My Heart

My Heart
Episode 23



Vote sebelum membaca ❤


.


.



"Sana kenapa kamu minta cerai pada Jungkook?"


Sana terkejut mendengar itu, kenapa Chaeyoung tahu apa permasalahan rumah tangganya?


"Sana, kenapa?"


Sana tersenyum tipis. "Karena ini demi kebahagiaan semua orang. Sudah cukup selama ini aku menghancurkan kebahagiaan kalian."


Chaeyoung terdiam.


"Aku telah merebut suamimu, dan penyakit ini sepertinya adalah hukuman dari Tuhan. Aku akan tenang jika telah melepaskan dia Chaeyoung."


"Sana."


"Aku juga tahu jika kini Jungkook tak punya perasaan apa-apa lagi. Dia hanya bertanggung jawab sebagai seorang suami saja. Mungkin Dia hanya melampiaskan kekesalannya karena telah aku tinggal bertahun-tahun."


"Terimakasih Chaeng, kau adalah wanita hebat. Maafkan aku karena telah membuat pernikahanmu menderita, bahagialah karena aku juga akan ikut bahagia."


Chaeyoung tak kuasa menahan air matanya mendengar itu, Ia mengangguk pelan dan menggenggam kedua tangan Sana yang duduk di depannya.


"Chaeng boleh aku minta satu permohonan?"


"Apa?"


"Aku titip Yeonjun ya, aku akan pergi untuk berobat ke luar negeri. Yeonjun adalah duniaku, maka dari itu aku ingin sembuh dan menemaninya sampai dewasa nanti."


Chaeyoung mencoba menahan isakannya, Ya Tuhan kenapa Ia sangat terharu pada wanita itu.


Sebagai seorang ibu, Ia juga pasti ingin sekali menemani anaknya tumbuh. Dan Sana telah memilih jalan yang tepat, Ia akan berobat.  Semoga wanita itu bisa sembuh dari penyakitnya.


Walaupun dulu Chaeyoung sangat membenci Sana, tapi rasa benci itu entah kenapa kini menghilang begitu saja.


Sana tak salah, yang salah adalah suaminya. Benarkan?


"Iya aku akan menjaga dan mengurusnya seperti putraku sendiri. Pergilah berobat Sana, aku yakin kamu pasti sembuh."


"Terimakasih Chaeyoung, aku janji setelah semua selesai aku akan kembali membawa Yeonjun."


"Iya."


"Sekali lagi terimakasih dan.. maaf."


                                      🍂


Sana membuka pintu apartemennya, saat baru saja masuk Ia langsung terkejut karena melihat Jungkook yang duduk di sofa ruang tamu. Sejak kapan suaminya ada disini?


"Jungkook?"


"Sejak kapan?"


Sana terdiam tanda tak mengerti pertanyaan dari suaminya.


"Sejak kapan kamu sakit?"


Deg!


Jungkook menatap dalam Sana, kemudian berdiri dan mendekati wanita itu.


"Pembohong."


"Jadi selama ini kamu bohong?" Jungkook tertawa sedih dan tanpa di rasa pria itu meneteskan air matanya. "Siapa yang katanya akan pergi untuk belajar, tapi malah.. berobat." Cicitnya di akhir kata.


"Jungkook."


"Kanker, apa penyakit itu yang membuat kamu dulu pergi?"


Sana masih diam tapi sungguh kini jantungnya berdetak sangat cepat.


"Jawab aku Sana, jangan diam saja." Lirih Jungkook.


Sana meneteskan air matanya, dadanya sesak sekali. "Maaf.. maaf."


Jungkook memeluk Sana dan terisak  bersama.


Sedih, kecewa dan menyesal itulah yang Jungkook rasakan. Ia merasa gagal menjadi seorang suami yang tak bisa membahagiakan istri keduanya ini.


Walau Ia sempat kecewa karena dulu Sana tak jujur padanya mengenai penyakit itu, tapi kekecwaan itu terkalahkan dengan rasa sedih di hatinya.


"Kamu harus sembuh Sana, demi anak kita."


"Iya aku akan berobat, tapi apa aku boleh minta sesuatu untuk yang terakhir kali?"


"Apa?"


"Ceraikan aku."


Jungkook menghela nafasnya berat saat lagi-lagi kata-kata itu keluar dari mulut Sana.


"Kenapa kamu minta itu?"


"Jungkook aku rasa sudah cukup kita sampai disini saja, kamu dan aku memang gak di takdirkan untuk bersama. Kini saatnya kamu bahagia dan kembali lagi ke keluarga kamu yang dulu, pada Chaeyoung."


