
“Sebelum masuk kedalam permainan, ayo coba kita cari tahu lebih dalam.”
Setelah mendengarkan kata-kata dari Habdul, Sadam merasa pengetahuannya akan game Second World sangatlah terbatas, karena itu dia mencoba mencari tahu lebih jauh tentang game Second World.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Sadam merangkum beberapa poin penting yang harus di ketahui saat bermain Second World.
Pertama, didalam permainan dibagi dua ras yang berkuasa yaitu ras manusia dan Iblis.
Pemain bebas memakai keduanya.
Kedua, zona waktu di dalam game hampir sama dengan waktu di dunia nyata.
Terdapat banyak kerajaan yang terbagi dengan berbagai zona waktu sesuai lokasi tempat pemain bermain.
Ketiga, siang di bumi adalah malam di Second World, jadi secara harfiah permainan tidak akan mengganggu kehidupanmu di dunia nyata.
Keempat, waktu di dalam permainan mengalir 3 kali lebih cepat dari waktu bumi. Itu berarti mereka memiliki waktu 36 jam untuk bermain selama satu malam.
Kelima, Nervegear adalah teknologi canggih yang memungkinkan badan untuk beristirahat sedangkan otak tetap aktif, yang artinya pemain dapat bermain di malam hari dengan tubuh mereka yang sedang tidur.
Keenam, pengaturan level dan alokasi poin keterampilan tidak berbeda dengan permainan rpg (role playing game) yang lain, hanya saja pembagian job di laksanakan di level 10 di dalam permainan Second World.
Setelah membaca banyak hal tentang Second World, Sadam mulai sedikit paham tentang lonjakan pemain di bulan ketiga setelah peluncuran game Second World.
“Memiliki hidup 4 kali lebih panjang, atau dapat merasakan hidup 4 kali dari masa hidupmu di dunia sudah merupakan hal yang menakjubkan.”
Hanya mengambil poin tentang aliran waktu yang 3 kali lebih cepat akan membuat permainan ini laku keras, terlebih dapat memainkannya di saat tubuh sedang tertidur.
Bukannya itu sebuah tekhnologi yang tidak masuk akal ?
“Semakin tahu, semakin tidak masuk akal, lebih baik aku mengesampingkannya untuk sekarang.”
Sadam mulai membaringkan tubuhnya kedalam kapsul Nervegear, dan setelah kapsul itu tertutup, Sadam kembali terhipdotis dengan cepat, tertidur dengan pulas dan memasuki permainan.
•••••
“Oh iya, terakhir kali aku ada di sini.”
Sadam duduk di sebuah bangku di pinggir taman, di seberang tempat dia duduk terdapat sebuah toko makanan yang sedikit usang namun tidak sepi dari pembeli.
“Jadi tanda segitiga hijau di atas kepala untuk pemain ?.”
Sadam mulai memeriksa keadaan sekitar berbeda dengan yang dia lakukan kemarin.
Setelah puas memeriksa keadaan sekitar, Sadam mulai mencoba berdiri dari kursi tempatnya duduk, meskipun sedikit susah namun dia merasa bahagia karena memiliki kesempatan lain di hidupnya untuk kembali berjalan.
Setelah beberapa jam berlatih pria tua dari warung makan kembali menghampirinya.
“Kau berkembang dengan baik, setidaknya kau tidak harus merangkak untuk menuju warung makanku, hahaha.”
“Iya kek, tapi sepertinya masih butuh waktu untuk bisa berlari.”
“Ish Ish ish, bocah yang baru bisa berjalan sudah memikirkan cara berlari ?”
“Kau terlalu sombong anak muda, pelajarilah perlahan, satu minggu belajar berjalan bukanlah waktu yang lama.”
Mendengar kata-kata pria tua di sampingnya, Sadam kembali duduk dikursi samping taman untuk merilekskan tubuhnya.
“Ini makanan untuk hari ini, jika kurang datanglah ke warung, aku akan memberimu makanan lebih.”
Dengan senyum cerah, pria tua itu kembali berjalan menuju warung makan miliknya.
“Terimakasih kek, kek !”
“Ya ?”
“Bolehkah aku tahu nama kakek ?”
