MI VOLAS VIN

MI VOLAS VIN
Wanna Try?



Beberapa saat sebelumnya ...


"Wanita sialan!! Beraninya dia mengurungku di kamar mandi." Wajah Leonardo terlihat garang, otot lehernya menegas.


Kesya memilih diam, begitu pula Kato. Keduanya tetap mengekor Leonardo masuk ke dalam ruang kerja. Leonardo membuka kasar pintu ruangan itu, menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Kesya berjengit, pasti suasana kantor akan seperti neraka nanti siang.


"Apa Anda ingin saya buatkan kopi, Tuan Leon?" tanya Kesya.


"Tidak!!" Leonardo menghenyakkan tubuhnya pada kursi kerja. Memijit pelipisnya, mendadak kepala pria itu pening saat mengingat wanita bernama Jasmine.


Kenapa aku harus semarah ini hanya karena seorang wanita! Benar-benar bodoh! pikir Leonardo.


"Tuan, hari ini dua orang yang mengikuti suami Nona Jasmine ditemukan tewas karena overdosis." Kato melaporkan berita yang diterimanya pagi ini."


"Apa??" Leonardo mendelik setengah tak percaya.


"Polisi bilang karena overdosis. Tapi sepertinya itu hal yang mustahil. Mereka sama sekali tak pernah menyentuh benda itu." Kato meyakinkan Leonardo bahwa ada suatu hal yang salah dengan Rafael. Kato merasa ada yang ganjil tentang pria itu, sesuatu yang misterius dan berbahaya.


"Kau yakin?" tanya Leonardo.


"Yakin, Tuan Leon. Saya yang melatih semua pengawal Anda. Saya menyeleksi dengan ketat kemampuan dan juga kesehatan mereka. Tak ada satu pun yang punya riwayat menggunakan obat-obatan terlarang," jawab Kato.


"Apa yang ia rahasiakan? Seperti bermain game, kehidupan orang ini semakin menarik untuk dipecahkan. Tapi untuk apa aku bermain dengan buruanku?" Leonardo bergumam sembari memainkan pena, menekan-nekan ujungnya.


"Saya menunggu perintah Anda, Tuan Leon."


"Singkirkan saja pria itu, Kato. Bunuh dia." Leonardo bangkit.


"Baik, Tuan." Kato meninggalkan ruang kerja.


"Siapkan mobil Kesya. Aku akan ke rumah Jasmine, aku juga ingin membuat perhitungan dengan wanita itu." Leonardo menyeringai.


"Jes, Tuan Leon," sahut Kesya.


Leonardo berkendara ke rumah Jasmine. Hanya ditemani oleh sopir pribadinya. Kesya mengambil alih urusan kantor hari ini, karena mungkin Leonardo akan menghabiskan satu hari penuh bersama dengan Jasmine. Entah apa yang ia rencanakan untuk membalas dendam?


Hujan turun dengan deras, jalanan menjadi macet. Genangan air membuat banyak motor menyelip-nyelip sembarangan, lalu menimbulkan kemacetan. Leonardo bersandar malas, merasa bosan dan gusar. Baru kali ini perasaannya menjadi tak menentu hanya karena seorang wanita.


Wanita bernama Jasmine, entah terlalu merindukan atau terlalu membenci, sosok wanita itu tiba-tiba memenuhi indra pengelihatannya. Sedikit buram karena derasnya hujan, tapi Leonardo tak salah mengenali, wanita bodoh yang berjalan di tengah hujan itu adalah Jasmine. Wanita yang menembus dinginnya hujan itu adalah Jasmine.


Jasmine? pikir Leonardo.


"STOP!!" seru Leonardo, tanpa menunggu sopirnya menepi, Leonardo membuka pintu mobil. Tentu saja ini adalah hal yang berbahaya. Mobilnya mengerem dadakkan, semua kendaraan di belakang langsung menekan rem dan klakson sekuat mungkin.


TIIINN!!!


Leonardo tak peduli, ia ikut menembus hujan demi mencari wanitanya.


TINNN!!!


Lagi-lagi, suara memekakkan itu terdengar.


"Jasmine!!" Leonardo menarik sikut lengan wanita itu agar tidak tertabrak mobil. Ia memeluknya, mendekapnya erat-erat.


Ya Tuhan, satu menit saja terlambat sudah pasti Jasmine akan terluka. Jantung Leonardo berdegup kencang, ketakutan. Kenapa dia ketakutan saat Jasmine hampir tertabrak? Bukankah baru saja ia begitu marah sampai ingin membunuh wanita ini?!


"Leon."


"Karena kau sama bodohnya denganku." Isak Jasmine dalam pelukan Leonardo.


