
Shino terbungkam. Mulutnya terasa kelu hanya untuk mengeluarkan satu kata pun tak mampu. Pikirannya sangat kalut, takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Zui dan si kembar.
Tanpa sadar air mata Shinomenetes keluar. Jika saja tadi ia bergerak lebih cepat, mungkin sampai detik ini Zui tidak akan terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Jantung Shinoberdegup kencang, pikirannya terus merapalkan doa-doa terbaik untuk keselamatan ketiga orang tersayangnya.
“Jangan dilepasin tangan aku,” mohon Shinokepada Zui untuk tetap menggenggam tangannya, agar ia bisa tahu Zui masih sadar atau tidak.
Setelah dokter membersihkan darah yang menempel di kaki Zui, pria yang sedang mengandung itu diminta untuk mengganti sepasang pakaian pasien. Saat ini dokter kandungan sedang memeriksa denyut jantung janin. Mengingat darah yang keluar cukup banyak, ditakutkan bayi di dalamnya tidak selamat.
“Yang tadi saya liat, di pendarahannya tidak ada gumpalan atau sesuatu yang keras. Kemungkinan janin masih hidup, tapi agar lebih yakin saya akan melakukan USG. Jangan panik dulu ya,” ujar dokter yang kini sedang menyiapkan alat untuk USG.
Shino mengangguk cepat. Tatapannya turun ke wajah Zui yang pucat, Shino mengusap dahi pasangannya untuk menghapus bulir peluh disana.
“Gapapa ya sayang,” bisik Shino lembut seraya mengusap tangan Zui di genggamannya dengan lembut.
Zui tersenyum tipis ke arah Shino. Walau wajahnya sangat lemas, Zui berusaha mengatakan, ia dan si kembar akan baik-baik saja. Buru-buru Shino mengelap air matanya yang hendak keluar kedua kalinya. Tidak etis jika Zui melihatnya menangis.
Setelah mendapat izin dari kedua belah pihak, Dokter mengangkat baju pasien yang dikenakan Zui hingga perutnya yang sedang mengandung 15 minggu terpampang. Dokter paruh baya itu memeriksa kandungan Zui dengan alat USG usai membalur permukaan perut Zui dengan gel.
Shino dan Zui dapat bernafas lega saat janin mereka masih hidup. “Janinnya baik-baik saja. Pendarahan yang tadi anda alamin dikarenakan plasenta yang ada di bawah alias plasenta previa, masih berada di bawah dan menutupi jalan lahir, akan rentan keluar darah jika terbentur atau kena gesekan.” jelas Dokter dengan kacamata bening bersangga di pangkal hidungnya.
“Bahaya gak, Dok?” tanya Shino setelah mendengar penjelasan Dokter.
Dokter menggeleng pelan, “Selagi tidak terlalu sering maka tidak ada dampak yang bahaya untuk Adek ini dan bayinya.”
Shinomenghela nafas lega, bersyukur sekali semuanya baik-baik saja.
“Terus biar darahnya berhenti keluar saya harus apa Dok?” giliran Zui yang bertanya.
“Paling utama harus bedrest, gak boleh banyak gerak.”
Dalam hati Zui, ia mendengus sebal. Bagaimana bisa ia berdiam diri diatas kasur tanpa melakukan apapun. Useless. Zui tidak suka. Namun demi kebaikan kandungannya Zui harus taati perintah dokter.
“Dengerin tuh Dek,” ujar Shino, meledek Zui karena wajahnya tertekuk.
Keduanya kini jauh lebih tenang. Perasaan khawatir akan kehilangan buah hati mereka seketika tergantikan dengan senyuman.
“Oiya, kalau bisa jangan dulu berhubungan badan, nanti malah makin sering terjadi flek atau bahkan pendarahan,” lanjut Dokter berhasil membuat Shino menjatuhkan rahangnya.
Zui terkekeh pelan, “Dengerin tuh Kak.”
Shino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sampai kapan Shino harus menunggu?
