FOUR SEASONS

FOUR SEASONS
1st Season | Erstwhile Friend | Part One



BENAK Aiden masih dipenuhi oleh sosok gadis berpayung ketika Adora memanggil-manggil namanya. "Aiden! Ada apa denganmu? Kau sakit?" Adora menelengkan kepala. "Atau jangan-jangan ... kau jatuh cinta?"


Aiden langsung menoyor jidat mulus gadis hiperaktif itu. Terkadang, ucapannya tidak dipikirkan terlebih dahulu sebelum dikeluarkan semuanya, membuat Aiden kesal setengah mati. Sedangkan gadis itu hanya menyengir, menerima saja toyoran Aiden.


Malahan ia menjulurkan lidahnya.


"Hehe, tidak sakit! Tenagamu lemah sekali!"


Gadis ini benar-benar mengajak ribut, rupanya. Baiklah, akan Aiden layani dengan senang hati.


Adora mulai merasakan hawa-hawa tidak mengenakkan di dekatnya. Bulu kuduknya meremang. Ia memeluk dirinya sendiri. "Astaga, kenapa tiba-tiba dingin sekali? Apa jangan-jangan musim dingin akan segera tiba?"


Adora menggeleng-geleng. "Tidak mungkin! Aku sering melihat perkiraan cuaca, dan tidak dikatakan akan datang musim dingin dalam waktu dekat ...."


Adora pun menoleh. "Hei, Aiden! Menurutmu, apakah musim dingin akan datang—"


Haha. Adora akhirnya menyadari alasannya sekarang. Ia mundur perlahan. Saat ini, Aiden tersenyum menyeringai padanya. Memang tidak kelihatan berbahaya. Namun, menurut pengalamannya mengenal Aiden, ketika dia tersenyum seperti itu, maka artinya ia berada dalam masalah.


Ya Tuhan, jika aku harus meninggalkan bumi hari ini juga, ampunilah segala dosa-dosaku ....


"H-hei, Aiden. Suasana hatimu sedang bagus, ya? Ada apa? Apakah pernyataan cintamu diterima?" Adora ingin mengutuki mulutnya sendiri sekarang. Kenapa mulutnya tidak bisa tidak berbicara asal?


Senyuman lelaki itu semakin lebar—semakin menakutkan. "Hei, apakah kau pernah merasakan jitakanku?"


"Ummm ... pernah?"


"Bagaimana dengan jitakan-ku?" Terdapat penekanan pada jitakan, yang berarti jitakan yang dia maksud bukanlah jitakan yang biasa ia terima.


Masalahnya, ia tidak siap.


Aiden berjalan mendekat, dan firasat buruk Adora meningkat drastis. Jika ia tidak kabur, maka nasib kening mulusnya tidak akan berakhir baik. Karena itulah ....


"Aku pergi dulu, ya! Kamu masih hafal alamat rumahku, kan?!" seru Adora seraya berlari.


Sementara itu, senyuman Aiden perlahan surut, digantikan oleh cekikikan. Padahal, Aiden hanya ingin mengetes apakah gadis itu masih mudah dibohongi. Ternyata jawabannya sesuai dengan yang diekspektasikannya.


Setelah merasa puas, ia pun melangkah santai menyusul Adora yang sudah menghilang. Mungkin dia sudah sampai di rumahnya.


🍁🍁🍁


"Oh yeah! Peranku bagus!"


"Aku juga!"


"Hmmm, lumayan juga."


Di antara semua seruan kebahagiaan itu, Aiden diam menatapi kartu peran yang didapatnya. Wajahnya datar, tidak terlihat senang ataupun sedih. Sadar, Adora bertanya, "Kau dapat peran apa, Aiden?"


"Lihat saja nanti. Kau yang menjadi moderator, kan?" ucap Aiden malas.


"Baiklah ...." Adora berdeham, berniat mengumpulkan kewibawaannya karena ia adalah moderator. "Kalian semua sudah mendapatkan peran masing-masing?"


Teman-temannya mengangguk. Adora berkata lagi, "Baiklah, malam tiba. Semua pemain memejamkan mata. Bagi peran yang kusebut, silakan membuka mata."


Berarti, peran yang tersisa adalah Pembuat Onar dan Warga. Dan yang belum membuka matanya adalah Grace, Stevie, Billy, dan Aiden.


Apa mungkin Aiden mendapat peran Warga kali ini? batin Adora, penasaran.


"Pembuat Onar, bukalah matamu." Setelah mengatakan itu, ia terkejut bukan main. Rupanya, yang mendapat peran itu adalah Aiden. Adora mengerjap-ngerjapkan matanya. Apakah ia salah lihat?


