SHINZUI

SHINZUI
Tidak Berjalan Dengan Baik



Zui gugup, sangat.


Sepasang bola matanya bergerak gelisah. Jemari kurusnya tak henti meremas tangannya sendiri saking cemasnya.


Zui belum siap.


Sehari setelah Shino bermalam di rumah Zui, kedua insan itu memutuskan untuk pergi ke kediaman keluarga Shino yang berada di luar kota. Kota dimana Zui dan Shino lahir serta tumbuh. Mereka berdua pergi kesana menggunakan kereta—dalam rangka menghemat jelang pernikahan.


Langit sudah menampilkan semburat jingganya. Udara sejuk mulai menyelimuti kulit Shino dan Zui. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, namun bodohnya mereka masih mematung di depan gerbang rumah keluarga Shino yang tidak bisa dikatakan kecil.


Bukan apa-apa, Zui sungguh takut. Ia benar-benar belum siap, atau bahkan tidak akan pernah siap.


Shino merangkul pundak pria di sebelahnya, berusaha menenangkan. Peluh di pelipis Zui yang terus mengalir membuat Shino ikut resah.


“Gapapa, it's gonna be fine,” ujar Shino lembut seraya mengelus lengan Zui.


“Fine ndasmu,” Zui mendesis kecil, “Muka aku pasti pucet banget ya? Jelek banget kan? Aduh anjir balik aja yuk, Shino.”


“No, honey.You're gorgeous, indeed.”


Zui memutar bola matanya, “Bukan waktunya ngegombal, goblok.”


Ketika memikirkan kembali realita yang terjadi saat ini, Zui menghentak-hentakan kakinya untuk menyalurkan rasa gundahnya.


“Shino, serius deh ayo pulang aja,” rengek si lelaki manis di rengkuhan Shino, Zui memeluk Shino lalu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher pria berbahu tegap itu, “Takut banget demi.”


Shino mengusap surai Zui yang sudah mulai menyentuh bahunya dengan lembut. Bohong jika Shino katakan ia tidak gugup. Pria itu sama takutnya dengan Zui, namun ia tidak menunjukannya. Bagaimana pun juga Shino harus selalu siaga menenangkan Zui di segala situasi.


“percaya deh? Mereka gak bakal melakukan sesuatu yang buruk ke kamu,” Shino menjauhkan bahu Zui dari tubuhnya, menatap dua belah netra Zui dengan dalam. “Yuk masuk. Apapun yang terjadi kita harus bareng terus, janji?” tanya nya sambil mengacungkan jari kelingking ke pasangannya.


Awalnya Zui ragu, namun saat Shino mengatakan mereka harus selalu bersama, akhirnya Zui mengaitkan jari kelingkingnya ke milik Shino. We're gotta do this together.


Senyuman merekah di bibir tebal Shino. Ia menawarkan tangannya untuk digenggam Zui. Lelaki manis itu menerima uluran tangan Shino, lalu keduanya melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah mewah keluarga Shino.


Sebelumnya Shino sudah memberi kabar ke orang tuanya bahwa ia akan pulang hari ini, tetapi Shino tidak memberi tahu Zui ikut bersamanya. Zui yang memintanya, Shino tidak mungkin menolak—sebenarnya ia tidak bisa menolak Zui.


Penjaga gerbang membukakan pintu untuk keduanya, Zui dan Shino berjalan masuk menuju pintu utama.


Zui menatap pintu kayu besar di hadapannya dengan ragu, namun Shino memberi Zui isyarat di tatapannya bahwa Zui harus yakin dengan orang tuanya dan dirinya.


Menghela nafas pelan, kemudian Zui mengangguk yakin. Senyum kecil terukir di bibir Shino, kini tangannya sudah berada di knop pintu. Sedetik kemudian, Zui dapat melihat isi dari ruang depan rumah Shino ketika pria Choi itu membuka pintu.


 


                          


Shino membawa masuk Zui ke dalam rumahnya. Seperti biasa, rumah Shino tampak sepi. Walaupun keluarganya bergelimang harta, namun mereka tidak menyewa maid yang berlebihan. Hanya memiliki beberapa pelayan yang mengerjakan pekerjaan inti saja. Sisanya, jika mereka dapat melakukannya sendiri, kenapa tidak?


