My Heart

My Heart
Episode 22



Vote sebelum membaca ❤


.


.


Jungkook menyuapi Yeonjun sayur dengan telaten. Steak yang Ia pesan bahkan belum di makan, karena lebih mementingkan Yeonjun.


Setelah sayur kesukaan putranya itu habis, Jungkook pun membersihkan bibir putranya dengan tisu. Bukankah Ia adalah papah yang baik?


"Kenapa belum makan?"


Sana tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Jungkook. Wanita itu menggeleng sekilas sebelum memotong steak yang Ia diami.


Jujur hati Sana menghangat melihat perhatian suaminya pada Yeonjun. Walau kadang sakit hati karena Jungkook lebih suka bersama putranya, sedangkan Ia diabaikan tapi melihat kasih sayang dari Jungkook pada Yeonjun saja sudah membuatnya bahagia.


"Sana kamu bawa susu buat Yeonjun?"


"Em aku lupa gak bawa."


Jungkook menghembuskan nafasnya pelan. "Kenapa kamu gak lagi mau kasih asi ke Yeonjun?"


"Aku-Yeonjun udah gak mau minum asi." Gugup Sana.


"Benarkah? Tapi dulu Yuri gak. Padahal aku sebenernya belum setuju kalo Yeonjun minum susu formula di usianya yang masih kecil."


"Maaf ya."


"Hm."


Makan malam itupun berakhir, kemudian keluarga kecil itu memutuskan untuk langsung pulang. Ya Jungkook mengajak Sana dan Yeonjun makan di luar, sudah lama juga mereka tak keluar bersama. Bukan, bukan karena ingin terlihat romantis tapi jujur Jungkook kasihan melihat Sana yang tak pernah Ia perhatikan.


Saat sudah sampai apartemen, Sana membawa Yeonjun masuk ke kamar karena anak itu sudah tidur. Sedangkan Jungkook duduk di sofa ruang tamu, sambil menonton tv.


Jungkook sebenarnya tak betah disini, Ia lebih suka di rumah bersama  Chaeyoung. Tapi sialnya istri pertamanya itu malah memaksanya untuk menginap di apartemen beberapa hari. Bukankah aneh?


"Ini."


Jungkook melihat map biru yang di simpan Sana di meja. Pria itu terheran melihat map itu, lalu membawa dan membacanya.


Dan betapa terkejutnya Jungkook setelah tahu apa isi map itu.


Gugatan cerai


Apa-apaan ini?!


"Apa maksud kamu?" Tanya Jungkook.


Sana mencoba tersenyum disaat hatinya begitu sakit, sangat sakit. "Aku mau kita bercerai."


Jungkook menatap tak percaya Sana, Ia memperhatikan wajah wanita itu yang terlihat tak sedang berbohong.


"Cerai? Kamu kena_"


"Aku gak lagi cinta sama kamu."


"APA?!"


"Aku udah punya pria lain, dan sebentar lagi kita akan menikah."


Pengakuan itu membuat Jungkook terkejut setengah mati. Menikah? Sejak kapan Sana bermain di belakangnya?


Jungkook tertawa sinis menatap Sana yang sudah menjadi istrinya satu tahun ini. "Kamu gak lagi bohongkan?"


"Buat apa aku bohong. Pokonya aku mau kita cerai." Ucap Sana lalu melenggang masuk ke dalam kamar.


Jungkook terdiam dengan pikiran yang entah kemana, Ia terlalu syok dengan kejadian ini. Apa sekarang Ia bermimpi?


Map yang ada di tangannya kembali Jungkook buka, ya itu nyata surat gugatan cerai.


Tapi kenapa?


Perasaan hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja, walaupun kadang Jungkook bersikap tak adil pada Sana. Tapi benarkah wanita itu ingin bercerai darinya?


Selingkuh? Sungguh Jungkook tak menyangka Sana selama ini berselingkuh.


Jungkook mengacak rambutnya frustasi, sial mengingat wajah Sana yang tenang malah membuatnya sakit hati.


Jungkook pun memutuskan pergi dari apartemen, Ia butuh sendiri menenangkan diri. Jungkook tak mau marah-marah dan menghancurkan barang-barang di sini.


Sedangkan Sana, saat mendengar suara pintu apartemennya tertutup lagi wanita itu meluruh di lantai. Sana membekap mulutnya menahan isakan keras, hatinya sangat sakit.


Rasanya berat memutuskan hal itu, tapi ini demi kebaikan semua orang. Ya sudah cukup Ia menghancurkan rumah tangga orang lain, lagi pula Sana yakin jika Jungkook kini tak lagi mencintainya.


"Hiks kenapa sakit sekali?!" Isak Sana sambil memukul dadanya pelan.


                                      🍂


Jungkook menuangkan wine ke dalam gelas kecilnya, entah sudah berapa banyak Ia minum-minuman itu.


Kepalanya sedang kemana-kemana, Ia frustasi.


