SHINZUI

SHINZUI
Lagi & Lagi




Shino memposting foto terbarunya di instagaram!


...view all 762 comments...


jjchaeyeon itu siapa?


     azui.kim@jjchaeyeon gw


parkroseanne SUDAAAHHH GILAAAA KALIIIIAANN BENAR BENAR YA UDH KAWIN GA BLG BLG ARRRRGHH😤😠😡🤬


bae.irene pacaran lu sm zui?


johnnysuh lah pj nya mana?


jihokim undangan mana undangan


nancymcdonie njs seriusan ama zui?


    azui.kim@nancymcdonie kl y emg np?


doyoung.kim ajg ajg ajg udh berani


     shinochoi @doyoung.kim bacot lu


     doyoung.kim @shinochoi hehe sorry kak


     azui.kim@doyoung.kim itu zui, bkn gue


doyoung.kim AJG AJG AJG UDH TUKERAN IG MAMPUS GA LO


     shinochoi @doyoung.kim bacot lu


     doyoung.kim @shinochoi lu yg bacot jamet


     shinochoi @dyoung.kim ini gue bnran jaehyun.


     doyoung.kim @shinochoi lah apasi ini gue dibadutin


...****************...


Matahari baru saja terbenam. Mark menatap marah ke dua lelaki di depannya karena sudah lebih dari setengah jam ia menunggu di depan pintu namun tak seorang pun kunjung datang.


Awalnya Mark memang ingin melontarkan cacian ke Kakaknya, namun setelah melihat penampilan Zui dan pria di sebelahnya yang acak-acakan—Mark mengurungkan niatnya.


mereka kelihatan sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan.


Kini situasi malah berbanding balik untuk Mark. Ia merasa bersalah karena pulang terlalu awal. Seharusnya Shino dan Zui masih bisa menambah ronde selanjutnya kalau saja Mark tidak datang.


Beberapa saat sebelumnya, setelah Zui mendapat panggilan dari Mark, Shino dan Zui mempercepat durasi permainannya hingga sampai ke pelepasan.


Walaupun kondisinya masih lelah, kedua insan yang sedang di puncak kasmaran itu langsung mengenakan pakaian mereka.


Zui mengutuk Adiknya dalam hati karena menganggu momen yang sudah ia tunggu sejak lama. Meskipun kini Zui sedang duduk di sofa bersama kedua orang lain—Shino, Mark, namun pikirannya masih melayang membayangkan betapa nikmatnya kejadian beberapa menit lalu.


Seperti yang mereka bicarakan sebelumnya, Zui dan Shino akan membahas pernikahan mereka bersama Mark. Sekaligus berdiskusi langkah apa yang akan Mark ambil jika Kakaknya menikah dengan Shino.


“Lu udah tau kan Zui hamil anak gue?” tanya Shino seraya menatap lelaki lebih muda darinya itu.


Mark yang kini duduk di single couch mengangguk pelan. Zui sering bercerita tentang Shino kepadanya, setidaknya Mark bisa bernafas lega karena akhirnya Zui mendapatkan pria yang baik di kehidupannya.


“Gue baru aja selesai sidang, rencana nya besok atau lusa gue mau ngenalin Zui ke orang tua gue sekalian minta restu, nah sekarang—” Shino menggantungkan omongannya, ia melirik pria mungil di sebelahnya yang tampak menunduk.


Bukan karena gugup atau ragu, tetapi bayangan kejadian panas sebelumnya terus saja beputar di benak Zui. Membuat Zui ingin mengulanginya lagi dan lagi.


Oh Tuhan, Zui tidak fokus sekarang.


Shino menggenggam tangan Zui yang tergantung bebas di antara kakinya, “Gue mau minta restu ke lu, boleh kan gue nikahin Kim Zui aka kakak lu dalam waktu dekat?”


Zui tersentak, dua belah matanya menatap Shino yang berada di sebelahnya. Bagaimana bisa di saat serius seperti ini fikiran Zui meliar kemana-mana?


Shino menatap lurus ke arah Mark. Si calon adik ipar berusaha mencari keraguan di pandangannya, namun nihil. Mark memang bukan cenayang, tetapi firasatnya selalu benar saat mempertanyakan ketulusan seseorang.