...****************...
Dikarenakan kondisi Zui yang sedang ringkih, Shino dan Zui memutuskan untuk pulang menggunakan taksi online. Walau harganya jauh lebih mahal dari kereta listrik, tetapi kali ini tidak apa. Apapun akan Shino lakukan demi keselamatan anak dan pria tercintanya.
Di dalam mobil, Zui yang masih lemas menidurkan tubuhnya di jok belakang. Kepalanya ia letakan di atas paha Shino. Omong-omong Zui masih mengenakan celana dari rumah sakit, dikarenakan celana sebelumnya sudah berlumur darah. Namun atasannya, Zui tetap menggunakan bajunya yang ia pakai sebelumnya.
Shino memberi elusan kecil di surai lembut milik pasangannya. Menatap wajah merona Zui dengan penuh kekaguman. Meskipun Zui sedang memejamkan matanya, tetapi Shino masih bisa merasakan indahnya kedua manik itu walau sedang tertutup.
Shino memang seorang manusia biasa. Tidak jarang ia mengingkari perkataannya. Karena pada dasarnya manusia memang tidak luput dari kesalahan.
Namun, ketika Shino mengatakan ia akan selalu berada di sisi Zui, maka itu lah kenyataannya.
Hatinya benar-benar hancur saat Zui mengalami pendarahan karena ulah ayahnya sendiri. Shino merasa tidak berguna sebagai calon suami yang seharusnya menjaga Zui.
“Sayang, maafin Papa aku,” lirih Shino pelan, ia menunduk saking sedihnya. Tidak pernah menyangka Ayahnya seorang kriminal berdasi. “Aku bener-bener gak tau Papa sejahat itu, aku ngerasa gak enak banget sama kamu. Aku takut kamu ninggalin aku.”
“Kamu pasti marah kan sama aku? Kamu jadi benci aku ya? Maaf...” lanjutnya sambil mengusap kulit pipi Zui yang halus.
Perlahan Zui membuka matanya. Netra teduh milik Shino menjadi pemandangan pertama yang ia lihat.
Zui akan berdusta jika mengatakan ia bisa menerima kenyataan bahwa Shino adalah putra dari penghancur hidupnya. Berat sekali untuk ikhlas menerima fakta tersebut. Namun, Zui tidak ingin menjadi kekanak-kanakan dengan meninggalkan Shino karena masa lalu orang tuanya. Bagaimana pun juga Shino tidak mengetahui perilaku ayahnya.
Tangan Zui terangkat untuk mengusap rahang kokoh Shino, “Bukan salah kamu Shino.”
Mungkin ini akan menjadi keputusan paling berat di hidupnya untuk meneruskan hubungan dengan Shino. Menjalani sisa hidupnya dengan darah daging pelaku utama yang menghancurkan keluarganya.
Namun, ia sadar, apa yang Zui dapat lakukan tanpa Shino?
Zui tidak bisa melakukan semuanya sendiri, tidak akan pernah bisa.
Mengurus kedua anaknya dan Mark, Zui yakin ia tidak akan mampu. Bukan berarti Zui mempertahankan Shino hanya demi materi, hanya realistis saja.
Di samping semua itu, Zui sangat mencintai Shino. Ia sudah jatuh sungguh dalam kepada sosok pria yang kini masih setia menatapnya dalam, seakan Zui adalah makhluk paling berharga untuknya.
“Jangan tinggalin aku,” ujar Shino lemah.
Zui tersenyum simpul. Mustahil baginya untuk meninggalkan Shino saat ini, ia benar-benar butuh seorang yang dapat menuntut kehidupannya. “Kalo aku tinggalin, kamu bakal apa?”
“Bakal nangis, pokoknya nangis terus sampe Zui balik lagi ke aku,” balas Shino, seraya menampilkan raut sedihnya.
Zui dibuat gemas olehnya. Shino sangat berbeda dengan Yunho. Shino penuh ketulusan dan kelembutan, Zui bisa merasakan itu.