“Ma? Pa? Shino pulang,” Zui mencengkram tangan Shino di genggamannya, bertanda ia sangat amat gugup sekali!


Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Jantungnya tidak bisa bekerja dengan normal. Keningnya mulai basah saat seorang wanita paruh baya menuruni tangga yang terpampang jelas di depan lorong masuk. Dengan baju kasual namun tetap terlihat mewah, wanita itu tersenyum ramah ke arah Shino.


Sungguh cantik, hingga Zui tidak bisa berkutik melihat wanita yang berumur sekitar 40 sampai 50 tahun itu masih terlihat segar di usia tuanya. Tidak heran jika paras Shino di atas rata-rata.


Wanita itu memeluk tubuh Shino dengan erat saat begitu sampai di anak tangga paling bawah. Shino balas memeluknya, otomatis membuat persatuan tangan Shino dengan Zui terlepas.


Zui harus apa? Ia hanya berdiri kaku di sebelah mereka berdua, menatap sepasang ibu dan anak itu dengan tatapan gelisah.


“Mama kangen banget sama Shino,”  ujar wanita tersebut saat puas memeluk anak semata wayangnya.


Jessica Jung, wanita hampir berkepala lima yang merupakan ibu kandung dari Shino.


Shino tersenyum lebar hingga menampilkan sepasang lubang cacat di pipinya, “Miss you more, Ma.”


Pria itu melepaskan tangannya dari tubuh Jessica. Shino melirik ke arah Zui yang sedang berdiri kaku dekat mereka.


Ia membawa lelaki manis itu ke dalam rangkulannya, sambil tersenyum bangga ke ibunya, Shino berkata, “Ma, kenalin...”


Mata Jessica melihat ke arah Zui. Wajah Zui sudah tidak terkontrol lagi. Warna bibirnya kini hampir sama dengan warna kulitnya.


“Pacar Shino?” tanya si ibu, wajah nya menatap Zui lurus.


Tidak ada keangkuhan di netranya, Zui terpaksa membalas pandangan Jessica saking luluhnya dengan tatapan wanita tersebut.


“Bukan.”


Jawaban singkat dari Shino barusan sukses membuat Zui mengalihkan mata ke pria bertubuh atletis di sebelahnya. Dahi Zui berkerut, matanya menatap Shino tidak suka dengan jawaban Shino barusan.


“He's my mate,” lanjutnya dengan suara lembut, tangan Shino mempererat rengkuhannya di bahu Zui.


Lelaki yang beberapa detik lalu tidak terima dengan jawaban awal Shino kini tersenyum lebar. Hatinya jauh lebih tenang saat Shino menganggap dirinya lebih dari seorang pacar di depan ibu kandungnya.


Tanpa menghilangkan senyum di bibirnya, Jessica mengulurkan tangannya ke arah Zui, “Siapa namanya?”


Buru-buru Zui memutuskan kontak mata dengan Shino dan mengalihkannya ke Jessica. Pria manis itu menerima uluran tangan Jessica. “Zui, tante. Kim Azui.”


Entah apa yang membuat Jessica termenung saat Zui memperkenalkan namanya. Detik selanjutnya, wanita itu melepaskan tautan tangannya dengan Zui secara perlahan.


Zui melihat seperti ada yang aneh dengan reaksi ibunya Shino. Jessica tampak sedikit resah, namun setelah beberapa saat kemudian ia kembali membuka suara.


“Kalian berdua tunggu di ruang tamu dulu ya, mama mau panggilin papa di taman belakang dulu,” ucap Jessica lalu segera pergi dari hadapan Shino dan Zui.


Shino membawa Zui ke ruang tamu yang dimaksud Jessica tadi. Zui masih merasa janggal dengan reaksi Jessica waktu ia memperkenalkan dirinya. Seperti terkejut, tetapi tak lama kemudian Jessica kembali mengontrol wajahnya.


