
"SELAMAT pagi, Mom."
Adora baru saja bangun dari tidurnya. Dengan menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan bak surai singa, ia melangkah--dengan sedikit kliyengan--menuju meja makan. Sulit untuk mendeskripsikan bagaimana tidak elegannya penampilan Adora saat ini.
Bahkan ibunya sendiri sempat tidak percaya bahwa manusia yang satu itu adalah darah dagingnya, yang pernah bersemayam di rahimnya selama sembilan bulan lamanya. Ia menghentikan aktivitasnya membuat roti isi cokelat demi melihat penampakan itu.
"Astaga, kau benar-benar anakku, kan ...?" tanya Lanny sangsi.
Namun, Adora tak terlalu menghiraukannya. Ia duduk di bangku seberang ibunya, lalu memakan roti isi cokelat yang ada di hadapannya. Ia sangat-sangat mengantuk. Ingin sekali rasanya kembali bercumbu ria dengan kasurnya, tetapi sekolah menghalanginya untuk melakukan itu. Salahnya juga karena tidur terlalu larut.
Roti isi cokelat sudah dilahap habis olehnya. Adora meminum segelas susu--yang sudah disiapkan juga oleh ibunya--saat ia tetiba mengingat sesuatu. "Hei, Mom. Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"
Lanny hanya berdeham sebagai respons.
"Mom itu alumni di sekolahku, kan?" tanya Adora.
"Iya," jawab Lanny singkat. Ia mengerutkan dahinya, heran. "Bukankah Mom pernah memberitahukan itu padamu sebelumnya?"
"Aku hanya ingin memastikan saja, kok, Mom." Adora terkekeh. "Oh iya, apa kau memiliki teman bernama Malorie?"
Entah perasaannya saja atau bukan, Adora melihat air muka Lanny berubah. Ia terlihat kaget, seakan pertanyaannya barusan adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Ia terdiam untuk beberapa saat, membuat Adora penasaran. Ada apa dengannya?
"... Jika maksudmu itu Malorie Hayes dari film Bird Box, jawabannya--"
"Bukan itu, Mom," sela Adora. Ia berusaha menyiratkan apa yang sebenarnya ingin ditanyakannya kepada ibunya sesamar mungkin. Namun, sepertinya Lanny masih belum peka. Karena itu, Adora bertanya lagi, "Maksudku, apakah dulu Mom punya teman di sekolah yang bernama Malorie?"
Lanny kembali terdiam. Kemudian, dia tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, meninggalkan Adora. "Sebaiknya kau cepat bersiap-siap. Mom akan tunggu di mobil."
Tak menyerah begitu saja, Adora langsung mencekal tangan Lanny. "Hei, Mom! Kau belum menjawab pertanyaanku--"
"Tolong jangan tanyakan itu lagi. Okay, dear?" Lanny tersenyum simpul. Namun, Adora dapat merasakan ada aura yang aneh dari senyuman itu. Oleh karena itu, ia tidak melawan ketika Lanny melepas cekalannya dan melangkah pergi.
Adora terdiam sejenak, berusaha memproses gelagat mencurigakan ibunya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.
"Mungkin harus kucari tahu sendiri."
πππ
Sekarang adalah jam pelajaran Olahraga. Mayoritas siswa dari kelasnya sangat menanti-nantikan jam pelajaran yang satu ini. Selain bisa bermain dan bergerak sepuasnya, Neil Stevens--guru yang mengajar mata pelajaran Olahraga--pun sangat baik dan menyenangkan. Tak mengherankan jika siswa-siswi di kelasnya--bahkan seluruh siswa di sekolahnya--menjadikan Neil sebagai guru terfavorit.
Selain itu, Neil mendapatkan tempat tersendiri di hati para kaum hawa di sekolah. Rupa wajahnya begitu indah, bagai dipahat langsung oleh para dewa. Tubuhnya kekar juga gagah perkasa. Ditambah senyuman berlesung pipitnya yang mampu membuat hati yang melihat terbius. Mungkin, Neil adalah definisi sempurna untuk dewa yang tersesat di dunia.
Adora pun kalah oleh pesona Neil. Matanya tak bisa berhenti memandangi gurunya itu, yang sedang memberikan arahan pada para murid lelaki, sebelum akhirnya meniup peluit untuk memulai pertandingan dodgeball.
