My Indigo

My Indigo
Petunjuk Keberadaan Yusuf dan Arum



Mereka semua duduk di ruang keluarga, berkali-kali david mengerang frustasi. David mengusap wajahnya kasar, david menunduk dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan fafa? Dia sedari tadi menangis, kiky terus saja mencoba menenangkan sahabatnya itu. Mata fafa sudah sembap, dan hidungnya pun memerah akibat terlalu lama menangis. Hening!! Tidak ada yang bersuara.


 


 


"Oh iya, lo udah tau arti tulisan yang semalam?" Tanya dery memecah keheningan, david mengangkat kepalanya dan mengernyitkan dahinya.


 


 


"İtu loh, kertas yang semalem. Masa lo lupa si vid?"


 


 


David nampak berfikir, kemudian dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi kedalam kamarnya.


 


 


David kembali dengan membawa selembar kertas dan kembali duduk di tempatnya.


 


 


"Fa..." Panggil david lembut


 


 


Fafa mendongak, david menyerahkan kertas tersebut.


 


 


"Apa ini?" Tanya fafa dengan suara sumbangnya.


 


 


"Kamu bisa mengartikan tulisan ini?" Tanya david


 


 


Fafa mengambil kertas itu dan membacanya, seketika rasa pusing menyerang kepalanya akibat terlalu lama menangis.


 


 


Sidik memegang bahu fafa, "Gapapa kalau kamu gak bisa, gak usah di paksain!" Ucap sidik


 


 


"Aku gapapa! Aku rasa... Aku bisa mengartikan ini!" Ujar fafa, "Sebentar!"


 


 


"Kamu mau kemana fa?" Tanya david melihat fafa bangkit dari duduknya


 


 


"Aku mau ke kamar dulu! Kalian tunggu di sini aja!"


 


 


Fafa pergi ke kamarnya dengan membawa kertas pemberian david. Fafa masuk kedalam kamarnya dan langsung duduk di meja belajarnya. Fafa menghela nafas pelan dan memejamkan matanya sebentar.


 


 


Tiba-tiba saja andre muncul di samping fafa, "Kamu sedang apa fa?" Tanya andre


 


 


"Lo bisa bantu gue gak?" Tanya fafa


 


 


"Suara kamu kenapa? Kamu habis menangis?" Tanya andre melihat kondisi fafa


 


 


"İtu gak penting! Yang terpenting lo bisa bantu gue artiin ini? Soalnya gak semuanya yang gue mengerti" Ujar fafa


 


 


Andre nampak melihat tulisan itu dan kemudian mengangguk mantap. Kurang dari sepuluh menit andre dan juga fafa selesai mengartikan kata demi kata dari tulisan itu.


 


 


Semua menoleh ketika fafa menuruni anak tangga, fafa kembali duduk di sofa ruang keluarga dan meletakkan kertas tersebut.


 


 


Kevin mengambil kertas itu dan membacanya


 


 


"Kedua orang tuamu berada di Jl. Cendrawasih Blok G, No. 37. Hati-hati! Orang itu mengincar dirimu!" Kevin membacanya dengan suara yang tidak terlalu keras, namun masih bisa di dengar oleh teman-temannya.


 


 


"Apa yang di mau orang itu?" Tanya david


 


 


"Sebenarnya yang di incar olehnya adalah aku, tapi dia menggunakan mama dan papa untuk memancingku supaya aku datang padanya" Jelas fafa


 


 


"Bagaimana kau tahu?" Tanya david


 


 


"Andre yang memberi tahu ku tentang semua ini"


 


 


"Tapi kenapa? Kenapa kamu yang di incar?" Tanya david lagi


 


 


"Ntah lah, andre juga tidak tahu pasti kenapa hanya aku yang di inginkan orang itu"


 


 


"Terus sekarang bagaimana?" Tanya dery


 


 


"Aku sendiri yang akan datang ke alamat itu! Dan membebaskan mama dan papa" Ucap fafa


 


 


"Apa kamu serius? Jangan gila!! Kalau orang itu bersenjata bagaimana?" Ujar david


 


 


"Mau dia bersenjata atau tidak, itu bukan masalah untukku! Yang terpenting mama dan papa selamat"


 


 


"Tapi kamu gak boleh pergi sendiri!" Kata sidik


 


 


"İya, fa!! Sidik benar. Kamu jangan pergi sendiri!" Sambung tiara


 


 


"Tapi dia menginginkan aku!"


 


 


"Kaka gak akan ngizinin kamu pergi, terkecuali kalau kaka ikut!" Ucap david tanpa mau di bantah


 


 


"Gue ikut, ka!" Kata tiara


 


 


"Gue..."


 


 


"Pastinya gue ikut!!" Seru kevin.


 


 


 


 


"Sekara-..."


 


 


"Besok!! Besok kita akan berangkat kesana!" Potong david


 


 


Malam harinya, fafa tidak bisa tidur. Dia terus saja memikirkan kedua orang tuanya, dan memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membebaskan arum dan juga yusuf. Andre muncul dan langsung duduk di samping fafa.


