P R O S E S

P R O S E S
P R O S E S 3



Pernah dengar kalimat pakai jilbab tapi ko perilakunya seperti itu? Perlu diketahui jilbab dan akhlak adalah 2 hal berbeda. Membandingan jilbab dan akhlak sama saja seperti membandingkan api dan kayu, salah satunya akan kalah. Jangan karena perilaku seseorang yang kurang bagus lalu kita menyalahkan pakaian longgar yang dikenakan. Jangan! Karena susungguhnya untuk menyeimbangkan keduanya sangatlah sulit.


Belajarlah untuk menghargai bukan mencemooh apa yang dipakai seseorang, selagi tidak merugikan hidup kalian.


🌼🕊🌼


“Raniaaa?”


Mendengar ada yang memanggil namanya, Rania menoleh kesumber suara “ MasyaAllah ini Rania kan?” tanya orang itu. Mendengar pertanyaan itu Rania hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawabannya.


“MasyaAllah Raniaa Alhamdulillah, Aku kagum melihat kamu seperti ini. Cantiknya Masya Allah”.


“Terimakasih” Hanya itu kata yang Rania ucapkan sambil tersenyum sebagai jawabannya, ia bingung harus mengungkapkan kata apa lagi kepada lawan bicaranya itu, Rania sangat kikuk berbicara dengan Amalia. Yaa Amalia, Gadis yang memiliki adab yang baik, menutup auratnya dengan sempurna,Hafidzhah serta sifatnya yang lemah lembut. Sedangkan Rania Jauh dari ketebalikannya Amalia. Siapa yang tidak minder jika ada diposisi Rania?


“Kamu mau ke kelas kan? Yuk bareng kedalamnya” Ajak Amalia dengan ramah


Rania hanya menangguk menerima ajakan Amalia.


"Mal?"


"ada apa Ran?"


"Apa kamu tidak ingin seperti mereka Mal?” Amalia yang semulanya berjalan beriringan dengan Rania mendadak memberhentikan langkah kakinya sejenak mencerna pertanyaan Rania


“Aku ga paham, Maksudnya gimana Ran?”


“gapapa Mal, sudah tidak udah dipikirkan, yuk ke kelas”


Kata Rania mengalahkankan kakinya kembali yang diikuti amalia untuk menuju ke kelas.


🌼🕊🌼


“uhhh sekarang gaada temannya, ngobrolnya sama gadis bercadar ituu”


“ada ustadzah baru sekarang. Wewww


Ughtea Rania”


“hati hati guyss nanti kelas kita tiba tiba meladak dilempar bom”


Rania memejamkan matanya, menghela nafasnya panjang mendengar penuturan yang keluar dari mulut temen sekelasnya. Rania sekuat tenaga berusaha untuk mengabaikan jika ada kalimat pedas yang menyakitnya. Hatinya berusaha untuk sabar dan ikhlas jika ada yang mecelanya walaupun sejujurnya telinganya sangat panas dan mulutnyaa ingin sekali membalas perkataan teman temannya dan mengatakan “tolong diamlah! Kalian tidak tau bagaimana aku melewati fase ini! Belajarlah menghargai berubahan seseorang bukan mencemooh. Selagi tidak merugikan hidup kalian Tolong diam!”. Tetapi sayangnya kalimat itu hanya bisa Rania lontarkan dalam hati. “Astagfirullahal’azim” ucap Rania lirih.


“Ada apa Ran? Tanya amalia saat melihat wajah Rania tidak nyaman.


“Gapapa ko mal” Jawab Rania


“Bener gapapa?”


Rania hanya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawabannya, Ia tidak mungkin menceritakan kepada Amalia apa yang teman kelasnya ucapkan pada saat Amalia berada di luar kelas. Lagi pula, Dirinya dan Amalia tidak terlalu dekat. Ditambah Rania dan Amalia pada sesemeter ini sekelas hanya di mata kuliah Character Building saja dan apakah Amalia mau menganggap dirinya teman disaat orang orang menjauhkan Rania?


