
DI musim gugur seperti sekarang, Aiden sangat suka bersandar di bawah pohon di belakang sekolah sambil membaca buku. Terdapat syal yang melingkar di lehernya, mengingat suhu udara yang mulai agak dingin. Tempat ini tenang dan damai, ditambah semilir angin yang menyapanya. Seakan ingin berkata, "Selamat menikmati kedamaianmu, kau pantas mendapatkannya".
Fokus lelaki berambut cokelat itu tak teralihkan sama sekali dari lembar buku yang dibacanya. Bahkan ia sampai tidak menyadari hadirnya sosok manusia berambut panjang di hadapannya. Menatapnya dengan bibir yang dimanyunkan.
"Aiden!"
Sang pemilik nama tersentak, lalu menatap sosok di hadapannya. Ia menelengkan kepalanya. "Adora? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau ada kelas tambahan?"
"Baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Karena malas pulang, aku pergi saja ke sini, hanya untuk diabaikan oleh seseorang," jawab Adora panjang lebar, dengan nada sarkas di akhir kalimat.
Merasa tersindir, Aiden hanya bisa tersenyum paksa. "Astaga, kau tidak perlu lebay seperti itu."
"Terserah padaku, dong? Lagi pula, aku juga yang mengatakan itu." Adora berkacak pinggang, tak terima dikatai lebay. Padahal itulah kenyataannya. "Ah, lupakan sajalah. O iya! Apa kau punya kegiatan lain setelah ini?"
Aiden menggeleng, Adora pun semringah. Ia berkata, "Kalau begitu, kita pulang bersama saja! Aku sudah mengajak teman-temanku bermain Werewolf, tapi kami kekurangan satu pemain. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu--"
"Tidak, terima kasih." Aiden menolak mentah-mentah sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.
"Yah .... Memangnya kenapa?" tanya Adora. "Apa karena kau selalu mendapat peran Warga--"
Aiden menaruh telunjuknya di bibir Adora. "Stop. Kau tak perlu mengungkit-ungkit itu."
Yah, bisa dibilang, Aiden jarang sekali--bahkan tidak pernah--mendapat peran penting ketika bermain Werewolf. Sebagus-bagusnya peran yang pernah ia dapatkan, peran itu adalah Lycan. Walau peran itu kurang lebih sama dengan Warga, ia menganggapnya sebagai pencapaian tertingginya. Namun, malu saja rasanya ketika dibahas. Setidaknya itu yang dirasakan Aiden.
"Makanya, ayo ikut denganku! Kujamin, kau pasti akan mendapatkan peran yang bagus! Ah, kau pasti akan menjadi Werewolf! Atau mungkin Penerawang? Malaikat Pelindung?" Adora mulai sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Aiden kembali membaca bukunya. Ia lelah mendengarkan celotehan tidak jelas gadis itu.
"Hei, Aiden!" Adora menggoyang-goyangkan tubuh Aiden.
Aiden menutup bukunya, mulai kesal. "Apa? Jika kau masih bersikeras mengajakku bermain Werewolf, jawabanku tetap-"
"Bukan itu! Lihat ke sana!" Telunjuk Adora menunjuk ke arah hutan.
Sepasang mata Aiden memandang ke arah yang ditunjuk Adora. Tidak ada apa-apa. Aiden pun bingung. "Tidak ada apa-apa di sana."
"Eh? Coba lihat lebih teliti lagi! Ada seseorang di sana, kok."
Benar. Di hutan yang berjarak cukup jauh dari tempat mereka, ada seorang gadis yang berdiri memunggungi mereka. Gadis itu memakai payung. Pakaian yang dikenakannya cukup unik--gaun bergaya gotik dengan rok selutut. Di zaman sekarang, jarang sekali ada gadis yang mau memakai gaun seperti itu--kecuali di hari Halloween ataupun gadis itu memang ingin tampil berbeda. Gadis itu hanya berdiri, tidak terlihat melangkah.
Apa yang sedang dilakukan gadis itu?
"Heiii! Kau yang di sana! Apa yang kau lakukan--" Aiden langsung membekap mulut Adora, yang dengan gegabah memanggil gadis tersebut.
Adora melepaskan bekapan Aiden, kesal. "Kenapa kau tiba-tiba membekapku? Kau mau membunuhku, ya?"
"Enak saja, jangan asal tuduh." Aiden memutar bola matanya. "Kau itu gegabah sekali. Seharusnya kau jangan langsung memanggilnya seperti itu."
"Memangnya kenapa?" Adora kembali memperhatikan gadis itu. "Dia tidak kelihatan seperti orang jahat."
"Terserahlah." Aiden melangkah pergi. "Aku pergi."
Seakan lupa dengan gadis berpayung tersebut, Adora mengejar Aiden yang mulai menjauh. Ia berseru, "Aideeen! Jangan tinggalkan aku!"
Adora dapat menyamakan kecepatan langkahnya dengan Aiden. Bahkan ia mendahului lelaki itu. Ide iseng pun seketika muncul di kepalanya, bagaikan ada lampu yang menyala di atas kepalanya.
"Aiden, cobalah kejar aku! Jika kau menang, kau boleh tidak ikut bermain Werewolf denganku. Tapi, jika aku yang menang ...," Sengaja, Adora menjeda kalimatnya. Ia tersenyum licik, "... kau tahu, kan?"
Daripada gadis itu merengek, lebih baik dituruti saja, pikir Aiden. "... Terserah kau saja."
Senyuman lebar tercetak jelas di wajah Adora. Ia pun berlari sekencang yang ia bisa. Sementara itu, Aiden menghela napas. Bisa-bisanya ada gadis sehiperaktif itu. Tapi yah, setidaknya, tingkah gadis itu bisa dengan mudah membuat lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya.
Ia ingin melangkah lagi ketika tiba-tiba ia merasa sedang diperhatikan. Ia pun berbalik, dan sedikit terkejut. Ternyata, pelaku yang tertangkap basah olehnya adalah gadis itu. Ya, si gadis berpayung berpakaian gotik. Namun, ada yang berbeda.
Sebelumnya, gadis itu memunggunginya. Sekarang, gadis itu--jelas sekali--memperhatikannya. Kulitnya putih pucat. Rambut putihnya dikuncir dua. Manik matanya bulat, berwarna merah. Bentuk wajahnya memiliki kesan imut tapi juga anggun. Aiden terbius dibuatnya. Matanya tak bisa berpaling walau hanya sesaat. Keduanya dipisahkan oleh jarak, tetapi Aiden dapat merasakan auranya.
"AIDEEEN!"
Seruan kencang itu sukses membawa Aiden kembali pada kenyataan. Sepersekian detik, Aiden memicingkan mata. Kemudian, ia melangkah cepat menuju sumber suara.
Sementara itu, si gadis berpayung tersenyum misterius, lalu menghilang ke dalam hutan. []