
Hidup itu adalah pilihan,
dan ini adalah pilihanku.
Chaeyoung.
---
"Kalau dedek punya tiga ayam, terus ayamnya bertelor satu. Jadi ada berapa semua ayam yang dedek punya?"
"Em.. empat!"
Yuri bertepuk tangan dan menciumi kedua pipi adik laki-lakinya gemas.
Sedangkan Chaeyoung yang dari tadi diam sambil memasak memperhatikan anak-anaknya tersenyum bahagia.
Tak terasa anak-anaknya sudah semakin besar. Bahkan kini Yuri sudah masuk sekolah dasar.
Chaeyoung membawa nampan berisi kue coklat buatannya ke sofa, dimana Yuri dan Yeonjun sudah menunggu.
"Sayang Mommy bawa kue."
"Yeee!!" Kedua anak itu bersorak riang lalu memakan kue yang di bawa ibunya.
"Habisin ya nanti Mom buat lagi."
Tiga tahun, ya sudah tiga tahun kehidupan baru Chaeyoung jalani. Berat, itulah yang Chaeyoung rasakan. Sendiri mengurus anak-anaknya berat bagi Chaeyoung, tak mudah sebenarnya menjaga mereka seorang diri.
Kini kehidupannya sudah lebih baik, Chaeyoung merasa hidupnya terasa seperti dulu lagi. Memiliki keluarga yang bahagia.
Wanita itu berjalan menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk Ia tersenyum tipis melihat seseorang yang sedang memunggunginya.
Dengan berjalan pelan Chaeyoung mendekat lalu memeluk tubuh pria yang sedang menikmati pemandangan itu dari belakang.
"Kamu gak mau kebawah? Anak-anak lagi main."
Chaeyoung mengernyitkan keningnya tak mendengar jawaban. Wanita itu beralih berdiri di samping pria itu.
"Jungkook."
Jungkook tersenyum kecil lalu menghadap istrinya. "Hm kenapa sayang?"
"Kamu jangan sering melamun, gak baik."
"Aku cuman lagi keinget masa lalu aja."
Chaeyoung tersenyum kecil mendengar itu, Ia mengerti. Wanita itu lalu menggandeng suaminya keluar kamar.
Dengan hati-hati Chaeyoung membantu Jungkook menuruni tangga, sedangkan pria itu harus turun dengan di bantu tongkat.
Ya kecelakaan waktu itu mengakibatkan kedua kaki Jungkook dulu sempat lumpuh. Saat suaminya itu kecelakaan, Chaeyoung saat itu merasa tak percaya, Ia sangat terkejut dan takut.
Enam bulan Jungkook koma, dengan kaki yang lumpuh. Tapi dengan penuh kesabaran Chaeyoung menemani suaminya, menjaga dan selalu setia menunggu Jungkook bangun dari komanya. Ia ikhlas.
Chaeyoung melakukan itu karena cintanya begitu besar pada Jungkook. Ia tidak bodoh, semua orang juga pasti akan begitu jika sudah dalam mencintai seseorang.
Satu tahun Jungkook hanya bisa duduk di kursi roda, dan akhirnya pria itu mencoba untuk berobat agar bisa kembali berjalan dengan normal. Dan ya setelah tiga tahun ini, pria itu mulai bisa berjalan lagi walau masih harus hati-hati dan di bantu tongkat kaki.
"Aku buatin kamu teh ya."
Jungkook menahan tangan Chaeyoung agar tak pergi, pria itu menyuruh istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Chaeyoung.
"Terimakasih karena sudah bersabar di sampingku Chaeng, aku gak bisa bayangin jika gak ada kamu."
Di pelukan itu, Chaeyoung tersenyum tipis. Ia mengeratkan pelukannya. "Iya, kamu udah sering ngucapin itu Jungkook."
"Tapi aku gak akan berhenti untuk ngomong terimakasih, kamu adalah segalanya buat aku."