Zui memperhatikan setiap sudut rumah Shino yang bergaya elegan saat sudah duduk di sofa ruang tamu. Didominasi dengan warna putih sehingga setiap ruangan nya terlihat lebih luas.Tidak ada foto keluarga sejak pertama Zui menginjakan kakinya masuk ke rumah Shino. Mungkin mereka memasangnya di tempat lain.


“Zui, malem ini mau nginep disini?” tanya Shino, membuyarkan fokus Zui yang sedang mengamati tiap sisi keluarga Shino.


Zui dengan cepat menggedikan bahunya, “Gak tau, kita kan gak bawa baju.”


“Baju aku beberapa ada yang masih disini,” balas Shino seraya menatap kedua manik indah milik Zui, jemarinya ia pakai untuk merapikan rambut sang submissive yang menutupi setengah matanya.


“Hmm, yaudah liat nanti aja.”


Shino mengangguk paham. “Sayang,” panggilnya.


“Kenapa?”


“Kamu makin cantik rambut panjang kayak gini,” Shino menyisiri rambut Zui dengan jarinya. Zui berkali-kali lipat lebih manis dengan rambutnya saat ini.


Zui tersenyum tertahan, “Gila kali ya, orang ganteng gini.”


“Gak, kamu itu cantik, manis, lucu, gemesin deh pokoknya,” tanpa melepaskan pandangan dari mata Zui, Shino terus mengusap surai halus kesayangannya.


“Najis banget hoek. Gue emang bottom, tapi gak ngondek ya, sorry,” balas Zui diakhiri dengan kekehan pelan.


Shino ikut terkekeh, “Terserah kata Bubu aja deeeeh,” ujarnya seraya menyubit pipi Zui.


Di tengah obrolan ringan Shino dan Zui barusan, setelah beberapa menit menunggu akhirnya Jessica kembali dengan seorang pria seumuran di sebelahnya. Sepasang pemuda itu berdiri untuk menyambut kepala keluarga Jung yang baru keluar.


Baru saja Zui dan Shino beranjak dari sofa, sesaat kemudian Zui diam membeku setelah melihat sosok ayah Shino. Jantungnya berdegup kencang. Peluh dinginnya kembali menyeruak keluar. Zui mengepalkan tangannya kuat, tidak pernah menyangka orang ini adalah ayah Shino.


Pandangan mata ayah Shino jatuh kepada pria di samping putranya yang kini sedang menatapnya dengan wajah kosong. Ia tahu pasti siapa anak itu. Amarahnya mulai membuncah.


Alis lelaki paruh baya itu menukik tajam, “Shino! Kamu ngapain bawa anak ini kesini?!”


Shino mengerutkan dahinya bingung. Ia tidak mengerti apa yang membuat ayahnya sangat emosi sambil menunjuk ke arah Zui yang masih terdiam dengan tubuh tegang.


“Maksud Papa apa? Ini Zui, calon suami Shino.” jawab Shino sambil merangkul pria kecil di sebelahnya.


Jung Yunho, ayah kandung Jung Shino sekaligus mantan kolega bisnis ayah Zui saat masih hidup. Zui sangat mengenal pria di hadapannya yang sedang menatapnya marah saat ini.


Selain sebagai kolega bisnis ayahnya, Yunho adalah mantan kekasih gelap Ayah Zui, Lee Jaejoong. Mereka berdua jatuh cinta saking seringnya membahas bisnis bersama.


 Hubungan kedua pria tersebut terjalin saat Zui masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Zui sering sekali diajak jalan-jalan oleh ayah dan teman ayahnya, Zui yang masih berfikir polos tidak sampai mengira kedua lelaki tersebut memiliki hubungan gelap. Ketika Zui memasuki sekolah jenjang menengah atas, ia baru mengetahui hubungan Jaejoong dan Yunho lebih dari sekedar teman. Saat itu Zui tidak sengaja memergoki mereka sedang bercumbu di ruang kantor ayahnya di rumah.


Mark dan Ibunya, Kwon Boah saat itu sedang tidak berada di rumah. Zui sungguh tersentak. Secepatnya ia pergi dari depan pintu dan mengurung diri di kamar. Sejak saat itu, jika Jaejoong mengajaknya pergi bersama Yunho, Zui selalu menolaknya. Ia takut akan mengecewakan ibunya.