Mark yakin Shino itu bersungguh-sungguh saat mulutnya mengatakan akan menikahi Zui. Lagipula tidak ada pilihan jawaban untuk Mark, karena apapun yang terjadi mereka memang harus secepatnya menikah—apapun itu, jawaban nya ialah ya.


“Yo dude, kalian berdua sedang punya anak, bagaimana bisa gue katakan tidak?” mata Mark bergulir menatap Shino dan Zui secara bergantian.


Shino tersenyum simpul, jangan heran Zui sangat menyayangi Mark. Adiknya ini memang sosok yang luar biasa.


“Terus kalo nanti Zui tinggal sama gue, lu mau ikut kita atau gimana, Mark?”


Dengan cepat Mark langsung menggelengkan kepalanya, berhasil membuat Zui terkejut. Bagaimana Mark bisa bertahan hidup tanpa Zui.


“Honestly, gue juga mau ngomong sesuatu sama lu Kak,” Mark mengunci tatapannya di kedua mata Zui. “Selama ini gue kerja jadi joki tugas tanpa sepengetahuan lu, hehe.”


Zui melebarkan matanya. Apakah itu dari jawaban mengapa selama ini Mark sangat sering begadang? Jadi, Mark bukan belajar untuk ujian, melainkan mengerjakan tugas milik orang lain?


Sudah lama Mark ingin mengatakan hal ini, namun apa daya. Zui terlalu keras kepala saat itu untuk sekedar mendengar alasan Mark.


“Mark, kan gue udah sering ngelarang lu buat kerja? tapi mengapa kamu—”


“Kak, gue gak bisa duduk diam dan liat lu bekerja keras untuk kami, dan gue cuma nikmatin hasil jerih payah lu. Lu pikir itu gak jadi beban pikiran buat gue?”


Zui membeku, tujuannya selama ini menjadi joki balap liar yang bahkan bukan hanya keringat yang dikorbankan, tetapi nyawa adalah hanya untuk memastikan semua kebutuhan dan keinginan Mark terpenuhi. Bahkan tak jarang Zui mengesampingkan kebutuhannya demi Mark.


Memang tidak pernah terpintas di otak Zui bagaimana perasaan Mark selama ini melihat dirinya banting tulang menghidupi mereka berdua sendirian. Yang Zui fikirkan hanyalah, jika semua kebutuhan dan keinginan Mark terpenuhi, maka Mark akan senang.


Apakah Zui selama ini egois? Namun jika ini demi kepentingan mereka bersama, mengapa tetap disebut egois? Lagipula Zui melarang Mark bukan tanpa alasan.


Zui selalu menegaskan pendidikan adalah yang paling utama dari segalanya, walau kini motto nya bakal berubah menjadi anak yang paling utama dari segalanya. Tetapi untuk Mark tetap lah sama, Mark harus menuntaskan masa sekolahnya dengan nilai yang memuaskan. Jika Mark bekerja, fokusnya akan terbagi dua, Zui tidak ingin adiknya merasakan kepenatan bekerja di saat umurnya masih sangat belia.


“Gue tau selama ini lu kerja juga buat gue, dan gue sangat berterima kasih untuk itu. Bukannya gue gak bersyukur Kak, tapi di keluarga tinggal kita berdua, apa salahnya kita saling berjuang demi kelangsungan hidup?” ini kali pertama untuk Mark menggemukan pendapatnya sejelas ini, karena sebelumnya Zui pasti akan selalu memotong atau bahkan tidak ingin mendengar ketidaksetujuan Mark.


“Pendidikan nomor satu Dek, selama masih SMA lo harus fokus sama sekolah lo. Nanti pas lo lulus itu terserah lo mau ngapain. Lo juga harus hargain gue sebagai satu-satunya wali lo Dek,” sebenarnya ada rasa sakit di hati Zui, ia merasa gagal menjadi kakak yang baik. Zui selalu berfikir materi adalah alasan utama seseorang bahagia, namun ternyata salah besar.


“Dan juga gue minta maaf, selama ini udah egois karena gak mau mikirin perasaan lo.”


Wajah Mark yang sejak awal menampilkan kerut di daerah keningnya akhirnya menjadi lebih tenang.


