Rayhan Story

Rayhan Story
Menjahili Raka



Dinda dan Rayhan sampai di apartement dan tak sengaja Rayhan melihat papanya yang sedang tidur di sofa. Ide jahil muncul di otak cerdas Rayhan.


"Ganti seragam dulu Ray sama mandi" kata Dinda saat melihat Rayhan malah duduk di sofa.


"Bentar aja ma, mama aja duluan yang mandi," kata Rayhan yang ingin menjahili papanya dulu.


"Ok," jawab Dinda tak ambil pusing.


Setelah tak ada lagi Dinda, Rayhan segera mendekati papanya yang tertidur dengan terlentang dan memeluk guling. Ia terkekeh pelan membayangkan idenya yang begitu cemerlang.


Rayhan pun mengambil tasnya serta membuka sebuah kotak yang di dalamnya terdapat berbagai macam spidol warna, dengan tersenyum jahil dia mengambil spidol warna merah lalu menggambar sesuatu di wajah tampan Raka.


Rayhan dengan hati hati mulai menggambar hati di kedua pipi Raka dan tak lupa juga ia menggambar kumis seperti kucing lalu dia menulis namanya pada dahi Raka dan tak lupa juga dia memberikan tanda tangan indahnya pada dahi Raka yang tertutup oleh poni rambutnya. Setelah itu Rayhan juga menggambar bunga tepat di hidung Raka dan terakhir dia cuma mencoret coret saja.


Setelah dirasa udah puas, Rayhan kemudian memotret wajah Raka. Rayhan segera menyembunyikan spidol dan tas nya ke kamar sebelum papa nya itu bangun dan memarahinya.


Rayhan berpapasan dengan Dinda yang baru saja selesai mandi dengan tawa yang coba ia tahan ia melewati Dinda yang menatap Rayhan bingung.


***


Rayhan keluar dari kamar dan ternyata papanya itu sudah bangun, ia mati Matian mencoba untuk tidak tertawa melihat wajah papanya karena ulahnya. Biarkan sajalah papanya itu tahu sendiri, ia gak mau jika harus ketahuan. Tapi melihat wajah Raka membuat Ray sangat ingin tertawa ngakak. Raka memang tampan, tapi meskipun wajah nya di coret coret, memang masih tampan sih tapi lucu aja, jadi cemon.


"Baru bangun pa," sapa Rayhan basa basi lalu duduk di samping Raka.


Raka tak menjawab sapaan Rayhan membuat Rayhan kesal dan memilih memainkan ponsel nya.


Raka ingin mengambil ponselnya dan tangan telah terulur ke meja di mana ponselnya berada namun di dahului oleh Rayhan "aku pinjam ponsel papa yah" kata Rayhan dan mengambilnya, ia hanya tak ingin ketika ia membuka ponsel maka Raka bisa melihat wajah nya yang penuh coretan.


"Sini, gue pengen Videocall dulu sama langit," kata Raka ingin merebut ponsel itu.


"Nanti aja deh pa, wajah papa sekarang sedang gak pantas diliat orang nanti di ketawain papa malah marah."


"Mau bagaimanapun wajah gue ini udah tampan, jadi baru bangun tidur pun gue masih tetap tampan."


"Nanti aja, Ray mau mainin hp punya papa."


"Hp lu memangnya mana."


"Ini. Tapi pengennya hp papa."


"Terserah lu lah," kata Raka pada akhirnya.


Rayhan membuka ponsel Raka namun ternyata hpnya di kunci.


"Pa bukain."


"Buka sendiri," kata Raka sambil menonton sinetron Indosiar.


"Yaudah kasih tau, sandinya apa."


"260227," ucap Raka.


Rayhan segera memasukkan kata sandi tadi dan berhasil hp nya terbuka.


Rayhan terdiam menatap wallpaper papa nya, di situ terdapat foto dirinya ketika bayi dan kata sandi hp papanya ternyata tanggal lahirnya 26 Februari 2007.


"Papa kenapa wallpaper papa foto Ray waktu bayi," kata Rayhan dan Raka menatap putra nya itu tak tahu harus berkata apa.


