
"ka david..." Panggil fafa
"Hmmm" David hanya menjawab dengan bergumam saja
"Aku khawatir sama papa" Kata fafa lirih
Seketika sorot mata david juga menampakkan kesedihan, "Kaka juga khawatir, tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
"Kita cari papa yuk, ka!" Ajak fafa
"Kita mau cari dimana fa? Kita gak tau siapa yang udah bawa papa!" Ujar david
Fafa menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Tak lama mereka sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal di dekat rumah dery.
"Woy turun.." Teriak kevin dari luar mobil david. Tiara dan sidik memutar bola matanya malas
Mereka memesan beberapa menu makanan yang cukup populer di restoran ini. 25 menit berlalu, akhirnya makanan mereka telah tersedia dan siap untuk di santap.
Mereka semua sedang asik memakan makanan masing-masing terkecuali fafa, dia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.
"Si fafa, tadi ngajakin makan. Terus sekarang makanannya cuma di aduk-aduk doang" Gerutu kevin
Sidik memegang tangan fafa, sehingga fafa menghentikan aktivitasnya. Fafa menoleh kearah sidik dengan tatapan sendu.
"Kamu gapapa?" Tanya sidik lembut, namun fafa hanya menggeleng
"Kamu kenapa? Kok makanannya gak di makan?"
"Aku masih kepikiran tentang papa!" Ucap fafa pelan
Mendengar perkataan fafa, david juga ikut bersedih. Pasalnya dia juga belum tahu siapa yang telah menculik papanya. Ditambah mamanya tidak mengetahui dengan apa yang terjadi dengan papanya itu.
Mata fafa mulai berkaca-kaca, begitu pun david. Tiara yang mengerti perasaan kekasihnya itu, mengelus punggung david guna menenangkannya, begitu juga sidik.
"Tunggu.. tunggu..." Ucap dery tiba-tiba, "Kenapa kalian berdua jadi sedih gini? Memangnya kenapa dengan om yusuf?" Tanya dery bingung
"İya, emangnya ada apa?" Sambung kevin
"Om yusuf gak tau ada di mana. Beliau sedang di sekap yang kita juga gak tau tempat itu ada di mana" Ujar tiara
"Kalian tau dari mana kalau om yusuf di sekap?" Tanya dery
"Kita dapet sms dari nomor yang gak kita kenal. Kita berfikir kalau itu nomor si peneror yang selama ini neror fafa" Jelas tiara
"Itu kan cuma foto, bisa aja itu editan" Ucap kiky
"Itu foto asli, gue tau mana foto yang editan dan mana foto yang asli" Kata sidik
Fafa menunduk, tak terasa air matanya sudah menggenang di pelupuk mata fafa. Tiba-tiba saja, fafa merasakan sakit di kepalanya sampai-sampai fafa menjambak rambutnya sendiri. Mereka semua yang ada di situ mulai kebingungan dan khawatir melihat fafa.
"Ka.. sakit..." Gumam fafa lirih
"Fa, kamu kenapa fa?" Tanya david panik
"Fafa.. hey.. kamu kenapa?" Sambung sidik
"Ka.. sakit.. kepala fafa sakit ka.. hikss..." Fafa merancau kesakitan, seketika sekilas bayangan berputar di pikiran fafa. Fafa memejamkan matanya guna memperjelas bayangan tersebut. Namun sayang, semakin fafa memaksakan untuk melihat bayangan itu, semakin terasa sakit pula kepalanya.
"Vid, kita bawa fafa kerumah sakit sekarang!" Ujar sidik
"Iya ka, ayo bawa fafa ke rumah sakit!" Lanjut kiky.
Saat sidik hendak bangkit untuk menggendong tubuh fafa, namun fafa buru-buru mencekal pergelangan tangan sidik.
"Jangan bawa aku ke rumah sakit" Ucap fafa pelan
"Loh, kenapa fa? Kamu harus kerumah sakit!" Kata sidik menggenggam tangan fafa
"Pokoknya kamu harus kerumah sakit" Paksa david
"Aku gapapa ka! Beneran deh" Jawab fafa tersenyum lembut, "Yaudah ayo kita makan lagi" Lanjut fafa
"Kamu yakin gak mau kerumah sakit?" Tanya david lagi untuk memastikan keadaan fafa
"Aku baik-baik aja. Kalian gak usah khawatir" Fafa menyantap makanan yang sedari tadi dia aduk-aduk.
"Si fafa ajaib ya!" Bisik kevin pada dery
"Gue denger ka kevin!" Ujar fafa, kevin hanya menampakkan wajah tak berdosanya
***
Kini arum sedang berada di ruang keluarga, menikmati film yang sedang ia tonton ditemani oleh secangkir teh hangat dan juga beberapa cemilan. Saat sedang asik menonton tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tokk... Tokk... Tokk...
Arum beranjak dari sofa tempat dia duduk dan langsung membukakan pintu.
