Love, Friend Zone and Scandals

Love, Friend Zone and Scandals
Bab 2 - 2020 Masa Kini.



Gangnam-gu 09.00am


Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kamar Jaein yang berada di lantai 24 Apartemen Gangnam Seoul, cahaya matahari yang menyoroti wajah Jaein yang sangat cantik yang masih tertidur pulas.


‘’ YAA ! HAN JAEIN !! APA KAU TIDAK MAU BANGUN? INI SUDAH PUKUL 9 PAGi ! ‘’ teriak seorang gadis seusia Jaein yang tinggal serumah dengan nya, Jaein yang terkaget langsung membuka matanya dan duduk menatap tajam wanita itu .


‘’ Kenapa kau baru membangunkan ku sekarang, hari ini aku ada sidang jam 11’’ Jaein langsung melompat dari atas tempat tidurnya dan bergegas bersiap untuk pergi kerja.


‘’ Jangmi Kau buat sarapan apa? aku akan makan di mobil’’ Jaein mundar mandir di Apartmen nya sambil memakai Jas kerja nya. Park Jangmi, teman Jaein saat mereka masih Smp, mereka menyewa apartmen bersama karna mereka sudah bersahabat sejak lama, Jaein dan Jangmi sangat dekat seperti kakak adik, tidak sedikit orang yang mengira mereka adalah pasangan LGBT karna mereka tidak pernah terlihat berkencan dengan seorang pria, namun Jangmi sudah memiliki pasangan yang sedang berada di Amerika dan mereka akan menikah tahun depan.


‘’ Aku membuat roti lapis, sudah ku siapkan di kotak bekal di atas meja, kau tinggal bawa, cepat pergi sebelum kau yang di sidang’’ Jangmi sangat menyayangi Jaein begitu juga sebaliknya.


‘’ Lihatlah betapa perhatiannya sahabat ku satu-satu nya ini, pantas saja Inho ingin segera menikahi mu’’ ejek Jaein pada Jangmi, Jangmi melempar gumpalan tissue pada Jaein, pagi mereka selalu di isi dengan ejekan, omelan dan perhatian satu sama lain.


‘’aku pergi dulu’’ Jaein terburu-buru menuju parkiran apartemen nya, ia bergegas menyalakan mobil nya dan melaju dengan terburu-buru, di perjalanan Jaein sambil makan bekal sarapan yang di buat Jangmi.


10.00am


Jaein tiba di kantornya setelah 30 menit perjalanan, Jaein berlari kecil sambil membawa berkas-berkas untuk sidang hari ini menuju lift untuk naik ke ruang kerjanya


‘’BRUKK !!’’ tiba tiba Jaein bertabrakan dengan seorang pria yang tidak terlihat jelas wajahnya karna memakai topi, masker dan kaca mata hitam, semua berkas Jaein jatuh berantakan ke lantai


‘’Saya minta maaf’’ pria itu membantu Jaein membereskan berkasnya


‘’lain kali kalau dalam ruangan tolong jangan pakai kaca mata hitam, ini bukan di pantai’’ Jaein berbicara dengan ketus sambil mengangkat berkas-berkasnya, Jaein langsung berlari ke dalam Lift tanpa memperdulikan pria yang menabraknya.


Pria itu mengambil sebuah Name tag yang jatuh di lantai, tanpa Jaein sadar name tag yang ia masukan ke saku jas nya terjatuh dan di temukan Pria itu, pria itu membalik name tag itu untuk melihat siapa nama pemilik tag itu.


‘’Pengacara Han Jae In’’ pria itu mematung setelah mengucapkan nama itu, ia berfikir sejenak apakah itu Han Jaein gadis kecilnya dulu yang sangat cerewet dan berisik, apakah itu Han Jaein yang sudah 10 tahun di rindukannya, pria itu memandangi foto Jaein di name tag itu.


‘’Hei Jiyoung, ayo cepat kita pergi sebelum ada yang menyadari keberadaan mu’’ seorang pria yang usia nya 6 tahun lebih tua memanggil pria itu dan menariknya pergi. Pria itu memasukan name tag Jaein ke saku jaket yang di pakainya dan bergegas pergi ke mobil nya dengan pria yang bersamanya, sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan apakah Jaein kembali untuk mencari name tag nya atau tidak. Ternyata tidak, pria itu terus melihat kedalam gedung yang ia datangi tadi sampai akhirnya mobilnya menjauh dari gedung itu.


‘’Jaein, Kaukah itu ?’’ ucap pria itu dalam hati.