Yunho pernah mengatakan kepada Zui, ia sangat menyukai Zui karena wajahnya persis seperti Jaejoong. Bukan suka yang menjurus ke cinta, namun Yunho sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


Puncak hubungan gelap mereka saat Yunho menuntut kejelasan hubungan keduanya. Bahkan Yunho saat itu rela meninggalkan istri dan anaknya demi Jaejoong. Tentu hal itu membuat Jaejoong sangat tertekan, mau bagaimana pun juga ia tidak bisa meninggalkan istri serta anak-anaknya.


Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan saat itulah Yunho menjadi sosok yang berbeda—atau mungkin itu memang sifat aslinya.


“Gak! Papa gak restuin. Dia anaknya koruptor! Apa kamu gak malu?!”


Mata Zui melebar, saat itu juga ia tersadar dari lamunannya. Rahangnya mengeras. Zui menggertakan giginya lalu menatap Yunho tajam.


“Yang seharusnya malu itu om,” Zui menarik nafasnya kuat, berusaha menahan air mata di pelupuk matanya saat pelaku di hadapannya menyinggung kedua orang tua Zui. “Apa om gak malu, ngefitnah orang tua saya dengan tuduhan korupsi menggunakan bukti palsu dan sampai sekarang masih bisa hidup mewah?”


“Apa om gak malu, ngebayar orang untuk nyelakain orang tua saya tepat di hari kelulusan saya dan sekarang masih bisa bebas ngehirup oksigen dengan tenang?!” mulut Zui bergetar, ia memejamkan matanya kuat. Mengeluarkan air mata yang sejak awal ia tahan.


Shino tersentak. Tubuhnya menegang, tak percaya dengan omongan Zui barusan. Rasanya tidak mungkin ayahnya setega itu, namun pria kecil yang saat ini sedang mengusap air matanya kasar tidak mungkin berbohong.


“Pa, apa yang diomongin Zui itu bener?!” tanya Shino, suaranya meninggi. Yunho tidak menjawab, ia kehilangan akal. “Pa jawab!” bentak Shino yang tak tertahan.


Di hadapan mereka, Yunho terdiam kaku. Merasa ditelanjangi di depan anak semata wayangnya. Aibnya yang selama ini Shino tidak ketahui lolos begitu saja dari bibir kecil Zui. Selama ini Yunho selalu menyembunyikan semua hal yang berbau Jaejoong dan keluarganya di depan Shino.


Walaupun di belakangnya, tidak jarang Jessica dan Yunho berdebat tentang hal ini. Sengaja mereka menutupi masalah itu agar masa remaja Shino tak terganggu. Yunho dan Jessica ingin Shino selalu menjadi putra terbaik mereka sampai kapan pun, meskipuan saat itu mereka hampir cerai.


Yunho berusaha berkata tidak, semua yang Zui katakan itu tidak benar. Namun, fakta berucap sebaliknya. Sehabis Jaejoong memutuskan hubungan mereka, Yunho sangat murka. Ia memutar otaknya untuk membalas dendamnya ke Jaejoong.


Yunho sadar selagi Jaejoong masih bernafas di dunia yang sama denganya, ia tidak akan pernah bisa melupakan pria itu. Yunho terlanjur terobsesi dengan Jaejoong.


Muncul lah akal untuk menghilangkan Jaejoong demi menghapusnya dari pikiran. Benar yang Zui katakan, Yunho membayar orang suruhan untuk mensabotase mobil yang akan Jaejoong pakai bersama istrinya menuju perayaan kelulusan Zui di sekolah. Tepat hari itu juga ia melancarkan niat busuknya untuk memutus semua perekonomian dan warisan untuk anak-anak Jaejoong agar mereka menderita.


Yunho hanya tidak terima, meskipun ia sudah berusaha sekuat mungkin melupakan Jaejoong namun pikirannya belum lepas dari lelaki itu. Ia sangat menderita. Maka dari itu Zui dan Mark juga harus menderita.