"Jungkook jaga Chaeyoung, dia adalah wanita yang baik dan hebat. Aku malu karena telah jahat pada dia, jangan sampai kamu kehilangan wanita sesempurna Chaeyoung."


Jungkook merasakan dentuman keras di dadanya, Ia menatap sedih wajah Sana.


Memang benar apa yang di ucapkan wanita itu, Chaeyoung adalah wanita hebat dan Jungkook bersyukur memiliki istri sebaik Chaeyoung. Tapi apakah perpisahan ini menjadi jalan terbaik bagi mereka?


"Lalu siapa yang akan menemani kamu berobat Sana?"


"Mark, dia sahabatku. Mark akan menemai aku ke New York untuk berobat."


Entah kenapa Jungkook tidak merasakan perasaan cemburu di hatinya, jujur Ia malah bersyukur karena Sana mempunyai sahabat laki-laki yang baik.


"Kapan kamu akan pergi?"


"Setelah kita bercerai."


"Apakah harus?"


"Ya dan itu adalah jalan yang baik bagi semua orang."


Jungkook memejamkan matanya sejenak menahan rasa sakit di dada, perpisahan adalah sesuatu yang berat baginya.


Apakah melepas Sana dapat membuat wanita itu bahagia? Ya selama mereka menikah, sudah lama rasanya Jungkook tak membahagiakan wanita itu. Dulu Ia terlalu terbawa nafsu, dan akhirnya berakhir dengan penyesalan hingga saat ini.


Ia salah karena sudah menghancurkan dua wanita sekaligus, dan Jungkook tak percaya pada dirinya sendiri karena telah melakukannya.


Tuhan hukuman apa yang tepat bagi pria brengsek ini? Batin Jungkook pilu.


"Baiklah, kita akan bercerai."


Sana menggigit bibir bawahnya menahan tangis, Ia sedih dengan hidupnya ini. Tak bisakah Sana bahagia? Ia lelah mengahadapi semua ini.


"Sana aku akan secepatnya melepaskanmu, setelah itu berjanjilah untuk sembuh. Karena kalau kamu sembuh, aku gak akan menyesal karena telah melepaskan kamu."


Sana mengangguk dengan bahu yang bergetar, dan tak lama tubuh kecil itu sudah di peluk oleh Jungkook.


Ya ini demi kebahagiaan semua orang. Bukankah harus ada pengorbanan di kehidupan ini? Mungkin perpisahan ini memang jalan terbaik bagi mereka.


"Terimakasih karena telah menjadi wanita yang pernah hadir di hidupku, maaf aku belum bisa membahagiakan mu."


                                      🍂


Dan seminggu kemudian, perceraian itu terlaksana.


Kini Jungkook dan Sana sudah bercerai dan tak ada ikatan apa-apa lagi. Pengasuhan Yeonjun jatuh ke tangan Sana, tentu saja itu permintaan Jungkook. Ia tak akan sejahat itu membawa Yeonjun, lagi pula bukankah kini Yeonjun adalah segalanya bagi mantan istrinya itu.


Jungkook melamun di jok mobilnya, sidang penceraian itu sudah berakhir dari satu jam yang lalu. Tapi Ia masih betah diam melamun di dalam mobil depan gedung penceraian tadi.


Menyesal, itulah yang Jungkook rasakan. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena telah membawa Sana masuk ke dalam kehidupannya, sedangkan tenyata Jungkook tak bisa membahagiakan wanita itu.


Jujur memang Ia kini tak lagi mencintai Sana, tapi rasanya Jungkook sudah sangat jahat karena tak bisa membahagiakan Sana.


Wanita itu tak salah, karena ini semua salahnya.


"Maafkan aku, semoga kamu bisa mendapat laki-laki yang lebih baik."


Setelah Jungkook berucap itu, Ia langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kalang kabut, Ia benci dengan dirinya sendiri.


Kau adalah pria brengsek Jungkook karena telah menyakiti dua istrimu. Mereka tersakiti karenamu, kau tak bisa membahagiakan mereka!


Jungkook memejamkan matanya saat melihat cahaya silau, tapi naas ternyata mobilnya tertabrak mobil besar hingga terjadilah kecelakaan parah.


Mobil yang di naiki Jungkook terpental jauh di aspal keras itu, dan berhenti setelah beberapa kali terguling.


Di dalam mobil yang sudah tak terbentuk itu, disana Jungkook meneteskan air matanya pelan. Tubuhnya mati rasa, bahkan posisinya terbalik. Dengan banyak darah yang mengalir dari pelipis dan hidungnya, pria itu tersenyum tipis.


"Tuhan mungkin ini adalah hukuman yang tepat untukku, terimakasih."


Dan kegelapanpun menyerangnya.


                                       


T**AMAT**