Chaeyoung meneteskan air mata haru, Tuhan terimakasih karena kini kehidupannya sudah seperti dulu lagi. Bahagia bersama keluarga kecilnya, dan do'anya sudah terkabul.
Walau kini Jungkook masih belum bisa berjalan dengan normal, tapi Ia sudah sangat bersyukur karena pria itu tak pergi meninggalkannya. Jujur dulu Chaeyoung sangat takut suaminya akan meninggalkannya bersama putrinya, Ia tak bisa membayangkan itu. Tapi ternyata Tuhan masih menyayanginya, dengan tak mengambil pria itu dari kehidupannya.
"Daddy itu ada Mama Yeonjun."
Deg!
Jungkook dan Chaeyoung langsung menoleh ke pintu yang terbuka. Dan betapa terkejutnya mereka melihat seorang wanita cantik yang tersenyum lebar pada mereka.
"Hai."
---
"Terimakasih Chaeng karena selama ini sudah menjaga Yeonjun, aku gak tahu harus bagaimana membalas semua kebaikanmu."
"Gak papa, aku ikhlas kok jaga Yeonjun. Dia juga kan putraku."
Sana tersenyum lebar melihat ketulusan Chaeyoung, wanita itu kemudian membuka tas membawa kertas di dalam, kemudian di simpannya di meja.
Sedangkan Chaeyoung mengeryit melihat itu, Ia lalu membawa kertas yang di simpan Sana. Dan saat tahu, betapa terkejutnya Chaeng. Ia menatap tak percaya Sana. "Ini?"
"Ya itu undangan pernikahanku bersama Mark."
"Kau akan menikah?"
Sana mengangguk pelan. "Ya, Mark adalah pria baik. Dia yang selama ini menemaniku berobat."
Chaeyoung tersenyum lebar mendengarnya, Ia ikut bahagia. Sana pantas mendapatkan pria baik. Chaeyoung mengusap rambut Yeonjun yang duduk di pangkuan Sana. "Selamat ya sayang, sebentar lagi dedek punya papah baru yeayy." Riangnya, dan kedua wanita itu tertawa bersama.
Tapi tawa mereka terhenti saat mendengar suara berat itu.
"Selamat."
Chaeyoung dan Sana langsung menoleh menatap Jungkook yang dari tadi terdiam, pria itu baru mengeluarkan suaranya.
"Selamat untuk pernikahanmu, aku do'akan yang terbaik untuk kalian."
Sana mengangguk pelan, mati-matian wanita itu menahan air matanya agar tak keluar. Bukan air mata sedih, tapi terharu. Sungguh Sana sudah melupakan mantan suaminya itu, Ia hanya tak menyangka mereka kembali di pertemukan lagi setelah sekian lama.
Sedangkan Jungkook langsung menoleh ke samping, dimana istrinya duduk. Pria itu menggenggam kedua tangan Chaeyoung. Jika di tanya apa Ia cemburu saat tahu Sana menikah lagi? Maka jawabannya Tidak.
Jungkook bahkan ikut bahagia melihat wanita itu akhirnya menemukan pria yang baik. Dan sekarang Ia juga sudah bahagia bersama Chaeyoung. Wanita luar biasa yang selalu ada di sampingnya. Jungkook bahkan mencintai Chaeyoung melebihi rasa cinta pada dirinya sendiri.
"Jangan lupa datang, karena kalian adalah tamu spesial. Jangan sampai lupa ya." Ucap Sana.
"Tentu saja, jangan lupa juga siapkan banyak makanan untuk kami." Canda Jungkook lalu diiringi tawa dari mereka yang ada di ruangan itu.
---
Yuk mampir ke novel baruku, banyak genrenya dan ceritanya beda dari yang lain. Mulai dari romantis, action sampai horor pun ada.
Share, vote and komen dan jangan lupa follow aku ❤