Tetapi Shino tidak permah melihat sisi itu dari Yunho. Yunho selalu menjadi ayah yang baik selagi di hadapan Shino. Meskipun Yunho memiliki waktu yang sangat jarang untuk sekedar berbincang dengan Shino karena sibuk bekerja, Shino yakin semua itu dilakukan Yunho untuk kebaikan keluarganya.


Mendengar fakta ayahnya telah berlaku tega dengan kedua orang tua Zui, semua kehormatan yang Shino sanjung untuk Yunho gugur begitu saja. Ayahnya, sekaligus role model nya ternyata selama ini menyembunyikan kebusukan yang Shino tidak pernah terfikirkan sebelumnya.


                          


“Jaga mulut kamu, Kim Zui!”


Slap!


Yunho menampar Zui begitu keras. Membuat yang ditampar mengerang kesakitan. Kedua orang lain yang berada di ruangan yang sama ikut terkejut. Jessica berusaha menghentikan Yunho yang hendak menggapai Zui, berniat melakukan sesuatu yang lebih parah ke pria yang kini menahan pipinya yang memerah.


Shino segera memeluk Zui erat, amarahnya sudah di atas kepala. “Papa apa-apaan sih?!”


“Sayang, kamu gapapa?” tanya Shino lembut. Zui tidak menjawab, syarafnya yang terkejut membuat kepalanya menjadi nyeri. Yunho benar-benar menamparnya dengan sepenuh tenaga.


Yunho memberontak dari Jessica yang sedang menahannya. Tenaga Jessica yang tidak seberapa membuat Yunho bebas dari tahanannya. Ia kembali mendekat ke arah Zui. Tanpa segan Yunho mendorong Shino untuk menjauh dari Zui, hingga kini Zui berdiri sendiri.


Yunho mencengkram erat kerah baju Zui, wajahnya merah karena amarah. Yunho benar-benar seperti monster saat ini.


“Dengar baik-baik, saya gak akan ngerestuin kamu sama Shino. Shino datang dari keluarga yang baik-baik—”


“Oh, om baik ya?”


Yunho mendesis kesal, ia mengangkat kepalan tangannya. Jika Shino tidak menahannya, mungkin Zui sudah mendapat luka memar hasil pukulan Yunho.


“Papa stop pa!” bentak Shino, lalu melempar kepalan tangan Yunho dengan kasar.


“Choi Shino, kamu mau jadi anak durhaka?”


“Papa yang maksa Shino buat jadi durhaka,” Shino membawa Zui ke belakang tubuhnya, melindungi pria terkasihnya dari jangkauan sang ayah. “Walau Papa gak ngerestuin kita, Shino gak bakal ninggalin Zui. Shino sayang banget sama Zui.”


“...dan anak kita.”


Mau Yunho atau pun Jessica, keduanya dibuat terkejut atas pernyataan anaknya. Jessica membuka mulutnya sedikit saking kagetnya, “Nak, maksud kamu apa?”


“Zui hamil anak Shino. Sebentar lagi Shino bakal nikahin Zui, apapun yang terjadi.”


“Anak gak tau diuntung, malu-maluin keluarga aja!”


Slap!


Sekarang giliran Shino mendapat sapaan dari tangan Yunho. Shino tidak peduli dengan nama keluarganya yang sudah tercemar. Toh, ayahnya duluan yang mengotori nama baik keluarga. Jadi, memang keluarga Choi sudah tidak terpandang lagi sejak kejadian Yunho dengan Jaejoong. Walaupun masih disegani, tentu saja mereka hanya berpura-pura karena Yunho kaya raya.


Slap!


“Udah susah-susah papa sama mama besarin kamu, tapi kamu malah kayak gini!” lanjut Yunho kembali melempar tamparan keras ke pipi Shino.


Jessica langsung menahan tangan Yunho begitu ia hendak memberi Shino tamparan lainnya. “Berhenti Yunho, itu anak kita.”


Sambil memegang pipinya yang nyeri, Shino berkata, “Ayo tampar Shino lagi. Tamparan Papa gak ada apa-apanya buat Shino, dibanding semua yang udah Papa lakuin ke keluarga Zui.”


