Sakura Whisper

Sakura Whisper
1. Winter



...Terbuai syahdu semilir angin...


...Sendiri dalam sunyi yang menenangkan...


...Memejamkan mata...


...Menajamkan pendengaran...


...Menyentuh seluruh rasa udara di penjuru kulit...


...Tenggelam dalam sejuknya musim semi...


...Lalu,...


...Merasakan indahnya jatuh cinta pada dunia...


...Bisikan angin lirih bercerita mengenai sebuah kisah...


...Khidmat kudengar tanpa suara...


...Di bawah celah sakura yang berguguran...


...Terbentang birunya langit...


...Silau sinar matahari mengaburkan pandangan...


...Menggetarkan apa yang telah tumbuh menjadi besar...


...Jika hidup akan sesingkat ini...


...Sungguh...


...Sesal itu tidak pernah singgah...


...Karena aku percaya...


...Cinta memiliki keajaibannya sendiri...


...****************...


Part 1


Perlahan mata Maya terbuka dari tidurnya yang tidak nyenyak. Bias sinar mentari menyeruak dari tirai putih transparan. Tubuhnya tidak langsung bangkit, melainkan tetap terbaring, termenung menatap langit pagi yang mengintip dari celah tirai, teringat akan mimpi yang meninggalkan kesan yang aneh.


Duduk di bawah pohon sakura.


Bangkit dari tidur terasa sedikit sulit. Begitu telah duduk di tepi ranjang ia berusaha untuk tidak memikirkan mimpinya. Iris kelamnya melirik jam digital di meja dalam apartemen kecil ini. Pukul enam pagi. Ia menguap pelan, meregangkan tubuh yang kaku lalu berdiri mengamati isi kamar yang berantakan. Setelah menguap pendek ditatap poster seorang vokalis band terkenal di Jepang yang terpasang di dinding demi menyingkirkan badmood-nya. Seketika rautnya jadi berseri dan senyumnya pun merekah cerah. "Pagi, Hiro-chaaan! Hihihi," sapanya dengan gaya dibuat imut khas gadis muda Jepang.


...(Masih pagi sudah gila.)...


Suara menyebalkan itu lagi. Maya langsung merengut karena sindirannya. "Biarin!" sahutnya ketus pada suara tanpa wujud yang sudah pasti berasal dari makhluk astral penjaganya.


Ya, benar. Maya memang tidak seperti gadis pada umumnya. Ia berbeda karena memiliki kemampuan melihat hal yang tidak dapat dilihat kebanyakan orang. Kemampuan tersebut menurun dari almarhum sang kakek. Apakah kakeknya orang sakti? Ya, mungkin saja. Maya tidak terlalu banyak tahu.


Tak ada waktu untuk terus memandangi idolanya. Sudah waktunya bersiap berangkat kerja. Setelah mandi dan berpakaian, disisir rambut panjang hitamnya yang lurus hampir sepinggang. Ditatap bentuk wajahnya yang kecil sambil menaburkan bedak tipis tak lupa membubuhkan sedikit pelembab warna pink di bibir. "Yaa, segini rasanya sudah cukup." Memakai make up bold malah akan jadi bahan tertawaan di negara ini. Pandangannya kembali pada poster Hiro dan mengajaknya bicara lagi. "Iya kan, Hiro-chan?"


...(Cepat berangkat, nanti terlambat.)...


Sudah setahun lamanya ia tinggal di Tokyo, bekerja sebagai animator di salah satu studio ternama. Boleh dikatakan Maya sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan yang telah diimpikannya sejak kecil. Butuh perjuangan keras untuk sampai di sini. Air mata, keringat dan drama keluarga menjadi rintangan yang luar biasa. Tetapi itu semua sudah berlalu, ia sudah berada di sini, dan tak ada lagi yang perlu disesali.


Akhirnya Maya tiba di tempat kerjanya setelah berdesakan di dalam kereta. Hal semacam itu tak akan membuatnya terkejut. Ketika masih bekerja di Jakarta ia terbiasa berdesakan di comuterline. Usianya sudah menginjak dua puluh enam tahun, terlalu tua untuk mengeluhkan hal-hal remeh.


Saat masuk dalam ruangannya, suasana kantor masih lengang. Lekas saja ia duduk di meja kerja yang berada di lantai tiga tepat pukul delapan. Begitu menyalakan komputer terdengar suara sapa riang seorang wanita.


"Ohaiooo!"


Maya menoleh, menemukan wajah manis teman baiknya di sini. Mungkin hanya gadis itulah teman satu-satunya yang ia miliki. Senyum ramahnya merekah lesu. "Oh, selamat pagi, Mi-chan," balasnya. Bahasa Jepangnya sudah cukup lancar.


Gadis berambut coklat terang itu duduk di sebelah kanannya. Matanya yang terlihat besar karena efek make up memperhatikan Maya yang sedang tidak bersemangat. "Ini masih terlalu pagi memasang wajah lesu seperti itu," protesnya.


Maya tertawa datar. "Haha."


"Aku harap tidak akan ada kesialan nantinya."


Maya tersenyum kecut. "Semoga saja!"