Tangan kecilnya bergerak untuk menarik pucuk hidung Shino, “Cengeng.”
“Emang cengeng kalo berhubungan sama Zui atau dedek,” jawab Shino cepat, ia mencebikkan bibirnya. Zui sangat bangga pada dirinya. Shino hanya bersikap imut dan manis di depannya, berbeda ketika pria itu sedang berinteraksi dengan orang lain.
“Jangan nangis ah, aku sama dedek disini aja kok gak kemana-mana,” ucap Zui sembari menyisiri rambut Shino ke belakang. Meskipun berat menerima kenyataan, Zui harus menghadapinya. Terdengar klasik, tetapi Zui akan berusaha mencintai Shino apa adanya tanpa melihat latar belakang keluarganya.
Pria yang memakai kaus hitam itu kini tersenyum lebar. Matanya menyipit dan menampilkan lesung di kedua pipinya. Shino mengecup kening Zui dengan lembut.
“Aku sayang Zui banget banget banget,” ujar Shino seraya menghujani seluruh sudut wajah Zui dengan kecupan. Membuat Zui terkekeh geli.
“Sayang jagoannya ayah juga,” lanjutnya kemudian mengusap perut Zui yang berlapis sweater putih.
Hati Zui melembut. Mulai detik ini Kim Zui tidak akan melepaskan Shino nya. Jika Zui mampu, satu dunia akan ia beri tahu bahwa Shino adalah miliknya.
Dengan senyum manisnya, lelaki kecil yang sedang berbaring di atas pangkuan Shino menarik lengan kekar sang dominan pelan, “Peluk dong.”
Wajah Shino semakin cerah ketika Zui meminta peluk darinya. Langsung saja Shino membungkukkan badannya kemudian menyelimuti tubuh Zui dengan tubuh atletisnya.
Zui mengalungkan lengannya di leher Shino. Menghirup dalam-dalam aroma Shino yang kini menjadi aroma favoritnya. Zui menyukai semua hal tentang Shino.
Persetanan dengan budak cinta.
Zui melonggarkan pelukan mereka, lalu berganti posisi menjadi setengah duduk kemudian meletakkan kepalanya di depan dada Shino.
“Shino,” panggil Zui, salah satu tangannya membuat pola abstrak di dada Shino.
“Kenapa sayangku?” tanya Shino sambil memberi kecupan singkat di pelipis Zui.
“Kamu gak bakal nyesel lebih milih aku daripada Papa kamu?”
Shino termenung sejenak. Mengingat perkataan terakhirnya untuk sang ayah beberapa jam lalu. Jujur, ia merasa sangat durhaka mengatakan hal jahat ke Yunho. Namun, Shino tidak mungkin meninggalkan Zui. Zui tidak salah apa-apa, ia berhak bahagia.
Sejauh ini, Zui sudah mendapatkan banyak kepedihan di hidupnya. Shino tidak ingin menambah luka di hati Zui. Pria mungil di pelukannya ini sangat berharga baginya.
Tetapi bukan berarti Yunho tidak sama berharganya dengan Zui. Shino mengaku sangat kecewa dengan perilaku ayahnya. Apalagi setelah topengnya yang selama ini menutupi sifat aslinya terbuka.
Jika Yunho sadar, ia pasti tahu yang seharusnya disalahkan adalah dirinya sendiri. Bukan Zui atau pun Shino. Jadi, Shino akan membiarkan hubungannya dengan sang ayah seperti ini dahulu sampai Yunho sadar akan perbuatannya.
“Aku udah gede Tae, aku berhak nentuin siapa yang bakal jadi pendamping hidup aku,” ucapnya, Shino mengusap perut Zui perlahan. “Lagipula, Zui kan masa depan aku. Masa aku lepasin gitu aja sih.”
Zui terkekeh pelan, “Jelek gombalannya, kayak orangnya.”
Bagimana pun Zui terharu. Ia sangat beruntung memiliki Shino di hidupnya.
