LOVE GAME

LOVE GAME
THREE




⚫⚫⚫


Ethereal Pub.


Jenis dress youcansee membalut tubuh Suzy terlihat minim. Berwarna Maroon yang pabila tersorot kelip lampu nampak menakjubkan. Surainya digelung asal hingga anakan rambut menyisa acak, sengaja ditata demikian agar leher jenjangnya yang halus meninggalkan kesan mengintip. Rok dress bawahnya sedikit merak dengan tinggi 15 senti di atas paha. Hampir berbalapan dengan safety pants hitam yang ia pakai.


Kepala nya naik turun dengan sebelah tangan memberi komando, satu lagi berfokus pada mesin DJ. Piringan hitam berputar otomatis, Suzy sudah menyiapkan musik hasil mixing yang diatur nya seharian tadi.


Yas, Suzy as Disc Jockey tengah bekerja. Headset yang terpasang di telinga kini berpindah ke leher merasa audio sudah pas. Terus merangsang penikmat Pub di lantai dansa agar bergoyang dengan ia sendiri turut bergerak atraktif. Musik bergenre shuffle yang ia pilih, nama Suzy amat dikenal dan disukai banyak pengunjung.


Pub etheral tengah diboking untuk party ulang tahun. Suzy suka ini, hanya 1 jam bekerja namun bayaran yang ia terima lebih banyak. Acara dimulai sejak pukul sembilan malam, yang artinya ia bisa pulang cepat mengingat ada yang menunggu untuk bertemu.


Terlalu cantik dan menarik membuat Suzy jadi incaran banyak lelaki nakal, beruntung para bodyguard berbadan besar serupa Aderay senantiasa menjaga nya. Meski terkadang ada saja yang berusaha menitipkan tawaran, menyelipkan pesan terselubung dengan inti yang sama.


"Bisa pakai?"


Suzy menolak halus dengan dalih "lagi dapet" dan sejauh ini berhasil, pekerjaan dan lingkungan liar bukan berarti ia juga liar. Ia pro namun belum pernah sejauh making love. Only dry sex and another petting low level.


80 juta?


Suzy tertawa, ada secarik kertas kecil yang diselipkan bartender di bawah gelas beer nya. Ia meraih puplen di samping, memberi jawaban tidak disertai emoticon smile. Si bartender ikut tersenyum, kembali berjalan menuju si penitip pesan. Suzy menolak tawaran ketiga malam ini.


Selesai dengan pekerjaan di atas panggung ia menuju kamar kecil. Di tangan kanannya sudah ada dompet make-up guna touch up agar peluh di wajah hilang dan lipsticknya kembali on. Ia akan bertemu seseorang malam ini, senyumnya terus mengembang hingga tidak perlu perona lagi karena kini pipinya sudah bersemu merah.


Sedikit perasaan gugup dan berdebar mengambil alih, Suzy hendak bertemu teman maya nya yang masih misterius namun sangat ia sukai. Lelaki tanpa identitas pasti tersebut sangat menyenangkan selama ia dekat.


Mereka akan bertemu di kelab lain, ia berangkat sendiri dengan menumpang taksi. Jemarinya bergulir pada aplikasi kappa-mate.


missA ; "Im done, lets meet😊"


SirV ; "Aku sudah menanti."


Suzy tersenyum, ternyata ia sudah ditunggu, rasanya kian berdebar saja. Jikapun fisiknya bukan masuk kriteria setidaknya ia senang mendapatkan teman pria yang cocok dalam berbagi cerita.


•••


Pub RainB,


Hampir berbeda banyak, Suzy belum pernah kemari hanya mendengar kalau tempat ini lebih santai, sangat pas untuk ajang pertemuan. Pesan dari sirV ia duduk di depan meja bar dengan jaket hitam. But, Oh ayolah, hampir semua pengunjung lelaki pasti memakai pakaian gelap seperti yang ia rincikan.


Suzy mengeluarkan ponsel dalam tas, membuka aplikasi dan menekan ikon khusus yang memang dirancang apabila kecocokan sudah 80%. Secara otomatis aplikasi tersebut berganti layar menyerupai GPS. Terlihat ava alien milik Suzy tengah bergerak menuju ava Taehyung yang diam di tempat dalam radius 100 meter.