Mendadak seorang pria tinggi dengan badan agak gempal sudah berdiri di belakang mereka. "Anooo, mina-san. Apa kalian sudah menyelesaikan tugas deadline kemarin?"


Kedua gadis itu langsung saling berpandangan sambil meringis teringat pekerjaan yang sedikit terlambat diselesaikan. "Ini karena wajahmu itu!" bisik Mia.


Maya kembali tertawa datar menanggapi sindiran tersebut. "Ha-ha." Segenap hati ia menoleh pada Ren sembari memasang senyum semanis mungkin. "Ah, senpai. Sebenarnya hanya tinggal sediiiiikit lagi. Mohon bersabar."


Mendengar itu wajah kucel Ren berubah masam. "Hari ini sudah harus selesai! Kalau tidak, kalian akan merasakan semburan mautku!" gertaknya kesal.


"Iyeeee, yamete senpaaaai," jerit keduanya yang meniru suara karakter dalam anime hentai kemudian tertawa cekikikan.


Ledekan itu sungguh menyebalkan, wibawa seolah tidak pernah cocok untuk Ren. Sejujurnya ia sangat frustasi akan gunungan pekerjaannya. Tetapi mengapa orang-orang ini tidak bisa bekerja lebih cepat seperti yang diharapkannya? Setidaknya itu akan meringankan beban di pundaknya? Diusap kasar rambutnya yang berantakan. "Kalian ini! Cepat kerjakan! Aku tidak akan menerima alasan lagi!"


Keduanya membungkukkan badan penuh hormat. "Haaaaik, senpaaiii!"


Ren makin cemberut melihat sikap mereka yang masih mengejek. "Menyebalkan," gumamnya jengkel sambil berlalu pergi. Ia sudah tidak mau ambil pusing karena kedua gadis ini memang sulit diatur. Meskipun begitu merekalah yang sering membantunya.


Maya dan Mia saling berpandangan lantas tawa mereka pecah. Mia pun kembali pada layarnya yang telah menyala. "Sepertinya kita akan sibuk sepanjang hari," tukasnya di mana Maya hanya menjawab dengan gumaman mengiyakan.


...***...


Hiro yang terbangun dari tidurnya mendapati dirinya masih berada di ruang tamu. Sepertinya ia tertidur di sofa semalam. Kepalanya terasa agak berat kala mendudukkan diri. Ia menarik napas panjang sambil memandang ke sekitar, memperhatikan begitu lengang apartemen mewahnya. Sepertinya putranya, Yuki, sudah berangkat ke sekolah. Dan Reika, istrinya sudah menghilang entah kemana.


Cukup lama ia mematung memikirkan hubungannya dengan Reika yang telah lama memburuk. Manik hitamnya meneduh memikirkan apa yang telah terjadi. Betapa dunia dengan mudahnya berubah, begitu rentannya untuk terluka. Ketika semuanya tampak baik-baik saja, ia terlena akan kedamaian yang ternyata semu. Hiro pikir Reika bahagia dengan semua hal yang telah diberikan olehnya. Hidupnya dipenuhi kemewahan dan ternyata itu tidaklah cukup untuknya. Wanita itu menjauh, berkata tak lagi membutuhkan suami seperti dirinya. Di mana letak kekurangannya?


Hiro tak habis pikir mengapa wanita itu berubah. Sedangkan tidak sekali pun dirinya pernah menyakiti Reika. Apa pun permintaannya akan dengan senang hati ia penuhi. Tetapi mengapa?


Hiro menghela napas pelan teringat pertengkaran waktu lalu. Apa yang bisa ia lakukan jika pekerjaannya telah banyak menyita waktunya. Bermusik adalah mimpinya, bernyanyi merupakan gairahnya. Tak bisakah wanita itu mengerti akan hasratnya? Tak bisakah Reika mendukungnya?


Hiro mengusap wajah menahan kegetiran. Sedikitnya ia tahu bahwa apa yang diinginkan Reika hanyalah waktunya. Waktu untuk istri dan anaknya. Apakah ia tidak sanggup memberikan hal itu? Apakah terlalu sulit untuknya? Padahal ia sudah berusaha keras menyediakan waktu disela kesibukan. Tak peduli seberapa lelah dirinya, ia berusaha untuk ada di dalam keluarga ini. Tetapi mengapa wanita itu tidak bisa melihatnya?


Pertengkaran yang sering terjadi makin memperlebar jarak mereka. Kini, wanita yang pernah menjadi model terkenal itu tidak lagi berbicara dengannya, meski begitu ia masih setia mengurus semua keperluan dan kebutuhan suaminya dengan baik, terkecuali urusan ranjang. Dan benar, keadaan tidak membaik sama sekali, justru semakin memburuk. Hal itu terbukti dengan tergeletaknya sebuah berkas di atas meja makan, surat yang membuat hatinya begitu hancur. Surat perceraian.


Air mata pria itu mengalir dalam diam. Memikirkan betapa ia begitu terluka oleh semua ini. Karena sesungguhnya ia masih mencintai istrinya walau tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mempertahankan rumah tangganya. Hingga detik ini ia masih belum memutuskan untuk menandatangani berkas itu atau tidak.


Diusap air matanya kemudian berdiri sebab harus bersiap untuk pekerjaannya nanti malam.