dengan Dewangga, akhir-akhir ini ia paling mudah mengeluarkan air mata. Apalagi sejak Dewangga
menyuruh untuk melupakannya.
Ayunda merasakan batin dan jiwanya bergolak. Andai sejak awal, ia tak menaruh hati kepada Dewangga. Mungkin pernikahannya dengan Handoko akan berbuah manis. Namun apa daya. Takdir cinta berkata lain, ia mencintai Dewangga jauh sebelum ia mengenal sosok Handoko. Dan kini, ditengah-tengah pernikahannya, dirinya benar-benar tak bisa melupakan sosok lelaki yang telah mengisi penuh relung hatinya. Bagaiamana-pun keadaannya.
Dewanggalah cintanya.
“Apakah kau benar-benar tidak ingin makan malam, Yunda?” sebuah sura terdengar dari balik punggungnya, memecahkan keheningan kamar.
Ayunda, nampak menggelengkan kepala secara berlahan. Ia tak punya daya untuk sekedar menjawab pertanyaan tersebut.
“Maafkan aku, atas penolakanku tadi. Tak seharusnya aku menolakmu, kau benar. Mengapa kita tak mencoba untuk memiliki seorang bayi.” Tukasnya sembari menciumi tengkuk, Ayunda.
“Tak perlu minta maaf, Han. Kau tak salah, karena aku memang tak mencintaimu, Han.” Terdengar sura pilu keluar dari mulut, Ayunda.
“Tapi tak seharusnya aku menolak. Karena bagaimana pun juga, aku tetap mencintaimu. Mungkin, saat ini kau tak mencintaiku. Namun, aku yakin. Lambat laun kau pasti akan mencintaiku, terlebih jika kita sudah punya bayi.”
Ayunda tersenyum datar, linangan air matanya mulai sedikit mengering. Sebenarnya ia masih menari-nari dengan kekacauan perasaanya sendiri.
*******
Fajar berkemilau kemerahan mulai bermunculan. Melukis langit muara pagi. Gemesir angin menggerakkan rumpunan pohon-pohon disekitar kediaman, Handoko. Pepohonan yang menjadi tempat burung-burung pipit, membuat sarang-sarang lucu. Surga kecil mereka yang sederhana, namun penuh sahaja. Suasa pagi itu nampak nyaman dan asri. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
“Kau sudah bangun, Yunda.” Tanya Handoko yang baru saja keluar dari arah kamar
mandi, hanya dengan memakai handuk yang terbebat sampai pusar.
Ayunda terlihat mengerjab-ngerjabkan kedua matanya, ia baru sadar. Jika dirinya telah bangun kesiangan. Hingga melewati waktu sembahyang subuh.
“Kau tak membangunkanku sedari tadi, Han? Aku belum sembahyang.” Tukasnya.
“Akupun baru bangun, langsung kekamar mandi, Yunda. Waktu subuh sudah tak terkejar,” jawabnya sembari menyisir rambutnya yang masih terlihat basah.
“Memang ini pukul berapa?”
“Sembilan lebih.”
“Ya Tuhan.betapa berdosanya kita, Han.”
“Iya, tapi bagaimana lagi. Mungkin akibat dari kita kelelahan.”
Dengan raut rasa berdosa, Ayunda terlihat menundukkan kepala.
“Han, bisa tolong ambilkan kotak kosong disudut meja itu?” Pintanya sembari memakai daster yang sempat dilucuti oleh Handoko, semalam.
“Kotak hitam itu? Untuk apa?”
Dengan rasa penasaran, Handoko menuruti kata sang istri. Cepat-cepat ia meraih kotak kayu yang bertengger diatas meja. Tak ada yang istimewa. Bahkan bentuknya seperti kotak yang telah usang, yang telah dibuang oleh pemiliknya kedalam tong sampah.
“Ini, untuk apa, Yunda? Jika kau mau, aku bisa membelikannya yang bagus untukmu. Kotak ini buang saja di tong sampah.”
“Tidak, Han. Aku hanya ingin kotak ini. aku tak ingin membuangnya.”
“Lalu? Untuk apa kotak itu?”
