My Six-sense

My Six-sense
PENGHUNI RUMAH



07 : 12 P.M ]


Suara gemercik air terdengar jelas berasal dari kamar mandi di kamar milik Andhini. Andhini keluar dengan wajah fresh dan baju santai serta handuk yang melilit bagian rambutnya yang basah.


Ting!


Suara notifikasi smartphone Andhini terdengar nyaring di dalam ruang kamar Andhini. Dengan segara Andhini berjalan mendekati nakas dan mengambil Smartphone miliknya.


Saat Andhini menyalakan ponselnya tertera pop-up dari L*ne dengan nama id milik Vito. Andhini membuka lockscreen ponselnya dan menuju aplikasi L*ne.


Andhini membuka percakapan teratas pada aplikasi L*ne.


Vito.anjsmr


Lo udah sampe Din?


Lstr.Andhini


Udah.


Oh, ya gimana keadaan disana, baik?


Vito.anjsmr


Baik, baik banget malah🙂


[Read]


Andhini diam tak membalas, "perasaan gue kok gak enak ya?" Andhini menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan fikiran negatif yang masuk ke dalam otaknya.


Ting!


Andhini menoleh pada smartphone nya yang ia hiraukan. Ia mendapati sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


+62 8*********


Orangtua Lo dalam bahaya, kalau Lo bersi-keras buat nutupin kemampuan Lo!


Andhini termenung sejenak. Ia tak pernah membocorkan bahwa ia gadis yang 'dikaruniai' oleh tuhan. Bagaimana orang ini bisa tau?


Segala pertanyaan yang buruk menyeruak masuk ke dalam pikirannya.


Tiba-tiba saja sekelebat memori seseorang masuk ke dalam pikirannya. Disana ada sekitar 7 orang berkeliling. Entahlah Andhini tak dapat melihat jelas siapa orang-orang itu.


Andhini mengakhiri kilasan itu. Dirinya tak mampu melihat lagi. Kilasan kejadian itu tiba-tiba saja menghilang, menyisakan tanda tanya besar di benak Andhini.


"Sebenarnya siapa mereka?" Gumam Andhini sambil berusaha mengembalikan kilasan itu.


Namun, kilasan itu sangat sulit dicari oleh Andhini. Andhini pasrah, ia akan meminta pertolongan pada mama nya untuk masalah ini.


Andhini berjalan menuruni tangga, menuju ke lantai 1 rumah nya. Ia mencari keberadaan mamanya di sana. Namun nihil, Dara tak kunjung terlihat di mata Andhini.


"Mama kemana sih? Kok sepi,"


Andhini melangkah menuju ke gudang rumahnya, siapa tahu ia bisa menemukan mamanya di gudang.


Langkahnya berhenti sejenak di lorong dekat gudang, bulu kuduk nya meremang, menandakan bahwa ada yang menyadari kehadiran dirinya.


"Hei,"


Andhini menoleh ke sebelah kirinya, dimana saat ia mendengar suara bisikan yang memanggilnya tepat di telinga.


"Hei,"


Andhini menoleh lagi, kali ini ke samping kanan, dimana saat ia mendengar suara bisikan lagi.


"Qui est là?*" Andhini membuka suara, ia bertanya dengan bahasa Prancis.


Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia kembali memaksakan langkahnya untuk menuju ke gudang.


"Arrêtez là!**" Bisikan menyeramkan itu kembali, kali ini lebih terdengar seperti sebuah peringatan.


"Pourquoi ne puis-je pas le dépasser?***" Protes Andhini sedikit tak suka.


"C'est ma maison,****"


Sosok itu tak berkutik, ia diam.


"Désolé,*****" sosok itu berjalan menembus dinding sambil menundukkan kepalanya.


Andhini menghentikan sosok itu dengan berkontak batin. Ia sempat menanyakan nama dari wanita itu.


Aamber, nama sosok wanita itu.


Andhini berhenti berkontak batin dengan Aamber, ia meminta sosok itu mengikutinya ke gudang, dengan alasan ia sudah lama tak mengenal rumahnya ini.


〰️〰️〰️


*) Siapa disana?


**) Berhenti disana!


***) Kenapa aku tidak boleh melewatinya?


*****)Maaf,


〰️〰️〰️


Andhini kembali ke kamarnya bersama sosok Aamber, ia tak menemukan Dara di gudang, dan saat ia check ke garasi, mobil milik Mamanya itu tak ada. Dapat dipastikan bahwa Dara sedang keluar rumah.