Bagaimana pun juga Mark tidak pernah bisa marah dengan Zui. Zui alasan utama Mark selalu semangat untuk menuntut ilmu. Mark juga berfikir mungkin ia yang terlalu memberontak dari garis batas Zui elama ini.


Intinya mereka berdua hanya perlu mendengarkan satu sama lain. Karena keduanya keras kepala, semuanya berubah menjadi lebih rumit sebab tidak ada yang ingin mengalah.


“It's okay Kak, there's no need to be sorry. Gue cuma mohon sama lu, izinin gue kerja dari sekarang. Selama ini gue jadi joki tugas ngumpet-ngumpet dari lu, gak enak tau gak! Lagipula, you will end up with him and leave me after all.”


Zui sempat berfikir sekejap. Otaknya yang semula dipenuhi cuplikan kotor adegan panasnya dengan Shino terpaksa harus memutuskan sebuah keputusan akhir untuk adiknya.


Zui terlalu labil, banyak sekali yang ia takutkan jika mengizinkan Mark untuk bekerja. Karena takut memilih keputusan yang salah, Zui menanyakan bagaimana opini Shino tentang ini.


“Menurut kamu gimana Shino?”


Waktu berlalu begitu cepat, begitu juga perasaan Zui. Ia mulai nyaman dengan panggilan barunya untuk Shino, sounds softer and—more romantic.


Tolong hiraukan Zui yang benar-benar di mabuk asmara.


Mungkin ini kemauan dari sang jabang bayi untuk membuat ayah dan bubu mereka semakin romantis dan semakin lekat.


Shino yang sejak tadi memperhatikan perdebatan antara kedua kakak beradik itu menjawab, “Izinin aja lah, even though he's a boy soon to be a man. Then, why not? Bener juga loh kata Mark, pada akhirnya juga kamu bakal tinggal sama aku.”


“Thank God he's here,” ujar Mark.


Ah otak Zui benar-benar tidak bisa dibuat berfikir sekarang. Semuanya campur aduk. Sudahlah apapun keputusan Shino, Zui akan setuju. He's a thoughtful man.


Zui mengangguk pelan, jika shino berkata begitu, gue ngikut aja.”


Mark bersorak gembira. Perasaannya seangat lega karena akhirnya dapat izin dari Kakaknya. Okay Thank Shino later.


Apakah Zui selama ini egois? Namun jika ini demi kepentingan mereka bersama, mengapa tetap disebut egois? Lagipula Zui melarang Mark bukan tanpa alasan.


Zui selalu menegaskan pendidikan adalah yang paling utama dari segalanya, walau kini motto nya bakal berubah menjadi anak yang paling utama dari segalanya. Tetapi untuk Mark tetap lah sama, Mark harus menuntaskan masa sekolahnya dengan nilai yang memuaskan. Jika Mark bekerja, fokusnya akan terbagi dua, Zui tidak ingin adiknya merasakan kepenatan bekerja di saat umurnya masih sangat belia.


“Gue tau selama ini lu kerja juga buat gue, dan gue sangat berterima kasih untuk itu. Bukannya gue gak bersyukur Kak, tapi di keluarga tinggal kita berdua, apa salahnya kita saling berjuang demi kelangsungan hidup?” ini kali pertama untuk Mark menggemukan pendapatnya sejelas ini, karena sebelumnya Zui pasti akan selalu memotong atau bahkan tidak ingin mendengar ketidaksetujuan Mark.


“Pendidikan nomor satu Dek, selama masih SMA lo harus fokus sama sekolah lo. Nanti pas lo lulus itu terserah lo mau ngapain. Lo juga harus hargain gue sebagai satu-satunya wali lo Dek,” sebenarnya ada rasa sakit di hati Zui, ia merasa gagal menjadi kakak yang baik. Zui selalu berfikir materi adalah alasan utama seseorang bahagia, namun ternyata salah besar.


“Dan juga gue minta maaf, selama ini udah egois karena gak mau mikirin perasaan lo.”


Wajah Mark yang sejak awal menampilkan kerut di daerah keningnya akhirnya menjadi lebih tenang.


Bagaimana pun juga Mark tidak pernah bisa marah dengan Zui. Zui alasan utama Mark selalu semangat untuk menuntut ilmu. Mark juga berfikir mungkin ia yang terlalu memberontak dari garis batas Zui elama ini.


