
Perancis, negara yang ditetapkan sebagai salah satu yang memiliki pelayanan kesehatan terbaik menurut WHO. Tempat dimana Gamma memutuskan menyembuhkan kakinya disana, serta memboyong Ailee. Wanita itu terlihat sangat senang saat Gamma memberi tahunya bahwa rumah sakit terapi yang ia pilih ada di Perancis. Terbukti dari sinar dan senyum yang tak sedikitpun luntur dari wajah sang istri.
“Apa kau tak pernah pergi ke Perancis?” sambil bertanya tangan Gamma menyodorkan mangga muda yang telah bersih dari kulitnya pada Ailee. Ia terlihat ngeri saat menyaksikan bagaimana istrinya memakan langsung mangga bewarna putih itu dan melahapnya habis. Pasti rasanya benar-benar asam.
“Emm akwuuu... tak pewnah keswna... emm,” Ailee menjawab dengan mulut yang penuh dengan mangga, melihat itu Gamma mati-matian menahan tawanya. Ailee benar-benar lucu sekarang, dia begitu nampak antusias dengan buah yang bahkan terlihat tak nikmat bila disentuh lidah Gamma.
Ia mengelap pelan bibir Ailee, “Jangan makan sambil bicara, nanti kau tersedak...”
“Ya... tapi aku memang tak pernah ke Perancis... alm ayahku selalu melarangku untuk pergi ke negara-negara yang jauh dari Indonesia. Bahkan saat Arslan menikah denganku, aku tak pernah keluar rumah...”
“Aku tak bertanya tentang pria itu,” wajah Gamma kini terlihat amat muram. Sepertinya pria itu tak suka Ailee menyebut nama mantan suaminya ditengah pembicaraan mereka. Namun sayangnya Ailee terlanjur mengatakan itu.
“Maaf Al...” Ailee memelas. Ia mengutuk lidahnya sendiri karena asal bicara dan merusak suasana, ditambah lagi mangga kesukaan Ailee malah tak kunjung berada dimulutnya. Gamma enggan menyuapi Ailee lagi, “Aku tak bermaksud membahas atau menyebut soal Arslan. Kau jangan cemburu lagi ya... aku kan milikmu...”
‘Milikmu’ tanpa sadar kata-kata itu membuat Gamma tersenyum, hilang sudah rasa cemburunya karena Ailee sembarangan membahas soal Arslan. Ia menoleh ke arah sang istri dan mendekatkan tubuhnya condong ke Ailee, “Kau memang miliku Ailee, pria manapun tak berhak menyentuh istriku ini...” bau keposesifan mulai tercium. Ailee memundurkan kepalanya sehingga hampir membentur jendela kecil jet pribadi Gamma. Untungnya pria itu malah menarik diri.
“Tapi jika kau diberi pilihan kau akan memilihku atau Arslan itu, katakan diantara kami siapa yang paling terbaik?” tangan Gamma kembali menyuapi Ailee mangganya yang telah ditunggu-tunggu.
Sebelum menjawab Ailee terlebih dahulu menelan habis mangganya, “Aku tak tau, mungkin kalian sama. Sama-sama pernah menyiksaku...”
“Ailee itu masalalu.”
“Iya aku tau Al... tapi aku dulu juga pernah mencintai Arslan sama seperti aku yang juga mencintaimu... aku tak begitu mengingatnya, yang bisa kupastikan aku berjuang untuk mendapatkan hati para suamiku. Meski aku berakhir menyesal karena harus kehilangan Ivory...”
“Maksudmu tak mengingatnya?” alis Gamma terangkat menunjukan bahwa ia tak mengerti dengan perkataan Ailee.