Dari tribune tempatnya berada, ia dapat melihat seluruh penjuru lapangan. Lantai lapangan tampak mengilat, dengan banyak sekali pola garis. Sebenarnya, lapangan indoor ini dikhususkan untuk pertandingan basket saja. Namun, terkadang lapangan ini juga digunakan untuk olahraga lain, seperti sekarang. Itu pun untuk mengantisipasi risiko jika bola dipukul terlalu keras hingga terpantul jauh. Bisa saja ada anak barbar yang melakukannya, kan?
Adora menghela napas kecil, menopang dagunya. Jauh di dalam hati kecilnya, ia teramat ingin menjadi pasangan hidup pria itu. Mendampingi serta melengkapi separuh hidupnya hingga maut memisahkan. Namun, ia pun sadar bahwa jarak umur keduanya terpaut dua puluh tahun lebih. Jadi, rasanya tidak mungkin bagi keduanya untuk bersama.
"Coba saja Mr. Stevens seumur denganku. Aku ingin sekali mengencaninya," gumam Adora, yang tanpa disadarinya olehnya terdengar oleh seseorang.
"Haha, sebaiknya kau mencari lelaki lain yang pantas denganmu, Miss Harris!" Suara itu sukses membuat Adora tersentak.
Bahkan, tangan Adora hampir refleks menampar sang narasumber, jika saja dia terlambat menahan tangan Adora. "Hampir saja kau menamparku. Haha!"
Adora menoleh dan terkesiap. Saat ini, di sebelahnya, duduklah sesosok pria rupawan yang telah menyita atensinya sedari tadi. Sejak kapan pria itu berada di sebelahnya? Kemudian, rona wajahnya memerah bak tomat. Astaga ... apakah pria itu mendengar gumamannya?
"M-maafkan ucapan saya, Sir! Saya tidak bermaksud--"
Adora belum sempat menyelesaikan ucapannya, tetapi Neil membelai puncak kepalanya sambal mengeluarkan senjata mautnya--senyumannya. Yang dibelai semakin merona merah, sementara siswi-siswi yang duduk di sekitar situ memandang iri. Entah harus bersyukur atau malu, yang Adora inginkan adalah pingsan sekarang juga. Pesona guru itu terlalu kuat untuk ditolak.
"Sudah, tidak apa-apa, kok," ucap Neil santai. Senyuman tak luntur juga dari wajah rupawannya.
Adora semakin terbius oleh Neil, apalagi jarak di antara mereka hanya sejengkal. Indra penciumnya menangkap samar-samar aroma mint yang menenangkan. Walaupun dia mengajar Olahraga--dan sudah dipastikan bahwa tubuhnya akan sering dipenuhi peluh--tubuhnya tetap saja wangi. Benar-benar tipe lelaki idaman Adora.
"Hm? Apakah ada yang aneh dariku?" Ucapan Neil lagi-lagi mengembalikan gadis itu ke kenyataan. Astaga, kenapa ia jadi sering melamun ketika berada di dekatnya?
Adora menjadi salah tingkah. "E-eh, t-tidak, kok! Mr. Stevens tetap tampan di mataku!"
Neil terbelalak, lantas tertawa terbahak-bahak. Sementara Adora menutup mukanya dengan kedua tangan, malu setengah mati. Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku menghilang dari dunia ini ....
"Ya ampun, Adora, ternyata kau pandai melawak juga, ya!" Neil mengambil napas karena terlalu banyak tertawa. Ia mengusap air bening dari sudut matanya. "Lama-lama aku jadi semakin ingin memilikimu!"
Adora mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menelengkan kepala. "Maksud Anda ...?"
Giliran Neil yang salah tingkah. "L-lupakan saja ucapanku sebelumnya," ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia pun menepuk keningnya. "Astaga, sepertinya aku terlalu banyak meminum bir semalam ...."
Suasana pun menjadi canggung. Tak ada di antara keduanya yang mengeluarkan suara. Sementara para murid perempuan sibuk memberikan sorakan, keduanya sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Namun, diam-diam, Adora menyukai momen ini. Ia akan selalu mengingatnya sampai akhir hayat--sedikit berlebihan, tapi begitulah Adora. Lagi pula menurutnya, momen seperti ini sangat langka terjadi.
Tiba-tiba saja pria berumur akhir 30-an tahun itu bangkit dari duduknya, sambil memperhatikan arloji di pergelangan tangan kiri. Ia pun menatap Adora, sekali lagi menampilkan senyuman mautnya. "Tampaknya saya harus kembali ke sana dulu. Lain kali saja kita lanjutkan perbincangan kita, ya?"