Sepanjang perjalanan ava tersebut bunga-bunga berjatuhan seakan menyambut moment pertemuan kedua ava.


Tepat di sana, pria itu duduk membelakangi. Mungkin belum sadar aplikasi miliknya tengah berkelip. Asik bersama bartender kenalannya yang mengajak berbincang membahas game baru. Tubuhnya bidang dengan lebar bahu yang pas, surai lelaki itu nampak lembut dengan warna brown light.


Suzy hati-hati menyentuh pundaknya. "Hi-"


Dia berbalik usai si bartender ikut menoleh dan undur diri mengerti akan privasi pengunjung.


Taehyung berputar dalam posisi duduk. Dilihat nya jelas gadis cantik dengan tinggi dan bentuk tubuh ideal. Matanya naik hingga mereka saling menatap terperangah. Gadis itu menggoyang-goyangkan ponselnya, membuat Taehyung yang tertegun lama akhirnya tersadar. Ia melirik ponsel di samping yang sedari tadi menyala. Ditekan nya tombol yes hingga kedua ava alien mereka saling muncul berpelukan di ponsel masing-masing.


"Apa itu kamu?


"Y-ya."


Keduanya tertawa serentak kemudian, Taehyung menarik kursi untuk Suzy hingga mereka duduk berhadapan dengan ekspresi sama tak menduga.


Taehyung mulai berani mencuri pandang secara terang-terangan. Ia tahu Suzy itu cantik, sangat cantik dari dulu namun kali ini ia menatapnya dengan perasaan berbeda. 1 bulan menjadi teman maya membuat Taehyung memiliki perasaan khusus. Cara mereka berkomunikasi melalui aplikasi tersebut cocok dan menyenangkan.


"Aku tidak menduga itu kamu. Kamu semakin tampan ya." puji Suzy meluncur begitu saja.


Taehyung terkekeh, lawannya saat ini berucap jujur namun terlihat malu melontarkan pujian hingga berakhir menutup mulut.


"Aku memang sedari dulu tampan. Kamu saja yang tidak pernah melihatku."


Membuang muka ke samping ialah cara Suzy menahan merah pipi dan kuping. Ia berbalik setelah siap kembali beradu pandang. Bibirnya tak letih melengkung mendapati Taehyung menatap intens, tangannya bertopang ke meja sambil menyangga wajah. Taehyung dalam posisi itu terlihat tampan sekali.


"Pretty, young and powerful," Taehyung mengangguk-angguk. "aku lebih muda satu tahun darimu, Nuna." Taehyung tengah menggoda, "tapi aku tidak akan memanggil Nuna, aku tidak mau dilihat seperti adikmu." lanjutnya lagi.


"Ohya, lalu kamu mau bagaimana?" pancing Suzy. Taehyung versi ava dengan versi aslinya tak ada beda. Senang bercanda yang selalu sukses membuat nya bahagia.


"Hm, aku ingin status yang lebih menyenangkan. Tapi ragu apakah kamu akan setuju."


"Aku haus nih." Suzy mengalihkan arah pembicaraan.


Taehyung memanggil bartender, memesan satu gelas vodka dingin dengan banyak es batu untuk wanita di sampingnya. Sementara minuman miliknya masih tersisa banyak. Mereka diam sejenak dengan pandangan grogi bila kembali bertemu di satu lini.


Sementara di meja lain, 3 wanita yang semenjak melihat kedatangan Suzy geram sendiri mulai tidak tahan. Seseorang dari mereka bangkit meski satu temannya menahan dan satu lagi menyuruh maju hendak melabrak.


Naeun, istri dari Minho yang beberapa bulan terakhir menjadi pengunjung tetap di tempat Suzy bekerja. Jenis suami yang terpikat wanita luar, jika wanitanya serupa Suzy memang susah untuk di tolak. Suzy memperlakukan nya seperti pengunjung lain, berteman dan dekat sebelum tahu Minho sudah memiliki istri. Ia menjauh namun tidak dengan Minho nya.


