
#Chapter sebelumnya
Baru juga mau melangkah keluar, terdengar suara derap langkah kaki di iringi suara yang membuat seluruh keluarga chan di meja makan terdiam bahkan para pembantu. Mereka semua melihat ke arah tangga, aku pun mengikuti arah mereka melihat. Ternyata........
#Next chapter
Dua orang pemuda gagah dan tampan yang lebih tua dariku berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan keluarga. Seketika itu pula para pelayan membungkuk menyambut keduanya. Nyonya dan tuan besar chan beserta putrinya menyambut pula kedua pemuda tersebut. Berbeda hal dengan perlakuan mereka kepada ku tadi. Biarlah, toh aku juga tak ambil pusing.
"Ayah, ibu, Yui selamat pagi" ucap kedua tuan muda keluarga chan.
"Selamat pagi/selamat pagi sayang/ selamat pagi kak" balas nyonya dan tuan besar serta Yui (putrinya)
"Ehhh, ada Cla. Selamat pagi juga Cla" ucap tuan muda ke-2 Chan
Aku hanya balas senyum simpul saja, yah gitu aku sudah tahu kedudukan ku di keluarga ini, bisa dianggap lebih rendah dari pelayan. Aku ngomong juga tidak ada gunanya. Aku hanya tidak mau merusak pagi yang indah ini. Memang aku terkesan dingin dan acuh tapi, sebenarnya hati ku ini terdapat secercah cahaya juga. Tapi biarlah begitu saja, tak usah di bahas lagi. (Oiya, kenapa tadi yang nyapa aku cuman tuan muda ke-2 kan, dan kenapa tuan muda pertama tak ikut menyapa, apa jangan-jangan? Aku cuman mau jelasin sedikit yah, tuan muda pertama dan ke-2 itu memang berbeda jauh, tuan mida pertama itu bagai pangeran hitam dan tuan muda ke-2 itu bagai pangeran putih. Itu aja sih, pasti kalian bisa bayangin lah yah perbedaannya lewat apa yang aku gambarkan).
#Kembali ke cerita
Setelah membalas sapaan tuan muda ke-2 tersebut, aku mendapat kode dari nyonya besar yang seakan-akan menyuruh ku untuk segera pergi. Tak mau mendapat hukuman, aku segera bergegas pergi tanpa mengucap sepatah katapu, toh ucapnku juga tak dibalas.
Tanpa disadari oleh Clararine, banyak mata yang memandang kepergiannya dengan arti yang berbeda-beda kecuali, tuan muda pertama.
"Ayok lanjutkan makan kalian, nanti telat loh berangkatnya" ucap nyonya besar Yuine
Dalam hati nyonya besar Yiune dan tuan putri Yui, mereka merasa senang. Sedangkan tuan muda ke-2, bertanya dalam hati, bagaimana Clararine berangkatnya yah?
#Di lain sisi (tempat Clararine berada)
Setelah keluar dari rumah besar keluarga chan, Clararine berangkat ke sekolah dengan sepeda buntut kesayangan nya untuk menyelusuri jalanan panjang.
Jarak dari rumah ke sekolahan bisa di bilang cukup jauh. Tapi, tak memutuskan semangat Clararine untuk menempuh pendidikan. Toh, Clararine juga ingin sukses, supaya bisa membayar apa yang telah keluarga chan berikan untuknya.
Tak terasa setelah mengayuh sepeda begitu lama, akhirnya Clararine sampai juga di depan pintu pagar sekolahan.
#Keep giving positive responses and comments to you readers and don't forget to continue to support this story!😉👌🏻
Tetap stay terus yah readers tunggu kelanjutan kisah dari LITW.
Fighting for you all, readers!
Fighting for author too (cerita nya ngemangatin diri sendiri nih yeehh author😅)
#salamatamuuthorLITW😊💜