“Jelek gini juga jago bikin kamu keenakan di kas—”
“Diem Shino!” buru-buru Zui menutup mulut Shino dengan telapak tangannya sebelum pria itu meneruskan omongan kotornya. “Ntar pak driver denger ih!” bisiknya.
“Gapapa Dek terusin aja, bapak suka denger yang manis-manis,” sahut driver taksi online mereka dari kursi kemudi depan.
Zui melebarkan matanya, wajahnya memerah karena menahan malu. Berbanding balik dengan Shino yang kini malah tertawa ringan.
“Emangnya kenapa sih Yang?”
“Malu lah tolol, pikir aja sendiri.”
“Malu kenapa? Orang bapaknya santay.”
“Bodo ya anjing.”
Shino kembali tertawa pelan. Membuat Zui yang berada di depan dadanya dapat merasakan pantulan suara Shino dari rongga dada pria itu yang bergetar.
Zui meletakkan telinganya di atas dada bidang milik Shino, suara detak jantung lelaki Choi yang teratur membuat jiwa Zui lebih rileks.
“Btw, menurut kamu aku ambil cuti kuliah atau sekalian aja berhenti kuliah?” tanya Zui seraya menikmati elusan tangan Shino di perutnya.
“Terserah kamu, aku dukung aja apapun keputusan kamu,” balas Shino.
“Cuti di kampus kita kan maksimal 2 semester, berarti sekitar anak-anak baru mau satu tahun aku udah masuk kuliah,” ujar Zui, ia mengeratkan pelukannya di perut Shino. “Kasian dedek kalo aku sibuk kuliah, nanti juga kamu kerja. Mereka di rumah sama siapa doooong?”
Emosi Zui akan menjadi lebih sensitif jika membicarakan kuliahnya dan kondisi anak-anaknya kelak. Zui ingin sekali mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan baby sitter, tetapi itu tandanya ia harus berhenti kuliah lalu fokus ke Shino dan si kembar. Di sisi lain Zui ingin sekali menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar sarjana, namun anaknya harus terlantar. Yang terberat adalah, Zui harus memilih salah satu dari kedua pilihan tersebut.
Jauh di lubuk hatinya, Shino benar-benar merasa bersalah. Masa depan Zui lenyap begitu saja karena harus hamil di usia muda. “Maaf ya sayang, masa depan kamu berantakan gara-gara aku.”
Kepala Zui terangkat, ia menatap Shino tidak suka, “Kok kamu ngomong gitu? Selagi kamu di samping aku, semuanya gak bakal berantakan.”
Shino sangat bersyukur hubungan mereka menjadi jauh lebih manis karena Zui sudah berubah. Sebenarnya jika Zui masih keras kepala dan sering mengumpat juga tidak apa, namun dengan Zui lembut seperti ini Shino semakin tidak sabar menikahi dan tinggal bersama Zui.
“Jago gombal sekarang ya,” balas Shino setelah itu mencuri satu kecupan di bibir Zui, “Jadi gimana? Kamu pilih apa?”
“Cuti dulu aja kali ya, nanti kalo dedek udah bisa ditinggal baru aku lanjut kuliah.”
“Gapapa wisudanya ketunda?”
Zui ngangguk yakin, “Iya gapapa.”
“Kalo kamu kecapean gimana?”
“Kan nanti ada kamu yang mijitin hehe,” balas Zui seraya terkekeh kecil.
“Aku suami kamu bukan tukang pijit,” ujar Shino, kembali menampilkan cebikan di bibir tebalnya.
“Kalo mijit yang lain mau gak?”
“Ihh Zui ngomong kotooooor,” ucap Shino sambil menggeleng tidak percaya.
Zui mengerutkan dahinya, alisnya menukik tajam. “Apaan sih Shino?! Gak jelas banget deh.”
“Lah kamu itu bilang mijit yang lain, apa coba maksudnya.”
“Ya apa kek, kamunya aja tuh yang pikirannya ke sana terus.”