Segelas vodka yang baru saja disajikan untuk Suzy minum kini malah tertumpah ke wajah nya. Naeun menyiram nya dengan penuh emosi. "Kamu apakan suamiku wanita nakal hah?"


"Eits, waw-waw. Aksi barbar apa ini nona?"


Naeun beralih menatap tajam Taehyung, "Minggir! wanita itu ular yang menggoda suami ku. Dasar wanita penggoda pembawa sial!" umpatnya tertuju pada Suzy.


2 teman Naeun yang lain ikut menahan sadar keributan mereka mengundang tatapan banyak pengunjung lain.


"Nona, kenapa kamu menyalahkannya? kalau suamimu pria yang baik ia juga tidak mungkin mudah tergoda wanita lain." Taehyung berada di depan Suzy, mengintimidasi hanya dengan tatapan yang tenang. Mengandung jenis hipnotis hingga Naeun terdiam sesaat.


Suzy akhirnya turun dari kursi usai menyeka wajah, ia menyingkirkan lembut bahu Taehyung. Berbicara pada Naeun dengan amat santai. "Look, aku tidak tahu kalau Minho sudah beristri sebelumnya. Lagipula ia hanya mengajak berteman. Aku sudah menjauhinya, kamu tidak perlu khawatir padaku. Lebih baik kamu perbaiki service mu di ranjang yang mungkin saja tidak memuaskan nya." Wajah Naeun kian mengeras.


Taehyung kini menggenggam jemari Suzy. "Wanita ini kekasihku, kamu salah paham. Dia tidak mungkin menggoda suamimu  Jadi, anggap ini selesai dan biarkan kami pergi."


Ucapan Taehyung barusan membuat Suzy harus mengorek kuping setelah ini. Tapi apapun itu ia bisa lakukan nanti karena kini lengannya sudah diseret Taehyung keluar dari Pub tersebut.


Ya, Taehyung baru saja menyelamatkan harga diri Suzy.


•••


Jeep hitam milik Taehyung terparkir di depan sungai Han. Angin malam mulai menusuk dingin. Meski demikian, 2 makhluk berlainan jenis itu masih betah duduk di atas kap bagian depan mobil. Terlihat Jaket hitam milik Taehyung kini ada di tubuh Suzy, ia meminjamkannya.


Pria itu kembali dengan langkah besar usai memesan minuman panas dari market seberang. Di tangannya terdapat 2 gelas cappucino yang beruap. Menyerahkannya pada Suzy lalu ikut bergabung duduk di atas kap mobil.


Hening lama hingga dua tegukan kopi membantu menghangatkan kerongkongan. Suzy mengawali pembicaraan, sepertinya Taehyung memang menanti Suzy lebih baik baru berani bercakap.


"Thanks, kamu selalu berada di saat aku dalam kondisi jelek. Uh memalukan nya." Suzy menertawakan dirinya, sungguh ia jadi serba salah.


"Kenapa kamu kabur dari rumah sakit? apa kaki mu sudah lebih baik?"


Suzy berdecak, rupanya Taehyung pengingat yang handal. Ia merasa tak enak sudah kali kedua Taehyung mendapatinya dalam kondisi down meski ia juga memberikan uluran tangan tanpa sungkan.


"Ini sudah 3 bulan, tentu aku baik-baik saja. Ahya, aku akan mengganti biaya pengobatan tempo hari. Sorry, aku pergi tanpa pamit."


"Tidak perlu, kau juga sudah menolong ku saat itu."


Gadis tersebut lama baru mengerti. "Aah, apa kau sekarang juga lebih baik? maksudku perasaanmu. Well, semua teman sekolah kita dulu mengira pada akhirnya kamu akan dengan Jenni mengingat ia sangat di kenal menyukaimu."


"Begitulah, aku mulai lupa." acuh Taehyung, ia selalu memendam apapun mengenai cinta sendiri. Beruntung Kai dan Jenni kini menetap di Australia sehingga Taehyung cukup nyaman mengingat Kai sahabatnya. Pasti akan berbeda cerita jika mereka masih di Korea hingga tiap hari harus melihat pasangan tersebut.