Jaein duduk di kursinya sambil merapihkan berkas-berkas yang tadi jatuh berantakan


‘’dasar pria aneh,kenapa dia pake kaca mata dalam ruangan apa dia merasa seperti artis’’ Jaein mengeluh sebal sambil bersiap-siap untuk ke persidangan, ia memasukan berkas dan laptopnya ke dalam tas kerjanya, tak lama handphone nya berbunyi


‘’ Hallo Ibu, aku sedang buru-buru mau ke pengadilan, aku ada sidang sebentar lagi, nanti aku telfon balik ya dahhh Love you bu’’ Jaein mematikan handphonenya dan buru-buru keluar dari ruangannya menuju ke parkiran kantornya, ia menyalakan mobilnya dan segera menuju pengadilan.


14.48pm


Jaein telah menyelesaikan persidangannya dengan penuh semangat karna Ia dan client nya memenangkan persidangan.


‘’Trimakasih atas kerja keras nya Nona Han’’ Seorang wanita paruh baya yang menjadi Client Jaein menyapa dan bersalaman pada Jaein


‘’ Sama-sama Bu Kim, semua dokumen yang perlu ibu tanda tangan untuk pemindahan harta akan segera saya kirimkan ke kantor ibu’’ Jaein membalas salaman wanita itu, Jaein tersenyum pada wanita itu, kasus Jaein kali ini mengurus perceraian Ibu Kim dengan suaminya, setelah berbincang sebentar Jaein dan wanita itu berpisah di Lobby, dan menuju ke mobilnya, Jaein kembali ke kantornya untuk membereskan perkerjaan lainnya


‘’Huhh!! ayo kembali ke kantor dan bekerja seperti orang bodoh ’’ ucap Jaein pada dirinya sendiri.


Harus Jaein akui bahwa iya benci akan pekerjaannya, ayahnya adalah seorang pengacara yang cukup terkenal di Amerika, ayahnya membuka firma hukumnya sendiri, banyak artis-artis papan atas atau orang-orang penting di Amerika yang menjadi Client ayahnya, Ayahnya ingin Jaein menjadi Pengacara sepertinya, namun sejak smp Jaein selalu menolak karna ia sangat tidak suka sibuk duduk di depan layar komputer sambil mengurusi permasalahan orang lain, sampai akhirnya iya ingin menjadi pengacara karna impian seseorang yang ingin menjadi pengacara.


Flashback On - Jumat 19 Agustus 2007, 17.12pm ,Gunpo Seoul, Korea Selatan


BUKKKK !! BUKKKK !! ‘’dimana teman-teman mu bodoh ?!’’ BUKKK !!! ‘’kan sudah ku bilang kalau kau bertemu mereka beri tahu mereka untuk menemui ku! kenapa kau tidak sampaikan bodoh’’ BUKKK!!


dua anak remaja pria terlihat sedang berkelahi di ujung gang buntu di belakang apartemen, satu pria tinggi memukuli pria satunya tanpa perlawanan.


Pria tinggi itu mengambil sekotak susu di atas kursi dan berniat menyiram pria satunya


‘’HENTIKAN BODOH !!’’ seorang gadis tiba-tiba berlari sambil melebarkan jaket yang di pegangnya dan menutupi tubuh pria itu ‘’Hentikan bodoh !! dia bahkan tidak melawan mu kenapa kau terus memukulinya’’ gadis itu menatap tajam pria tinggi itu.


‘’anak kecil jangan ikut campur, apa kau kekasih nya? adik nya ? temannya ? bilang sama pria mu ini jangan coba-coba melawanku, kalian cuma orang-orang rendahan!’’ ucap pria tinggi itu dengan nada mengejek.


‘’ TOLONGG !! TOLONGG !!’’ gadis itu tiba-tiba berteriak kencang ‘’ HENTIKAN BODOH !!’’ Pria tinggi itu ketakutan ada orang yang mendengar, ia pergi meninggalkan gadis itu dan pria yang di pukulinya tadi.


‘’ kenapa kau diam saja saat orang itu memukulimu, bukanya kau suka berkelahi, tapi kenapa diam saja tadi, ayo bangun duduk di pinggir situ,kau tunggu disini aku beli es batu dan obat’’ gadis itu mengambil uang di tas nya


‘’sudahlah tidak perlu, aku ingin pulang’’ pria itu menahan tangan gadis itu dan mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya terlalu lemas karna belum makan dan habis di pukuli


‘’sudah lah, kau bisa diam dulu tidak, cerewet sekali, aku tidak akan lama, ada toko kelontong di depan sana, kau duduk dulu disini sebentar’’ gadis itu berlalri menuju toko kelontong yang ada di depan gang.


pria itu duduk berseder dengan lemas, gadis itu kembali dengan membawa obat-obatan dan sekotak susu ‘’sini aku obati luka mu’’ gadis itu mendekati pria itu


‘’aku bisa sendiri’’ pria itu mengambil kapas dari tangan gadis itu ‘’cerewet sekali, kau bahkan ga bisa melihat letak lukamu, tinggal diam saja apa susahnya sih’’ gadis itu merebut kembali kapas itu dan perlahan membersihkan luka di wajah pria itu.


setelah selesai ia mengoleskan cream luka di sudut bibir, ia mengeluarkan es batu dari kantong dan perlahan menempelkan pada pipi pria itu ‘’ AW dingin’’ pria itu terkaget ‘’ya harusnya ku tempelkan air panas saja’’ gadis itu menggerutu pada pria itu.


pria itu menatap gadis itu dengan heran ‘’Ini minum dulu’’ gadis itu membukakan sekotak susu dan memberikan kepada pria itu.