“Iya deh maafin hamba, ibu negara.”
“Bapak!” jawab Zui cepat.
“Ah protes mulu kamu mah,” Shino mendekati wajahnya ke wajah Zui.
“Cium juga nih,” lanjutnya setelah itu mengewcupi bibir Zui berkali-kali hingga pria yang diciumi merengek meminta Shino untuk berhenti.
Shino, Zui dan dunia mereka sendiri. Tidak memikirkan nasib bapak driver yang hampir mimisan karena sejak tadi menahan ke-uwu-an.
...****************...
Shino dan Zui sampai di depan kediaman Zui saat langit sudah gelap. Jam menunjukkan pukul 21:47. Mereka memasang titik tujuan pada taksi online di rumah Zui. Sedangkan habis dari rumah Zui, Shino harus kembali ke stasiun untuk mengambil motornya.
Awalnya Zui menyarankan untuk berhenti di stasiun, namun Shino menolak. Ia mengatakan Zui harus segera sampai rumah dan secepatnya istirahat. Shino akan menjadi sepuluh kali lipat lebih posesif jika menyangkut kesehatan Zui.
“Kamu istirahat ya, inget bedrest. Jangan begadang malem ini. Susunya juga jangan lupa diminum, tapi minta Mark yang bikinin aja. Kamu harus tetep di kasur.” Shino berdecih pelan saat Zui malah meledeknya dengan mengikuti mimik wajahnya saat bicara, “Dengerin Dek.”
Zui tertawa kecil, “Hehe iya bawel.”
“Minggu depan aku mau daftar wisuda, mau sekalian ajuin cuti kuliah gak? Aku temenin.”
Zui mengangguk cepat. Tadinya Zui memang ingin meminta Shino untuk menemaninya, namun ia tidak enak karena menganggap urusan Shino pasti banyak.
Ternyata sekarang Shino malah menawarkan diri, pria itu memang sangat pengertian.
“Mau banget, sekalin mau kasih liat anak-anak kampus.”
Shino mengerutkan dahinya, “Kasih liat apa?”
“Kasih liat kalo kak Shino punya aku,” jawab Zui dengan senyuman di bibirnya.
Shino ikut tersenyum, tangannya terangkat untuk mengusak rambut Zui gemas.
“Cie posesif,” goda Shino.
“Kamu lebih ya!” Zui mengelak. Enak saja, Shino itu jauh lebih posesif di banding Zui.
Shino tergelak. Tangannya mencubit kedua pipi gembil milik pasangannya. Sejak awal Shino sudah menahan untuk tidak menarik kedua pipi serupa bapao itu. “Sayang, kamu lucu banget sumpah embul kayak gini.”
Zui meringis pelan, “Padahal tadinya aku mau diet tau pas sadar berat aku naik banyak banget.”
“No, gak boleh diet! Makin berisi makin enak.”
Zui memukul dada Shino dengan keras, “Kan mulai kan.”
“Sssh, apa sih orang maksud aku enak dipeluk. Kamu nih negatif mulu!” jawab Shino sambil mengusap dadanya usai dipukul Zui.
Zui memutar bola matanya malas.
Bukannya mengikuti suruhan Shino, Zui malah bergerak mendekat pria Choi itu dan memeluknya erat. Sambil menenggelamkan wajah di perpotongan leher pria berbahu tegap itu.
“Abis ambil motor kesini lagi ya? Temenin bobo,” ujar Zui dengan nada bicara sengaja dibuat imut agar Shino luluh.
“Pengennya sih gitu,” Shino mengelus surai Zui lembut, “Tapi aku harus ngerjain revisi terakhir aku sebelum di jilid hard cover.”
Zui memajukan bibirnya, ia mendongak menatap Shino dengan netra bak bonekanya. “Mau kelon ish~” rengek Zui manja.
Sialan, mana mungkin Shino kuat jika Zui seperti ini. Mendengar rengekannya saja sudah membuat bulu kuduk Shino meremang.