Intinya mereka berdua hanya perlu mendengarkan satu sama lain. Karena keduanya keras kepala, semuanya berubah menjadi lebih rumit sebab tidak ada yang ingin mengalah.


“It's okay Kak, there's no need to be sorry. Gue cuma mohon sama lu, izinin gue kerja dari sekarang. Selama ini gue jadi joki tugas ngumpet-ngumpet dari lu, gak enak tau gak! Lagipula, you will end up with him and leave me after all.”


Zui sempat berfikir sekejap. Otaknya yang semula dipenuhi cuplikan kotor adegan panasnya dengan Shino terpaksa harus memutuskan sebuah keputusan akhir untuk adiknya.


Zui terlalu labil, banyak sekali yang ia takutkan jika mengizinkan Mark untuk bekerja. Karena takut memilih keputusan yang salah, Zui menanyakan bagaimana opini Shino tentang ini.


“Menurut kamu gimana Shino?”


Waktu berlalu begitu cepat, begitu juga perasaan Zui. Ia mulai nyaman dengan panggilan barunya untuk Shino, sounds softer and—more romantic.


Tolong hiraukan Zui yang benar-benar di mabuk asmara.


Mungkin ini kemauan dari sang jabang bayi untuk membuat ayah dan bubu mereka semakin romantis dan semakin lekat.


Shino yang sejak tadi memperhatikan perdebatan antara kedua kakak beradik itu menjawab, “Izinin aja lah, even though he's a boy soon to be a man. Then, why not? Bener juga loh kata Mark, pada akhirnya juga kamu bakal tinggal sama aku.”


“Thank God he's here,” ujar Mark.


Ah otak Zui benar-benar tidak bisa dibuat berfikir sekarang. Semuanya campur aduk. Sudahlah apapun keputusan Shino, Zui akan setuju. He's a thoughtful man.


Zui mengangguk pelan, “If Shino says so, so do I.”


Mark bersorak gembira. Perasaannya seangat lega karena akhirnya dapat izin dari Kakaknya. Okay Thank Shino later.


Zui dan Shino kembali ke kamar usai berbincang dengan Mark. Keputusan akhir nya adalah, setelah lulus sekolah Mark akan mencari kerja dan menunda kuliah nya sampai uang tabungannya mencukupi.


Zui pun tidak langsung melepas tangannya begitu saja dari Mark. Jika Mark memang butuh bantuan atau kekurang hal mendadak, Shino dan Zui pasti akan membantu.


Kini tinggal meminta bertemu dan meminta restu orang tua Shino yang tinggal di kota seberang.


Shino baru saja menutup pintu kamar Zui, jantungnya berdetak kencang saat membalik badannya Zui sudah menghadangnya dengan lengan kanannya mengunci tubuh Shino di belakang pintu.


Smirk terpatri di biwbir Shino saat Zui menampilkan raut seduktifnya di hadapan Shino—wow, it's the same Zuiie who teased him at the nightclub that night.


“What's this kitty?” tanya Shino begitu sang submissive mengendus area dadanya lalu naik ke perpotongan leher Shino.


Tangan Zui menggapai-gapai gagang pintu, memutar kunci agar kegiatan mereka kali ini tidak terganggu siapa pun.


Kedua tangan Zui kini telah berada ujung pakaian Shino, bersiap untuk menanggalkannya dari tubuh kekar Shino. Selagi Zui sibuk mengecupi leher Shino, pria bermarga Choi itu tidak berhenti tersenyum miring karena ulah dari calon suami kecilnya ini.


Tangan mungil Zui mengangkat kaus Shino dengan tergesa. Shino yang sadar pria tercintanya ingin menghempaskan benda penghalang tersebut dari tubuhnya dengan cepat membantu Zui melancarkan aksinya. Shino kembali bertewlanjang dada.


Demi apapun, Zui sudah tidak bisa menahannya. Tanpa berfikir panjang, lelaki manis itu mensejajarkan tubuhnya di depan perut Shino dengan kedua kaki yang tertekuk. Sepasang tangan kurusnya bertengger indah di pinggang Shino. Walau sudah melihatnya lebih dari satu kali, Zui selalu terkagum-kagum dengan bentuk sempurna di perut Shino.