Ah ya, ia sampai melupakan fakta tentang sosok cantik ini, Aamber. Wanita itu adalah keturunan Indonesia, Andhini sempat menyesal berbicara dengan bahasa Prancis yang menyulitkan lidahnya itu.


"Aamber, apa kamu tau sejarah kota ini?" Aamber mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari teman manusianya ini.


"Bisa kamu ceritakan beberapa hal yang menarik perhatian kamu saat disini?"


"Bisa," jawab Aamber dengan senyum merekah dan antusiasnya.


"Hal yang paling menarik perhatianku saat sebelum aku meninggal adalah Jardin du Lexembourg, atau taman Lexembourg,"


"Itu adalah tempat dimana aku bertemu dengan suamiku, tempat itu sangat bermakna bagiku,"


"Benarkah? Ohhhh, itu pasti sangat inT indah,"


Wajah sosok Aamber sejenak berubah muram, entahlah Andhini tak mengetahui kenapa.


"Ada apa Aamber? Kenapa kamu terlihat muram?"


"Tidak, hanya saja aku ingat saat sebelum aku meninggal, buah hatiku serta suamiku sedang berada di Jardin du Lexembourg. Mereka tak tau jika aku sakit parah saat itu, aku selalu menutupi kebenarannya,"


"Sudahlah, jangan sedih, aku akan membantu kamu untuk bertemu dengan anak serta suami kamu,"


Aamber seketika berbinar mendengar penuturan Andhini. Ia senang jika menyangkut keluarganya.


"Tapi.,,"


"Kenapa ada tapinya?" Tanya Aamber yang langsung merubah ekspresinya.


"Aamber, dengarkanlah aku dulu,"


Aamber mengangguk saja, masih dengan ekspresi memberengut karena kata 'tapi' yang terlontar oleh Andhini.


"Maksudku tadi, aku tidak mengetahui alamat rumahmu, dan tak mungkin kamu memakai tubuhku seharian, itu akan menguras seluruh tenagaku,"


"Kamu catat alamat yang aku ucapkan," kata Aamber, selanjutnya ia mengatakan alamat rumah nya dan segera dicatat oleh Andhini.


"Baiklah kalau begitu, besok sore, kita akan pergi kesana," kata Andhini memutuskan rencananya.


Aamber menjawabnya dengan anggukan antusias. Ia tak sabar melihat buah hatinya, yang pasti saat ini sudah besar.


🌇🌇🌇


[ 08 : 35 A.M ]


Hari kembali pagi, Andhini tengah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya hari ini. Ya, sudah pasti di sekolah milik Opa nya.


Andhini menuruni tangga menuju ke lantai bawah, tentu diikuti dengan sosok Aamber dibelakangnya.


"bonjour mère, père,*" sapa Andhini pada kedua orangtuanya.


"Bonjour cher,**" Balas Dara serta Felix berasamaan.


Andhini menempati tempat duduk disamping kiri sang Papa, dan dihadapan sang Mama. Ia segera mengambil menu sarapan pagi ini, lalu menaruhnya pada piring yang ada dihadapannya.


"Sayang, kamu akan tinggal diasrama mulai sekarang," perkataan spontan dari Felix membuat Andhini hampir menyemburkan nasi yang sedang ia kunyah.


Uhuk.. uhuk..


Andhini menepuk dadanya yang terasa sesak akibat tersedak. Setelah menahan semburan tadi ia justru tersedak, nasib sudah.


Dara menuangkan air putih ke dalam gelas dan langsung menyerahkannya pada Andhini. Andhini mengambil gelas yang diberikan sang Mama, dan segera meneguk air di dalamnya.


"Maaf sayang, pasti kabar ini membuat kamu kaget," sesal Felix. Andhini menoleh kearah Felix sambil mengatur napasnya.


"Gak apa-apa Pa, tapi, kenapa enggak dari kemarin bilangnya?"


"Kakek kamu bilang, itu tidak perlu, karna pasti kamu akan kerepotan," jawab Dara. Andhini mengangguk kan kepalanya.


Setelahnya keluarga kecil itu kembali menyantap sarapannya masing-masing.


Andhini berhenti sejenak, "terus, bagaimana dengan pakaian dan barang-barang aku?"


"Disana sudah kakek kamu sediakan ruangan khusus keluarga kita, dan disana sudah sudah tersedia pakaian dan kebutuhan kamu, jangan khawatir," jelas Dara sambil menyantap sarapan nya.


"Baiklah,"


〰️〰️〰️


*) Selamat pagi Mama, Papa,


**) Selamat pagi sayang,


〰️〰️〰️