Baru saja beberapa langkah, Neil dihentikan oleh panggilan Adora. "Um ... bolehkah saya menanyakan sesuatu padamu, Sir?"
Neil menoleh. "Tanyakan saja."
Adora pun bertanya, "Saya pernah mendengar rumor bahwa dulu Anda adalah alumni sekolah ini. Apakah rumor itu benar?"
Tak perlu waktu lama bagi Neil untuk menjawabnya. "Rumor itu benar, kok. Kenapa?"
"Apakah Anda mengenal Atlanta Harris ...." Adora menjeda sejenak ucapannya, "... dan Malorie Franklin?"
Tampak kilat keterkejutan di netra hijau pria itu. Namun, sepersekian detik setelahnya, pria itu kembali tenang. "Saya memang mengenal Atlanta Harris. Kami berteman. Namun, sayangnya aku tidak mengenal Malorie Franklin," tuturnya, lantas tersenyum simpul.
Adora diam saja ketika melihat Neil melangkah turun ke lapangan, kemudian meniup peluitnya. Entah kenapa, relung hatinya mengatakan bahwa pria itu tidak mengatakan yang sejujurnya. Namun, pembawaan pria itu saat menjawab pertanyaannya sangatlah normal untuk ukuran orang yang jujur. Tidak ada tindak tanduk kebohongan yang pria itu tunjukkan--seperti menghindari kontak mata, mengatakan detail yang tidak perlu, sering melakukan gerakan tubuh, dan lain sebagainya.
Adora membuang napas.
πππ
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Tak lama setelahnya, banyak anak remaja berhamburan keluar dari gedung sekolah dengan senyuman lebar dan sorak-sorai. Hembusan angin kencang dan daun-daun merah yang beterbangan liar tidak menyurutkan ingar-bingar di sana. Namun, ada seseorang yang air mukanya justru datar-datar saja--tidak tampak tanda-tanda kegembiraan di sana. Dan itu adalah Adora.
Pikirannya sedang tak berada di tempatnya--melayang entah ke dimensi mana. Fokusnya teralih, sehingga ia tidak menyadari adanya kehadiran sosok manusia di hadapannya. Hingga akhirnya gadis bernetra biru itu menabrak sosok tersebut dan jatuh tersungkur ke tanah.
"Aduh, bokongku ...," lirih Adora. Coba saja ia tidak melamun, mungkin nasib bokongnya tidak akan berakhir seperti sekarang.
"Makanya, jangan melamun sambil berjalan." Suara itu terdengar bersamaan dengan tangan yang terulur ke arahnya, menawarkan bantuan. Adora menoleh, didapatinya sosok lelaki berambut cokelat yang begitu familier baginya.
Ia mendengus, menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk celana denimnya. "Huh, seharusnya kau jangan berdiri di hadapanku, dong."
"Jangan mengelak. Jelas-jelas kau yang salah," ucap Aiden.
"Iya, iya ...." Adora pun melangkah meninggalkan Aiden.
"Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak membuatku kesal," sela Adora. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja."
Aiden menelengkan kepala. "Hm? Boleh aku tahu apa yang kaupikirkan?"
"... Mom berperilaku aneh pagi ini," ungkap Adora. "Ketika kutanyakan sesuatu padanya, dia seperti mencoba untuk tidak menjawabnya. Dia seakan ... menyembunyikan sesuatu dariku."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"Tidak! Aku yakin sekali!" tegas Adora. "Aku yakin pasti dia tahu sesuatu. Hanya saja, dia tidak mau memberitahunya padaku." Benaknya kembali memutar sekilas adegan saat jam pelajaran Olahraga. "Dan aku pun sudah mencoba menanyakan hal yang sama pada Mr. Stevens--mengingat dia adalah alumni, tetapi jawabannya tak terlalu memuaskanku."
Aiden mengangkat bahu. "Memangnya apa yang kau tanyakan?"
"Kurang lebih, yang ingin kutanyakan adalah apakah mereka memiliki teman yang bernama Malorie--nama hantu gadis berpayung itu."
Aiden sedikit terkejut. "Oh? Jadi kau memutuskan untuk membantu hantu gadis itu?"