‘’kenapa kau selalu memberiku susu,aku bukan anak kecil sepertimu’’ pria itu mengomel pelan pada gadis itu ‘’susu kan bagus untuk otak anak anak sekolah seperti kita’’ gadis itu menjawab dengan pembelaan.


‘’aku bahkan tidak berminat belajar’’ balas pria itu


‘’emangnya kau ga punya cita-cita hah’’ gadis itu memukul pelan lengan pria itu, ia meringis kesakitan karna pukulan gadis itu


‘’ dulu ada, sekarang aku hanya ingin bekerja menghasilkan uang yang banyak untuk keluarga ku’’ ucap pria itu dengan percaya diri’’


Bodoh? itu yang sangat ingin di ucapkan gadis itu pada pria itu, namun ia tetap menahannya ‘’ memang apa impianmu ?’’ gadis itu menatap wajah pria itu dengan penasaran


‘’Hmmm pengacara, aku ingin menjadi pengacara, kudengar penghasilan menjadi pengacara cukup besar’’ pria itu membalas dengan santai.


Flashback OFF - 15.00pm


Jaein berdiri memegang segelas kopi sambil menatap keluar jendela memperhatikan jalan dari lantai 10 kantornya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Jaein dan memecah keheningan.


‘’Nona Han, ini dokumen untuk client baru, ada 3 calon client’’ sekertaris Jaein meletakan dokumen di meja kerja Jaein


‘’ terimakasih Nona Seo, aku akan melihatnya nanti’’ Jaein tersenyum pada sekertarisnya, sekertarisnya meninggalkan ruang kerja Jaein dan ruangan itu kembali hening.


Jaein duduk di kursinya dan mulai membuka dokumen yang di berikan sekertarisnya


‘’perceraian, huhh lagi ?’’ Jaein mulai membuka dokumen ke dua


‘’Perceraian ? Lagi ?’’ Jaein heran mengapa ia sangat terkenal di kalangan orang-orang yang ingin bercerai, ia lalu membuka document terakhir


‘’kasus Narkotika Anggota Boygroup, hmm sepertinya menarik, coba kita lihat kali ini siapa yang terlibat, hmmm Kim Jiyou-ng’’ Jaein terdiam setelah membaca nama itu, ia mulai membaca-baca isi dokumennya.


‘’Gunpo- Seoul’’ Jaein semakin yakin kalau nama itu adalah Kim Jiyoung dari masa lalu nya, seseorang yang jadi alasan Jaein untuk jadi pengacara, seseorang yang sangat penting untuk Jaein.


‘’Nona Seo, bisa keruangan ku sebentar’’ Jaein langsung menghubungi sekertarisnya.


‘’Ada yang bisa saya bantu Nona Han?’’ sekertarisnya tiba di ruangan Jaein


‘’Nona Seo, aku akan menerima satu client saja, tolong dua client ini di alihkan ke pengacara lain’’ Jaein memberikan Dokumen ke dua calon client nya kepada sekertarisnya, sekertarisnya lalu meninggakan ruangan Jaein.


Jaein mulai mempelajari kasus yang akan di kerjakannya dengan serius, namun tiba-tiba ia teringat akan pria yang di tabraknya tadi pagi.


18.30pm


‘’AKHH kepalaku sungguh pusing, aku pulang saja’’ Jaein membereskan barang-barang nya dan tumpukan pekerjaannya dan meninggalkan kantornya.


Setiap pulang kerja biasa Jaein selalu mampir ke Coffe shop milik nya dan Jangmi, sejak SMP Jaein sangat ingin membuka Coffe Shop namun ayah nya selalu menentangnya, hingga akhir nya ia tetap membuka Coffe Shop dan meminta jangmi untuk mengelolanya, Jangmi sangat senang bisa mengelola Coffe Shop sahabatnya, karna Jangmi sangat ahli berbisnis.


19.30pm


Kim Jiyoung sedang duduk di mini bar Apartemen nya,ia memandangi foto Jaein yang ada di Name tag nya, Jiyoung memperhatikan wajah wanita dewasa itu, ia ingin memastikan apakah itu Jaein gadis cerewet nya atau bukan, Jiyoung membalik Name tag jaein dan melihat ada sepotong kartu nama milik Jaein, si kartu nama itu tercantum nomor telephone Jaein, namun Jiyoung enggan menghubungi nomor itu karna ia ingin bertemu langsung dengan pemilik kartu nama itu.