Erde

Erde
10



kalian ketawa sih?" tanya Junedi sebal.


"Gua baru inget, lu kan gak bisa bawa sepeda. Hahaha terkahir bawa sepeda aja lu masuk comberan, mana sepeda si Bobby lagi yang jadi korban," Yoyo tertawa tak henti-hentinya bahkan Inani sudah memegangi perutnya saking lelahnya tertawa.


"Sialan, gua jadi inget sepeda gua yang malang," keluh Bobby.


"Aduh sudahlah ! Gak usah ngegosipin orang ganteng macam gua !"


"Halah gaya lu !" dengus Dongdong.


      Dilain tempat, Novita sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja. Hari ini ia sungguh malu untuk menunjukkan wajahnya pada dunia. Bahkan Hani teman sebangkunya pun hanya menghela napas jengah melihat kelakuan Novita. Hani sedari tadi sudah merecoki Novita dengan segudang pertanyaan, namun tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya, Hani hanya bisa menghela napas lelah.


"Vit lu kenapa sih? Bentar lagi Pak Endang masuk," ucap Hani mengguncang-guncangkan pundak Novita.


"Aku malu Han. Aku malu. Aku merasa terhina. Hikss,"


"Ya , ampun pakai nangis segala. Lu malu kenapa sih?" tanya Hani heran. Pasalnya sejak kapan temannya ini punya urat malu ? Ini seperti bukan Novita biasanya, pikir Hani.


"Tadi aku di ketawain sama orang-orang," rengek Novita yang masih menelungkupkan wajahnya diatas meja.


"Vit udah deh bangun itu ada...," belum sempat Hani menyelesaikan ucapannya, Novita langsung berteriak. "Kamu gak ngerti Han! Aku malu tahu, aku malu !" Novita berteriak dengan kencang.


  Mendadak kelasnya menjadi hening. Novita celingak-celinguk melihat teman-temannya yang menatap dirinya. Ia berpikir keras, saat ia menolehkan kepalanya ke arah pintu disaat itulah ia terdiam membisu.


"Oh my god, ada Pak Endang," kata batin Novita.


"Novita, jika kamu tidak ingin sekolah dengan benar, diam saja dirumah !" ketus pak Endang. Memang ucapan pak Endang itu sangat pedas, sepedas sambal lado. Laki-laki paruh baya yang kerap kali disebut sebagai guru killer itu duduk di kursi khusus guru.


"Saya ingin sekolah dengan sungguh-sungguh, Pak." Novita menunduk malu.


"Awas saja kalau kamu berbuat ulah !"


"Iya, Pak," cicit Novita.


    Pak Endang sudah mengeluarkan buku-bukunya yang tebal dan memulai absensi. "Hani, kenpa kamu gak bilang sih kalau ada Pak Endang !" sebal Novita.


"Gua udah kasih tahu lu ! Lu nya aja yang selalu ngepotong ucapan gua !" jawab Hani tak kalah sebal.


"Novita?" Pak Endang memanggil Novita.


"Ya tapi kan kamu bi____"


"Novita!" teriak Pak Endang. Ucapan Novita terhenti mendengar teriakan gurunya yang killer itu. Duh, kali ini ia bener-bener apes, batinnya.


"Saya dari tadi sedang mengabsensi dan kamu dari tadi saya panggil-panggil malah gak nyaut ? Tahunya malah ngobrol !"


"Ngga kok, Pak," elak Novita.


"Keluar kamu !"


"Tapi, Pak,"


"Mau saya panggil orangtua kamu ?"


"Jangan dong pak. Iya ini saya keluar kok," ucap Novita.


Plukkk


"Wadaw sakit !" teriak Junedi sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena hantaman botol plastik. Novita yang mendengar suara tersebut mendongakkan kepalanya dan ia sangat terkejut ketika botol plastik yang ia tendang tadi mengenai Junedi. Ia merutuki kecerobohan nya.


"Ya, Allah. Kena kak Juned lagi. Pasti sakit banget ya."