Aiden memutar bola matanya. Lalu, tanpa suara, mulutnya mengisyaratkan, "Cepat lanjutkan, kau berlebihan sekali." Ia kemudian menutup matanya.


Walaupun masih tak percaya, Adora kembali fokus pada permainan. "Baiklah, bagi yang tidak merasa kupanggil adalah Warga. Sekarang, bukalah mata kalian. Pagi sudah ti—"


"Kenapa aku belum disebut?"


Semuanya tersentak, tak terkecuali Adora. Suara siapa itu? Bukankah semua peran sudah ia sebutkan? Ia memeriksa kembali daftarnya. Nama semua teman-temannya sudah ia catat. Jumlah pemain—termasuk Adora—ada tiga belas, dan semua sudah mendapatkan peran.


Sudah ia pastikan berkali-kali, tidak mungkin ada yang lupa ia sebut. Lalu, itu siapa?


Adora berkeringat dingin, tangannya mulai bergetar. Dengan takut-takut, ia menoleh ke sumber suara tersebut. Jantungnya terasa berhenti berdetak, napasnya tercekat. Keringat dingin tak henti-hentinya membanjiri wajahnya. Bibirnya kelu, tak mampu mengucap. Kertas dan bolpoin yang dipegangnya terjatuh dari tangannya.


Bagaimana dia bisa berada di sini?


"Hei, Adora! Why the hell are you silent?" tanya Rami, masih menutup mata.


"Iya, siapa yang belum kau sebutkan, sih? Lama sekali," tambah Samantha.


Karena lelah, Samantha membuka mata. Ia bingung kala melihat air muka Adora yang ganjil. Penasaran, ia menengok ke arah yang menjadi pusat perhatian Adora, dan akhirnya ikut terkejut. Ia menjerit, bangkit dari duduknya, dan pergi dari ruang tamu—tempat mereka bermain. Yang lain pun ikut membuka matanya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa Sam kabur—Kyaaaaaa!" Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Penelope pingsan. Sedang yang lain ikut kabur seperti Samantha.


Sekarang, yang tersisa di sana adalah Adora dan Aiden. Adora sudah bisa menggerakkan tangannya, walau masih sedikit gemetar. Ia menarik baju Aiden, yang anehnya masih memejamkan matanya. Apa lelaki itu tertidur?


"A-Aiden ...," panggil Adora. Dalam hati, ia merapalkan semua doa yang ia tahu, berharap itu segera pergi. "Aiden, t-tolong ...."


"Diamlah, kau tidak perlu takut pada-nya," ucap Aiden tenang, masih dengan mata terpejam. "Dia hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."


Adora bingung. Apa maksudnya? Dan mengapa dia bisa begitu tenang di situasi seperti ini? Apalagi dengan mata yang terpejam. Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan itu? Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di alam pikirannya, tetapi ia memilih untuk mengikuti perkataan Aiden. Ia mengambil napas, berusaha mengurangi rasa takut yang memengaruhi hampir seluruh fungsi tubuhnya.


Perlahan, ia menengok lagi ke arah itu berada. Dia masih di sana, diam berlutut dengan begitu anggun. Namun, rupa wajahnya mengatakan sebaliknya. Kulitnya sepucat mayat. Bola matanya hitam kosong, bagaikan jurang yang tak berujung. Dari sana, mengalir cairan aneh berwarna merah—darah. Selain itu, banyak bagian di gaun gotiknya yang sobek. Dan bagian yang paling menyeramkan, kuku-kuku jarinya tidak ada, menyisakan daging yang mengeluarkan banyak sekali darah.


Adora ingin sekali menangis, tetapi ia harus memberanikan diri.


Dengan terbata-bata, Adora berkata, "K-Katakanlah ... a-apa maumu ...?"


Tak ada respons. Dia hanya tersenyum, lalu meletakkan sesuatu di lantai. Kemudian, sebelum dia menghilang, dia mengatakan sesuatu. "Tolong, carilah dia ...." Dia pun perlahan menghilang.


Adora berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, Aiden membuka matanya, mengambil sesuatu yang ditinggalkan-nya—gadis berpayung yang ditemuinya dan Adora di hutan belakang sekolah. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah buku binder yang agak tua.


Aiden membuka satu per satu lembar buku, melihat-lihat isinya secara cepat. Selang beberapa menit, ia menoleh pada Adora, yang kelihatannya masih syok. Ia menghela napas.


"Sepertinya dia meminta bantuanmu." []