Ceklek...
"Maaf, kalian ini siapa ya? Ada perlu apa?" Tanya arum sopan
Alih-alih menjawab orang tersebut yang berjumlah empat orang langsung membekap mulut arum dan membawanya masuk kedalam rumah. Arum berusaha melepaskan diri, namun tenaga arum tidak sebesar tenaga orang tersebut.
"Kalian cari yang lainnya!" Perintah orang yang berbadan tinggi. Dua orang pergi untuk menggeledah kediaman mahendra.
Sedangkan arum, dia mulai merasa panik dan ketakutan. Pasalnya sekarang dia hanya seorang diri di rumah.
Tak lama dua orang yang menggeledah rumah milik yusuf kembali menghampiri orang yang tadi menyuruhnya.
"Dia hanya sendiri di rumah" Ujar orang yang berkulit hitam
"Benarkah?" Tanya pria itu
"Iya tuan, kami sudah mencari ke setiap ruangan, tapi tidak menemukan siapa pun"
"Dimana anak-anak anda?" Tanya pria yang sedang berada di hadapan arum
"Mereka tidak ada dirumah" Jawab arum datar
"Kemana mereka?"
"Saya tidak tahu!" Jawab arum lagi ketus, arum sedikit melirik ke bawah lebih tepatnya kearah benda berharga milik si pria. Tanpa di duga oleh pria tersebut, arum menendang benda berharga milik si pria, sampai si pria mengaduh kesakitan.
"Sialan!"
Plakk....
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi arum. Panas, perih itulah yang dirasakan arum ketika pipinya di tampar. Air mata arum mengalir begitu saja.
"Tolong....." Teriak arum
"TOLONG....."
Pria tersebut memukul belakang arum sampai arum tak sadarkan diri.
"Cepat, bawa dia ke mobil.!" Perintah pria itu, "Dan kalian, buat rumah ini menjadi berantakan"
"Baik tuan"
Kedua orang tersebut mulai membuat rumah yusuf berantakan, tak jarang mereka memecahkan vas bunga dan juga menjatuhkan barang-barang yang ada di ruang keluarga dan juga kamar pribadi yusuf dan arum. Setelah menurut mereka sudah cukup, mereka berdua bergegas keluar dari rumah itu dan langsung masuk kedalam mobil.
Mobil yang di tumpangi para penjahat tersebut pergi meninggalkan pekarangan rumah yusuf.
***
Fafa, david, sidik dan juga tiara tiba di rumah pada pukul 8 malam. Fafa mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat pintu pagarnya terbuka. Sidik langsung memasuki perkarangan rumah fafa dan david. Fata semakin di buat bingung, pasalnya pintu depan rumahnya juga terbuka lebar. Perasaan fafa jadi tidak enak.
Tanpa berfikir panjang, fafa langsung keluar dari dalam mobil dan berlari memasuki rumah. Alangkah terkejutnya fafa ketika melihat rumahnya begitu berantakan. Banyak pecahan kaca dan pigura foto yang jatuh di lantai.
David, sidik dan juga tiara baru saja masuk ke dalam rumah, mereka juga sama terkejutnya dengam fafa ketika melihat kondisi rumah yang sangat-sangat berantakan.
"Mama..." Panggil fafa, namun tidak ada jawaban
"Mah... Kita pulang!!" Kini giliran david yang bersuara.
Tiba-tiba saja fafa berlari menaiki tangga menuju kamar pribadi orang tuanya, fafa langsung membuka pintu kamar tersebut dengan sangat kencangnya. Dia menelusuri kamar tersebut namun tidak menemukan mamanya disana.
Fafa kembali menghampiri david di bawah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Gimana? Mama ada di kamar?" Tanya david
"M..mama gak ada di kamar" Ucap fafa sambil mencoba mengatur nafasnya
"Coba kamu telpon tante arum dulu" Usul tiara
David mengangguk kemudian langsung menyalakan ponselnya dan menelpon nomor arum, "Gak di angkat!"
Sidik membawa fafa duduk di sofa, mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Sebenarnya mau apa si orang itu? Belum cukup dia culik papa? Dan sekarang mama juga di bawa.. hiksss..." Ujar fafa mulai terisak. Sedangkan david, masih saja mencoba menghubungi arum.
Sidik mengeluarkan ponselnya, kemudian dia mengirimkan pesan kepada aca sepupunya bahwa dia akan menginap dirumah david. Setelah mengirimkan pesan kepada aca, sidik langsung menelpon david dan juga kevin.
David ikut duduk di sofa, sedangkan tiara dia mengambil minum untuk mereka.
"Gimana? Tante arum bisa di hubungin?" Tanya sidik
"Nomornya aktif, tadi gak mau dijawab" Jawab david
Fafa menundukkan kepalanya, fikirannya kacau. Dia tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Baginya yang fafa lihat sekarang semuanya berwarna hitam pekat.