Adora memutar bola mata. "Iya, memangnya kenapa? Masalah untukmu? Bukankah kemarin kau yang menyuruhku--"
Sebelum Adora menyelesaikan cerocosannya, Aiden membelai gemas puncak kepala gadis itu. "Baguslah! Tenang saja, aku akan membantumu." Ia tersenyum lebar, kemudian berkata lagi, "Aku akan mentraktirmu es krim."
Mendengar kata 'es krim', netra Adora langsung berbinar-binar dan senyum lebar merekah di wajahnya. "Baiklah! Ayo pergi, aku tahu kios es krim yang enak di sekitar sini!"
Kemudian, dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul entah dari mana, Adora menarik Aiden untuk mengikutinya. Aiden sampai kewalahan sendiri dalam mengondisikan dirinya. Beberapa kali ia hampir terjatuh, tetapi gadis itu tak sekali pun menghentikan langkahnya atau sekadar meminta maaf atas perbuatannya menyeret Aiden seperti karung.
Mereka berdua sampai di sebuah kios kecil yang sederhana tapi memiliki atmosfer yang nyaman. Adora melepaskan genggamannya pada tangan Aiden. Ia pun menoleh, mendapati teman lelakinya yang mengibas-ngibas tangannya. Napasnya pun terengah-engah, seolah-olah dia baru saja berlari maraton tanpa istirahat.
"Kau kenapa, Aiden?" tanya Adora polos, lantas menelengkan kepala.
Tanpa berkata-kata, Aiden menunjukkan tangannya yang terdapat bekas kemerahan. Akibat kelelahan mengikuti langkah Adora, ia tak memiliki sisa energi untuk mengeluarkan suara. Manusia macam apa gadis ini di kehidupan sebelumnya?
Namun, Adora tak kunjung peka. "Apa yang terjadi pada tanganmu?"
Bukannya jawaban, malah jitakan yang didapatkan Adora. Telanjur gemas dengan ketidak pekaan gadis itu, Aiden pun memilih meninggalkan Adora menuju konter kios tersebut. Adora yang masih belum mengerti tindak tanduk Aiden dari tadi, memutuskan untuk mengekorinya saja. Yang penting ia bisa makan es krim, dan ia tidak perlu membayarnya dengan uang sakunya.
"Pesanlah sesukamu, akan kucarikan meja untuk kita," ucap Aiden.
"Kau tidak ikut memesan?"
Aiden menggeleng. "Tidak. Kau saja."
Adora menyeringai senang, lalu mulai mengatakan pesanannya pada penjaga kios. Sementara Aiden mengedarkan pandangan, lalu duduk asal di salah satu kursi di dekat situ. Angin berembus kencang, menerbangkan beberapa daun merah. Aiden mendongak. Tepat di atasnya, ada sebuah pohon maple dengan daun-daun yang siap menerjunkan diri ke tanah ketika ditiup angin.
Tiba-tiba, ada sehelai daun maple jatuh dari pohon tersebut. Lalu, dalam diam, lelaki berambut cokelat itu mengangkat tangannya, sukses meraih daun itu ke dalam genggaman tangannya. Kemudian, terdengar seruan kekaguman.
"Kau hebat sekali, Aiden!" Adora meletakkan mangkuk di meja, lantas bertepuk tangan.
Netra Aiden mengarah pada mangkuk, lalu membelalak.
Astaga, di dalam mangkuk tersebut, terdapat sekitar dua puluh satu scoop es krim! Aiden memandang Adora horor. Tidak peka, berlebihan, hiperaktif, dan memiliki selera makan yang mengerikan. Paket lengkap seorang gadis barbar.
"Kau ... yakin bisa menghabiskan semua itu?" Aiden menunjuk mangkuk es krim.
Adora mengangguk, tersenyum mantap. "Kau tidak perlu meragukan perutku yang tidak mudah gemuk ini!"
"Bukan itu yang kumaksud--" Aiden menghela napas. "--terserah kau sajalah. Namun, asal kau tahu saja, aku tidak akan membantumu menghabiskannya. Mengerti?"
Mendapat respons berupa anggukan dari Adora, Aiden memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membaca buku yang--untung saja--ia bawa. Beberapa menit pun berlalu dalam keheningan. Desiran angin menjadi musik pengiring di antara keduanya.
"Ya Tuhan!"
