
Beberapa hari Kemudian...
Ellish berdiri menghadap Eizen yang kini tengah menatapnya dengan pandangan serius. Pandangan yang dipenuhi ketegasan dan kebijaksanaan, membuat Ellish merasakan keteduhan yang baru ia rasakan setelah sekian lama tak pernah menganggap Eizen sebagai keberadaan spesial. Bagi Ellish pria dihadapannya hanyalah orang asing yang sama sekali tak berhak mengatur hidupnya. Namun sekarang pria itu juga yang sampai akhir selalu mengawasi Ellish, bahkan mengulurkan tangannya ketika ia terjatuh.
“Kak...”
Untuk pertama dan terakhir kalinya Eizen menyunggingkan senyum, “Pergilah Ellish. Temukan cintamu yang sebenarnya...” Ellish bungkam. Ingin sekali ia yang pertama membuka suara dan mengatakan kata maaf untuk Eizen namun lidahnya terasa kelu seiring terciptanya suasana canggung diantara dirinya dan Eizen. Tetapi mata Eizen yang tajam jelas menunjukan bahwa ia tak pernah terganggu dengan adanya Ellish.
“Kebahagianmu pasti ada disuatu tempat.” lanjut Eizen dengan tangan yang menepuk kepala sang adik sembari terkekeh pelan—melihat kedua mata Ellish yang hendak menangis, karena terharu, membuat Eizen lega. Biarkanlah Eizen sedikit meninggalkan kenangan pada Ellisha, kenangan kasih sayang yang selama ini Eizen rasakan untuknya.
“Ma—maaf kak... maaf atas semuanya. Maafkan aku dan ibuku yang menghancurkan hidup kakak dulu. Maaf karena aku merebut segalanya dari kakak... Maafkan Ellisha hiks...”
Ssst...
Eizen menggeleng lalu menghapus bulir air mata yang menetes dari bola mata adiknya, “Lupakan semua Ellish. Aku juga salah, aku terlambat menjadi kakak yang baik untukmu, aku hanya selalu menghentikanmu dengan kekasaran... Jadi lupakan semuanya. Lupakan...
“dan pergilah, jangan pernah menoleh kebelakang dimana masalalu kelam berada disana...”
“Terima kasih kak...” Gadis itu mengangguk dengan senyuman tulus yang ia berikan hanya untuk sang kakak, Eizen Mahony.
Sebelum pergi untuk terakhir kalinya Ellish memberanikan dirinya untuk memeluk tubuh tegap Eizen. Menikmati kehangatan yang tersisa disana dan menyimpannya. “Tolong sampaikan maafku pada Kak Gamma, katakan padanya aku merelakan dia...”
Setelah itu Ellisha melambaikan tangan kanannya dengan bangga. Dari sini hidupnya baru akan dimulai, tanpa cintanya pada Gamma, tanpa obsesinya pada pria itu juga tanpa kebencian. Sedangkan Eizen berdiri terus memandang Ellish sampai siluetnya menghilang diantara kerumunan manusia yang memenuhi Bandara. Ellish akan mengisi kehidupannya dengan hal yang baru begitu pula dengan Eizen juga Elgard.
[]
“Bagaiamana keadaanmu?”
Adam duduk disamping putranya. Gamma. Pria itu terlihat jauh lebih segar setelah mengalami kecelakaan tak terduga yang membuat dirinya juga Ailee hampir celaka.
“Seperti yang dad lihat...” Gamma mengendikan bahunya. Jemari tangan kanannya terlihat sibuk menekan-nekan remote televisi rumah sakit yang kini menyala didepan matanya. Ia terlihat sangat bosan karena tak ada Ailee disampingnya. Padahal ia hanya ingin berduaan dengan Ailee namun karena ulah sang ayah yang meminta Ailee beristirahat dirumah Gamma tak bisa menemui Ailee. Pria itu jelas sangat tahu bahwa itu hanyalah alasan sang ayah untuk menganggu kesenangannya.
“Kecelakaan itu diatur oleh keluarga Mahony. Aiden telah menyelidikinya...” Tanpa memandang Adam, Gamma menganggukan kepalanya. “Jadi apa yang akan kau lakukan pada mereka...?”
“Tidak ada.”
Jawaban Gamma seketika membuat Adam kebingungan. Dahinya berlipat membentuk kerutan-kerutan halus. Ia terheran, sangat aneh sekali seorang Gamma yang selalu membenci seseorang yang berniat menyakiti orangnya malah terlihat santai kini, biasanya pria itu akan melakukan skala penghancuran besar agar penjahat jera ingin mengusik keluarganya tak terkecuali dari keluarga terhormat sekalipun. Penjahat itu tak akan pernah lolos.