"Foto gue terlalu tampan buat dijadikan wallpaper," elak Raka membuat Rayhan kesal, padahal tadi ia udah baper.


"Yaudah sih, kan Rayhan cuma nanya doang."


2 jam berlalu dan mereka berdua hanya berada di sofa sedari tadi, Rayhan yang bermain game di ponsel papanya dan membaca pesan chat papanya serta group chat nya dengan anggota blackcarlos.


Dinda datang dan memanggil mereka untuk makan malam namun ucapannya terpotong dan tertawa kencang ketika melihat wajah Raka.


"HAHAHA wajah lu lucu banget Raka," tawa Dinda membuat Rayhan ikutan ketawain.


"Coba lu cermin. Liat sendiri."


Raka mengambil ponsel Rayhan yang ada di atas meja dan matanya membola ketika wajah tampannya telah ternodai.


"RAYHANNNNNNN!!!!!!" Terak Raka sangat keras.


Rayhan yang melihat papanya marah langsung berlari dan Raka yang mengejar Rayhan tak lupa mengabsen seluruh penghuni hewan sedangkan Dinda hanya tertawa melihat mereka.


"Lu apain muka gue njir," teriak Raka masih terus berlari."


"Wajah papa tambah ganteng kalo di gitu in hahah."


"Durhaka lu."


"Papa lebih durhaka," balas Rayhan.


Aksi kejar kejaran itu berlangsung selama 25 menit sampe akhirnya Rayhan yang sedang menggenggam ponsel Raka di tangannya tak sengaja menjatuhkannya.


Ponsel mahal milik Raka jatuh dan tak terbentuk lagi, Rayhan terdiam di tempatnya melihat benda pilih itu udah hancur dan Raka tak bisa bergerak di tempatnya melihat detik detik kehancuran dari ponselnya yang begitu berharga.


"Ponsel gue hiks," tangis Raka dan memungut ponsel miliknya.


Raka mengambil ponselnya dengan airmata yang bercucuran. Ia begitu menyayangi ponselnya yang telah menemaninya selama satu tahun ini, bahkan ia menganggap ponsel itu sebagai istri ketiganya.


"Papa maaf, Rayhan gak sengaja," kata Rayhan takut.


Dinda datang menghampiri mereka


"Yaelah rak, tinggal beli baru aja susah amat sih Lo."


"Lu gak tau betapa berharganya dia bagi gue, kalo tinggal beli ponsel doang sih gampang tapi cari yang cocok itu susah tapi ini udah yang ke 76 kalinya gue ganti ponsel."


"Kaya cari cewek aja lu, harus cocok dulu."


"Iyalah kan handphone bagi gue itu kayak istri gue."


"Gak usah kayak bocah deh rak. Mending Lo makan terus istirahat, ponsel biar besok kita beli," kata Dinda.


"Papa maaf nanti kalo Ray udah ada uang Ray bakal ganti handphone papa."


"Gak usah," kata Raka dan pergi ke kamar membawa ponselnya serta membanting pintunya.


"Ma maaf.. tadi Rayhan benar benar gak sengaja hiks," tangis Rayhan ketika papanya sudah masuk ke kamar.


"Lu gak usah nangis, si raka aja yang kayak bocah."


"Tapi ma, Rayhan yang salah. Andai tadi Rayhan gak jahil pasti ponsel papa masih ada."


"Itu udah kehendak dari yang maha kuasa."


"Handphone papa harganya berapa ma?"


"Kayaknya sih 200 juta atau mungkin lebih, gue lupa."


Rayhan terkejut mendengar harga ponsel milik papanya, ia saja memakai ponsel harga 20 jutaan, itu pun om Bima yang membelikan nya.


"Mahal banget," gumam Rayhan.


"Papa lu kan tukang pamer dan sok sok an gak mau kalo bukan yang mahal."


"Rayhan harus ngapain supaya bisa ganti ponsel papa, gimana caranya dia bisa mendapatkan uang 200 juta dalam waktu singkat," batin Rayhan.


"Maafin Rayhan pa."