“Mal?aku mau tanya boleh?”


“Silahkan. Insya Allah klo aku bisa jawab akan aku jawab. Kamu mau tanya apa?


“apa kamu b----?


“Assalamu’alaykum, Selamat pagi”


Ucapan Rania terpotong, saat kalimat salam terdengar di ambang pintu. Pak Handro dosen yang mengajar mata kuliah Charracter Building sudah datang yang menandakan mata kuliah sudah dimulai.


🌼🕊🌼


Mata kuliah character building telah usai lima belas menit yang lalu dibarengi dengan Amalia yang pamit pulang karena tidak memiliki mata kuliah lagi dihari ini.


Jam menunjukan pukul 09.40 sedangkan di pukul 13.30 Rania masih memiliki satu mata kuliah lagi. Pulang segan dan lumayan cukup menguras bensin dari jarak kampus ke rumah, tidak pulang juga ia bingung masa Rania harus menunggu sampai jam setengah dua dikampus sendirian?


Rania melangkahkan kakinya menuju kantin. Mungkin dikantin tempat yang pas untuk menunggu mata kuliah selanjutnya sekaligus mengisi perutnya yang sedari tadi cacing didalam perutnya sudah demo minta dikasih makan.


Tiba di kantin Rania memberhentikan langkah kakinya, matanya menatap seluruh penjuru kantin, niat awal yang ingin menunggu dikantin seketika hilang saat melihat situasi kantin ramai sekali bahkan tidak ada celah kursi dan meja kantin yang kosong di tambah di dalam kantin ada Aufa serta Sahabatnya yang lainnnya.


Jika di tanya apakah Rania menghindar? Maka Rania katakan saat ini ya dirinya menghindar dari sahabatnya, yaitu Aufa dan yang lainnya. Rania menghindar bukan karena Rania merasa dirinya lebih baik dari sahabatnya dan sahabatnya itu buruk. Bukan! Bukan karena itu! Bahkan Rania tidak ada sedikitpun niat pikiran untuk meninggalkan sahabatnya itu tetapi, untuk saat ini biarlah dirinya menghindar untuk sementara waktu, Rania tidak ingin mendengar perkataannya yang pedas keluar dari mulut teman dan sahabatnya yang membuat down untuk kesian kalinya. Rania menghindar untuk sementara waktu dan tidak sama sekali menganggap sahabatnya itu musuh.


Memiliki sifat bodamat bukan berarti sepenuhnya kita cuek dan tidak peduli sama orang. Hanya saja itu bentuk support seseorang terhadap dirinya sendiri disaat tidak ada dukungan dari luar. Tetapi kenapa banyak orang yang salah mengartikan sifat tersebut?


Rania menghela nafasnya panjang. Niat menyantap Bakso Pakde dikantin pun pupus sudah “mau kemana ya, kantin penuh. Mata kuliah Ekonomi makro masih lama, pulang cape dijalan” kata Rania bingung. Gadis itu berfikir sejenak kemana ia harus menunggu sampai pukul setengah dua nanti tanpa harus keluar kampus


“Ahh iyaa” Ucapnyaa setelah menemukan tempat yang indah di kampus.


Rania berjalan melangkahkan kakinya menuju tempat itu, tempat yang indah dan ternyaman yang ada dikampus ini. Sesampainya di tempat ini Rania membuka sepatu yang dikenakannya dan menatanya di rak sepatu. Rania melirik sekilas arloji yang menempel dipergelangan tangan kirinya menunjukan pukul 10.00


“Seperti ada yang tertinggal tapi apa ya” ucap Rania pelan memikirkan apa yang membuatnya tidak tenang.