"Kau benar! Ni iru hejmen! (Ayo kita pulang!)" Leonardo menggendong Jasmine menuju ke arah mobilnya, Jasmine melingkarkan tangannya erat pada leher Leonardo. Menyembunyikan wajahnya yang menghangat pada dada bidang sang singa.


...ooooOoooo...


Jasmine kembali lagi, pada pemandangan yang dilihatnya saat membuka mata pagi tadi. Kamar mewah yang begitu luas. Bedanya pintu menuju ke kamar mandi telah menghilang. Rusak karena tendangan Leonardo. Para pelayan sudah menyingkirkan pintu itu dan membersihkan puing-puing kerusakaan.


Jasmine tak pernah menyangka dia akan kembali lagi ke tempat ini, bahkan dengan suka rela. Hatinya yang kacau membuat akal sehatnya ikut kacau, otaknya ikut rusak.


"Turunkan aku, Leon. Mau sampai kapan kau menggendongku?" Jasmine masih berada dalam gendongan Leonardo, wajahnya begitu merona karena rasa malu.


"Kau pasti kedinginan, lebih baik kau mandi! Aku akan minta Kesya membeli baju lagi." Leonardo membawa Jasmine ke dalam kamar mandi.


Jasmine menurut, ia duduk pada tepi bathtube. Menunggu Leonardo mengisi penuh cerukkan bak dengan air panas. Wajahnya yang cantik tersembunyi di balik rambut hitam basah. Ia terus menunduk, menyembunyikan emosi yang membuncah.


"Kenapa diam saja? Kau tak seperti biasanya?!" Leonardo mengecek suhu air, karena sudah hangat ia bangkit, melemparkan sebuah bath boom. Aroma semerbak bunga mulai tercium pekat, menggelitik indar penciuman.


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena rasa dingin." Jasmine melepaskan pakaiannya, tanpa malu, tanpa ragu di depan Leonardo.


Kenapa dia tak seperti biasanya? Leonardo menatap Jasmine melucuti pakaiannya sendiri, membuat tubuh indahnya terlihat sedikit demi sedikit.


Setelah benar-benar polos Jasmine masuk ke dalam bak jacuzi. Semburan air terasa memijit tubuh dengan lembut, derasnya aliran air membuat peredaran darah lancar sehingga tubuh menjadi relaks.


"Boleh aku bergabung?" tanya Leonardo. Jasmine mengangguk.


Jasmine mendekap kedua lututnya, membenamkan wajah di antara kedua lutut. Jasmine ingin menahan air matanya agar tidak kembali menetes, tapi ternyata hal sederhana itu sangat susah untuk dilakukan. Air mata terus turun, turun, dan turun.


"Kau menangis?" Leonardo telah berhasil mencelupkan diri juga ke dalam bak. Air meluber keluar. Kini mereka saling berhadap-hadapan.


"Tidak, aku tidak menangis." Jasmine mengusap wajahnya, lalu tersenyum pada Leonardo. Memamerkan deretan giginya.


Leonardo mencekal pergelangan tangan Jasmine dan menariknya. Tubuh mereka saling bersentuhan. Gesekan kulit terasa jauh lebih hangat, jauh lebih nyaman dibandingkan semburan air jacuzi.


"Jangan menangis!" Leonardo menaikkan dagu Jasmine, mata mereka bertemu. Jasmine terlihat berkaca-kaca.


"Apa yang kau lakukan saat hatimu sesak, Leon?" tanya Jasmine.


Leonardo tersenyum lalu mendaratkan bibirnya ke atas bibir Jasmine. Jasmine diam saja, tak menolak. Wanita itu merasakan bibir Leonardo ******* bibirnya dengan sedikit cepat. Pertama Jasmine tak meresponnya, tapi lama-lama ia mengikuti alur permainan bibir Leonardo. Panggutan mereka semakin cepat dan dalam. Bertukar rasa manis dengan sedikit kecapan kopi —Jasmine baru saja minum kopi.


"Aku minum dan meniduri wanita." Leonardo menjawab pertanyaan Jasmine begitu melepaskan ciumannya.


"Minum?" tanya Jasmine polos.


"Ya, minuman yang memabukkan." Leonardo memeluk Jasmine, mencium lehernya. Menyesapnya perlahan-lahan, dan turun ke dada. Tangannya bergerak aktif, mengelus tiap jengkal permukaan kulit. Dari paha, naik ke pantat, naik lagi sampai ke dada. Menangkup bagian kenyal itu dan menggoyangkannya dengan sedikit bertenaga. Membuat tubuh pemiliknya bergetar hebat.


"Argh!!" lengguh Jasmine, tubuhnya merasakan kenikmatan dari permainan tangan Leonardo.


"Kau ingin mencobanya?" tanya Leonardo, ia berbisik pelan di telinga Jasmine.


"Ya, aku ingin mencobanya," jawab Jasmine.


...oooOooo...