“Entahlah... kata Arslan karena aku keguguran aku mengalami syok berat yang membuatku selalu berusaha mengakhiri hidupku, dan akhirnya dia memutuskan untuk meminta dokter menghapus sebagian ingatanku,” Ailee mengelus-elus perutnya sembari menerawang ingatannya. Sampai sekarang hanya beberapa gambaran yang bisa ia ingat tentang betapa kacaunya kehidupan pernikahan Ailee dengan Arslan dulu. Intinya ucapan Arslan bahwa Ailee pernah mencintai pria itu memang benar. Ia membalikan posisinya menjadi sepunuhnya menatap Gamma, sembari tersenyum manis Ailee melihat wajah suaminya yang begitu tampan dan memikat.
“Aku tak pernah menyangka kau mengalami itu semua...” Gamma turut menghadap Ailee. Tangan kanannya tergerak menyingkirkan anak rambut Ailee dan menyelipkannya kebelakang telinga, “Kenapa kau menatapku begitu...?”
“Aku... hanya merasa beruntung, mungkin jika aku tak mendengarkan permintaan terakhir ayahku selamanya aku tak akan pernah menjadi milikmu Al.”
“Permintaan?”
Ailee mengangguk, “Hemm... ayah ingin aku tak menyerah untuk merebut hati suami aroganku ini... dia terus mengatakan bahwa kau berhak mendapatkan cinta yang baru... meski itu artinya aku harus berjuang sekali lagi...”
Entah pada kehidupan sebelumnya Gamma melakukan apa sehingga mendapatkan hal yang luar biasa seperti ini. Lahir di keluarga yang sempurna dan lebih berkecukupan juga bisa merasakan rasanya mencintai seseorang. Meski awalnya dia harus merasakan kepahitan saat kehilanga orang yang ia cintai, namun tuhan kembali memberinya secercah cahaya baru. Padahal saat itu Gamma sempat berhenti percaya pada hidupnya dan Tuhan.
Ia mendekatkan dahinya dengan dahi Ailee hingga tak ada jarak yang bersisa diantara mereka, “Syukurlah kau tak lelah untuk mengejarku Ailee, syukurlah kau tak lelah untuk menyadarkanku bahwa aku sudah mencintaimu saat itu..”
Sebuah lagu terputar menjadi backsound suasana yang begitu penuh haru dan romantis itu. Entah siapa yang memutar lagu berjudul ‘All I Want’ itu. Hingga saat keduanya jatuh tertidur dalam mimpi yang menenangkan, lagu itu tetap berputar mengiringi kehangatan diantara mereka.
[]
Setelah tiba di Perancis. Ailee dan Gamma tinggal sementara disebuah Villa yang kata Adam adalah milik keluarga Canis. Pada saat itu Ailee benar-benar tak habis pikir, meskipun keluarganya juga kaya namun tak mungkin sekaya keluarga sang suami yang bahkan setiap keluar negeri selalu memiliki Villa.
Namun bukan itu tujuan terbesarnya. Beberapa minggu telah berlalu sejak mereka meninggalkan Indonesia. Ailee lebih memilih memfokuskan dirinya untuk selalu ada disamping Algamma. Ia selalu dengan rutin mengantar pria itu mengikuti terapi kakinya tanpa menginginkan hal lain seperti mengajak Gamma untuk sekedar berlibur ke Perancis. Bagi wanita itu kesembuhan sang suami adalah nomor satu.
“Hati-hati,” pada saat ini Ailee dengan telaten membantu Gamma. Ia memeggang lengan sang suami sedangkan tangan Gamma yang lainnya menopang pada sebuah tongkat khusus yang diberikan dokter terapi untuknya.
“Duduklah Ailee... aku akan mencobanya sendiri...” ujar Gamma yang terdengar seperti perintah.
“Ta—tapi Al...”
Tatapan tajam langsung melayang menusuk Ailee. Dengan enggan wanita itu berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan bokongnya disana. Raut khawatir dengan kaki yang gatal ingin berlari jika melihat Gamma akan terjatuh tak hilang dalam benak Ailee.