Tidak, Shino harus teguh dengan pendirian awalnya. Bagaimana pun semua permasalahan kuliahnya harus selesai terlebih dahulu agar bebannya jauh berkurang.
“Lain hari ya sayang.”
“Shino~”
“Zui...”
“Shino sayang~”
Hampir saja pertahanan Shino runtuh. No, Shino kuat.
“Abis revisi aku selesai, janji deh langsung nginep. Kita kelonan sepuasnya.”
“Gak mau, maunya hari ini.”
“Kapan-kapan ya Bubu,” balas Shino lembut.
Zui menggeleng cepat, “Shinoie~”
“Zuiie...”
“Hari ini ya?”
“Gak bisa Zui...”
“Mas Shino~” rengek Zui semakin menjadi-jadi seraya menggoyangkan tubuh Shino di pelukannya pelan.
Shit, this is Shino's limit.
Shino menghela nafasnya pelan, “Yaudah aku ambil motor dulu abis itu kesini lagi.”
Zui ingin bersorak sekencang-kencangnya. Bahagia sekali akhirnya Shino kalah.
“Kamu masuk dulu sana,” ujar Shino lemas, Zui benar-benar mengambil semua kendalinya.
Zui mengangguk cepat, ia memajukan bibirnya, “Cium dulu lima kali.”
Shino menuruti kemauan Zui. Ia mendekatkan wajahnya dengan Zui dan memberi kecupan ringan di bibir Zui sesuai keinginan calon suami kecilnya.
“Udah lima kali.”
Zui cemberut kesal, ia menggelengkan kepalanya, “Masih empat setengah.”
“Astaga sayaaanggg,” tidak bisa protes, akhirnya Shino kembali menempelkan bibirnya di bibir Zui cukup lama. “Muaaah, udah ya aku pamit dulu keburu stasiun nya tutup.”
Zui mengangguk, ia tersenyum puas. Tubuhnya ia jauhkan dari Shino. Zui melambaikan tangannya.
“Cepet kesini lagi, tapi jangan ngebut. Pelan-pelan aja.”
Shino hendak berjalan menjauh dari teras rumah Zui sambil menjawab, “Iya Bubu, cerewet banget sih.”
“Oiya, Shino!” panggil Zui sebelum Shino benar-benar menghilang dari pandangannya.
Shino menoleh, “Apa lagi?!”
Zui menekukkan wajahnya, “Kok galak?”
Pria tinggi itu menghela nafasnya. Berusaha memberikan senyum kepada Zui walau tetap terlihat seperti paksaan.
“Kenapa sayangku cintaku kasihku pujaan hatiku?”
Zui tertawa kecil, “Bawaain soto ayam, lagi ngidam nih.”
Shino mengangguk pelan. “Yaudah, berarti nanti agak lama ya.”
“Hih bilang ke abangnya jangan lama-lama masaknya.“
“Mana bisa Zui, nanti aku nya diomelin.”
“Bilang aja ada bumil galak yang lagi ngidam, jadi harus cepet masaknya.”
Walaupun Shino tidak akan mengatakan itu, namun ia tetap mengangguk agar Zui berhenti protes.
“Udah gih sana masuk, nanti masuk angin,” ucap Shino.
Zui mengangguk cepat, “30 menit harus udah disini ya ~”
Untuk kesekian kalinya Shino mengangguk setuju. Padahal di dalam hatinya Shino tidak yakin bisa secepat itu kembali ke rumah Zui.
“Hati-hati di jalan! Dadah!” ujar Zui, akhirnya si mungil masuk ke dalam rumahnya.
Dengan cepat Shino melangkah menjauh dari rumah Zui. Pasalnya sejak tadi ojek online nya sudah menunggu di depan jalan. Karena Zui terlampau cerewet Shino jadi dapat komplain dari si driver.
Hari ini Shino memutuskan untuk menginap di rumah Zui dan mengundur revisi, print, dan jilid nya. tidak ada yang lebih penting daripada Kim Azui.