“Ho Ho Ho, bocah cengeng sudah mulai mempelajari tata krama rupanya. Namaku Sempu, ingat itu baik-baik. Hahahah.”
Sadam melihat bahu kakek Sempu saat dia kembali kewarungnya.
“Bukankah NPC ini lebih dari kata hidup ?”
“Bukankah dia terlihat seperti manusia asli ?”
Begitulah waktu satu minggu yang di lalui oleh Sadam.
•••••
“Huf huf huf…”
Sadam menunduk mengatur nafasnya setelah berlari mengelilingi desa Greenfield.
“Kau sudah bisa berlari secepat ini dalam waktu satu minggu, bukankah ini hebat ? Hahaha”
“Kakek Sempu yang terhormat, bukankah aku sudah memberitahumu berulang kali, aku adalah kesatria yang menyamar. Kau harus ingat itu. Hahaha.”
“Hah, bocah yang baru bisa berlari sudah belajar untuk sombong ?”
“Ini makanan untuk hari ini, jangan lupa untuk menyelesaikan tugas pertamamu.”
“Baiklah kakek Sempu yang terhormat, seorang kesatria tidak akan menarik kata-katanya. Hahaha.”
Dengan tawa kencang Sadam melihat orang tua yang biasa mengejeknya kembali menuju warung dengan wajah yang kesal.
Setelah satu minggu berlatih cara berjalan, kini Sadam sudah bisa berlari seperti kondisinya sebelum mengalami kecelakaan.
“Ini seperti mimpi.”
Sadam sangat puas dengan pertumbuhan karakternya, tidak seperti player lain yang tergesa gesa untuk mengalahkan monster di ladang atau menyelesaikan quest untuk segera meningkatkan level dan mendapatkan job mereka.
Sadam sudah puas dengan hanya menikmati hari-hari damainya sembari menggoda kakek tua penjaga warung makan.
“Rumput kaca dengan bunga putih yang tumbuh di samping gerbang, sepertinya tumbuhan ini yang kakek tua itu maksud.”
Berbekal sebuah parang dan keranjang, Sadam mulai memangkas rumput seperti permintaan kakek Sempu.
“Tetapi 100 kilo bukannya terlalu banyak ?, ah lupakan yang penting aku tetap mendapatkan roti.”
Sadam kembali melanjutkan tugas yang diberikan kakek Sempu, meskipun tugas itu sedikit melelahkan namun Sadam sangat paham akan bahayanya status ‘lapar’ bagi pemain.
Didalam permainan yang tingkat singkronisasinya sangat tinggi kepada tubuh pengguna, merasakan lapar berlebihan akan ikut mempengaruhi tubuh asli pemain, meskipun sedikit namun Sadam sangat merasakan perbedaannya.
“Bagus, kau masih butuh 2 keranjang lagi.”
“Dasar kau kakek bau tanah, aku sudah mondar-mandir 15 kali hari ini, kakiku belum sekuat itu kau tahu.”
“Oh Dewa, ada kesatria yang mengeluh hanya karena membawa beberapa helai rumput kaca, apakah rumput kaca lebih berat dari melawan raja iblis ?.”
“….”
Mendengar ejekan kakek Sempu, Sadam hanya bisa terdiam dan kembali berjalan menuju gerbang masuk desa untuk memanen rumput kaca.
“Menyamakan 100 kilo dengan beberapa helai, bukankah itu keterlaluan ?’
••••
”Akhirnya selesai juga.”
Sadam berjalan kembali kewarung membawa keranjang terakhir sembari menyaksikan mega yang sudah menyingsing.
“Pemandangan di sini boleh juga.”
Sadam tersenyum puas melihat langit di atasnya, merasakan kembali tubuhnya yang bisa berkeringat dan merasakan lelah membuatnya merasakan kembali apa itu kehidupan.
“Kau sudah datang ?, taruh keranjang terakhir dan ayo kita makan.”
Mendengar sambutan dari pemilik quest, sebuah pemberitahuan muncul di hadapan Sadam.
+++++++
Selamat anda berhasil menyelesaikan permintaan chef Sempu.
Konten : Memanen 100 kilo rumput kaca
Hadiah : Makan malam istimewa
+++++++