P R O S E S

P R O S E S
P R O S E S 1



*Sahabat....


Jika aku salah dalam berkata tolong kau kasih tauu akuu dimana letak kesalahanku...


Jangan kau salahkan pakaianku.....


Jangan kau hakimi aku karena masalaluku....


Aku butuh dukunganmu untuk memperbaiki prosesku...


Bukan hinaan,cacian bahkan ledekan yang aku inginkan darimu...


Tapi dukungan darimu yang aku inginkan*


🌼🕊🌼


Orang orang menatapku dengan tatapan aneh. Aku berhenti sekilas memperhatikan pakaianku, memikirkan apakah ada yang salah dari pakaian yang kukenakan? Bahkan sudah hampir sebulan diriku selalu memakai seperti ini. Ah sudahlah toh tidak penting juga aku memikirkan itu.


“Assalamualaikum”.


“Walaikumsa—“. Ucapan salampun terputus, semua orang yang berada didalam kelas terdiam, Memperhatikan seseorang yang berada diambang pintu dari atas sampe bawah.


“kesambet apa dia?”


“dia kenapa?”


“itu bocah ngapa ya, tiba tiba berubah begitu kek power ranger”


“pencitraan”


“sok alim”


“subhanallah”


Berbagai macam omongan omongan lainnya yang ia denger dihari yang ia anggap akan menyenangkan bertemu dengan teman temannya,sahabat sahabat dikampus justru malah realita tidak sesuai dengan ekspetasi. Ia dibuatnya jatuh.


“weyyy ini lo seriusan? Lo lagi ga pencitraan kan buat bikin panjat kan?”


“Please ra please klo lo pengen panjat jangan kek gini ra caranya gua takut,lo kaya ninja hatory klo kaya gini”.


“atau jangan jangan lo keturunan *******, ini Cuma akal akalan lo doang ya hayoo ngakuuu!”


“sehh bocah gua nanya bukannya dijawab malah di senyumin doang”.


“sumpah ra lo ga cocok banget pake ginian. Coba deh lo liat pakian lo dari atas sampe bawah biasanya ya lo cetar, fashionable banget, modis, anggun, bodygoals, lekuk tubuh lo kelihatan. Lah sekarang fashionable aja boro boro keliatan. Kek ibu ibu pengajian yang ada,nanti ga ada laki laki yang mau deket lagi sama lo kalo lo kayak begini”.


“tauu lo sok alim, ga cocok ra sama prilaku lu yang masih ecek ecekan


Pake pakaian syar’i tapi akhlak masih buruk,mending lo balik kedulu lagi deh kaya dulu klo akhlak lo dah bagus baru deh lo boleh pake pakaian yang kek ibu-ibu”. Timpa aufa dengan tatapan gasuka.


Rania memejamkan matanya, meremas bajunya, sejujurnya dadanya terasa sakit mendengar pengakuan sahabatnya yang ia kira akan mendukung dirinya tetapi dijungkirbalikan oleh fakta yang malah menjatuhkannya dengan kata kata yang sangat menyakitkan. Ia sadar bahwa yang diucapkan oleh sahabatnya, aufa tidaklah sepenuhnya salah. Rania akui bahwa akhlak atau prilaku dirinya masih dibilang jauh bahkan sangat jauh sekali. Tetapi bukankah setiap orang punya kesempatan untuk berubah memperbaiki semua?


Astagfirullah. Ucap rania lirih.


“Kalian boleh salahkan aku salahkan akhlak ku tapi tolong jangan kau salahkan pakaian yang aku kenakan sebab semua orang butuh proses untuk berubah. Bahkan kupu kupu pun pernah menjadi suatu yang menjijikan sebelum menjadi indah. doakan saja semoga akhlakku bisa menjadi lebih baik seperti yang kalian bilang dan bisa menjadi kupu kupu yang indah. Aku permisi” kata rania dengan penuh keberanian sebelum akhirnya meninggalkan dua sahabatnya.


“yeee yang udah so suci beda ya cara ngomongnya”. Celetuk aufa


🌼🕊🌼


Semenjak kejadian pagi itu, teman temannya bahkan sahabatnya sekalipun satu persatu mulai menjauhi dirinya. Dikantin biasanya tempat ia dan dua sahabat nya berkumpul dan bercanda gurau setelah mata kuliah selesai. Kini ia hanya bisa menatap dari kejauhan dan berusaha ikhlas.


“ohh inii orangnya yang lagi cari sensari baru”


“mencari sensasi dengan merubah penampilan”


“mending kayak kita yaa biasa biasa aja tapi gapernah nyari sensasi”


-mending kalian semua diam, dari pada mengomentari orang- author


Tidak berdarah tapi terasa begitu menyakitkan, mungkin hanya itu yang dapat mewakilkan perasaan rania saat mendengar perbincangan orang orang tentang dirinya. Rania memejamkam matanya berusaha untuk tetap kuat ia tidak ingin perjuangannya selama ini hancur begitu saja meskipun dirinya masih jauh dari kata shalihah bahkan sangat jauh dari kata shalihah.


Di lain sisi rania tersenyum miris saat mengingat kejadian masalalunya. Betapa bodohnya dirinya dahulu bahkan sampai sekarang rania masih merasa tidak pantas dikatagorikan sebagai seorang muslimah. Ia merasa malu kepada sang pencipta, merasa tidak pantas untuk menerima kesempatan padahal dirinya sudah mengecewaka-Nya.


🕊🕊🕊


*To be continuee


01 juni 2020


-nabila*-