
Part 3
Hiro duduk dalam ruang ganti para pengisi acara setelah selesai tampil dalam acara televisi. Yang dilakukan hanya termenung mengabaikan dunia sekitar sementara para artis lain bersama manager serta penata rias sedang berbincang seru di antara gelak tawa. Raut muramnya berhasil mengundang Kai untuk berpindah duduk ke meja rias Hiro yang tepat berada di sebelah kirinya. "Yo, senpai. Tidak semangat seperti biasanya?" Itu benar. Kai paham kalau Hiro dikenal sebagai pria periang, berbeda dengan dirinya yang kaku karena menjaga image.
Hiro tersenyum tanggung kali ini, kesan lesunya begitu kental dan mengganggu suasana. "Maaf, aku merusak mood kalian."
Dikibaskan tangannya. "Jangan dipikirkan." Kai sebenarnya tahu apa yang menyebabkan teman dekatnya jadi seperti ini. "Bagaimana kalau setelah ini kita ke suatu tempat. Aku tahu pub yang bagus."
Itu bukan ide yang buruk. Napas Hiro terhela panjang. "Sepertinya aku memang butuh hiburan."
"Itu sudah pasti," jawab Kai bersamaan dengan seorang kru yang memberi tanda padanya untuk bersiap tampil lalu balas mengangguk saja. "Jangan pulang dulu. Tunggu aku. Oke, senpai?"
Hiro hanya bergumam mengiyakan.
...****************...
Mia membawa Maya berjalan cukup jauh. Di Jepang tidak sama seperti di Jakarta. Mau ke warung jarak sepuluh meter saja bisa naik angkutan umum. Di sini mana mungkin terjadi! Meskipun demikian orang Jepang memang suka berjalan dan enggan menghabiskan uang untuk transportasi. Harga bensin di sini sangat mahal, naik taksi saja tergolong suatu kemewahan.
Rasanya betis Maya bentuknya sudah mengalahkan pemain sepak bola. Gempal berotot. Benar-benar tidak sedap di pandang mata. Sudah begitu, napasnya terdengar bak orang asma, dadanya kembang kempis sejak tadi. Jika dipikirkan nasib gadis tua memang seperti ini, loyo. Rasanya Maya sudah tidak sabar ingin segera sampai. Bukan karena lapar, tapi pegalnya itu tak terjabarkan. "Mi-chaaan, appaaaa masssiiiih jauuuuuh? Hah-hah-haaah," keluhnya dengan napas terputus-putus.
Senyum geli Mia melebar sebab tahu Maya kelelahan. "Kau ini, masih muda tapi seperti oba-san."
"Aku memang hobah-szaaan, haaaah," tukasnya sambil bergelayut di lengan Mia.
Mia terpingkal kali ini. "Ara! Kita sudah hampir sampai. Di sana! Sebelah Pub Rainbow!"
Maya langsung menegakkan badan, bersemangat kembali ingin cepat duduk. "Gah! Itu kabar bagus!"
Agak jauh dari mereka sebuah mobil mewah berhenti. Mia yang berjalan di sisi kanan Maya masih sibuk menjelaskan menu favoritnya di restoran malam tersebut, sedangkan perhatian Maya teralih pada pria yang baru turun dari mobil mentereng tersebut. Bukan sosok itu yang menarik perhatiannya, melainkan bayangan hitam yang berkumpul mengerumuninya. Gila! Banyak sekali!
...(Jangan terlalu dekat.)...
Ya, aku tahu.
"Neeee, Ma-chaaaan, kau mendengarkan, tidaak?" protes Mia.
Diangguk saja kepalanya seraya menarik Mia untuk pindah ke sisi kirinya. Sungguh sulit dimengerti bagaimana mungkin pria itu tahan dikelilingi makluk menyeramkan dengan berbagai rupa yang tak jelas. Hitam, gosong, berdarah-darah, dan lain sebagainya yang sering kita lihat di film-film. Apakah mungkin ia seorang paranormal aliran hitam? Sebaiknya ia mawas diri dan tidak mengganggunya.
Kai yang baru turun dari mobil mendesah pendek. Dahinya berkedut berusaha keras menghiraukan kerumunan makhluk tidak jelas yang sering mengikuti dirinya. Suara bising mereka sebisa mungkin ia abaikan, isinya hanya bermaksud meminta diperhatikan bahkan ada yang sampai mengancam segala. Tetapi kebanyakan dari mereka juga meminta pertolongan darinya.
Bukannya Kai sosok manusia berhati dingin, tetapi pengalaman banyak memberinya jawaban. Makhluk seperti itu tidak dapat dipercaya, mereka licik dan manipulatif. Saat masih remaja ia terlalu polos, begitu puas dan bangga ketika berhasil membantu salah satu dari mereka. Tetapi ketika yang lain datang, mereka ternyata hanya ingin menjebak atau mencelakainya dengan berbagai tipu daya dan muslihat. Kini ia merasa benar-benar muak dengan kemampuannya ini. Ketika akan memanggil Hiro yang masih berada dalam mobil, Kai terhenyak kala semua kerumunan hitam itu menyingkir dan menjauhinya. Ini pertama kalinya mereka melakukan hal itu. Bahkan di dalam rumahnya saja mereka terus saja berisik. Apa yang terjadi? Mengapa tetiba mereka menjauh? Ketika melangkah mundur, tak sengaja dirinya nmenabrak seorang gadis di belakang. "Ah, Maaf!"
