Rayhan Story

Rayhan Story
Rasa bersalah Raka



Raka baru pulang ke apartement ketika jam 5 subuh, dan saat memasuki apartement ia mendapati Dinda yang baru saja bangun. Sepertinya Dinda memang menunggu kedatangan Raka.


"Baru pulang," sindir Dinda yang kini tengah duduk di sofa sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada, sembari memandang Raka dengan tajam.


"Hmm, gue capek," balas Raka cuek.


Baru saja Raka hendak pergi, melewati Dinda yang hendak marah itu. Namun ia urungkan, ketika mendengar apa yang di katakan Dinda padanya.


"Lo itu ke kanak Kanakan banget sih Rak. Nyadar dong, lo itu bukan lagi remaja yang bisa seenaknya. Gitu aja ngambek, marah. Nyadar lo itu udah punya anak!"


"Maksud Lo!" balas Raka


"Lo marah sampe pergi gitu aja karena Rayhan ngabain Lo, kayak bocah. Lo bukan lagi anak kecil, lo udah dewasa, udah punya anak juga. "


"Ya jelas lah gue marah, dia ngapain coba bahas Ardi sampe bilang kalo Lo lebih cocok sama dia. Kalo tuh bocah gak bahas Ardi, gue gak bakalan pergi tadi."


Dinda memandang Raka dengan tajam. Ia benar benar tak tahu jalan pikiran Raka.


"Lo yang ke kanak Kanakan, cemburuan. Rayhan cuma bercanda. Gak usah di masukin ke hati."


"Tau ah," ucap Raka dan hendak melangkah pergi, moodnya hancur mendengar Dinda yang terus terusan mengatainya kenak-kanakan.


"Ray kayak gitu gak Maksud buat Lo marah dan dia bahkan sedih ketika Lo pergi gitu aja. dia cuma mau Lo rasain gimana rasanya di abaikan, tapi lo malah menanggapi itu serius," ucap Dinda yang memberhentikan langkah Raka.


Kini, Dinda berada tepat di hadapan Raka. "Please Raka, lo jangan kayak gini lagi, Rayhan cuma ingin menghibur diri. Selama ini dia selalu sedih, merasa terabaikan, dan terbuang karen kita yang tak pernah ada di sisinya. Dia cuma pengen dapat perhatian dari lo, sebagai ayah nya. Tolong ngerti."


"Sorry, gue salah," kata Raka menundukkan wajah nya merasa bersalah. Raka akui, tindakannya memang kekanak-kanakan.


"Lo jangan minta maaf sama gue tapi sama Rayhan," ucap Dinda melembutkan suaranya.


"Ok. Dia masih tidur kan?" tanya Raka.


"Hmm."


Dengan cepat Raka berjalan masuk kemar dan menghampiri Rayhan yang masih tidur. Raka menyesal telah bersikap seperti itu pada Rayhan. Pasti, anaknya itu sedih karenanya.


Raka memperhatikan wajah Rayhan yang begitu damai ketika tertidur. Hal yang benar benar baru dalam hidupnya.


"Kok di perhatiin Lo lucu juga saat tidur, beda saat Lo bangun."


"Sorry Gue gak maksud buat lo sedih sampai kepikiran," ucap Raka sambil mengelus pelan surai hitam milik Rayhan.


"Gue emang papa yang gak baik buat Lo," gumam Raka.


Kemudian ia memutuskan  keluar dari kamar, tak ingin mengganggu tidur Rayhan.


2 jam berlalu.


Saat ini Rayhan sudah rapi dengan stayle stayle ala remaja seusianya persis kek Raka. Papanya itu terlihat lebih muda dari usianya. Layaknya remaja yang baru puber.


Rayhan keluar dari kamar sambil bersenandung riang, karena tadi malam ia bermimpi papanya itu datang dan meminta maaf padanya. Mimpi yang mustahil akan terjadi.


Rayhan menghampiri Dinda yang baru saja selesai memasak namun hanya ada Dinda disana, entah dimana papanya itu, apakah belum pulang dari semalam.


"Morning mama," sapa Rayhan.


