
Brukkkk
"Hai, kenalin gua Yoyo Supoyo," ucap pemuda tampan itu sambil tersenyum manis. Hani menganga lebar, ia tak menyangka lelaki tampan sedang ada dihadapanya. Sedangkan Novita sedang menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Kita boleh duduk disini kan? Soalnya tempat lain udah penuh," ucap Mbin, lelaki yang berksrimas. Novita menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun, ini beneran kak Mbin ? Ya allah, rezeki nomplok dapet yang bening !" teriak Hani dengan heboh. Mbin tersenyum canggung, sedangkan teman-teman Mbin tertawa terbahak-bahak. Novita yang merasa malu pun menyenggol lengan Hani. "Hani, gak usah malu-maluin bisa?" Hani hanya cengengesan mendengar ucapan Novita.
"Eh lu ! Cewek cerewet yang bawa sepeda tadi pagi kan?" tanya Junedi ketika sudah duduk di hadapan Novita.
"Aku gak cerewet !" jawab Novita dengan ketus.
"Tapi, bawel!" Junedi terkekeh kecil.
"Syuttt ! Diem, itu makanan udah datang," ucap Chan dengan cengiran kudanya.
"Soal makanan aja lu nomor satu," sergah Dongdong.
"Chan, memang lu gak di bikinin bekel sama ibu lu?" tanya Mbin yang sedang terheran-heran. Biasanya Chan orang yang paling rajin membawa bekal buatan sang bunda.
"Ketinggalan Mbin. Soalnya tadi Chan buru-buru."
"Makanya jangan buru-buru dong," celetuk Yoyo.
"Loh kenapa Yo ?" tanya Chan heran.
"Kan gua gak bisa makan kenyang lagi. Apalagi masakan ibu lu itu enak banget. Gua jadi pengen belajar masak sama ibu lu !" seru Yoyo dengan semangat empat lima.
"Serah lu! Mending lu gak usah gabung sama kita. Gabung aja sama ibu-ibu PKK !" ketus Dongdong. Dongdong terkadang suka dibuat kesal ketika Yoyo sudah membicarakan soal masak-masa.
"Ngegas aja lu Dong," gerutu Yoyo.
"Sudah gak usah berantem. Gak enak sama adik kelas tahu. Kalian adik kelas ya?" ucap Mbin. Hani dan Novita mengangguk berbarengan.
"Nama kalian siapa ?" tanya Dongdong.
"Namaku Novita kak," jawab Novita sambil tersenyum kecil.
"Yang satu lagi ?" tanya Mbin.
"Ya Allah, Ya Rabbi, ya karim. Aku ditanya sama kak Mbin. Sungguh ini suatu fenomena alam. Ya Allah, hati Hani sangat bahagia,"cerocos Hani yang membuat semuanya mengerutkan kening mereka.
"Fenomena alam katanya ?" Dengue Mbin dalam hati.
"Hani! Jangan malu-maluin dong!" bisik Novita menghentikan ocehan Hani.
"Apa ?" Novita balik bertanya.
"Lu manggil gua kan ?" tanya Dongdong dengan percaya dirinya.
"Ngga kok !" seru Novita.
"Tadi yang ngomong Dong itu siapa ?" tanya Dongdong bingung.
"Kak Dongdong aku tuh bukan manggil nama kakak."
"Sudahlah, mending kita makan !" seru Yoyo yang di sambut teriakan Junedi. "Ayo ! Gua lapar!"
"Eh makanan kita kalian serobot juga ?" teriak Yoyo marah melihat Chan dan Bobby yang ternyata sedari tadi sudah makan.
"Lapar, Yoyo !" seru Bobby. Sedangkan Chan tak menghiraukan sekitarnya, ia terus fokus dengan makanan yang ada didepannya.
"Orang ganteng makannya kayak gitu ya ?" tanya batin Novita.
Sekarang adalah jam kosong bagi semua kelas sepuluh dan sebelas karena oara guru sedang mengadakan rapat dengan kelas duabelas. Bagi Novita dan Hani, jam kosong adalah surga dunia. Mereka bebas dari yang namanya pelajaran yang sangat membuat mereka pusing. Mereka bukanlah anak yang pintar dan suka dengan belajar justru sebaliknya. Bahkan mereka cenderung pemalas. Sedangkan dikelas sebelas IPS lima sedang mengadakan konser dadakan. Siapa lagi kalau bukan tujuh pria tampan yang sangat populer.
"Konser yuk!" seru Inani.
"Ayo!" teriak keenam temannya.
"Dong tolong geserin kursi-kursinya ke belakang ya ! Yoyo ambil mejanya buat jadi panggungnya! Chan, Bobby, bantuin si Yoyo! Mbin, lu kumpulin temen-temen buat liat konser dadakan kita! Junedi, lu ambil sapu tujuh !" perintah Inani yang diangguki teman-temannya.
"Nan, kalau lu ngapain?" tanya Junedi.
"Gua yang nyuruh-nyuruh kalian!" Semuanya mendengus sebal mendengar jawaban Inani.
Junedi melangkahkan kakinya kedepan kelas dan mulai mencari sapu sayangnya sapunya hanya ada satu. "Nan sapunya cuma satu !" teriak Junedi.
"Ya carilah Junedi! Carinya ke anak kelas sepuluh IPA, gua lihat disana ada banyak sapu," teriak Inan tak kalah menggelegar.
"Heh, lu sama si Junedi gak jauh-jauh amat. Ngapain pakai teriak segala? Kuping gua pengang tahu !" keluh Mbin.
"Ups Sorry," Inani terkekeh kecil.
Junedi melangkahkan kakinya ke kelas sepuluh IPA satu sambil menenteng satu buah sapu ijuk. Ia menoleh kan kepalanya ke kiri dan ke kanan tak jelas seperti orang yang akan mencuri sendal jepit di masjid. Junedi mengintip kelas sepuluh IPA satu dari jendela dan ternyata ada dua orang yang ada di kelas tersebut. Junedi pun akhirnya masuk kedalam, ia sangat bersyukur setidaknya ia tak dikejar-kejar oleh fansnya.
"Hei, kamu! Sini!" Junedi melambai-lambaikan tangannya ke arah Novita.
"Aku, kak?" tanya Novita sambil menunjuk dirinya sendiri. Junedi hanya menganggukkan kepalanya.