
Pagi Ini Ailee tidak langsung menuju Cafe SA. Sang Ayah, Alfred. Memintanya untuk segera pulang ke rumah. Ailee menolaknya mentah-mentah namun apa daya Ayahnya lebih pandai mengancam.
Ailee melangkah masuk dengan wajah kesal ke dalam rumah besar yang beberapa waktu lalu menjadi tempatnya melepas kesedihan. Yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia melihat Alfred duduk di sofa ruang tamu seolah memang sudah menunggu kedatangannya.
"Langsung saja. Apa yang ingin ayah bicarakan? Aku sangat sibuk hari ini." saut Ailee berjalan lalu duduk disamping sang ayah. Ia tak peduli bahwa saat ini kelakuannya dianggap tak sopan kepada orang tua.
"Rujuklah dengan Ars... Itulah yang ayah ingin bicarakan sejak dulu." Ailee mebelalakan matanya. Lagi dan lagi Alfred memintanya rujuk dan rujuk.
"Sebenarnya apa alasan ayah memaksaku rujuk dengan Ars? Aku sudah berulang kali menolak rujuk dengannya namun mengapa ayah tetap keras kepala. Apakah begitu penting rujuk dengannya?"
Alferd memandang Ailee dari sudut matanya, "Penting. Alasannya karena jika kau tak rujuk lagi dengannya maka perusahaan ayah tak akan mendapatkan keuntungan. Dengan menikah selain keuntungan ayah juga berpikir Ars adalah pria yang baik untukmu dia mampu menjagamu Ailee." Raut muka Alferd justru menujukan hal sebaliknya. Ada kekhawatiran dimata pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan berwibawa itu.
"Jadi hanya karena perusahaan? Bukankah ayah sudah mendapatkannya saat aku menikah dengan Ars waktu itu. Dia tak mungkin sepicik itu menarik kerja sama hanya karena kita sudah bercerai." Ailee kecewa dengan jawaban sang ayah. Ia kira waktu Alferd mampu sedikit saja menjadi sandarannya saat tau Astoria mempertaruhkan Ailee, Alferd sedikit berubah menjadi perhatian. Tapi sepertinya Ailee yang terlalu berharap. Bagi Alferd perusahaan mungkin adalah yang terpenting.
"Ayah tak peduli dengan itu Ailee. Ayah hanya ingin kau rujuk dengan Ars..."
"Aku tetap tidak mau. Mengapa ayah tak memikirkan aku? Mengapa ayah terus memaksaku?"
Alferd menangkap kedua bahu Ailee, "Rujuk atau ayah akan menghancurkan Cafe SA mu itu. Aku adalah ayahmu aku bisa melakukan apapun untukmu Ailee. Ini hanyalah masalah rujuk kau yang keras kepala."
Ailee menangis menatap mata Alferd yang penuh keseriusan, "Aku tetap tak mau..." Ailee melepaskan kedua tangan Alferd yang menekAn bahunya, ia membuang wajahnya enggan menatap ayahnya, "Ayah kejam, ayah egois. Jika memang keuntungan yang ayah inginkan, aku bisa memberikannya tanpa harus rujuk dengan Ars."
Ailee perlahan berdiri dari duduknya yang berhadapan dengan Alferd, ia mengusap air matanya dengan kasar. Bukankan sudah kesehariannya tak mendapatkan perhatian orang tuanya sejak kecil, namun mengapa kali ini Ailee tak bisa tegar? Ailee mungkin terlalu terbuai dengan pelukan yang diterimanya dari Alferd waktu itu.
"Aku akan menikah tapi tidak dengan Ars, aku akan mencari mempelaiku sendiri yang bahkan dapat memberikan ayah banyak sekali keuntungan! Dan ingat jangan harap bisa menghancurkan SA, jika ayah tak ingin aku tambah membenci ayah!" Ailee berbalik dan pergi dari rumahnya dengan kecewa. Perasaannya bercampur aduk di pagi hari yang seharusnya menyenangkan.
Sedangkan Alferd hanya bisa menghela nafas melihat putrinya pergi begitu saja karena kecewa dengannya, ia bergumam pelan, "Maaf Ailee, maafkan ayah. Waktuku tak banyak aku hanya ingin kau tidak sendirian..." lirihnya sembari memejamkan matanya dengan punggung bersandar di kepala sofa.
[]
Ailee berjalan gontai tadinya ia begitu bersemangat menjalani harinya di SA. Namun sepertinya semua sudah tak sama lagi hanya karena ayahnya yang menghancurkan semua. Ailee mengumpati dirinya sendiri berulang kali karena dengan sembrono membuat keputusan menikah lagi.
Apalagi bukan dengan Arslan yang jelas-jelas mempelai pria yang paling cocok dan Ailee kenal. Hanya karena wanita itu memiliki rasa yang tak lagi 'care' dengan Ars, Ailee malah membuat keputusan menikah dengan pria lain. Pria lain? Jangan tanya, Ailee tak punya teman pria yang mau di ajak menikah tiba-tiba kecuali Ars.