  Novita berlari menghampiri Junedi yang masih terus mengusap kepalanya. "Botol sialan. Siapa yang udah nendang lu ke kepala gua hah?" Junedi memandang botol plastik itu dengan tatapan marah.


"Kak Juned, aku minta maaf ya ? Aku gak sengaja. Beneran aku gak sengaja !" ucap Novita sambil menunjukkan jari tangannya yang membentuk huruf 'V'.


"Oh lu yang ngelempar botol ini ? Kasian nih kepala gua yang jadi korban !" teriak Junedi. "Ya tapi kan aku gak sengaja kak," Novita sudah sangat takut dan gugup. Jari-jarinya meremas roknya saking gugup.


"Jam segini kalau lu belum sarapan laper gak sih?" tanya Junedi mengalihkan pembicaraan.


"Ya allah kak junedimau neraktir aku sarapan ?? baik banget dia. Aku kira dia bakal marah. Duh, jadi tambah sayang," jerit hati Novita.


"Ya laper lah kak," jawab Novita sambil mengeluarkan cengirannya.


"Sama gua juga lapar. Beliin gua makanan gih ! Ini duitnya. Gua tunggu di kursi koridor kelas sebelas ya," Junedi mengeluarkan uang dari sakunya dan melangkah pergi meninggalkan Novita.


"Kembaliannya buat lu beli sarapan aja!" teriak Junedi yang sudah menjauh dari hadapan Novita.     Novita menatap telapak tangannya dengan sendu. "Uang sepuluh ribu dapet apa ?" ucap Novita dengan pelan.


Tiga jam penantian usai membeli makanan untuk Junedi, akhirnya bel berbunyi. Bel istirahat berbunyi sangat nyaring yang disambut teriakan heboh oleh murid-murid kelas sepuluh IPA 1. Hani keluar kelas mencari temannya yang tadi dikeluarkan dari kelas. "Vita kemana ya ?" tanya Hani pada dirinya sendiri.


"Dorrrrr," Novita mengagetkan Hani dari belakang. Hani berdecak sebal ketika melihat orang yang sudah membuat dirinya jantungan.


"Kaget gua Vit !" sebal Hani.


"Hahaha aku kira kamu gak kaget," ucap Novita tanpa rasa bersalah, sedangkan Hani mendengus sebal. "Ayo ke kantin !" ajak Novita.


"Ayo, gua juga laper !"


   Mereka berdua melangkah ke kantin seraya berbincang-bincang. Mata Hani terbelalak melihat geng Seven Squad dari kejauhan. Hampir saja air liur Hani menetes saat melihat geng Seven Squad yang terdiri dari Junedi Sucipto, Mbin mubarok, Bobby Sapei, Inani Galang, Chan angkas, Yoyo Supoyo dan Dongdong. Mata Hani melebar, ia langsung menyenggol lengan Novita dengan sedikit keras.


"Apa sih ?" sebal Novita.


"Itu ada Seven Squad!" bisik Hani pelan.


"Mana? Ya ampun,pasti ada kak Junedi ? Aku harus bagaimana ya Han ?" Novita terus berbicara tanpa henti.


"Hani, aku kan lagi ngomong. Kok kamu gak dengerin aku sih ?" tanya Novita membuyarkan lamunan Hani.


"Novita, kok kak Mbin ganteng banget ya ? Jadi pengen nikahin bapaknya!" seru Hani berteriak heboh.


"Kamu serius mau nikah sama bapaknya kak Mbin?" tanya Novita tak percaya.


"Ralat. Gua mau nikahin kak Mbin bukan bapaknya. Biasa ini lidah suka keseleo,"jawabnya menyengir lebar.


Novita mendengus sebal mendengar ucapan sahabat satu-satunya yang ia punya. "Ayo buruan ! Nanti kantinnya penuh !" ujar Novita sambil menarik lengan Hani.


    Novita dan Hani kini tengah duduk menanti pesanan mereka. Mereka masih menggosipkan kakak kelas mereka, yaitu Seven Squad. Ketika mereka sedang asyik bergosip ria, tiba-tiba meja yang ditempati mereka di pukul oleh seseorang.