Selama 21 tahun, Shino mengira ayahnya adalah sosok yang penyayang dan penuh kelembutan. Walaupun tegas, namun Yunho tidak pernah melakukan kekerasan.


Tetapi selama 21 tahun itu pula Shino bisa menghitung dengan jarinya berapa kali Yunho menghabiskan waktu bersama putranya. Shino memang tidak mengenal ayahnya secara keseluruhan. Atau bahkan sifat ayah yang selama ini ia kenal hanyalah topeng belaka?


Shino sadar ia sangat salah karena membuat seseorang hamil di luar nikah. Namun tetap saja tidak ada alasan yang dapat membenarkan perlakuan Yunho ke keluarga Zui, tidak ada satu kata pun.


Yunho menatap Shino tajam, ia mencengkram erat bahu tegap anaknya dengan kedua tangan. “Bilang ke papa bukan kamu yang duluan ngelakuin itu, pasti jalang itu kan yang goda kamu! Ayo bilang ke Papa Choi Shino!”


Shino ngehempas tangan ayahnya, “Papa gak berhak ngatain Zui jalang.”


“Jadi, kamu lebih pilih dia dibanding Papa?” Yunho menggeleng tidak percaya. Kemudian ia menarik paksa tangan Zui yang berada di belakang Shino.


Yunho membawa Zui keluar dari rumahnya. Menghiraukan teriakan Jessica dan Shino yang senantiasa berusana menghentikannya. Keduanya mengejar Yunho menuju ke arah pintu keluar.


“Sssh, lepasin om!” Zui berontak kuat, ia berusaha melapaskan lengannya dari genggaman Yunho.


Dahulu Zui memang sudah ia anggap seperti anaknya. Namun sekarang semuanya telah berubah, Zui bisa menjadi boomerang baginya.


Yunho tidak peduli rintihan Zui, ia terus menyeret lelaki berumur 19 tahun itu keluar dari rumahnya.


Sesampainya di depan pintu, Yunho melempar tubuh Zui ke lantai teras dengan kencang. Mengakibatkan Zui terbentur lantai begitu keras.


“Jangan pernah menginjakan kaki lagi di rumah saya, atau kamu saya buat berakhir seperti kedua orang tau kamu, paham?!”


Zui tidak bisa dengar jelas ucapan Yunho. Bokongnya terbentur lantai sangat keras, hingga rasanya ia tidak mampu berdiri.


Shino yang baru saja sampai di depan pintu buru-buru berjongkok menghampiri Zui. “Zui, kamu gapapa sayang?”


Zui meringis pelan, “S-Sakit Shino...” lirihnya.


Shino mengeraskan rahangnya. Ia berdiri dan menghampiri ayahnya yang masih berada di depan pintu.


“Mulai detik ini, Shino bukan anak Papa lagi.”


Yunho tersentak. Seperti ada ribuan jarum menancap di hatinya. Anak semata wayangnya mengatakan hal itu dengan jelas di telinganya.


Namun setelahnya Yunho membalas, “Oke, kalo gitu. Jangan harap Papa dan Mama bakal datang ke pernikahan kalian,” ujar Yunho dengan nada angkuh khasnya, ia menggenggam tangan Jessica, “Ayo Ma kita masuk.”


“Pa, tapi—”


Belum sempat Jessica menyelesaikan perkataannya, Yunho sudah membawanya masuk ke rumah dan langsung mengunci pintu kayu besar yang tertutup itu.


Menyadari Zui masih terkapar di lantai, Shino kembali duduk di sebelahnya dan membelai wajah Zui yang kini sedang menahan rasa sakit.


“Kamu bisa bangun?” tanya Shino khawatir.


Zui membalas dengan gelengan pelan. Ia tidak yakin, tulang ekornya sakit sekali. Hingga efeknya sampai ke perutnya dan menyebabkan kontraksi.


“Shino...darah....dedek-dedeknya berdarah,” gumam Zui lemas saat melihat celana berwarna beige nya ternodai oleh cairan merah kental.