P R O S E S

P R O S E S
P R O S E S 2



"Assalamualaikum" ucap Rania saat memasukin halaman rumahnya."


Wa'alaikumsalam.... Loh kamu kenapa?" tanya Sesil-Mamah Rania saat melihat raut wajah anaknya. Sesil paham apa yang di rasakan Rania.


" Nah kan apa Mamah bilang. Dibilanginnya ngeyel si, udahlah gausah pakai pakaian yang kayak gitu lagi. Lagian ngapain si kekampus pake pakaian yang kaya gitu ga sekalian aja pake mukena?"


Rania meremas ujung kerudung panjang yang dikenakan, dadanya sangat sakit saat mendengarnya. Rasa sakit yang Rania rasakan saat teman temannya dikampus mengomentari pakaian yang dikenakannya tidak sesakit yang Rania dengar saat ini. Rania fikir sudah kurang satu bulan lebih Rania mengenakannya Mamahnya bakalan mendukungnya tetapi kenyataannya tidak sedikitpun untuk mendukungnya dengan alasan ikut aliran siapa mengenakan pakaian seperti itu. Astagfirullah.


Buliran buliran cairan yang menumpuk dipelupuk mata Rania sekuat tenaga Rania tahan agar tidak terjun bebas membahasi pipinya. Lelah? Cape? Tentu! Rania akui itu. Ia lelah mengahadapi omongan omongan yang membuatnya jatuh sejatuh jatuhnya. Rania juga tidak ingin pertahannya yang sudah dirinya bangun hancur begitu saja saat mendengar omongan omongan pedas yang menyakitkan yang masuk ke pendengarannya sampai nembus hatinya.


Berikan hamba kekuatan Ya Rabb melewati ujian ini.


"Kamu denger ga sih Ra, apa yang mamah bilang tadi?"


"Iya Rania dengerko,Aku mau ke atas dulu Mah, mau ke kamar" Pamit Rania meninggalkan Mamahnya begitu saja.


Dikamar tangis Rania pecah begitu saja. Ia benar-benar lelah dengan hari ini. Cape mengahadapi ini semua. Sebegitu tidak pantasnya kah dirinya untuk berubah menjadi wanita muslimah yang lebih baik sampai sampai semua orang berkomentar pedas tentang dirinya dan pakaian yang dikenakan?


Rania mengusap wajahnya gusar, beberapa kali mulutnya merapalkan kalimat istighfar, kuatkan hamba Ya Rabb.


Rania tersenyum nanar saat melihat Mushaf polkadot merah muda di dalam laci nakasnya. Jika ditanya kapan terakhir kali gadis itu membacanya? Maka ia juga tidak ingat terakhir kali menyentuh benda itu.


Mungkin dengan membacanya hatinya merasa tenang. Ayat Per Ayat Rania lantunkan walaupun masih terbata bata dalam membacanya. Hatinya bergetar hebat saat membacakan Ayat tersebut,cairan bening dipelupuk matanya seketika terjun bebas membasahi pipinya begitu saja tanpa permisi.


Tidak ada satupun manusia yang beriman tanpa cobaan. Allah Swt berfirman, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?(Qs. Al’ankabut [29] : 2).


Tidak ada manusia yang sukses tanpa merasakan ujian. Begitu pun juga dengan hijrah. Jika dalam proses hijrahmu air mata menyertai langkahmu, percayalah hijrah disertai air mata jauh lebih bermakna. Sebab dari sana kita dapat memahami makna hijrah sesungguhnya.


Teruslah istiqomah, walaupun ada yang mendukungmu dengan cara yang salah. Tetap tersenyumlah jika sesak didada semakin menjadi. Balas mereka dengan mendoakan agar segera diberi hidayah dan tetaplah untuk mengajak mereka agar bertambah sahabat hijrahmu.


Ya muqalibal quluub tsabit qalbi’ala diini


Ya Rabb,engkau lah yang Maha membolak balikan hati, teguhkan hati ini tetap diatas agamamu.


Allah Maha Baik telah memberikan jawaban melalui perantara tulisan yang berasal dari akun dakwah intagram yang mewakilkan perasaan yang rania rasakan saat ini. Tugas Rania kedepannya hanya fokus untuk memperbaiki diri Lillahi Ta’ala, semata mata hanya karena Allah. Tanpa harus menghiraukaan perkataan pedas yang menyakitkan. Innamal a’maalu bin niyyah. Semua niat baik yang di niatkan karena Allah pasti akan indah.


“Bismillahirahmanirrahim, semangat Rania kamu pasti bisa melawati ujian ini” suportnya pada diri sendiri.


🕊🕊🕊


*To be continue


01 juni 2020


-nabila*-