Dia adalah orang yang kurang dalam urusan pria. Walau kenyataannya banyak yang mendekati Ailee bahkan ketika wanita itu tak perlu lagi mencari perhatian pada mereka.
"Lemes amat sih bu..." Saut Aira, saudara kembar Ira--dia baru bekerja beberapa hari yang lalu saat Ira sakit.
Ailee menoleh memandang Aira sembari memaksakan dirinya untuk sekedar memberi senyum. Namun nampaknya Aira tau bahwa Ailee memang sedang dalam mood yang buruk. Ia membiarkan Ailee berjalan masuk kedalam ruangan pribadinya begitu saja meski banyak pertanyaannya tentang sang majikan.
Tring!
Ailee melirik kedalam tas sakunya, salah satunya terlihat bergetar karena benda pipih milik Ailee. Ia merogoh dan segera mengangkat panggilan yang ternyata dari sang mantan suami, yang menjadikan moodnya hancur pagi ini. Dengan tak ikhlas Ailee mengangkatnya.
"Maaf Ailee aku tak bisa pulang dalam waktu dekat ini..." Ars seolah sedang memberinya kabar yang padahal Ailee sendiri tak menantikannya.
"Tak apa Ars. aku mengerti, jangan pikirkan aku dan lekaslah selesaikan pekerjaanmu oke?" yang sebenarnya Ailee buru-buru ingin mengakhiri perbincangannya. Dia takut jika emosinya terbawa saat bicara dengan Ars.
Ailee diam-diam tersenyum amat tipis, ucapan Ars yang begitu lembut dan syahdu ditelinganya terdengar sangat tulus membuat Ailee sendiri merasa bersalah hampir menyalahkan Ars akan segalanya, "Aku juga. I miss you Ars..." Ailee menjawab sekenanya, ia sama sekali tak paham bahwa jawabannya saat ini mampu membuat relung hati Ars--si penerima menghangat.
Tok tok tok
Ailee menoleh melihat kepala Ira yang muncul mengintip dirinya. Mulut gadis itu terlihat terbuka hendak mengucapkan sesuatu, "Bu.. Ada mba Valery didepan katanya mau ketemu ibu..." ucapnya. Ailee mengangguk pelan mengkode pada Ira bahwa ia akan mengakhiri panggilannya terlebih dahulu dengan penelpon.
Setelah pamit dengan Ars Ailee membawa dirinya menghampiri Valery yang tengah menunggunya itu. Dia tersenyum sumringah lalu memeluk lengan Ailee yang dilihatnya tengah menghampiri.
"Ada apa kau kemari?"
"Mengapa memangnya?" Valery mengerucutkan bibirnya, "Aku hanya ingin mengobrol denganmu, kemarin kemarin tak sempat karena ada Alpha."
"Ah iya tumben Alpha tidak ikut?" Valery memutar bola matanya dengan begitu malas.
"kau ini sudah jangan menanyakan Alpha. Sudah lama kita tidak mengobrolkan, kudengar dari pegawai ramahmu kau sedang tak mood, ada apa?" Ailee menyuruh Valery duduk terlebih dahulu. Mereka berdua pun duduk saling berhadapan.
Ailee sedikit menghela nafas. Mungkin dengan bercerita dan meminta solusi pada Valery dapat membuat dirinya tak lagi terganggu, "Ayahku memintaku menikah lagi..." jelasnya dengan nada melemah.
"Menikah lagi? Memang kau pernah menikah?" Ailee mengangguk sebagai jawaban sedangkan Valery terlihat terbelalak mendengar kesaksian Valery.
"Kapan? Dengan siapa?"
"Aku dijodohkan dan kami bercerai karena tak cocok mungkin seperti itu..."
"Lalu apa alasan ayahmu memintamu menikah lagi?"
Ailee terlihat enggan menjelaskan alasannya namun ia tetap ingin menjawab, "Kau kan tau ayahku hanya ingin perusahaannya baik-baik saja jadi dia ingin mendapatkan menantu yang bisa mengembangkan usahanya itu. Jika aku menolak cafeku yang akan dikorbankan..." lirihnya.
"Kalau begitu kau tinggal balikan dengan mantanmu itu sajakan."
Ailee menggeleng, "Aku tak mau... Aku merasa rujuk dengan Ars bukanlah pilihan terbaik..." wanita itu menarik tangan Valery dengan binar-binar kepasrahan, "Vale..." ia seperti putus asa, "Bisakah kau carikan aku calon suami? Kumohon? Aku tak mau SA dihancurkan..."
Valery lagi-lagi dibuat terkejut, "Kau gila ya? memangnya kau tak punya calonnya?" Ailee mengangguk polos, "Aish.. pantas saja lee ayahmu menjodohkanmu begitu. kau benar-benar seperti membutuhkan pria..."
[][]
Hi Kembali lagi hehehe
lama banget ga update wkwk
kebiasaan ngaret hehe maklumin ya.
Ayo sukarela kasih jempol ya dengan ikhlas. hehe