Aiden menutup bukunya demi mengetahui apa yang terjadi pada gadis barbar itu. Saat ini, dia tampak seperti menahan rasa sakit, jelas sekali terlihat dari ekspresinya. Dahi Aiden berkerut, bingung.
"Hei, apa yang terjadi padamu?"
Sambil berusaha menahan rasa sakit, Adora menjawab dengan terbata-bata, "B-brain ... f-f-freeze ...."
Aiden menghela napas. Pasti gadis itu memakan es krimnya dengan cepat, seakan hanya tersisa sedikit waktu baginya untuk hidup. Akhirnya, dengan tenang, Aiden berkata, "Tempelkan lidahmu ke langit-langit mulut. Seingatku, cara itu cukup ampuh untuk mengurangi rasa sakitnya."
Dengan susah payah, gadis itu melakukan saran Aiden. Namun, hasilnya nihil. "T-tidak b-bisa ...."
"Kalau begitu," Aiden bangkit dari kursinya, "akan kuambilkan minuman hangat untukmu."
Aiden melangkah menuju kios, meminta air hangat. Awalnya, sang penjaga kios sempat kebingungan, tetapi mengabulkan kala Aiden menjelaskan alasannya. Aiden pun kembali dengan segelas air hangat di tangannya, yang kemudian direbut Adora dengan cepat. Gadis itu pun meminumnya sekali teguk, lantas mengusap mulut dengan punggung tangan.
"Oh, thank God ...."
"Sebaiknya kita pulang saja sekarang. Lagi pula, es krimmu sudah habis, kan?" cetus Aiden.
"Astaga, kau buru-buru sekali." Adora mengambil ponsel di saku celananya, menyalakannya. "Sekarang ini masih pukul empat! Kita masih bisa jalan-jalan sebentar."
"T-I-D-A-K," tegas Aiden.
Adora mengerucutkan bibirnya, kesal. Jika Aiden sudah menegaskan keputusannya, tak ada yang bisa dilakukannya selain menurutinya. "Baiklah, Tuan Aiden," ucapnya seraya memutar bola mata. Namun, sebuah ide tetiba saja muncul dalam benaknya bak bohlam lampu yang menyala di atas kepalanya. "Oh, ya! Bagaimana jika aku berkunjung ke rumahmu? Aku masih belum ingin pulang."
Hening. Aiden mengatupkan bibir, tidak mengeluarkan suara. Dia hanya menatapi Adora, bukannya memberikan jawabannya. Gadis itu pun menjadi bingung.
"Jadi? Bolehkah?" tanya Adora memastikan.
"... Sebaiknya tidak. Rumahku berantakan, kau tidak mungkin betah walau hanya semenit." Aiden terkekeh kecil sembari menggaruk tengkuk.
"Tidak apa. Kamarku juga berantakan, kok. Lagi pula, selama setahun kita berteman, belum pernah sekali pun aku--"
"Sudah kubilang tidak, berarti aku TIDAK menginginkan keberadaanmu di rumahku."
"Memangnya ada apa di dalam rumahmu--hei!" Adora terkejut ketika Aiden menarik tangannya, dengan paksa mengikuti langkah cepatnya. Apa dia berniat balas dendam?
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" seru Adora, tetapi tidak digubris oleh lelaki itu. Seolah indra pendengarnya tidaklah berfungsi.
Adora menggeram. Oleh karena tingkah aneh Aiden, ia telanjur badmood untuk jalan-jalan. Dengan kesal, ia pun melepaskan genggaman Aiden. "Okay, okay, fine! Kuturuti kemauanmu!"
Tanpa pamit, Adora melangkah meninggalkan Aiden. Banyak yang bertingkah aneh hari ini, membuatnya kesal setengah mati. Es krim yang dimakannya tadi pun tidak membantu menyegarkan suasana hatinya, malah membuatnya otak beku. Sungguh hari yang buruk bagi Adora.
Tanpa sadar, gadis itu menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah kios es krim yang jaraknya belum terlalu jauh darinya. Dahinya mengerut, bingung.
"Eh? Sudah menghilang saja lelaki sialan itu?"
Sepersekian detik setelahnya, Adora mengangkat bahu, acuh tak acuh. Ia tidak peduli dengan Aiden yang tiba-tiba sudah menghilang dari sana. Mungkin lelaki itu sudah pulang, pikirnya. Persetan dengan Aiden. Yang diinginkannya sekarang adalah seloyang pizza hanya untuknya seorang. []