 


 


"Kamu beneran mau ke alamat itu?" Tanya andre menyentuk bahu fafa.


 


 


Fafa menoleh dan melihat tangan andre yang ada di bahu kirinya.


 


 


"Lo bisa nyentuh gue?" Tanya fafa bingung


 


 


"Yaa!! Bahkan sekarang aku juga bisa terlihat oleh teman-temanmu" Jelas andre


 


 


Fafa mengangguk-anggukkan kepalanya, "Gue bingung ndree.." Cicit fafa


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Mengapa orang itu menginginkan gue? Memangnya gue punya apa? Gue gak punya apa-apa. Rumah, mobil, kredit card, semua yang ada pada gue, itu milik papa gue. Lalu, dia mau ambil apa dari gue, ndree??"


 


 


Andre pun sebenarnya bingung, kenapa hanya fafa yang di inginkan orang itu? Padahal david juga anak dari keluarga mahendra.


 


 


"Besok aku ikut denganmu" Kata andre tiba-tiba, fafa mengangkat sebelah alisnya, "İya besok aku ikut denganmu, sebagai manusia! Bukan andre si hantu!" Lanjutnya


 


 


"Haa?"


 


 


"Kenapa? Kamu gak yakin aku bisa ngelakuin itu?" Tanya andre, fafa menggeleng.


 


 


"Lihat saja besok!! Teman-temanmu pasti akan terkejut jika melihat ketampananku ku!" Ucap andre bangga


 


 


"Cih... Percaya diri banget lo!" Balas fafa terkekeh


 


 


"Nah gitu dong, jangan cemberut terus" Kata andre mengacak-acak rambut fafa


 


 


"İhh... Andree!! Berantakan rambut guee..."


 


 


"Bodo,, wleee...." Andre menjulurkan lidahnya, alhasil fafa melemparkan bantal ke arahnya.


 


 


"Andree!! Awas yaa lo!!!" Ancam fafa, namun saat fafa akan melemparkan bantal lagi, andre terlebih dulu pergi menghilang.


 


 


Fafa berjalan ke balkon kamarnya, dan berdiri di pembatas balkon. Fafa mengedarkan pandangannya ke setiap halaman depan rumahnya. Banyak sekali hantu-hantu yang berlalu lalang di sana. Apa lagi di pohon besar yang berada di seberang jalan depan rumah fafa. Disana banyak sekali hantu. Namun, ada yang menyita perhatian fafa ketika dia melihat ke arah pohon yang satu lagi. Disana faca melihat sosok bayangan serba hitam yang sedang memperhatikan rumahnya. Apa itu hantu? Bukan!! İtu bukan hantu. Tapi siapa orang itu.


 


 


Merasa penasaran, fafa langsung berlari keluar kamar dan menuju kedepan rumah. Dengan langkah perlahan, fafa mendekati gerbang rumahnya. Fafa terus berjalan dan sambil memperhatikan pohon itu. Fafa semakin mendekat ke arah gerbang.


 


 


"Fafa!!"


 


 


Fafa terlonjak kaget ketika seseorang memanggilnya, ia langsung membalikkan badannya dan melihat david dan juga sidik sudah berada di depan pintu rumah. David dan juga sidik menghampiri fafa di dekat gerbang.


 


 


"Kamu ngapain disini?" Tanya sidik


 


 


"Tadi aku lihat ada orang disa-.." Ucapan fafa berhenti ketika ia melihat kearah pohon tadi, sudah tidak ada siapa-siapa disana. "Loh, kemana orang itu?"


 


 


"Orang siapa fa?" Tanya david sambil berjalan kearah gerbang dan membukanya, "Gak ada siapa" Kata david celingukkan melihat ke kanan dan ke kiri


 


 


"Kamu kenapa?" Tanya sidik lembut


 


 


"Tadi beneran, aku liat ada orang di pohon itu. Makanya aku keluar!"


 


 


"Tapi kaka lihat gak ada siapa-siapa fa" Balas david


 


 


"Terus kalian berdua ngapain disini?" Tanya fafa


 


 


"Tadi kaka sama sidik lagi duduk di meja bar dapur, terus kaka liat kamu lari keluar rumah, yaudah kaka ikutin aja!" Jelas david


 


 


"Tapi aku gak liat kalian"


 


 


"Ya!! Gimana mau liat, kamunya aja lari sampe ngibrit gitu!" Ujar sidik


 


 


"Yaudah kalau gitu kaka masuk duluan!" Ucap david berlalu pergi meninggalkan dua sejoli itu.


 


 


"Kita juga masuk yuk! Di luar dingin, gak baik!! Nanti kamu sakit!" Ujar fafa


 


 


"Uuhhh perhatian banget sih!!" Balas sidik mencubit hidung fafa.


 


 


Kemudian sidik merangkul pundak fafa dan fafa pun melingkarkan tangannya di pinggang sidik. Mereka berdua masuk ke dalam rumah menyusul david.