MI VOLAS VIN

MI VOLAS VIN
MEMILIKIKU



Leonardo bersandar di samping pintu lobby sambil merokok. Ia mendengar semua pembicaraan yang terjadi di dalam sana. Antara Jasmine dengan atasannya. Antara Jasmine dengan nasabahnya. Antara Jasmine dengan rekan satu kantornya.


Leonardo menyeringai saat mendengar semua itu. Jasmine dengan berani melawan mereka.


"Suru sopir membawa mobilku kemari, Kesya. Aku akan mengemudi sendiri." Leonardo menginjak puntung rokoknya.


"Yang mana, Tuan?" tanya Kesya, Leonardo punya satu lusin mobil pribadi di dalam garasinya.


"Yang merah saja."


"Baik, Tuan."


"Dan kau, Kato! Kapan kau akan membunuh suaminya?" Leonardo menunjuk batang hidung pengawalnya itu.


"Mohon maaf, Tuan Leon. Baru saja orangku kehilangan jejaknya." Kato menundukkan kepala, malu karena lagi-lagi gagal.


"Di mana pria itu saat ini?"


"Di kota sebelah, perlu dua jam menaiki kereta. Tiga sampai empat jam berkendara." Kato melaporkan keberadaan Rafael.


"Ah, padahal aku sudah bertekat memberinya kebebasan sampai suaminya mati. Tapi sepertinya aku harus muncul dan memberi para bedebah itu pelajaran," tukas Leonardo, ia berjalan masuk ke dalam bank.


Semua mata terperangan dengan kedatangan Leonardo. Hanya Jasmine yang menatapnya dengan nanar. Mata Jasmine merah dan sembab. Namun ada keberanian terpancar dari bola mata bulat itu. Jasmine menyenggol bahu Leonardo dengan bahunya saat mereka berpapasan.


"JERK!!" umpat Jasmine lagi lalu keluar dari pintu utama lobby bank.


Leonardo menyeringai, ia tak keberatan bila harus mendengar umpatan keluar dari bibir tipis wanitanya itu. Dia hanya keberatan dengan kata-kata kasar yang keluar dari bibir para bedebah di depannya saat ini. Yang dengan kasar menuduh wanitanya mencuri.


"Mari kita pikirkan hukuman apa yang layak untuk kalian semua." Leonardo mengelus dagunya.


"Tuan Leon, ada apa kemari?" Mata Kikan berbinar sudah lama ia tak melihat Leonardo sedekat ini. Ia mencoba meraih tangan Leonardo tapi pria itu menepisnya dengan kasar.


Ck, wanita yang memuakkan, pikir Leonardo.


"Tuan Leon, ada yang bisa saya bantu?" Samuel mendekati Leonardo.


"Kenapa kau memecat Jasmine?" tanya Leonardo.


"Dia mencuri uang milik nasabah ini sebesar tiga juta," jawab Samuel.


"Ah, begitu. Kesya, berapa asetku di bank ini?"


"Keluarkan semuanya, Kesya."


"A—apa? Jangan, Tuan Leon!! Anda baru saja menandatangani asetnya, bila Anda mengambilnya akan terkena denda pinalty yang tidak sedikit." Samuel mencegah Leonardo, sebagai kepala departemen marketing ia tak boleh kehilangan nasabah sebesar ini.


"Ah, kau benar." Leonardo menyeringai, untuk apa dia kehilangan uang karena pria rendahan ini?


"Iya, Tuan. Tolong jangan diambil asetnya." Samuel tersenyum dengan takut-takut.


"Kesya, hubungi pemilik bank ini. Suru ia memecat seluruh manusia yang berada di sini sekarang. Aku akan memasukkan lagi dua kali lipat, ah ... tidak, lima kali lipat dari uangku saat ini bila ia bersedia." Leonardo tersenyum.


"Baik, Tuan." Kesya langsung mengangkat ponselnya.


"Tu—tuan Leon!!" Samuel Kikan dan seluruh manusia yang berdiri di sana terperangah.


"Jangan!! Saya mohon jangan, Tuan Leon. Di usia saya saat ini saya tak akan mungkin memperoleh pekerjaan dengan mudah." Samuel mengiba kepada Leonardo, ia bahkan hampir memegang lengan pria kejam itu tapi Kato langsung menahannya.


"Kalau bukan karena Jasmine aku tak akan memperpanjang asetku di bank ini. Sayang sekali kau baru saja memecatnya demi uang tiga juta rupiah. Sepertinya kau memang bodoh, atau kau sudah lupa siapa aku?" Leonardo menatap dingin pada Samuel.


"Tuan Leon, jangan lakukan ini. Kami butuh pekerjaan." Semua manusia yang berada di sana langsung memohon ampunan Leonardo. Berlutut di hadapan pria itu.


"Jawabanku sama dengan cara kalian menjawab Jasmine tadi." Leonardo beranjak ke arah wanita tua nasabah Jasmine.


"Dan kau Nenek Tua!" Leonardo menatap tajam ke arah wanita tua, —nasabah Jasmine.


"A ... ada apa denganku?" Nenek itu gelagapan, ia tak menyangka bahwa seorang yang begitu berpengaruh melindungi Jasmine.


"Jasmine adalah wanita yang baik. Harusnya kau merasa malu dengan usiamu. Bukannya semakin bijaksana malah semakin picik." Leonardo menandatangani sebuah cek yang disodorkan oleh Kesya. Merobeknya kasar dan memberikan kertas itu pada sang nenek.


"Ini ...!" Matanya terbelalak, tenggorokkannya juga tercekat saat mendapati cek dengan nominal 100x lipat dari uangnya yang hilang.


"Untuk apa dia mencuri uangmu kalau dia punya pria sepertiku?! Minta maaflah pada Jasmine! Kalau tidak, aku jamin kau akan menggunakan uang itu untuk menguburkan dirimu sendiri besok." Ancaman Leonardo membuat wanita tua itu gemetaran.


"Ni iru, Kesya, Kato!" (Ayo kita pergi.)


"Jes, Tuan Leon."


Leonardo meninggalkan semua manusia yang menangis dan memohon-mohon kebaikan hatinya. Sayangnya, kebaikan hati Leonardo hanya untuk wanita bersama Jasmine.


...ooooOoooo...