Namun sepertinya Gamma memang benar-benar ingin mencoba berjalan sendiri tanpa bantuan Ailee. Ia tak mau membuat wanita itu kelelahan karena terlalu fokus mengurusi kesembuhannya. Dengan tekad kuat pria itu terus melangkahkan kakinya meski tertatih. Untungnya sebelum melakukan terapi dokter di rumah sakit Perancis yang menjadi dokter terapi Gamma terlebih dahulu mendiagnosa ulang dan menyatakan bahwa kaki Gamma tak sepenuhnya lumpuh permanent. Dan hal itu semakin memudahkannya untuk sembuh.
Gamma benci melihat Ailee mengkhawatirkannya terus menerus. Padahal kondisi wanita itu juga sedang berbadan tiga, pastinya beban Ailee lebih berat dari Gamma.
“Lihat aku berhasil duduk disampingmu tanpa bantuan sedikitpun,” anggukan kepala Ailee menyatakan bahwa Gamma telah berusaha keras.
“Ahsss....” suara ringisan Ailee yang kencang membuat Gamma menoleh dengan panik, “Ada apa, Ailee? apa ada yang sakit? atau... atau jangan-jangan kau mau melahirkan disini? tapi—“
Ailee memotong rentetan kalimat kepanikan yang keluar dari bibir sang suami. Sambil menggeleng ia menelusupkan tangan Gamma kedalam kausnya, “Ini bukan waktunya melahirkan, masih beberapa bulan lagi twin lahir...”
“Lalu kenapa kau terlihat kesakitan Ailee? Apa karena kelelahan, aku kan sudah berulang kali mengatakan tak perlu mengantar aku terapi setiap hari, Aiden bisa mengantarku...” Ya sebagai pengganti Alpha kecil yang tak ikut ke Perancis, Aiden dikirim sebagai tambahan untuk membantu keduanya saat terjadi sesuatu yang tak diduga.
“Tidak.. tidak Al. Bukan karena itu, mereka hanya terlalu aktif menendang perutku.... kau bisa merasakannya sendiri.”
Saat menyentuh perut Ailee memang benar ada pergerakan yang tiba-tiba bergejolak sehingga tangan Gamma mampu merasakannya. Ia tahu kedua anaknya memang kadang suka berpolah didalam perut Ailee namun tak seperti biasanya sampai bisa membuat Ailee meringis kesakitan begini. Atau apakah selama ini Ailee menahan tendangan mereka?
“Apa selama ini kau kesakitan karena tendangan mereka tapi tak mau bilang padaku?” selidik Gamma.
Ailee cengengesan, “Mereka sedang senang karena dadnya sebentar lagi bisa kembali berjalan..”
“Ailee...” pria itu nampak emosi dan mungkin akan segera mengomeli Ailee. tetapi sayangnya dugaan Ailee salah sasaran. Gamma justru menyingkap kaus Ailee hingga terangkat ke atas lalu mendekatkan wajahnya ke arah perut Ailee. “Hei, twin, sedang apa didalam? apa sedang bermain? jika sedang bermain atau adu perang tunggu sampai kalian lahir ya... jangan menyakiti mommy dengan tendangan kalian yang keras itu. Twin pasti tak mau kan melihat mommy kesakitan...”
“Bagaimana?” yang ditanya malah terkekeh pelan.
“Adu perang? kau kira perutku itu medang perang Al.”
“Jangan menertawakanku... jika bukan karena kakiku yang tak berdaya ini aku sudah menghukummu dengan melahap habis dirimu Ailee... lain kali katakan dengan jujur apa yang kau rasakan, akukan suami dan ayah dari mereka.”
[][]
Oke stop dulu sampai sini. Skip dulu hehehe. Maaf ya dibagian ini gak banyak hal yang penting. Tapi aku tetap berusaha nulis kok dan berusaha menemukan alur baru hehe.
Semangat untuk diriku sendiri ;)