
*Ps: waktu yang tertera di chapter ini sudah masuk kedalam waktu di Paris ya.. (jadi di Chapter sebelumnya masih waktunya Indonesia)
Happy reading*..
Andini memilih untuk larut dalam kantuknya. Perjalanan yang panjang yang menempuh hingga 16 jam 15 menit ini sudah pasti akan membuat dirinya suntuk.
Apalagi ia berangkat siang hari.
Tanpa pikir panjang, Andini segera merebahkan tubuhnya di kursi pesawat yang telah ber-transformasi menjadi kasur kecil.
Andini menarik selimut yang disediakan oleh pesawat untuk menutupi tubuh mungilnya.
Prancis, Paris Orly Airport [ 23 : 15 P.M ]
Andini keluar dari pesawat nya dengan wajah segar sekaligus mengantuk. Tentu saja, jika di Indonesia ini akan menjadi pukul 04 lewat 15 menit. Dan pada jam itu ia pasti masih sibuk dengan alam mimpinya.
Andini keluar dari Airport usai mengambil koper bawaannya yang baru saja diturunkan dari bagasi pesawat.
Mata hazel miliknya menelisik setiap sudut yang terjangkau, mencari orang tuanya - Dara dan Felix -.
"Andin!"
Panggilan itu mampu membuat Andini menoleh pada sosok pasangan paruh baya yang tengah melambaikan tangan pada dirinya. Ia tersenyum dan membalas lambaian tangan itu, diikuti dengan gerakan beranjak menemui kedua orang tua nya.
Andini mencium punggung tangan kedua orang tua nya secara bergantian. "Assalamualaikum, Ma, Pa. Udah lama nunggu nya, ya?"
Dara dan Felix menggeleng bersamaan sambil tersenyum hangat, "enggak kok, belum lama," jawab Dara.
"Oh ya, gimana keadaan kamu di Indonesia?" Dara beralih ke pembicaraan lain.
"Aku baik kok, gimana kabar Mama dan Papa?"
"Kita baik kok," jawab Felix.
"Yaudah yuk, langsung pulang, biar bisa langsung istirahat," ajak Felix sambil memindah alihkan koper kesayangan milik Andini untuk ia angkat.
"Ehh, Pa, itu berat tau, biar Andin aja," Andhini mencegah tangan Felix yang sudah akan mengangkat koper miliknya.
"Justru karena berat sayang, makanya Papa yang angkat,"
Oke, ia kalah dengan alasan Papanya. Dan akan selalu kalah:(
Felix berjalan mendahului sang anak dan istri. Andhini dan Dara memilih mengikuti di belakang Felix.
Keluarga kecil itu berhenti di hadapan sebuah mobil Lamborghini Urus. Felix menurunkan koper milik Andhini, tangannya merogoh kedalam saku celana untuk mencari kunci mobil miliknya.
Setelah menemukan kuncinya, ia segera menekan tombol untuk membuka mobil. Felix membuka pintu bagasi untuk menaruh koper Andhini kedalam nya.
Tak ada percakapan kecil selama perjalanan, hanya keadaan hening yang melanda.
Andhini tertidur pulas di kursi penumpang, sedangkan Dara dan Felix sibuk menelisik jalanan kota Paris malam ini.
"Pa, rencananya kamu mau masukkan Andin ke sekolah mana?" Tanya Dara memecah keheningan dia mobil.
Felix menolehkan wajahnya ke arah Dara sejenak, lalu kembali menatap jalanan lenggang di depannya.
Ia berfikir, "mungkin di sekolah milik Kakek, Ma. Emang kenapa?"
"Sekolah khusus anak berkemampuan milik Kakek kamu itu, Pa?"
"Iya, karna menurut aku, akan lebih aman daripada Andin disekolah umum,"
Dara manggut-manggut mengerti, ia juga berfikiran sama dengan suaminya. Ia juga tak ingin mengambil resiko lagi, bisa saja anak semata wayangnya itu dibully karna memiliki keistimewaan yang bahkan belum tentu gadis itu inginkan.
"Yaudah, aku setuju kok, besok aku daftarin deh kesana,"
Felix mengangguk sebagai jawabannya. Keadaan selanjutnya kembali hening, Felix fokus pada jalan sedangkan Dara tengah sibuk mencari informasi tentang sekolah Kakek dari Felix.
Felix House, [ 23 : 28 P.M ]
Felix memberhentikan laju mobilnya dihadapan rumah besar bergaya elegan. Felix menoleh kearah Andhini yang masih sibuk dalam mimpinya.
Tangan Felix terulur untuk membangunkan Andhini. "Sayang, bangun nak, kita sudah sampai rumah,"
Andhini menggeliat disela tidurnya karena merasa terganggu dengan tepukan di dengkulnya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Andhini saat terbangun dari tidurnya.
"Sudah, ayo cepat keluar,"
"Pa, Mama masuk ke rumah duluan ya," ucap Dara sambil membuka pintu mobil disampingnya.
Dara keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Felix. Felix ikut keluar dari mobil begitupun dengan Andhini. Felix menuju ke bagian belakang mobil untuk membuka bagasi dan mengambil koper milik putrinya.
Andhini pun sama halnya dengan Felix, berada di depan bagasi. "Biar Andin aja yang bawa, papa udah cape nyetir tadi," Andin mencegah tangan Felix yang hendak menenteng koper milik dirinya.
"Udah, gak apa-apa, kamu masuk gih, biar papa yang urus ini, kamu lebih capek ada didalam pesawat selama lebih dari lima jam," ucap Felix tak terbantahkan.
Andhini bergeming, memang benar sih ia lelah berada di dalam pesawat selama 16 jam lebih lamanya. Tapi, ia pun tak tega dengan papanya, apalagi ia tau jika esok hari papanya akan bekerja.
"Hey, kok malah melamun, ayo masuk!" Andhini menoleh pada Felix yang sudah berdiri agak jauh dari dirinya.
Andhini segera berlari kearah sang Papa. Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah megah nan mewah itu.