Tubuh Shino menggeliat pelan saat lidah Zui menyapu permukaan kulitnya. Dengan lincah, benda basah itu meliuk di setiap sela otot Shino. Shino menggeram rendah. Jika harus melakukan begituan untuk kedua kalinya, Shino tidak keberatan—bahkan sejuta kali pun ia tidak akan menolak.


Lidah Zui menyusuri setiap sudut tubuh atletis Shino, perlahan mulai naik dan akhirnya singgah di tulang sewlangka pria Choi itu. Ujung hidung milik pria mungil yang terus bergesek pelan di atas tubuh Shino sukses membuat lelaki 21 tahun itu meremang.


Saat ini Zui sampai di hadapan biwbir Shino. Tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki itu menyerbu biwbir Shino dengan sangat menuntut. Shino berusaha menyeimbanginya dengan sesekali memberi gigitan kuat di biwbir bawah Zui. Tangan Shino bergerak mengelus paha Zui yang terekspos karena pria itu memakai celana terlampau pendek.


Jemari panjangnya dengan tidak sopan masuk ke dalam celana Zui.


“Nghhh Shino—” dewsah Zui di tengah pergulatan lidah mereka saat merasakan salah satu jari Shino masuk ke dalam belahan mochi-nya.


Zui mengalungkan satu kakinya di pinggang Shino saat pria tinggi itu mulai menggerakkan jarinya di dalam sana. Ritmenya semakin cepat, membuat Zui hilang fokus saat berciwuman.


Dengan terpaksa Zui melepaskan persatuan biwbir mereka, kemudian mendewsah tertahan karena tidak ingin Mark mendengar suaranya—mengingat mereka masih berada tepat di belakang pintu.


Shino tidak suka Zui menahan dewsahannya, dengan sigap ia mengangkat Zui ke dalam gendongannya lalu membawa pria yang sedang dipenuhi nawfsu itu ke ranjang.


Perlahan Shino meletakan Zui di atas ranjang. Kaki Zui tergantung ke bawah, nafasnya berderu, dengan tatapan sayu nya Zui menatap Shino yang kini sedang membuka pakaian Zui dengan terburu-buru. Kini lelaki yang sedang mengandung itu kembali buwgil.


Menggoda, sangat, semua yang Zui miliki di tubuhnya sangat sempurna. Tidak ada cacat. Walaupun ada, maka itu akan tetap terlihat indah di mata Shino. Kim Zui adalah definisi dari pahatan tanpa cela.


Shino melebarkan kedua kaki ramping Zui, menahannya di atas ranjang agar tidak bergerak. Pria berlesung itu menyamakan wajahnya dengan bagian bawah Zui yang menegang hebat dengan menekukan kakinya di lantai. Shino mendekatkan wajahnya ke tempat dimana ia memasukan miliknya.


“Ouhhh Shino—you ahhh shit feels so nice,” ewrangan Zui tidak bisa dipungkiri saat Shino menelusupkan lidahnya ke dalam sana dan menggerakannya dengan lihai.


Tubuh Zui membusur dan bergerak kesana-kemari, mengekspresikan bagaimana nikmatnya permainan lidah Shino di dalamnya. Zui mencengkram kuat spreinya, saking kuatnya sampai bagian ujung sprei terlepas dari tempat semestinya.


Shino benar-benar membuat Zui hilang akal, tangan besarnya kini bergerak membungkus pisang Zui yang sudah berdiri tegak. Raungan Zui semakin keras seiring dengan pergerakan tangan Shino yang kian cepat, Shino memberinya terlalu banyak kenikmatan.


Lidah Shino masih belum berhenti bergerak keluar masuk, Zui meremat apapun benda di dekatnya untuk menyalurkan rasa nikmat yang ia dapatkan.


Gairah Zui memuncak ketika Shino menusuk-nusuk pelan ujung kejantanannya yang basah karena cairan prewcum dengan jarinya yang berkuku pendek. Kemudian tangannya kembali bergerak naik turun di pisang Zui.


“Ngaahhh,” dewsah Zui puas, dia sampai di pelepasannya hanya karena permainan tangan dan lidah Shino. Bukan Zui yang terlalu cepat sampai di puncaknya, itu karena Shino terlalu handal dalam membuatnya hilang arah.


