
Empat bulan lebih sudah, Dewangga tak berjumpa dengan Ayunda. Ia, mencoba untuk selalu menyibukkan diri dengan kegiatannya ke ladang. Tubuhnya yang dulu gagah, bersih dan tampan. Kini, tubuh itu nampak semakin kurus, kusam dan tak terawat. Rambutnya ia biarkan panjang sepundak. Kacamata yang dulunya terlihat menambah aura ketampanannya, kini nampak kusam, hanya sisa-sisa ketampanan yang semakin memudar. Ya,
Dewangga lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidak lagi merawat tubuhnya.
Dewangga, telah mengumpulkan peluru-peluru ikhtiarnya yang tersisa. Ia belajar untuk mengikhlaskan seorang Ayunda untuk orang lain. Ia mencoba untuk belajar lebih sabar dan legowo. Dewangga, mencoba untuk memprovokasi hatinya, yang bertentangan dengan logika. Ia ingin bergerak seirama dengan hatinya. Tak ada dusta yang nyala dalam logika. Namun, semua sepertinya hanya kesia-siaan baginya. Rasa ikhlas yang telah ia tanamkan dalam logika, masih enggan bersahabat dengan hatinya. Hatinya masih berharap, Ayunda.
“Jika Ayunda bercerai dengan sang suami, apakah aku termasuk lelaki yang layak untuk mendampinginya?” Ia mulai berbicara kepada dirinya sendri. Tepatnya kepada hatinya yang tak sejalan dengan logikanya.
“Apakabar kamu, Yunda.” Gumamnya sembari mengedar pandang keatas langit yang begitu cerah.
“Ngelamun kok yo neng pinggir sawah toh, Le. (melamun kok dipinggir sawah, Nak).” Terdengar suara dari balik punggungnya. Membuat gusar lamunan-lamunan yang sedang ia nikmati.
“Mboten, Mbah. Kulo mboten ngelamun kok. (Tidak, Kek. Saya tidak melamun.)” Sergahnya, sembari melihat kearah seorang kakek-kakek yang mengajaknya bicara.
“Jare sopo, aku ki mulai mau neng kene, mbengoki kwe. Tapi kwe meneng wae. Kwi opo jenenge yen udu ngalamun. Kwe ngalamuni jodoh sing wis digondol wong liyo po, Le? (Kata siapa, aku dari tadi disini, meneriaki-mu. Tapi kamu diam saja. Itu apa namanya jika bukan melamun. Kamu melamunin jodoh yang sudah dibawa orang lain kah, Nak?)” Ledek si kakek tersebut.
“Ah, mboten Mbah. Sak estu, kulo mboten ngalamun kok Mbah. Niki wonten nopo, Mbah Arjo kok teng
sabin, biasane putune Mbah Arjo sing teng sabin! (Ah, tidak, Kek. Sungguh, saya tidak sedang melamun. Tumben Kakek Arjo ke sawah, biasanya yang kesawah cucu Kakek!)”
“Kangen sawah, Le. Mbah ra kepenak yen meneng neng omah. Pingine gerak-gerak. Ohyo, Le. Kwe kapan nikah?
Koncomu sing seumuranmu wis do nikah kabeh. Kwe dewe durung. (Kangen sawah, Nak. Kakeh tidak enak kalau harus diam dirumah. Ingin gerak. Ohya, Nak. Kamu kapan menikah? Teman-temanmu yang seumuran sudah menikah semua. Tinggal kamu saja belum.” Tanya lelaki tua itu, yang biasa dipanggil kakeh Arjo.
“Belum Mbah. Belum ada jodoh.” Jawab Dewangga dengan senyum pias.
Kakek Arjo tertawa gelak-gelak, “jodohmu, wis digondol uwong liyo. (Jodohmu, sudah dibawa orang lain.)"
Kakek Arjo. Meskipun berbicara dengan orang tersebut akan menimbulkan otak Dewangga panas dan perut mulas. Namun, ia orang yang halus budinya. Dewangga, menganggap kakek Arjo, sebagai guru spiritual pribadinya, jauh sebelum ia memutuskan untuk merantau ke Daerah Sukabumi, tempat perkebunan dan pabrik teh milik keluarga
Rahardjo.
******
Sepulangnya Dewangga dari sawah. Ia melihat, sang bapak tak segut menyeruput kopi pahitnya, diberanda rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Terlihat, mimik sang bapak terketir-ketir dalam rasa was-was yang memuncak.
“Bapak kenapa? Sepertinya ada yang Bapak pikirkan?” Tanya Dewangga sembari menaruh cangkul yang sedari tadi ditaruh dipundaknya. Lalu, segera ia berjalan menuju arah sang bapak duduk.