“Maksudmu dengan ‘tidak ada’ itu apa?”
“Maksudku sudah jelas. Aku tak akan melakukan apapun.”
“Dokter bilang otakmu tak mengalami cedera parah. Tapi yang kulihat sepertinya tidak begitu... apa kau mengalami cedera yang membuat hatimu melembut...”
Gamma memelototi sang ayah. Benar-benar pria pengusik, “Eizen akan kemari, menjelaskan semua. Sudahlah kau lebih baik pergi. Menganggu saja...” Sekarang Gamma sudah tak peduli jika dirinya harus menambah predikat anak kurang ajar. Karena jujur kehadiran Adam benar-benar mengganggu kententraman dan kedamaian hidupnya. Ayah dan anak itu sama sekali tak cocok dalam habitat yang sama.
“Aku akan pergi. Tapi tak hanya itu yang ingin kusampaikan...” Adam meneggakan posisi duduknya, “Kondisi kedua kakimu tak bisa kau anggap sepele. Kau masih mati rasa kan?” Gamma tetap santai memandang sang ayah.
“Jika begitu biarlah. Asal Ailee baik-baik saja aku rela kehilangan apapun.”
“Aku tahu hanya itu yang ada dipikiran otak bodohmu itu. Tapi pikirkan Ailee. Jika dia tahu bahwa kau kemungkinan mengalami kelumpuhan, ia pasti akan syok... masih untung dokter mau membantu kita mengatakan pada Ailee bahwa kakimu hanya tak bisa berjalan sementara..” Adam menjeda ucapannya. Ia mengingat wajah Ailee, sang menantu, ia tak sanggup jika harus menyampaikan semua yang terjadi pada Gamma. Itu sama saja menghancurkan Ailee.
“Kebenaran tak akan pernah bisa kau tutupi selamanya. Suatu saat bangkainya pasti akan tercium.”
“Aku tau. Tapi aku tidak bisa memberitahunya sekarang...dia pasti semakin merasa bersalah karena ini...” Dan pastinya Gamma tak ingin itu terjadi. Ailee sudah terlalu sedih karena Gamma hampir kehilangan nyawa demi menyelamatkannya. Bahkan mungkin wanita itu masih menyimpan jutaan rasa bersalah yang tak bisa dikatakan pada Gamma. Bagaimanapun Ailee itu pandai menyembunyikan rasa sedih dan rapuhnya. Gamma tak mau semakin menambah beban yang malah membuat Ailee syok disaat dirinya tengah hamil. “Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan memberitahu setelah kehamilannya lebih dari 3 bulan...”
“Baiklah. Tapi setelah itu lakukan terapimu diluar negeri. Terapi disini hanya membuat Ailee semakin menunggu lama.” Gamma mengangguk pelan. Tanda bahwa ia menyetujui pendapat Adam.
“Aku tidak akan membuatnya menunggu lagi dad. Setelah kandungannya lebih besar lagi, dia bisa ikut menemaniku untuk terapi...”
Bugh
“Assstt....” Gamma meringis dengan wajah ngilu. Kembali Adam memancing kekesalannya dengan memukul bahu kanannya. Padahal saat ini tangan kanan Gamma juga mengalami cedera namun dengan teganya pria itu menepuk dengan tak santai. “Tak bisakah kau sebentar saja bersikap selayaknya seorang ayah yang bijaksana. Menyebalkan.” Gamma mengusap bahunya, berharap rasa sakitnya menghilang.
Sedangkan Adam terlihat salah tingkah dengan tawanya yang terbahak-bahak, “Maaf aku lupa jika tanganmu juga cedera...”
“Cih, mungkin dad akan segera mengalami yang namanya monopouse...” Tanpa Gamma sadari ucapan asal jeplaknya itu membuat Adam murka. Pria itu terlihat berang tak terima dikatai ‘Monopouse’ oleh putranya sendiri. Akibatnya karena kesal, Adam kembali menekan kali ini tepat di cedera tangan kanan Gamma. Ia menekan lengan putranya dengan tenaga tanpa mempedulikan teriakan Gamma yang menahan sakit.
Kriet...
“Mas Adam!! Apa yang kau lakukan?!”
[][]
Hi selamat malam, jangan lupa tidur nyenyak untuk hari ini.