
Part 2
Maya menguap panjang sambil meregangkan badan yang pegal. Akhirnya pekerjaannya selesai. Diusap kedua matanya yang lelah karena terus memandangi layar. Begitu pandangannya kembali jernih, mendadak sekelebatan bayangan melintas di jendela. Ia menelan ludah, baginya itu mustahil bayangan manusia. Ini lantai tiga!!
Jam tangan di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul sembilan malam. Ia menggigit bibir, kerut kesalnya terbentuk karena lupa memperhatikan waktu. Bila diamati ternyata para rekan kerja lain telah pulang lebih dulu. Hanya tertinggal dirinya dan Mia dalam ruangan ini. Maya mengusap tengkuknya yang tetiba merinding. "Mi-chaaaan," panggilnya pelan.
Gadis manis itu menjawab tanpa beralih dari layar, jarinya masih berlarian di atas alat gambar digital. "Naniiii?"
"Apa kau sudah selesai?"
"Kenapa memangnya? Apa kau sudah ingin pulang?"
"Ini sudah jam sembilan!" bisik Maya dengan nada ditekan.
Mendengarnya kedua mata Mia yang menatap layar melebar seperti tersengat listrik. Jarinya langsung beralih gemetar menekan mouse. "Ya, sebentaaaar! Sedikit lagiiiii! Jangan tinggalkan aku, Ma-chaaaan!" rengeknya panik.
"Cepatlaaaah!" Maya lekas mematikan komputer lalu membereskan tas dan terburu-buru memakai mantel.
Kaki Mia berhentakan kecil memperlihatkan ketidaksabaran, tubuhnya bergidik tak menentu. "Ada apa dengan pendingin ruangan ini? Kenapa dingin sekali?"
Maya meringis kecut. "Mi-chaaan, kau tahu kan kalau pendingin ruangannya dimatikan sejak jam tujuh untuk penghematan kantor?"
Raut wajah Mia makin tidak beraturan antara seperti akan menangis dan ketakutan. "Bagaimana ini?! Kenapa belum selesai jugaaaa!!"
Jemari Maya teremas kuat sebab tahu mengapa Mia bisa ketakutan seperti itu. Gedung studio ini adalah gedung lama. Sebelum menjadi kantornya sekarang, gedung ini dulunya adalah pabrik kecil. Karena mengalami kebangkrutan yang entah apa sebabnya, pemilik usaha yang masih muda itu bunuh diri dengan cara gantung diri di ruangan yang sekarang menjadi ruang rekaman. Dan ruangan itu ada di lantai ini.
Banyak cerita mengerikan dari rekan senior saat dulu mereka bekerja hingga larut malam. Kursi yang bergerak, layar yang menyala dengan sendirinya, pintu yang terbuka, suara ketukan, bahkan ada yang melihat penampakan. Itu sebabnya para senior sudah banyak yang pulang dan jarang mengambil lembur. Padahal ini merupakan jenis pekerjaan yang menuntut kecepatan kerja, detail dan terus bertumpuk. Apalagi orang Jepang terkenal akan etos kerja kerasnya.
Maya makin merinding, firasatnya kian tak mengenakkan. Dilihatnya Mia semakin frustasi, pekerjaannya jadi kacau. Semua warna itu berantakan keluar garis, bahkan beradu dan salah. "Bagaimana ini? Bagaimana ini?!" racaunya. Akhirnya ia membanting mouse. "Ah, sudah! Besok saja! Aku janji besok akan kuselesaikan!" Lekas saja dimatikan komputer lanjut merapikan tas dan mengenakan mantel cokelatnya.
Setelah selesai bersiap, kedua gadis itu bangkit, tak lupa Mia hinggap di lengan kiri Maya. Namun saat mereka baru menghadap ke arah pintu kaca milik ruangan ini langkah Maya tersendat.
Ada sosok selain mereka di sini. Dan orang itu tengah berdiri di sudut ruangan dekat pintu! Ia adalah seorang pria, berdiri dengan posisi yang aneh, rapat bahkan melekat menghadap dinding. Maya pun menelan ludah. Mana ada orang yang berdiri seperti itu!!
Jemari Mia makin kuat meremas lengan Maya melihat reaksinya.Maya tersadar lalu menarik Mia untuk berpindah ke sisi kanannya. Gadis berambut cokelat itu tahu kalau Maya dapat melihat makhluk tak kasat mata. "Jangan bilang dia di pintuuuu. Aku takuuuuut," rengek Mia. "Ma-chaaaan."
Rengekan itu Maya hiraukan, ditariknya Mia untuk berjalan ke arah pintu. Mata Maya nyalang mengawasi pria yang berdiri membelakanginya. Bekas jeratan tali tambang di leher yang berwarna biru kemerahan dapat ia lihat secara jelas. Kini pintu itu telah berada selangkah di hadapan mereka, sedangkan arwah penasaran tadi tepat di sisi kiri Maya.
Permasalahan pun terjadi, entah apa sebabnya pintu itu tidak kunjung terbuka. Pintu ganda otomatis itu pasti akan bergeser memberi jalan begitu sensor mendeteksi seseorang tengah di dekatnya. Tapi kenapa belum terbuka?! Apa sensornya rusak?! Maya mulai berjinjit tidak sabaran. Mengetahui kecemasannya Mia semakin meremas lengan kanannya.