"Morning too," jawab Dinda dan duduk di meja makan.


"Mah papa udah pulang?" Tanya Rayhan ketika ia telah duduk. Ia bertanya karena tak menemukan keberadaan Raka.


"Iya," jawab Dinda singkat.


"Tapi kok gak ada ma."


"Papa Lo lagi mandi," ucap Dinda.


"Owhh."


"Yaudah makan."


"Gak nungguin papa dulu."


"Gak usah."


Beberapa menit kemudian


Raka datang sambil menebar senyum manisnya.


"Ngapain senyum senyum," ketus Dinda yang tak tahan melihat senyum Raka.


"Apasih yang, senyum kan ibadah dan lagian senyuman gue ini berkah bagi yang melihatnya," balas Raka sambil memanyunkan bibirnya beberapa centi.


"Emang mau kemana? Kok gue perhatiin Lo udah rapih sama si Ray juga."


Raka merasa heran, tumben Dinda dan Rayhan udah rapi padahal masih sangat pagi.


"Hari ini, kita urus sekolah Rayhan dan beli beberapa kebutuhan sekolahnya," ucapnya tanpa memandang Raka.


"Emang mau lu sekolahin dimana yang?" tanya Raka, yang memang belum kepikiran tentang sekolah baru Rayhan.


"Gue sih pengennya dia di sekolah tempat gue ngajar, biar bisa mantau juga."


"Yaudah di situ aja," kata Raka simpel.


"Mama slguru?" Tanya Rayhan karena ia kira mamanya itu sama kek papanya yang cuma keluyuran tak berguna


"Hmm"


"Guru apa ma?"


"Nanti juga lu tau sendiri."


"Gimana Raka, lu setuju Rayhan sekolah disitu."


"Iya gue setuju setuju aja, supaya ada yang jaga Ray juga kan."


***


Kini mereka telah berada di sekolah yang cukup besar, Rayhan aja kagum karena sekolahnya dulu gak seperti ini.


"Kenapa gak turun?" Tanya Dinda heran karena rayhan masih duduk di mobil.


"Kalian yakin mau sekolahin aku disini?" Tanya Rayhan ragu.


"Iya lah, emang kenapa."


"Biaya sekolah disini pasti mahal, kalian mana punya uang buat sekalian Rayhan disini."


"Duit gue banyak, apa lagi cuma nyekolahin Lo disini doang," kata Raka sombong.


"Papa kan pengangguran, biaya hidup papa aja masih di biayai sama kakek."


"Sok tau lu bocah," ucap Raka dengan nada mengejek.


"Udah, ayo masuk. Kita udah di tungguin," ucap Dinda cepat sebelum Rayhan membalas ucapan papa nya itu.


Mereka bertiga beriringan masuk dan tampak seperti bersaudara.


Untunglah hari ini anak anak gak sekolah karena sedang di beri libur. Jika saja mereka gak libur udah di pastikan bakalan heboh karena kedatangan mereka bertiga.


Mereka sampai di ruangan kepala sekolah dan Rayhan tampak kaget ketika mengetahui kepala sekolahnya adalah salah satu om nya yang datang kemarin.


"Halo Rayhan, selamat datang," sapa Zico.


"Hai om," balas Rayhan canggung.


"Udah cepat lu urus, gue gak punya waktu" kata Raka.


"Santai lah bro."


***


Selesai mengurus sekolah Rayhan mereka sedang berada di dalam mobil


"Ma seriusan tadi om Zico, teman nya papa itu seorang kepala sekolah?" Tanya Rayhan gak nyangka.


"Hmm."


"Tapi kok bisa."


"Yah bisa lah," jawab Raka.


"Yah Rayhan heran aja masa teman teman papa yang kerjaan nya cuma balapan bisa ada yang jadi kepala sekolah."


"Ya bisa lah, teman gue itu pada hebat bukan cuma tau balapan doang."


"Iya benar, mereka semua hebat kecuali papa. Papa sih cuma bisa minta uang sama kakek," Rayhan tertawa bersama Dinda.


"Terserah lu lah, yang penting lu bahagia."