Maya langsung mengangguk tak berani menatap pria yang menabraknya. "Ya, tak apa."
Mia pun mengamati sosok pria itu. "Rasanya aku kenal. Hmm, siapa yaa?"
Maya menarik lengan Mia untuk bergegas. "Sudahlah. Ayo cepat," bisiknya yang merasa tidak nyaman.
Kai menatap punggung kedua gadis itu dengan perasaan bingung. Sayup terlihat bayangan putih mengikuti di belakang mereka. "Yokai yang sangat kuat," gumamnya.
Hiro yang baru turun membuka kacamatanya menatap papan pub bertuliskan Rainbow. "Ini tempatnya?"
Kai menoleh sumringah. "Ya, ada private room di dalam, kau pasti suka." Hiro hanya mengangguk kecil lalu mengekor Kai yang berjalan masuk lebih dulu.
Dalam restoran bernuansa hangat, Maya dan Mia duduk dekat jendela seraya memperhatikan bunga salju yang mulai turun. "Kireeeei," gumam Mia yang tengah menunggu pesanan. Suasana restoran juga cukup ramai malam ini. Kebanyakan dari pengunjung adalah para pekerja kantoran yang sedang menemani senior mereka.
"Hmm, setidaknya itu menghibur. Aku benci musim dingin," seloroh Maya sambil saling menggosok telapak tangan untuk menghangatkan suhu dingin yang membekukan jarinya.
"Shuh, shuuuh!" cicit Mia yang menggerakkan jarinya seperti gerakan mengusir. "Menjauhlah aura negatif!"
Mereka pun tertawa terpingkal.
"Nee, Mayaaa. Apa kau baik-baik saja dengan kemampuan indera keenammu?"
Maya menatap penuh maksud pada Mia. "Kenapa? Kau ingin mencobanya?"
"Heee? Kau bisa membuatku melihat 'mereka' yang tak kasat?"
Maya menggeleng cepat. "Aku punya kenalan yang bisa melakukannya," tawarnya.
Mia berdeham gugup. "Ha ha, tidak, tidak. Aku tidak mau!"
"Kenapa?"
Mia membelalakkan mata. "Tentu saja aku tidak mau. Aku bisa pingsan setiap hari."
Maya tertawa geli. "Dasar penakut!"
"Naniii? Tadi siapa yang berteriak seperti orang gila bersamaku?" ingat Mia.
Maya langsung membekap mulut. "Heeh, makluk itu berbeda. Yurei seperti itu sulit kutangani."
"Kau ini seperti dukun saja. Memangnya kau bisa mengusir makhluk seperti yang lain?"
Maya menaikkan bahu. "Kalau di daerahku, yah, aku juga bingung dengan padanan kata dalam bahasa kalian. Yang terpenting kalau itu bukan arwah yang mati karena bunuh diri aku masih sanggup mengusir."
"Memang apa bedanya?"
"Dalam kepercayaanku seseorang yang mati disebabkan karena bunuh diri, ruhnya tidak akan diterima oleh bumi. Arwahnya akan terus bergentayangan hingga hari kiamat."
"Kenapa begitu?"
"Ya, karena dia telah mendahului takdir. Yang seharusnya mungkin ia mati tahun depan malah memutuskan mati besok."
"Oh, naruhoto. Lalu kenapa kau tidak bisa mengusirnya?"
"Karena dia bukan setan."
Mia terhenyak. "Heeee."
"Yah, kadang ada juga setan yang mengambil wujud mereka untuk menakut-nakuti kita."
Mia manggut-manggut seperti orang yang mengerti. "Begituu."
"Ya, dari semua jenis mereka seperti yokai, yurei, ayakhasi, bakemono, jin seperti lampu aladin, satan, demon or whatever, aku masih lumayan sanggup. Tapi kalau sudah arwah penasaran karena bunuh diri ...." Maya mengangkat kedua tangannya. "Menyerah."
"Wah, rumit sekali ternyata. Lalu apa kau baik-baik saja selama ini?"
Maya tertawa kecil. "Iya, kau tidak perlu khawatir. Aku ini ibarat putri penjaga kuil kalau di sini. Kalau di tempatku disebut pesantren. Tetapi itu milik kakek buyutku. Dia meninggalkan warisan yang tidak biasa untukku. Ha-ha."
"Warisan?"
"Yah, semacam yokai yang sangat kuat. Dia yang mengajarkanku bagaimana caranya mengusir hantu."
"Apakah itu bisa disebut beruntung?"