Shino menatap ke arah pria yang terlentang lemas di atas kasur dengan wajah merah menawannya, senyum Shino muncul karena bangga dengan dirinya berhasil membuat Zui dilanda kenikmatan yang berlebih. Zui mendudukan tubuhnya dengan hati-hati, kakinya kembali tergantung ke bawah ranjang.


“Ayo mulai ke inti sayang,” lirih Zui pelan, tangannya berusaha menuruni celana Shino yang sedang berlutut di hadapannya. Sudah tidak sabar bertemu lagi dengan si besar itu.


Shino tersenyum, bukan, bukan karena perilaku biwnal atau mata mengerling menggoda milik Zui, bukan juga saat Zui mengigit biwbirnya seduktif. Tetapi karena pria manis itu memanggilnya sayang. Buat Shino, Zui berlaku manis berada di atas segalanya. Shino terasa hangat, masih tidak menyangka Zui bisa luluh kepadanya hanya dalam waktu tiga bulan.


Kembali ke situasi, dimana tubuh Shino sudah sama polosnya dengan Zui.


Shino mendudukan tubuhnya di lantai, kemudian menyenderkan punggungnya ke sisi samping ranjang. Tangan kekar Shino menarik pelan tangan Zui.


“Sini duduk di atas aku,” ucapnya.


Tidak berniat memprotes kemauan Shino, Zui segera beranjak dari ranjang dan mengikuti suruhan si dominan. Zui mengalungkan kedua tangannya di leher Shino setelah duduk di atas pangkuannya.


“Siap-siap gak bisa jalan besok ya bad kitten.”


“aku suka itu, daddddyy~”


Smirk Shino mengembang, matanya bertatapan dengan mata indah lelakinya. Mata yang membuat jatuh hati sampai lupa cara untuk bangun lagi. Zui adalah candunya, sebelum atau pun sesudah mereka melakukan hubungan badan.


Bisa dibilang sebelum kejadian malam itu, Shino sudah setara dengan stalker gila, sebab setiap waktu ia selalu memantau akun instagram milik Zui. Mencari tahu segala hal yang berbau Kim Zui merupakan hobi Shino.


Saat pertama kali bertemu Zui di gedung fakultas hukum, kala itu Zui ingin menghampiri Doyoung di fakultasnya. Walaupun hanya berpapasan beberapa detik, Shino benar-benar terpesona oleh seorang Kim Zui. Pria itu tidak bisa menghilangkan wajah Zui di otaknya setelah melihatnya.


Dan saat itu juga Shino menyadari, dirinya telah jatuh cinta kepada seorang laki-laki manis namun keras kepala dan penuh gengsi. Jauh sebelum mereka kenal satu sama lain.


Awalnya Shino tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, but his Kim mengubah segalanya.


Shino mengangkat pinggang ramping Zui, mengarahkan miliknya dengan teliti agar tepat memasukkan benda itu ke dalam bowkong Zui.


Saat Shino mengatakan Zui memiliki pinggang yang ramping, ia tidak berbohong. Karena untuknya tubuh Zui lebih menarik dari wanita mana pun. Pas sekali di pelukannya.



Ketika sudah masuk secara keseluruhan, Zui menggerakan pinggulnya pelan. Bukannya Shino tidak ingin bekerja di ronde kali ini, namun ia suka melihat Zui bergerak kenikmatan di atasnya seperti saat ini.


Hanya dengan melenguhkan namanya berkali-kali, Zui sudah membuat Shino menggila. Tangan Shino sudah sedia berada di bowkong Zui, selalu bersiap setiap saat untuk meremas nya kuat.


Shino tidak main-main dengan kalimatnya ketika mengatakan ia akan membuat Zui tidak bisa berjalan besok, karena ronde-ronde setelahnya pria itu bermain dengan sangat liar dan ganas. Zui tidak mengeluh, bahkan ia yang selalu meminta lebih lagi dan lagi.


Keduanya benar-benar tidak peduli dengan keadaan Mark di kamar sebelah yang semalaman berjaga sampai matahari hampir memunculkan sinarnya di ufuk timur.


“Kalo gini, mending tadi gue gak usah pulang aja anjing,” kesal Mark dengan bantal yang menutup telinganya. Mark is going to cry a river right now.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jika ada kata-kata typo, itu memang disengajakan.