“Setelah aku hamil nanti, setiap seminggu sekali. Aku ingin menulis disecarik kertas. Lalu aku lipat dan akan aku masukkan dalam kotak kosong ini.”
“Boleh aku tahu, apa yang ingin kau tulis?”
“Harapan.”
“Harapan? Tapi mengapa harus kau simpan didalam kotak jelek ini? bukankah kau bisa menaruhnya
dalam kotak yang lebih bagus lagi. Kotak ini sudah tak layak pakai. Bahkan sepertinya kotak ini sudah pernah dipakai, terlihat dari bentuknya. Buang saja, siang nanti aku akan memesankannya di meubel Koh Ling.”
“Jangan dibuang, Han. Aku ingin menyimpan harapan-harapanku dalam kotak ini. Aku tak ingin kau memesan kotak yang baru.”
“Baiklah terserah kamu, asal kamu bahagia. Aku akan mengikuti keinginanmu.”
Ayunda menimpali kata-kata Handoko, dengan senyum datar.
“Segeralah mandi, Yunda. Hari semakin siang. Hari ini kita akan kerumah orang tuaku.”
“Orang tuamu? Untuk apa?” Tanyanya dengan penuh curiga.
“Untuk apa? Kau ini lucu. Tentu saja kita berkunjung. Sudah dua pekan kita tak mengunjungi mereka. Tak baik, seorang anak menjauh dari orang tuanya selepas menikah.” Tukas, Handoko.
"Kau, lako-laki baik, Han."
"Ah, sudahlah. ayo cepat bersihkan tubuhmu, atau kau ingin aku yang memandikanmu." Ucapnya serasa melihat lekat tubuh dang istri yang telah terbalut oleh kain daster.
“Sudah-sudah, kau tunngu saja diluar. Aku akan segera bersiap-siap.”
******
Diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda, terlihat seorang pemuda berkacamata sedang duduk ditepi sawah. Matanya menyebar kearah langit yang begitu cerah. Gemuruh angin terdengar syahdu. Belaian-belaiannya bermain-main diatas rambut sang perjaka.
Dewangga telah memutuskan untuk pulang ke Jogja, setelah pertemuan terakhirnya dengan, Ayunda. Kini ia banyak menghabiskan waktu bercocok tanam serta membantu kedua orang tuanya dalam mengurus ladang yang mereka sewa dari tetangga.
Bentangan permadani sekaan ber saf-saf terhampar didepan matanya. Di desa kecil itu, terdapat juga deretan perbukitan, gunung-gunung bukit kehijauan mewarna. Mengibari bumi tanah kelahiran, Dewangga. Meskipun gunung-gunung didekat rumahnya itu, bukan termasuk gunung berapi yang menjulang tinggi. Namun, setidaknya, ditempat itu masih bercokol pepohonan yang rindang asri berseri. Dan pagi ini, ia menyaksikan sendiri, desa nan hijau itu. Desa tempat Dewangga untuk pertama kali menghirup udara bumi.
Semenjak dirinya merasa dikhianati oleh sang kekasih. Ia lebih banyak murung, bahakan selalu menghabiskan waktu di sawah yang begitu hijaunya. Nampak, gurat-gurat kesedihan itu tak kunjung pudar, meskipun dilihatnya bumi yang ia pijak saat ini begitu cantik dan anggun. Saat ini pikirannya kacau, ia masih saja teringat oleh penghianatan, Ayunda. Namun, dirinya juga tak dapat menepis, jika Ayundalah satu-satunya wanita yang hingga saat ini masih bersemayam dalam hatinya.
“Kau, jahat sekali, Yunda.” Pekiknya, matanya mengedar disela-sela dedaunan bambu tepat dihadapannya.
Kerumunan kutilang menari-nari dan bersenandung tiada henti. Bertengger diatas pohon bambu, yang terlihat sunyi dimuara hari. Senandungnya, sungguh sayup-sayup merdu. Bagai orkestra, teracik penuh irama melengking syahdu. Diawal musim penghijau seperti itu, telur-telur disarang mereka biasanya mulai menetas. Telur-telur itu, kemudian berubah menjadi monster-monster kecil berbulu
lembut. Gersang namun cukup menawan.