
Sinar sang surya menyapa bumi. Memberikan kehangatannya sebagai anugerah dari Tuhan kepada makhluknya. Suara sahut menyahut manusia terdengar di sebuah rumah mewah keluarga chan.
Lain sisi di bagian rumah mewah ini, di dalam kamar kecil yang sederhana, terbaring seorang gadis 17 tahun di antara remang remang cahaya matahari yang lolos masuk. Ditambah kicauan indah burung burung di pagi hari yang singgah di jendela kamar untuk membangunkan sang putri. Bagi orang lain, hal tersebut seperti hal yang menyenangkan dan menghangatkan bangun tidur. Namun, tak bagi sang putri, Clararine. Baginya bangun tidur tersebut seperti bangkit dari kegelapan untuk menunjang kegelapan yang menantinya.
"Hooaammm" Clararine menguap setelah bangun dari tidurnya. Rambut pendeknya yang kusut ditambah wajah gadisnya yang tanpa ekspresi melihat kearah jam dinding. Setelah mengetahui waktu, lekas ia ingin melangkah. Namun sebelumnya, terdengar sahutan nyaring nyonya besar chan.
"Cla...... cla...... masih belum bangun yah kamu, saya kasih waktu kamu 5 menit yah untuk bersiap siap, kalau terlambat kamu akan tahu sendiri akibatnya" ucap nyonya chan.
"I..i..iya nyonya, sa... saya a... ak... akan b.. ber...si...siap" Clararine menyahut.
"Sudah cepat sana bersiap, ngomong aja lama begitu, mending tak usah ngomong sekaligus. Cepat yah kamu" balas nyonya chan.
Ucapan nyonya chan memang nyekitin buat aku, tapi yah aku sudah kebal dengan itu semua jadi aku tidak terlalu pikirin ucapan nyonya chan. Toh aku bukan siap-siapa di keluarga ini, hanya anak pungut. Oiya, kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa cara berbicara ku begitu, apa aku takut sampai gemetaran makanya bicara ku begitu. Kalau kalian menduga begitu, maka jawabannya salah, aku begitu bukan karena takut akan tetapi, karena aku memang gagap dari kecil. Begitu yang kudengar dari orang-orang di rumah.
#Beberapa saat kemudian
Aku pun turun ke ruang makan,setelah berpakaian sekolah lengkap. Disana sudah ada seluruh keluarga chan lengkap dengan para pembantu. Tapi seperti biasa, 2 putra dari keluarga chan belum turun.
"Ngapain kamu diam aja di situ, untung kamu tidak terlambat, tuh ambil makanan kamu tapi makan di tempat lain" ucap nyonya chan
"Udah lah mah,dia tidak mau makan juga tidak apa-apa, toh kita juga tidak rugi" ucap tuan putri chan
"I...iya... Tu...tu...an.. be...besar, ti...tidak pe..per...perlu re..re...pot, sa... saya be..be...ra...ng...ka...ka..t se..sen..di..diri..." ucapku
Aku pun bergegas menuju meja makan dan mengambil makanan tersebut untuk ku bawa sebagai bekal di sekolah.
"Tau diri juga kamu" ucap nyonya chan
"Iya, kamu tuh jangan banyak harapan, kamu tuh hanya anak pungut yang bahkan orang lain pun tak suka denganmu" ucap sang putri chan, diiringi tawa nya dan nyonya chan.
Aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat tersebut, aku sudah tidak peduli dengan perlakuan keluarga chan denganku, toh hidupku juga cuman gini gini doang, tak ada yang istimewa.
Baru juga mau melangkah keluar, terdengar suara derap langkah kaki di iringi suara yang membuat seluruh keluarga chan di meja makan terdiam bahkan para pembantu. Mereka semua melihat ke arah tangga, aku pun mengikuti arah mereka melihat. Ternyata........
#Entah gimana tanggapan readers tentang cerita author, tapi yah author harap respons positif dari para readers selalu.😉
Tunggu kelanjutannya yah readers.
Mohon respons dan komen readers yang dapat membangun cerita🙏🏻, Mohon dukungan readers juga yah untuk cerita ini😊
(untuk pengumuman tentang para tokoh-tokoh dan kisahnya, readers bisa tahu kok, intinya pantengin terus aja cerita ini yah jangan di skip kalau lagi baca)
#salamauthorlitw💜