"Benarkah?" tanya Suzy memastikan yang kemudian hanya di jawab anggukan oleh Taehyung.


30 menit lamanya mereka di sana, berbicara hal sepele di latar belakangi semilir angin malam. Sesuatu yang baru dalam perkembangan hubungan selain dari sekedar berbincang lewat sebuah aplikasi.


Mobil Taehyung kini tiba di kediaman Suzy. Dia menawarkan mampir meski jelas hanya basa-basi namun Taehyung malah mengiyakan tanpa ragu. Uh sekarang Suzy menyesal, bagaimana jika Taehyung lelaki mesum yang meminta balas budi, pikirnya.


"Aku tidak begitu, hanya ingin mengantarmu sampai depan pintu lalu kembalikan jaket ku."


Oh, Suzy terkejut. Apa Taehyung bisa membaca pikiran? ia tertawa. "Aku akan mencuci dan mengembalikan nya nanti. Ini sudah basah Taehyung."


"Tidak apa. Masuklah dan kembalikan sesudah kamu berganti baju."


Baiklah, Suzy tak mau bersikeras. Begitu lebih baik sebab ini akan canggung usai mereka berpisah nanti. Rasanya Suzy malu sekali akibat kejadian di Pub. Jika sekali lagi Taehyung mendapatinya dalam kondisi seperti itu rasanya ingin sekali Suzy menjadi budak Taehyung saja sekalian.


And that's Happen-


Suara pertengkaran Nayeon dan kekasihnya terdengar nyaring. Dia keluar dari rumah berpapasan dengan Taehyung dan Suzy di depan pintu.


Nama lelaki itu Vernoon, Nayeon mengusirnya hingga lelaki itu pergi tanpa niat pembelaan diri. Sesaat Vernoon menatapi Suzy dengan pandangan sulit dimengerti. Menyisakan Nayeon yang kini terisak dan marah.


"Semua ini salahmu eonni! kalau saja kamu bukan sepupuku. Kenapa setiap lelaki yang dekat denganku hanya ingin melihatmu? kau menyebalkan!"


Suzy terperangah kesulitan mencerna. Lagi kah? haruskah malam ini cercaan double di lemparkan ke wajahnya? dan lagi, Taehyung masih di sini. Astaga, ingin rasanya ia bergegas menyelam ke laut saja.


"Terima kasih Tae. Kau bisa pergi sekarang." Dilepas nya jaket dengan tergesa dan memberikan pada Taehyung. Suzy masuk lalu menutup pintu, hendak memeriksa keadaan adik sepupunya yang terguncang.


Semua kasus yang menimpa Nayeon selalu begitu, lelaki yang ia kencani sering berakhir hanya memanfaatkannya untuk bisa mendekati Suzy saja. Yang sudah-sudah Nayeon tak pernah menangisi, namun Vernoon mendapat perhatian khusus. Ia bahkan telah memperkenalkan kekasih yang lima bulan ia kencani tersebut pada orang tuanya, akan tetapi malam ini Nayeon malah mendapati kejujuran Vernoon yang menyakitkan.


Pintu kamar diketuk dan berusaha Suzy buka namun Nayeon sudah menguncinya lebih dulu, ia sedang emosi.


"Aku membencimu eonni, kau jahat! Harusnya aku tidak didekat mu, kau mengambil semua kebahagiaanku."


Suzy mendengarnya, ia tak bisa berbuat banyak untuk bisa berlapang dada. Ucapan emosi Nayeon saat ini belum pernah terlontar. Mereka sering bertengkar namun tak berakhir serius. Trauma di pub tadi masih melekat di ingatan dan sekarang Nayeon juga, Suzy mundur dari depan kamar. Adik sepupunya itu pasti butuh waktu hingga mereka bisa berbaikan. Hanya saja, Suzy juga terluka.


Ia tak bisa tidur semalaman, di kupingnya terpasang earphone dengan lagu-lagu mellow menemani. Meski demikian entah mengapa air matanya semakin susah untuk turun, ia sesak sendiri ingin bagaimana.


Sebuah pesan kappa-mate membuatnya menoleh.


SirV ; "Mau tinggal di rumahku? Cukup besar kalau kau mau."


•TBC•