"Ck."


Pria itu berdecak sebal mengingat kejadian tadi di apartemen, kembali Ia lihat map itu di meja.


Jungkook terkekeh pelan, lalu menyingkirkan map itu hingga jatuh ke bawah.


Entah apa yang Jungkook rasakan. Sakit hati atau perasaan marah. Yang pasti Ia benar-benar tak suka mengetahui satu fakta itu.


"Jungkook?"


Jungkook menoleh ke belakang, Ia tersenyum tipis melihat Chaeyoung yang masuk ke dapur.


Chaeyoung mengernyitkan keningnya melihat botol anggur di meja, walaupun minuman itu tak terlalu beralkohol tapi Ia tetap tak suka.


"Kamu minum?"


"Hm sedikit."


"Sedikit tapi abis setengah botol." Ketus Chaeyoung.


Wanita itu membawa botol wine lalu di masukan ke dalam kulkas. Tak baik juga jika minum terlalu banyak, apalagi ini sudah malam sekali.


"Kamu kenapa disini?"


Jungkook menghembuskan nafasnya pelan tanpa menjawab pertanyaan itu.


"Aku kan sudah bilang kamu harus bisa membagi waktu yang adil buat aku dan Dia, tapi kamu masih aja gak ngerti."


"Maaf."


"Kenapa minta maaf? Jungkook kamu sadar kan kalau punya DUA istri, kamu juga harus adil. Aku merasa kamu berubah pada Sana, apa rumah tangga kalian baik-baik aja?"


Jungkook masih diam menunduk.


"Sana sangat butuh perhatian kamu Jungkook, Dia-"


"Kamu juga butuh perhatian aku Chaeng, sudah cukup selama ini kamu selalu mengalah. Jangan jadi wanita yang terlalu baik Chaeng, itu malah membuat aku semakin merasa bersalah." Ucap Jungkook menatap dalam istrinya yang berdiri di hadapannya.


Sedangkan Chaeyoung langsung terdiam, bernarkah apa yang di katakan pria itu?


Jungkook berdiri dari duduknya, Ia menggenggam ke dua tangan istrinya.


"Kamu terlalu baik Chaeng, dan harusnya wanita sebaik kamu gak di pertemukan dengan pria brengsek ini. Aku menyakiti kalian, maaf."


Dengan perlahan Chaeyoung bisa melihat mata Jungkook yang sudah meneteskan air matanya. Sungguh Chaeyoung tak mengerti apa yang Jungkook ucapkan.


"Menyakiti siapa?"


"Kalian, kau dan Sana. Aku menyakiti wanita sebaik kalian, maafkan aku." Bahu pria itu berguncang dan terisak keras. Baru kali ini Jungkook berani menangis di depan Chaeyoung.


"Jungkook-"


"Dia minta bercerai."


"Ap-"


"Sana ingin bercerai Chaeyoung, wanita itu sudah sangat tersakiti karena aku."


Chaeyoung membelakan matanya tak menyangka dengan ucapan Jungkook, kaget itu yang Ia rasakan.


Sana minta bercerai? Tapi kenapa? Batin Chaeyoung.


"Dia selingkuh dengan pria lain dan mereka akan menikah sebentar lagi."


Chaeyoung melepas genggaman tangan itu, Ia menatap tajam Jungkook.


"Jadi kamu setuju?"


"Iya."


"Kamu emang gak punya perasaan Jungkook, kamu pikir Sana benar dengan pengakuan itu! Aku yakin Dia pergi bukan karena itu, Sana sudah tersakiti Jungkook!"


"Tapi kamu yang lebih tersakiti Chaeng, wanita itu adalah perusak per-"


Plak!


"SANA SAKIT!!"


Jungkook tak menyangka mendapat tamparan itu, Ia sangat syok menerima itu karena baru pertama kali. Tapi mendengar apa yang di ucapkan Chaeyoung entah kenapa malah lebih membuatnya kaget.


"Dia sakit Jungkook, dia butuh kamu hiks!"


"Chaeng apa yang-"


"Kanker, dia punya penyakit itu." Chaeyoung menatap suaminya dengan pandangan sendu. "Jangan tinggalakan Sana, Jungkook, Ia kini sangat butuh kamu."


Jungkook merasa dunianya berputar, kepalanya langsung berat mengetahui satu fakta itu.


Kanker?


Sana punya penyakit kanker?


Sejak kapan?


"Temani dia Jungkook, jangan tinggalakan wanita itu sendiri. Sana butuh kamu, wanita itu harus sembuh demi Yeonjun." Ucap Chaeyoung lirih.


Sakit sekali rasanya mengucapkan itu pada Jungkook. Tapi ini memang sudah saatnya Jungkook tahu, pria itu harus tahu semuanya. Selama ini Jungkook sudah di bohongi oleh Sana, tapi kenapa mengungkapkan hal itu harus sesakit ini?


"Aku mohon jangan ceraikan Sana, Jungkook."