"Ada apa dengan pintu ini?!" bisik Mia panik.
Maya menggeleng cepat, rautnya sudah berantakan. Takut, bingung, kalut dan segala macamnya bercampur baur. Debaran jantungnya saja sudah tak karuan hingga terasa mau copot. Sambil menepuk badan pintu, sedikit-sedikit ia melirik pada si arwah. "Bukaaaa. Bukaaaaa!" Sontak Maya terperangah tatkala arwah penasaran itu bergerak. Sedikit demi sedikit kepalanya berputar dengan pasti. Napas Maya langsung berkejaran ketika arwah itu perlahan menoleh padanya. "Bukaa! Bukaa!! Bukaaaaa!!" jeritnya.
Pintu terbuka bertepatan dengan wajahnya yang telah pas menghadap Maya. Tak pelak gadis itu menjerit histeris saat menatap wajah pucat kebiruan dengan lidah terjulur keluar beserta darah yang menetes dari dalam mulutnya.
"Kyaaaaaaaaa!!"
Mia pun jadi ikut menjerit panik. Begitu pintu terbuka lebih lebar ia segera menarik keluar Maya yang sempat berteriak mematung. Keduanya berlari menuruni tangga menuju lantai dasar tanpa putus berteriak seperti orang kesetanan. Tak disangka di ujung tangga mereka malah menabrak seseorang hingga terjungkal. Jeritan mereka makin keras karena terkejut. "Jangan! Jangaaan!!" teriak mereka dengan mata terpejam ketakutan.
Kedua gadis itu membuka mata dan menemukan Ren yang terjerembab di lantai. "Se-senpai?!" pekik keduanya.
"Ya! Memangnya siapa lagi?!" sungut Ren kesal sambil meringis kesakitan mengusap pantatnya.
"Maaf! Maaf!" jawab keduanya seraya membantu Ren berdiri.
"Kau baik-baik saja, Senpai?" tanya Maya.
Ren mendengus sebal. "Kelihatannya?"
"Gomen, gomen."
Ren pun bertolak pinggang demi meregangkan pinggul yang terasa ngilu. "Kenapa kalian belum pulang? Sudah selesai pekerjaan kalian, haaah?"
Mia meringis. "Aku janji besok akan kuselesaikan."
Bibir Ren langsung mengerucut. "Pokoknya besok pagi sudah harus selesai!" tegasnya yang langsung dijawab anggukan cepat tetapi ia mendesah lagi. Bagaimanapun ia tidak bisa memaksa mereka menyelesaikan pekerjaan sementara mitos gedung ini sedang bekerja. Ia pun terkekeh. "Jadi kalian melihat hantu itu?"
"Senpai!" tegur keduanya serempak. Mereka tidak suka mengingat kejadian mengerikan barusan, terutama Maya yang dapat melihat makhluk kurang ajar itu. Lelaki tambun itu hanya tergelak geli.
Mia memperhatikan kaos Ren yang bergambar karakter anime yang selalu mengocehkan kata "Tuturu!". Matanya memicing. "Senpai, kuperhatikan tiga hari ini kau tidak ganti baju."
Ren sekilas melihat kaosnya. "Ah ya, aku menginap di sini."
Maya mendelik takjub. "Kau berani juga."
Ren tertawa sambil mengibaskan jarinya. "Mana mungkin aku berani. Aku mengerjakan pekerjaanku di bawah. Hahaha!"
"Hih! Kalau begitu kutarik kembali kata-kataku tadi," tandas Maya.
"Kau sendiri yang langsung menarik kesimpulan seperti itu," dalih Ren. Maya hanya merengut mendengarnya. "Oh, ya, aku baru ingat. Besok kalian datang pagi-pagi, ya! Bantu aku mempersiapkan rapat untuk proyek anime Cinta Gila. Besok penyanyi Kai akan datang. Hmm, aku sebenarnya bosan dengan solois itu. Tetapi mau bagaimana lagi. Dia selalu dapat order untuk mengisi soundtrack anime."
Mia dan Maya langsung berteriak kegirangan. "Kyaaa! Kai! Ya, ampun! Apa aku tidak salah dengar?" tanya Mia yang mengidolakannya.
Ren tahu reaksi mereka akan seperti ini. "Iya! Tidak salah! Ini permintaan mangaka-nya yang juga fans berat Kai. Jadi besok harus datang pagi kalau ingin ikut rapat!" tekannya.
Kedua gadis itu mengangguk cepat. "Baik, Senpai!" Setelah penjelasan tersebut keduanya segera berpamitan. Di luar satpam gedung juga sempat memberi wejangan agar mereka berhati-hati di jalan karena pulang di larut malam. Keduanya melambaikan tangan berpamitan pada pria tua yang lama bekerja di sini sebelum menjadi studio animasi.
Mia melingkarkan tangannya di lengan Maya. "Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan?" ajaknya manja. Maya mengangguk saja. "Aku tahu restoran yang enak."
"Di mana?"
"Di dekat Pub Rainbow. Aku yakin kau pasti akan menyukai masakan di sana."
"Hmm, baiklah."