
Di dalam kamar yang bisa dikatakan lumayan sempit tapi tertata rapi. Rika sedang terduduk dengan selimut yang menutupi tangisan lirihnya.. Beberapa kali mencoba menguatkan hati juga beberapa kali menandingi egoisnya sendiri akan apa yang dia inginkan.
' kali ini gimana kalo juna emang beneran serius? Kenapa aku setega itu? Bukannya kalau Juna bahagia harusnya aku juga gitu? Tapi aku yang selalu ada buat dia! Tapi nyatanya Juna yg selalu ada buat aku. Emang aku yang selalu bergantung sama Juna. Aku harus gimana? ' begitu lah gejolak batin yang d alami Rika.
Sampai akhirnya dia akan mencoba menghindari Juna semampu dia, kalau bisa emang harus beneran menghindar.
Di kamar lain.
Juna sedang menanti pesan rengekan sahabat nya itu.. Entah kenapa dia selalu rindu dengan chat atau telpon dari sahabatnya. Yang selalu saja dengan senang jahilnya dia menggoda sahabat nya.
'Nih anak tumben nggak ada kabar '
Sambil mengetik pesan untuk Rika
"kamu baik kan rik? Apa udah pingsan? Kok tumben banget? " (Send√)
Masih tidak ada balasan hingga hampir larut.
"Kenapa nih? Masih marah ngambek apa masih nggak mau Terima? Cerita dulu dong.. Kangen nih hehehe"(send√)
"Ayo dong rik.. Aku tau kamu masi belum tidur" Oke aku telfon ya"(send√)
Ternyata hanya hanya tolakan dari semua panggilan Juna
Dan yang bikin Juna nyesek nomornya telah di blokir.
Disitulah dia mulai jengkel juga. Dan mulai ikut alur Rika,
Meskipun Juna sudah punya kekasih tetapi tetap saja dia lebih utamakan sahabatnya. karna emang udah biasa mereka bersama berbagi cerita suka duka yang nggak tau kenapa rasa nyaman itu melebihi dari rasa sayang ke pacarnya.
benar kata banyak orang cinta diawali dengan seringnya rasa bersama. meskipun Juna masih enggan untuk mengakui perasaannya.
(Itulah kenapa cowok susah pekanya. Taunya cuman pea' wkwk)
Tangis Rika semakin menjadi dengan keputusan nya yang memblokir nomer Juna.
Besok aku jalan sama siapa ke tempat kerja 😭 aku gak biasa naik angkot apalagi ojol. taunya aku cuma kemana kemana minta anter Juna.
Kayak gini paling ya perasaan putus cinta .hingga dia terlelap sendiri dengan rasa kegalauan nya.
Keesoka harinya
Rika berangkat lebih pagi untuk sekedar jalan di depan agar bisa nemuin angkot atau ojek. Kalau gak ada dia juga bakal naik ojek online.
Di tengah jalan dia di hampiri Juna yang sengaja menghentikan motor di depannya. Menghalangi langkah Rika dan mematikan mesin sepeda motor nya
"Kenapa sih rik?"
Rika hanya terdiam enggan menjawab
"Katanya udah bisa nerima, kok kayak gini kamunya? "
Melihat Rika yang hanya menunduk dia tetap menunggu gadis itu memberi jawaban.
"Aku pengen sendiri dulu Juna.. Gapapa kok nggak usah khawatir. Kan kamu biar nggak bangun pagi lagi" Jawabanya dengan senyuman yang terlihat dia paksakan.
Juna melihat ada yang membekas dimata Rika . Dia juga tau kalau Rika menangis semalaman untuk dia. Di situ rasa bersalahnya keluar.
"Jangan Lama-lama yaa.. Aku pasti kangen sama kamu yang cerewet gitu, pesen ojol aja kalo nggak nemu angkot, aku tungguin disini kalo nggak mau bareng"
mendengar itu membuat hati yang sudah dia tata sedemikian agar lebih kuat menjali luluh. tapi tetap ia harus menguatkan kembali keputusannya
"Nggak usah sok manis deh, udah jalan sana. Husss"
mendengar itu Juna tersenyum dan yakin akan sahabatnya yang akan kembali seperti sedia kala
"Yaudaaah aku jalan,. Hati-hati yaa" Tanpa sengaja tangannya menepuk pelan puncak rambut rika dan menjalankan pelan motornya
perlakuan Juna membuat Rika semakin hanyut dengan dan ingin sekali menangis memaki pria yang ada didepannya. tapi gengsi dong yaa.. akhirnya cuma terdiam saja melihat Juna melahukan sepeda motor nya.
'Sampai kapan Juna kamu selalu semanis itu ke aku' 😞