“ASTAGFIRULLAH YA ALLAH AKU LUPAA” teriak Rania pelan saat mengingat sesuatu  yang hampir saja terlewat


🌼🕊🌼


Assalamu’alaikum Warahmatullah


Assalamu’alaikum Warahmatullah


Tiada tempat curhat dan sandaran yang nyaman kecuali Allah. Selesai menunaikan sholat sunnah dhuha, Rania mengadakan kedua tangannya meminta ampun Kepada Sang Pencipta mememohon agar Allah menerima taubatnya dan memaafkan  semua kekhilafan yang dirinya perbuat baik di sengaja maupun tidak sengaja  serta mengadukan semua keluh kesah yang Rania rasakan.


Setelah mengadukan semua keluh kesah yang dirasakan dan memohon ampun Kepada Sang Pencipta hatinya terasa begitu tenang


Rania melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, masih  ada 2 jam setengah lagi.


“huuhhf masih lama yaa sabar Ra sabar”.


“Rania”


Mendengar seperti ada yang memanggil namanya Rania menoleh kesumber suara


“lohh ko, bukannya kamu dah pulang?”


“enggak jadi Ra, mendadak ada mata kuliah pengganti jam setengah 2 nanti.


Rania mengangguk paham. Dalam hatinya Rania bersok senang Amalia mempunyai mata kuliah pengganti di jam yang sama. Itu artinya Rania tidak jadi sendirian setidaknya ada Amalia, untuk menunggu matkul selanjutnya.


“oh iya, afwan Ra tadi pagi dikelas kamu sempet mau nanya tapi gajadi. Kalo boleh tau kamu mau nanya apa?”


"hmmm ituuu,,,"


"kita masih temanan kan mal?


Rania menatap Amalia bingung, pasalnya Amalia hanya tertawa mendengar pertanyaannya. Apakah ada yang salah sama pertanyaannya? Apakah pertanyaannya seperti laki laki menyatakan perasaannya ke si perempuan. Tapi pihak perempuan menolaknya secara halus dan mengatakan kita masih bisa temenan ko.


“Astagfirullah, maaf Ra aku ga bermaksud ngetawain kamu. Siapa yang bilang kamu aku anggep musah? Tidak dekat bukan berarti tidak temanan kan? Lagipula bukannya kita dari awal masuk semester satu kita sudah berteman ya?


“tapi apa kamu ga malu temanan sama aku?”


“kenapa mesti malu?”


“hmmmm “  Rania menjeda kalimatnya sebentar sebelum mengatakan “kamu mampu menjaga aurratmu dengan baik dan mempunyai akhlak yang baik. Sedangkan aku ilmu agama yang aku miliki masih cetek bahkan sangat cetek, diriku belum bisa menjaga aurrat dengan baik bahkan untuk mengenakan jilbab dan khimar ini saja aku masih merasa tidak pantas tidak sebanding dengan akhlak ku yang masih berantakan"


“Ra orang yang mengenakan pakaian syar’i bukan berarti dirinya sudah baik. Tetapi orang yang berpakaian syar’i mencoba berusaha untuk menjadi wanita muslimah yang lebih baik dari sebelumnya”


“Memakai jilbab/gamis bukan hanya untuk wanita yang pandai agamanya saja namun jilbab untuk semua wanita yang mengaku dirinya muslimah. Bukan berarti aku menyalahkan seseorang yang mengenakan jeans. Tidak! Aku tidak menyalah seseorang yang mengenakan jeans sebab aku juga pernah mengenakannya"


"Perkara Jilbab dan hijab bukanlah pertanyaan aku sudah baik atau aku tanpa dosa. Tapi adalah bentuk pernyataan aku ingin taat”.


Buliran kecil yang sedari tadi Rania tahan agar tidak jatuh saat mendengarkan ucapan Amalia kini telah terjun bebas membahasi pipi gadis itu. Perkataan yang Amalia ucapkan seperti tamparan keras bagi Rania


"mal? Bantu aku hijrah"


🌼🕊🌼


To be continue


-01 juni 2020-


-nabila-