MI VOLAS VIN

MI VOLAS VIN
Nafsu dan Gairah



Leonardo bangkit, mengulurkan tangannya pada Jasmine. Jasmine sempat ragu sesaat, sempat takut sesaat, namun rasa sesak dan sakit hati membuatnya menerima uluran tangan itu.


Leonardo menggiring Jasmine ke dalam kamar. Menyerahkan segelas minuman keras yang baru saja dituangnya. Jasmine mengamati cairan coklat itu sebelum menyesapnya pelan.


"Akh!! Pahit!!" seru Jasmine, ia menutup mulutnya, wajahnya berkerut. Minuman aneh itu punya aroma yang menusuk hidung juga.


"Ini namanya alkohol, Jas. Minuman ini membantumu melupakan segala masalah. Walau hanya sesaat." Leonardo terkikih, sedikit merasa bersalah memperkenalkan wanita polos itu pada minuman keras.


Jasmine menutup mata dan hidung, menenggak selurus isi gelas dalam satu kali tegukkan. Alis Leonardo berkerut heran, sekejap kemudian ia menahan tawa karena melihat wajah Jasmine yang menggemaskan.


"Wajahmu lucu sekali."


"Diam, aku mau lagi!" Jasmine menyodorkan gelasnya, setelah dikecap-kecap, ternyata tak hanya rasa pahit, ada sedikit rasa manis juga. Tidak terlalu buruk bagi lidah Jasmine.


"Sikapmu kembali?! Galak seperti biasanya?" Leonardo kembali menuang wiskey ke dalm gelas milik Jasmine. Jasmine menyahutnya cepat-cepat, menenggak lagi semua isinya.


"Lagi!!" Jasmine mengulurkan gelasnya.


"Lagi?! Sudah cukup, Jasmine! Terlalu banyak juga tidak baik!"


Ruangan luas itu terlihat gelap, Leonardo memang tak membuka gorden jendela, ia juga tak menyalakan lampu utama. Hanya kedua lampu tidur di atas nakas yang kini berpendar. Jasmine membetulkan handuk yang melilit tubuhnya, entah kenapa dadanya terasa hangat. Leonardo bergeleng, wajah Jasmine mulai memerah akibat pengaruh alkohol.


"Hei, Mesum!! Kenapa kau bergoyang-goyang?" Jasmine mulai mabuk, ia bahkan merasa pandangannya berputar-putar, tubuh Leonardo seakan sedang bergoyang.


"Siapa yang bergoyang? Siapa juga yang kau panggil mesum?" Leonardo berdecis sebal, wanita ini baru minum sedikit saja sudah mabuk parah.


"Kau!! Pria paling mesum di dunia! Aku hidup 23 tahun, baru kali ini bertemu pria semesum dirimu." Jasmine bangkit, menunjuk-nunjuk dada Leonardo.


"Cih, wanita bodoh ini mulai merancau." Leonardo terkikih.


"Kenapa? Kenapa kau jahat? Kalau tak mau punya anak bisa dibicarakan baik-baik, kenapa malah berbohong?? Kenapa??" Jasmine menjerit-jerit seperti orang gila, membuat Leonardo semakin bingung.


"Aku padahal begitu mencintaimu?? Kenapa kau bahkan tak bisa mengatakannya? Dulu kau bilang juga mencintaiku?!" Jasmine memukul-mukul dada bidang Leonardo.


Terlalu banyak bergerak membuat handuk yang melilit tubuh indah Jasmine terjatuh. Kini tubuhnya kembali polos. Leonardo menelan ludahnya berat. Pemandangan itu membuat hasratnya kembali memuncak.


"Ah, jatuh," pekik Jasmine.


"Aku tak tahu apa masalahmu! Tapi kau benar-benar membuatku gila, dasar wanita sialan!" Leonardo mendorong tubuh Jasmine rebah di atas ranjang. Ia lantas merangsek naik, menindih tubuh indah itu.


"Mi Volas Vin, Jasmine!!" Leonardo langsung mengu*lum bibir Jasmine begitu selesai berbisik.


******* penuh gairah itu berpindah, menyesap perlahan pada pusat dadanya yang sintal. Tubuh Jasmine belingsatan menghadapi sensasinya. Apalagi saat Leonardo menggigitnya dengan lembut.


"Aku akan memilikimu hari ini, Baby!" Leonardo mulai menyatukan milik mereka berdua, bergerak kasar maju dan mundur dalam liang paling pribadi milik Jasmine.


Keringat menetes dari tubuh keduanya, peluh mulai terasa panas. Tiap tarikan napas terasa menggairahkan, degupan jantung melaju cepat, secepat dorongan hasrat dan nafsu yang terus menguasai otak keduanya. Gerakan-gerakan sensual Jasmine, membuat gesekkan Leonardo semakin dalam dan hentakannya semakin kasar.


"Argh!!" Lengguh Jasmine, rasanya begitu aneh, sedikit panas dan menyakitkan, tapi juga nikmat pada saat yang bersamaan.


"Ya, begitu, mengeranglah. Menjeritlah!" Leonardo mengecup bibir Jasmine. Merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Leon, jangan keras-keras, sakit!!" Jasmine mendorong dada Leonardo. Biasanya Leonardo tak peduli, tapi dengan Jasmine, ia bahkan memperlambat laju maju mundurnya agar Jasmine merasa nyaman.


"Begini? Lebih nyaman?" tanya Leonardo, Jasmine mengangguk. Wanita itu menggigit ujung jarinya, mulai kembali tersadar.


Air mata menetes perlahan dari sudut mata Jasmine. Leonardo menghapusnya dengan ciuman.


"Jadilah milikku seorang, Jasmine! Akan aku berikan segalanya padamu!" Leonardo mengecup telinga Jasmine.


"Aku sudah bersuami, Leon." Jasmine menangis semakin kencang, ia baru saja sadar, telah mengkhianati suaminya sendiri dengan melakukan hubungan intim dengan pria lain.


...ooooOoooo...


Mi volas vin, Bellecious.


Votenya ya


Commentnya yang banyak


Maaf micinnya habis.


Kasihan yang jomblo


💋💋💋