“Tadi, ada tiga orang laki-laki kesini, mereka mencari kamu.” Jawab sang bapak, terlihat jari telunjuk kanannya sedang memutari bibir cangkir.
“Tiga orang laki-laki? Siapa, Pak?” Tanyanya dengan penuh curiga.
“Apa, kau kenal dengan gadis bernama Ayunda, itu, De?” Lanjutnya.
Perasaan mencambuk diri. Menatap keatas langit seraya berkata kepada sang bapak, “putri Tuan Cokro Rahardjo, Pak”
“Apa! Orang terseohor seantero itu? Kenapa bisa kamu dekat dengan putrinya. Dewangga, pesan Bapak, jauhi gadis itu. Sebelum orang-orang suruhan orang tuanya kesini lagi, kita tidak tahu apa yang akan mereka perbuat kepada keluarga kita!” Pekik sang bapak dengan tatapan penuh kekesalan terhadap putranya. Merasa geram, karena sang putra telah mengambil jalan yang akan menyusahkan keluarga besarnya.
“Kau harus sadar diri, Dewangga. Kita berasal dari rakyat jelatah. Jangan pernah bermimpi untuk bersanding dengan putri seorang tokoh masyarkat. Mengerti!” Sambungnya.
“Tapi, Dewangga sudah tidak ada hubungan lagi dengan, Ayunda, Pak. Bahkan, Ayunda telah menikah delapan bulan yang lalu. Kami sudah tidak menjalin hubungan.” Tukasnya, mencoba untuk membela diri.
“Lalu, untuk apa tiga orang lelaki tadi kesini, jika kalian sudah tak ada hubungan! Hmm.” Amarah mulai menyelimuti hati sang bapak.
“Dewangga juga tak tahu, Pak.” Terlihat gurat-gurat kekesalan menyelimuti benak, Dewangga. Selama ini ia
menyimpan rapat dari keluarga, jika sedang ada masalah dengan keluarga sang kesasih. Namun, hari ini orang-orang suruhan Tuan Cokro membuatnya tersulut emosi.
"Jangan menyusahkan keluarga!" Tukas sang bapak, seembari berlalu dari hadapan putranya.
*********
Terlihat, senja mewarnai langit. Coraknya sama seperti kemarin, merah tembaga. Kontrasnya dipengaruhi keindahan alam. Sayup-sayup nyanyian alam terdengar mengalun. Burung-burung sriti terlihat mengepakkan sayapnya yang kecil lagi lancip. Begitu elok pemandangan sore hari.
Terlihat, seorang pemuda sedang duduk diatas batu dekat dengan pohon kelapa. Matanya menyapu bentangan rerumputan liar dihadapannya. Terlihat, bibir bawahnya digigit dengan gemas. Jemarinya mengepal erat.
“Aaarrg,” terdengar erangan dari mulut pemuda itu. Jemarinya yang mengapal, kini meraih sebuah batu kecil yang tergolek disampingnya. Tanpa basa-basi, ia terlihat melemparkan batu kecil itu kearah depan dengan keadaan murka.
Kembali, tatapannya menyapu hamparan rerumputan tersebut. ak berselang lama, ia terlihat berdiri dan berjalan menuju pohon kelapa yang menjulang. Tanpa ampun, ia mulai memukul-mukulkan kepalan tangannya. Sesekali ia terdengar mengumpat sebuah nama, “Cokro, kurang ajar kau.” Pekiknya.
“Selama ini aku telah bersabar menghadapimu yang sewena-wena. Bahkan, aku menjatuhan harga diriku demi anak gadismu. Kurang ajar, biadap.”
Perburuannya pada sebuah kesabaran dan ke ikhlasan sepertinya telah gagal. Dewangga, benar-benar marah.
Terlihat, Dewangga mulai menginggalkan tempat yang asri tersebut. Langkahnya gontai, menuju sebuah warung remang-remang. Terlihat didalam warung itu, ada beberapa wanita binal, yang tanpa malu-malu, menawarkan jasa kepada, Dewangga. Namun, dengan tatapan kebencian, Dewangga menolak para wanita pengnikmat seaat itu.
“Lalu, kau kemari ingin apa, pemuda? Jika kau tak ingin menikmati salah satu tubuh dari kami.” Ucap salah seorang wanita binal dengan tawa gelak-gelak.
“Aku hanya ingin minum ciu. Jadi tolong kalian tak usah menggangguku.” Sergahnya tak segut.
Perburuannya tentang kesabaran dan ke ikhlasan, sepertinya telah gagal. Dewangga, terselimuti oleh tarian-tarian syetan dalam lingkar hatinya. Ia, kini telah terjerumus pada lembah hitam.